NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Sang Mafia

Langit Jakarta siang itu terlihat cerah, tapi di dalam mansion Virello, suasanya tetap dingin.

Alya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Sejak pagi tadi, kata-kata ibunya Arkan terus terngiang di kepalanya.

"Jangan pernah berpikir, bahwa kamu memiliki tempat di rumah ini."

Tangannya mengepal perlahan, ia tidak bisa terus seperti ini. Diam, menurut, dan tertekan. Kalau ia tidak mulai memahami tempat ini, maka ia sendiri yang akan hancur.

Alya tersadar dari lamunannya, saat ketukan di pintu mulai terdengar.

"Masuk," ucap Alya pelan.

Pintu terbuka, dan ternyata itu adalah Marta.

"Nyonya, Tuan Arkan meminta anda untuk turun."

Alya mengernyit, "Sekarang?"

"Iya, Nyonya."

Alya berdiri perlahan, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Untuk apa Arkan memanggilnya?

Tanpa banyak bicara, Alya mulai mengikuti Marta keluar kamar.

Kali ini mereka menuju ruang makan, Marta membawa Alya melewati lorong berbeda. Lorong itu terlihat sepi, gelap, dan terasa asing.

"Ini bukan seperti jalan yang biasanya," kata Alya pelan.

"Memang ada sebagian dari rumah ini, tidak di izinkan untuk dilihat."

Jawaban itu justru membuat Alya semakin waspada. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar, yang berwarna hitam.

Dua pria bertubuh tinggi, yang tak lain adalah pengawal, mereka tengah berdiri di sisi kanan dan kiri. Tatapannya begitu dingin, bahkan salah satu dari mereka membuka pintu.

"Silahkan masuk, Nyonya."

Alya menarik napas pelan, lalu ia mulai melangkah masuk.

Ruangan itu gelap, hanya beberapa lampu yang menyala. Di tengah ruangan, ada meja besar. Dan di sana, Arkan berdiri. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, ekspresinya datar seperti biasa.

Di sampingnya ada beberapa pria lain, semuanya terlihat serius dan tegang. Pembicaraan mereka terhenti saat Alya masuk, semua mata tertuju padanya.

Alya menelan ludah, perasaan tidak nyaman langsung muncul dalam dirinya.

"Kenapa kamu memanggilku?" tanya Alya, yang mencoba terdengar tenang.

Arkan menatapnya beberapa detik, lalu ia memberi isyarat kecil agar Alya mendekat padanya.

Alya merasa ragu, tapi ia tetap berjalan dan mendekat pada Arkan. Setiap langkahnya terasa begitu berat, dan pada saat Alya sampai di sisi Arkan, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya.

"Mulai hari ini," ucapnya pelan. "Kamu harus melihat sesuatu."

Alya mengernyit heran, "Sesuatu apa?"

Arkan tidak langsung menjawab, ia mengangkat tangan. Salah satu pria di ruangan itu, segera membuka layar besar yang berada di depan mereka.

Dan apa yang muncul di sana, langsung membuat Alya tercekat. Gambar sebuah gudang, dengan beberapa pria yang diikat di kursi. Wajah mereka lebam, dan penuh darah.

Alya langsung mundur satu langkah, "A-apa maksud dari semua ini?"

"Pengkhianat," jawab Arkan singkat.

"Kenapa kamu menunjukkannya padaku?"

Arkan menoleh, tatapannya berubah tajam. "Karena ini dunia yang kamu tempati sekarang."

Deg.

Alya menatap layar itu lagi, salah sati pria di sana berteriak dan memohon. Suaranya tidak terdengar jelas, tapi wajahnya cukup ketakutan.

Alya menggigil bibirnya, menahan rasa mual. "Matikan itu," katanya pelan.

Tapi tidak ada yang menuruti ucapan Alya, Arkan dan yang lainnya hanya terdiam.

"Cepat matikan!" ulangnya, dengan berteriak.

Ruangan mendadak sunyi, semua orang terlihat kaget, karena Alya berani meninggikan suaranya di depan Arkan.

Namun yang lebih mengejutkan, Arkan hanya mengangkat tangannya.

"Matikan."

Layar itu seketika langsung gelap, Alya menarik napas panjang. Mencoba mengendalikan dirinya.

Ia menoleh pada Arkan, "Aku bukan bagian dari semua ini."

"Tapi kamu sudah menjadi salah satu bagiannya, sejak kamu mengatakan 'iya' di altar pelaminan."

"Itu bukan sebuah pilihan!" balas Alya cepat.

Arkan mendekat sedikit, "Sebuah pilihan atau bukan, darah akan selalu tetap mengikat."

"Kenapa kamu memaksaku untuk melihat ini?"

"Supaya kamu berhenti, untuk berpura-pura hidup di dunia normal," ucap Arkan rendah.

Alya menatapnya, tapi ia tidak berkata apa pun.

"Kamu tinggal di bawah atapku," lanjut Arkan. "Kamu sudah membawa namaku, dan musuhku tidak peduli apakah kamu bersalah atau tidak."

Kata-kata itu terasa lebih menakutkan daripada layar tadi.

Alya menelan ludah, "Jadi... ini cara kamu melindungiku?"

"Ini caraku untuk memastikan kamu, bahwa kamu tidak mati karena kebodohanmu sendiri," jawabnya dingin tapi terdengar jujur.

Alya memejamkan mata sejenak. Ini bukan perlindungan yang ia harapkan. Tapi mungkin, ini satu-satunya yang akan ia dapatkan.

"Keluar," perintah Arkan.

Tak lama, semua pria yang berada di ruangan itu segera bergerak. Dalam hitungan detik, mereka pergi. Meninggalkan Alya dan Arkan berdua.

Ruangan terasa lebih sunyi, Alya menatap pria yang ada di depannya.

"Apa kamu menikmati ini?"

Arkan mengangkat alisnya, "Menikmati apa?"

"Melihat orang-orang yang menderita."

Arkan kembali menatap Alya, tapi kali ini lebih lama. Dan ada segurat senyum tipis di bibirnya.

"Tidak juga, aku tidak menikmati semua ini."

"Lalu kenapa kamu melakukannya," ucap Alya yang sedikit terkejut dengan jawaban Arkan.

"Karena jika aku tidak melakukannya," ucapnya pelan. "Aku yang akan berada di kursi itu."

Alya terdiam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lain dalam diri Arkan.

Bukan hanya dingin, tapi juga kerasnya dunia yang membentuk dirinya.

"Dunia ini sama sekali tidak adil, Alya," lanjutnya. "Dan aku tidak punya waktu untuk menjadi orang baik."

"Tapi kenapa kamu malah memilih menjadi orang jahat?"

Arkan tersenyum lagi, "Tidak, kamu salah. Semua yang aku lakukan, itu hanya pilihanku untuk bertahan."

Setelah beberapa menit mengobrol, akhirnya Alya dan Arkan keluar dari ruangan itu. Langkah Alya terasa lebih pelan, pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan.

Saat mereka berjalan di lorong, Arkan tiba-tiba berhenti. Dan Alya pun ikut berhenti juga.

"Aku lupa, ada aturan lain untukmu," katanya tanpa menoleh.

Alya menghela napas pelan, "Aturan apalagi?"

"Jangan pernah masuk ke ruangan itu, tanpa izin dariku."

"Terus, kamu pikir aku mau masuk ke ruangan itu?" gumam Alya pelan.

"Jangan berbicara dengan siapa pun, tentang apa yang kamu lihat," lanjutnya tanpa menghiraukan perkataan Alya barusan.

Alya terdiam, dan hanya mengangguk kecil.

"Dan satu hal lagi," Arkan mendekat sedikit. "Tetap berada di dekatku, saat ada acara keluarga atau urusan penting."

"Kenapa aku harus berada di dekatmu?"

"Karena di sana," ucapnya pelan. "Semua orang tampak tersenyum, tapi senyum mereka sambil membawa sebuah pisau."

Mereka akhirnya sampai di depan kamar Alya, dan Arkan langsung berhenti.

"Aku harap, kamu bisa membiasakan diri tinggal di rumah ini."

Kalimat yang sama, namun kali ini terasa lebih berat.

Alya menatapnya, "Kalau aku tidak bisa, bagaimana?"

"Kalau begitu, kamu akan hancur karena ulahmu sendiri."

Tanpa menunggu jawaban, Arkan berbalik dan pergi. Meninggalkan Alya sendirian di depan pintu.

Alya masuk ke dalam kamar, lalu ia menutup pintu dan bersandar. Napasnya berat, pikirannya kacau. Dunia yang ia masuki, jauh lebih gelap dari yang Alya bayangkan.

Ini bukan sekedar pernikahan tanpa cinta, tapi ini adalah perang tanpa peluru yang terlihat. Dengan musuh yang tersenyum, dan aturan yang bisa membunuh siapa pun.

Alya berjalan perlahan ke arah cermin, menatap dirinya sendiri. Wajah yang sama, tapi mata itu sudah berubah lebih waspada, lebih kuat dan juga dingin.

"Jika ini dunia kamu, Arkan," bisiknya pelan. "Maka aku akan belajar untuk tetap bertahan."

Tangannya mengepal, Alya tidak akan menjadi korban lagi.

Di sisi lain mansion, Arkan berdiri di balkon, menatap langit yang mulai berubah jingga. Hingga tak lama, salah satu anak buahnya mendekat.

"Tuan, apa tidak berbahaya memperlihatkan itu pada Nyonya?"

Arkan tidak langsung menjawab, matanya tetap lurus ke depan. "Dia harus tahu."

"Kalau tidak, bagaimana, Tuan?"

Arkan tersenyum tipis, "Maka dia akan mati lebih cepat."

"Dan jika Nyonya tidak bisa bertahan?" tanya anak buahnya lagi.

"Kalau dia tidak bisa bertahan, aku sendiri yang akan menghancurkannya, sebelum orang lain melakukan itu semua."

Kalimat itu terasa sangat dingin, tapi entah kenapa, terasa seperti sebuah janji.

Dan tanpa Alya sadari, ia baru saja melangkah lebih dalam ke dunia Arkan. Dunia yang tidak memberi pilihan. Dan mungkin hanya ada dua pilihan, bertahan atau hancur.

1
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
checangel_
Dan tak semudah itu juga untuk membalikkan kertas yang sudah bertinta /Hey/
checangel_
Yang penting bukan imannya ya Alya/Facepalm/
checangel_
Betul, apalagi kalau berpikirnya sudah sampai ke perasaan, bukan pilihan lagi yang menyapa, tapi antara keyakinan dan keraguan yang menggema 🤭
checangel_: Bisa yuk
total 2 replies
checangel_
Cieee🤭
checangel_: Kabur ah 🏃🏻‍♀️🤣
total 2 replies
Vie
kamu cemburu tau... cemburu berarti tanda cinta ada dihatimu, walaupun kamu menepis perasaan itu, tapi Kamu tidak bisa menyangkalnya. jujurlah pada hatimu sendiri arkan.... 🤭🤭🤭🤭
Vie
ya.... kamu gak salah kok.... alaminya seorang manusia hal menyukai lawan jenis adalah manusiawi karena itu berarti kamu masih memiliki hati apalagi dia istri mu sendiri, sudah seharusnya kamu jaga dia dan kamu lindungi serta bahagiakan dia.... tapi jangan biarkan perasaan itu menjadi sebuah kelemahan mu juga, tapi harus Kamu jadikan kekuatanmu dalam melindungi apa yang menjadi milikmu......
Vie
nah loh ga bisa ngomong kan.. padahal kamu udah ada sedikit rasa sama alya.... ya mungkin karena sekarang dia adalah istri mu yang sudah seharusnya kamu bertanggung jawab dan juga sudah seharusnya kamu jaga dia dan perlakuan dia seperti layaknya seorang istri....
Lovelynzeaa🌷
SEMANGAT THORR🥰🙌
Lovelynzeaa🌷
coba bikin lanjut S2 thorr gantung soalny siapa yg mau balas dendam
Lovelynzeaa🌷: okee kak, yg novel baru kakak harus bnyk" up ya kak🙏☺️
total 6 replies
Lovelynzeaa🌷
Thor ini end nya kaya end sebelah nggak trauma banget soalny😭
Leo Draven: Rahasia dong/Shy/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!