Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Tok...Tok...Tok...
Dengan hanya mengenakan boxer, Fahri berjalan ke arah pintu, membukanya sedikit dan mengambil paperbag yang disodorkan Reza dari luar.
Sebelumnya Fahri sudah menelepon Reza, memintanya membeli pakaian baru. Baju tadi tidak bisa dipakai lagi, apalagi baju Bella yang sudah robek ulahnya yang benar-benar kehilangan kendali.
"Sudah bangun?" ucap Fahri ketika kembali ke sofa dan mendapati mata Bella yang kini sudah terbuka. Saat ini tubuh Bella hanya tertutup mantel saja.
Fahri berjongkok di lantai, mengusap kepala Bella dan merapikan rambutnya yang berantakan. Kelopak mata Bella nampak sayu, dia benar-benar kelelahan.
"Sayang, maaf ya..." lirih Fahri dengan tatapan iba, dia merasa bersalah.
"Hmm..." Bella hanya bergumam sambil menangkup pipi Fahri, dia tidak marah, dia tau Fahri juga tersiksa pengaruh obat tadi. Dia hanya letih, pinggangnya serasa copot.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Aku mau mandi," Fahri hendak berdiri namun urung ketika Bella tiba-tiba menahan kakinya.
"Mandi bareng," pinta Bella dengan manja.
Sambil tersenyum, Fahri mengangkat tubuh Bella dan menggendongnya ke kamar mandi. Di dalam sana keduanya berdiri di bawah shower. Seperti anak kecil dimandikan emaknya, begitu pula Fahri memandikan Bella hingga bersih.
Usai mandi dan mengenakan pakaian, terdengar ketukan pintu dari luar. Fahri membukanya, Reza menyodorkan paperbag berisi makanan.
"Pastikan dia tidak kemana-mana," ucap Fahri sebelum akhirnya menutup pintu.
Sambil menyantap makanan di wadah masing-masing, Bella menanyakan apa yang terjadi sehingga Fahri bisa terjebak dalam perangkap Venny.
Fahri menjelaskan secara detail, dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara mereka karena kejadian tadi. Fahri tidak mengerti kenapa Venny semurah itu. Selama lima tahun ini sikap dan perilakunya cukup baik, entah kenapa jadi seperti ini.
Usai makan, Fahri menyuruh Bella kembali istirahat, dia ada urusan sebentar. Dia pun meninggalkan ruangan dengan langkah tegap.
"Siang, Pak." sapa para karyawan di divisi keuangan melihat kedatangan Fahri. Fahri mengangguk kecil, dia terus berjalan hingga langkahnya terhenti tepat di samping meja kerja Venny.
Melihat kedatangan Fahri, wajah Venny memucat, kakinya gemetaran, dia memutar leher menatap sekelilingnya, terlalu banyak orang sehingga dia takut kelakuannya terbongkar.
Sebelum Fahri mengatakan apa-apa, dia sudah berlutut. "Ma-maaf, Pak... Saya salah," dengan suara terbata-bata, Venny meminta maaf dan mengakui kesalahannya di depan banyak orang.
Semua mata mengarah padanya, mereka semua kebingungan. Kesalahan apa yang sudah Venny buat sehingga Fahri sendiri yang datang langsung padanya.
"Kau tau apa kesalahanmu?" tanya Fahri dengan tangan berada dalam saku celana, tatapannya datar.
"Ta-tau, Pak." jawabnya mengangguk pelan dengan wajah tertunduk.
"Kalau begitu katakan!" ucap Fahri dengan santai.
Venny tidak bereaksi dan tidak pula bersuara. Apa yang harus dia katakan? Jika dia mengatakan yang sebenarnya, semua orang akan tau perbuatan buruknya, pasti mereka semua merundungnya.
"Ayo katakan!" sergah Fahri meninggikan suara.
Venny terperanjat mendengar suara lantang Fahri, karyawan lain pun terkejut melihat Fahri yang seperti hilang kesabaran. Jarang-jarang Fahri marah jika tidak ada yang menyinggungnya.
"Kesalahanmu karena menggoda suami orang," seru Bella yang tiba-tiba muncul dari belakang. Fahri memutar kepala, terkejut melihat Bella yang sudah berdiri di sampingnya. Semua orang ikut kaget dan menatapnya heran. Apa maksud Bella?
"Say..."
"Ssttt....." Bella menaruh telunjuk di bibir, membuat Fahri seketika terdiam.
Bella berjongkok dan mencengkram dagu Venny lalu mengangkatnya, keduanya saling menatap dengan tajam.
Venny menggertakkan gigi, matanya memerah menahan amarah usai mendengar ucapan Bella barusan, dia malu, semua mata saat ini mengarah padanya.
"Apa bedanya? Kita berdua sama-sama penggoda suami orang,,,"
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Venny, meninggalkan bekas lima jari di pipinya yang kini terasa kebas.
Deg...
Semua orang terperanjat menyaksikan kejadian itu. Tidak disangka Bella yang selama ini pendiam, ternyata memiliki nyali yang cukup besar, bahkan tidak takut bertindak kasar di depan Fahri.
"Berani-beraninya kau memukulku." teriak Venny dengan suara menggelegar, memecah keheningan di ruangan besar itu.
"Kenapa tidak berani, hah?" Bella menjambak rambut Venny, wanita itu merintih kesakitan dengan kepala mendongak ke arah Fahri.
"P-pak..." gumam Venny dengan tatapan memohon, berharap Fahri mau membantunya.
Fahri memutar leher ke arah lain, seolah tidak melihat apa-apa. Dia tidak peduli dan tidak mau peduli. Siapa suruh membangunkan singa betina yang sedang tidur, dia saja saat ini syok menyaksikan keberanian istrinya.
"Apa-apaan kamu, Bella. Kasihan Venny," seru seorang karyawan.
"Iya ih... Apapun kesalahan Venny, kamu tidak berhak main hakim sendiri." timpal karyawan lainnya.
"Tidak berhak," Bella menoleh ke arah dua karyawan yang membela Venny barusan, dia tersenyum miring. "Lalu siapa yang berhak?" teriaknya dengan lantang.
Kedua karyawan itu terdiam dan menunduk mendengar teriakan Bella.
"Jangan sok suci! Kesalahanmu lebih fatal dariku," ketus Venny yang kembali bersuara, mengingatkan Bella bahwa mereka berdua sama-sama kotor, bahkan Bella lebih kotor darinya.
Plak...
Kembali tangan Bella melayang dan mendarat di pipi Venny, sudut bibir Venny mengeluarkan darah.
Cih...
Venny mendecis, dia perlahan bangkit memanfaatkan sisa tenaga yang ada.
"Hahaha..." Venny tertawa kencang dengan tubuh terhuyung, menatap satu persatu dari mereka yang menonton di sana. "Asal kalian tau, wanita ini munafik, mulutnya berkata bahwa aku penggoda suami orang, lalu dia siapa? Dia baru saja tidur dengan atasan kalian, dia lah pelakor sebenarnya."
Bug...
Tubuh Venny tersungkur di lantai sesaat setelah Bella menamparnya sekuat tenaga.
"Astaga, jadi dia baru saja tidur dengan Pak Fahri."
"Benar-benar munafik,"
"Ngatain orang tapi dia sendiri suhunya,"
"Tidak tau malu,"
"Cukup!" hardik Fahri yang sudah tidak tahan melihat drama itu. Semua orang terdiam, Fahri menatap satu persatu dari mereka yang menghina Bella dengan tajam. "Kau, kau, kau dan kau, kemasi barang-barang kalian, kalian dipecat!"
"Kenapa kami dipecat, apa salah kami, Pak?" tanya keempatnya serentak.
Bella tersenyum miring sembari menghampiri Fahri dan menggenggam tangannya erat. "Karena kalian memang pantas dipecat," tegas Bella sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Dua tangan yang saling menggenggam, dengan sepasang cincin di jari manis masing-masing. Cincin yang sama dengan foto di story Fahri dua hari lalu, membuktikan bahwa tuduhan mereka tidak benar.
Hah...
Keempat karyawan wanita tadi terhuyung dengan mata membulat sempurna, keempatnya langsung berlutut dan meminta maaf. Begitu juga dengan Venny, dia memohon ampun, dia tidak tau kalau Bella ternyata istri sah Fahri.
"Ambil gaji kalian, besok tidak perlu datang lagi!" ucap Fahri datar.
Genggaman tangan keduanya terlepas, Fahri sedikit membungkuk dan mengangkat Bella dengan satu tangan. "Fahri...." jerit Bella dengan tubuh yang tiba-tiba melayang di udara, dia kaget.
"Peluk kuat!" kata Fahri kemudian berjalan meninggalkan mereka semua.
"Untung aku tidak ikut-ikutan," gumam beberapa karyawan yang sedari tadi hanya diam, lalu melanjutkan pekerjaan.
Sementara Venny dan empat orang lainnya, harus rela meninggalkan perusahaan karena ulah mereka sendiri.
Huft...
Reza yang dari tadi jadi patung, ikut meninggalkan tempat itu karena pertunjukan sudah berakhir.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡