Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
"Kedatangan saya ke sini malam ini, untuk melamar putri kalian."
Deg....
Spontan Sera langsung mendongakkan kepalanya menatap tajam Angga.
"Dia sudah gila!" batin Sera panik.
Sera belum siap untuk ini, bukan seperti ini untuk memberi tahu Leo atau kedua orang tuanya. Sera ingin memberi tahu namun secara perlahan bukan seperti ini. Angga benar-benar sudah membuatnya hampir gila, apa yang akan ia jawab nantinya? Bagaimana ia bisa menangani ini semua. Sera memandang Angga dalam serta tajam.
"Hahahahhaha, kau datang melamar putri ku untuk putramu, benar begitu bukan?" Boby tertawa ia menganggap omongan Angga itu adalah candaan semata.
"Kamu ini ... lagian yang datang ingin melamar itu Leo, bukanya kamu!" kata eyang memukul lengan anaknya.
"Hahahaha, sudahlah Bu. Kayak nggak tahu Angga saja," saut Bobby yang menganggap jika itu benar-benar sebuah lelucon yang lucu. Dan ternya bukan hanya dirinya saja yang tertawa tapi juga Dewi dan Leo.
Beda hal dengan Sera dan juga Angga yang nampak saling diam bahkan saling melirik, sedangkan eyang hanya menatap penuh selidik dari keduanya.
"Terima kasih sebelumnya, kami menerima atas niat baik kalian dengan senang hati yang sudah mau mampir ke rumah kami yang gubuk ini. Tapi saya tidak dapat memaksa anak saya, dan saya akan menerimanya jika anak saja juga menerimanya!" jawab Bobby mulai serius dengan obrolan.
Semuanya pun mengangguk, lalu memandang ke pada Sera yang sedang tertunduk itu.
"Bagaimana, Sera? Apa kamu terima lamaran dari Angga ... untuk anaknya?" ujar Boby bertanya pada Sera.
Sera benar-benar gugup serta tegang, tenggorokan terasa kering sehingga membuka suara pun terasa berat bahkan nyaris tak dapat mengeluarkan suara.
Sera melirik sekilas manik tajam bak elang itu pada Angga yang kini menggelengkan kepalanya pelan seolah mengatakan jangan terima lamaran ini seakan memohon. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya.
"Sayang, bagaimana jawaban kamu Nak?" kini sang ibu bertanya lembut menyentuh tangan anaknya. Sera menoleh pada ibunya, lalu mengangguk sembari tersenyum tipis.
Dewi pun tersenyum." Alhamdulillah."
Bagai di sambar petir hati Angga ... sakit! Itulah yang ia rasakan sekarang. Wanita yang sudah membuatnya jatuh hati itu kini sudah resmi menjadi calon menantunya. Hancur hatinya menyaksikan Leo memasang sebuh cincin di jari manis Sera, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berpura-pura tegar dan bahagia atas pertunangan putra semata wayangnya. Angga mencoba ikhlas demi anak nya, memang seharunya gadis itu bukan miliknya. Sebuah kesalahan yang terjadi pada satu malam itu membuatnya harus melupakan semuanya dan beranggapan jika itu hanyalah sebuah mimpi yang indah ... Sakit bukan?
Sera menitikkan air matanya, antara senang dan juga sedih. Di satu sisi ia bahagia karena bisa bertunangan dengan orang yang ia cintai, di sisi yang laen ia begitu sangat merasa bersalah dengan kepadanya yang sudah lagi tidak perawan dan belum membicarakan masalah ini sama sekali pada Leo. Tepuk tangan meriah dari keluarga Sera dan Leo, namun tidak dengan Angga yang diam-diam menyeka air matanya.
"Terima kasih," bisik Leo lembut, hatinya sungguh merasa bahagia. Sera hanya membalas dengan senyuman saja.
Setelah acara lamaran sekaligus tunangan tersebut usai. Kini Dewi menyiapkan sebuah makan malam bersama, di meja makan, banyak sekali obrolan mengenai acara pernikahan mereka yang akan di laksanakan 1 bulan lagi. Leo sudah tidak sabar menanti tanggal itu tiba.
Angga pamit pergi ke toilet, pada saat hendak pergi ia tidak sengaja berpapasan dengan Sera yang baru saja keluar dari dapur yang sedang membawa minuman di tangannya.
"O-om." jantung Sera begitu berdebar kencang, rasa gugup itu kembali pada dirinya seketika berada di hadapan Angga.
Sera ingin segera melangkah pergi menjauh dari Angga, namun dengan cepat jalannya di halang oleh tubuh yang kekar itu.
"Permisi, Om. Aku harus segera kembali ke meja," ujar Sera takut.
Angga tidak menggubris, lelaki itu malah semakin mendekat hingga Sera pun melangkah mundur dan mentok di tembok. Dengan jarak yang begitu dekat membuat jantung Sera semakin kian berdebar, indra penciuman nya dapat mencium aroma maskulin yang sangat melekat di tubuh Angga. Aroma itu sangat ia ingat semenjak kejadian malam ini.
"O-om, om mau apa?"
Lagi-lagi Angga tidak menggubris, lelaki itu semakin mendekatkan kepalanya dan ... cup.
Untung ruangan makan sama dapur terhalang tembok sehingga orang-orang dari ruang makan tidak dapat melihat mereka.
Angga mencium bibir Sera lembut, meluapkan perasaannya yang paling dalam pada gadis ini. Hatinya benar-benar hancur, akal pikirannya seakan gila.
Sera membelalakkan matanya, bukan karena kaget atas perlakukan Angga padanya yang tiba-tiba menciumnya. Namun karena air mata itu mengalir bagaikan air terjun yang mengalir dengan deras di wajah Angga, sungguh membuat Sera tak mengerti....
"Kenapa, kenapa harus kamu?" lirih Angga parau menyandarkan kepalanya di bahu Sera.