NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 ...

Selena perlahan menoleh. Senyum miring terukir di bibirnya dingin, retak, dan mengerikan. “Andreas…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang patah, “kau akhirnya datang juga.”

Matanya bergeser ke arah rumah, tepat ke pintu tempat Marsha bersembunyi. “Lihat putri kesayanganmu itu,” lanjutnya, nada suaranya berubah tajam. “Bersembunyi seperti tikus seolah dunia ini miliknya.” Ia tertawa kecil, getir.

“Dia menghancurkan hidupku, Andreas! Dia alasan kau tak pernah mencintaiku sepenuhnya!”

“Bukan dia alasannya, mah!” teriak Xabiru dari sisi lain. Ia bergerak perlahan, mengatur langkah, berusaha mendekat tanpa memancing kecurigaan. “Alasannya adalah hatimu yang busuk! Kau yang membuangnya! Kau yang menciptakan semua neraka ini!”

“Diam kau, Xabiru!” bentak Selena, emosinya meledak. Matanya memerah, napasnya memburu. “Sejak dulu kau selalu membela anak haram itu!”

Tangannya bergetar saat mengalihkan arah senjata kali ini lurus ke dada Andreas.

“Jika aku tak bisa memilikimu…” suaranya melemah, tapi justru terdengar lebih berbahaya, “dan kau tak bisa memiliki dia maka tak ada satupun yang pantas bahagia.”

Di dalam rumah, Marsha terpaku di depan layar interkom keamanan, suara-suara di luar terdengar begitu jelas, begitu dekat terlalu nyata untuk sekadar menjadi mimpi buruk, matanya tertuju pada sosok pria paruh baya di layar itu.

Pria yang menangis, pria yang disebut sebagai ayahnya. Dada Marsha terasa sesak. Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya perasaan asing yang tak pernah ia kenali sebelumnya. Bukan sekadar takut, tapi juga kehilangan, kemarahan, dan luka yang bahkan belum sempat ia pahami.

Ia menggeleng pelan.

Ia tidak bisa terus bersembunyi.

Jika ia tetap di sini seseorang akan mati di halaman rumahnya. Dengan tangan yang masih gemetar, Marsha melangkah menuju pintu. Ia menggenggam gagangnya erat, seolah menggenggam seluruh keberaniannya yang tersisa. “Marsha, jangan!” cegah Erlan, suaranya penuh kepanikan.

Namun Marsha hanya menggeleng pelan. Matanya lurus ke depan, dingin tapi basah oleh emosi yang tertahan. “Dia mencariku, Dad,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Kalau aku tidak keluar dia akan menembak pria itu.” Ia menarik napas panjang.

Lalu, perlahan membuka pintu sedikit, suaranya keluar melalui pengeras suara gerbang bergetar, namun jelas, setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris dirinya sendiri. “Nyonya…” panggilnya.

Hening sejenak. “Aku tidak mengenalmu…”

Ada jeda panjang. Bibirnya bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. “Tapi jika kau merasa, aku berhutang nyawa padamu karena kau yang melahirkanku…”

Matanya mulai berkaca-kaca. “…maka ambillah nyawaku.” suara itu pecah di ujungnya.

“Tapi tolong…” napasnya tercekat, “lepaskan mereka.”

Selena tertegun mendengar suara Marsha. Ia berbalik ke arah pintu rumah. Saat itulah, suara sirine polisi London mulai terdengar mendekat dari ujung jalan. Lampu biru dan merah memantul di pepohonan.

"Letakkan senjatanya! Drop the weapon!" teriak petugas polisi yang mulai mengepung area tersebut.

Selena tertawa histeris. Ia tahu ini adalah akhir perjalanannya. Ia menatap Andreas untuk terakhir kalinya, lalu kembali menatap ke arah pintu tempat Marsha berdiri di baliknya.

"Kau menang, Andreas," bisik Selena lirih.

Sebelum polisi sempat bertindak, Xabiru menerjang ibunya dari samping. Senjata itu meletus sekali lagi ke udara saat mereka bergumul di tanah. Polisi segera merangsek maju, menindih Selena dan memborgolnya dengan kasar di atas rumput halaman yang dingin.

Pertemuan yang Menyakitkan

Suasana mendadak hening. Selena dibawa pergi oleh petugas, terus meracau dalam bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh polisi London.

Andreas berdiri mematung, tubuhnya gemetar. Ia menatap ke arah pintu rumah yang perlahan terbuka sepenuhnya. Marsha melangkah keluar, diikuti oleh Erlan dan Shafira.

Marsha menatap pria di depannya—pria yang selama 20 tahun tidak pernah berhenti mencarinya. Andreas melangkah ragu, air mata membanjiri wajahnya yang sudah menua.

"Marsha...?" suara Andreas nyaris tak terdengar.

Marsha melihat pria itu, lalu melihat Xabiru yang berdiri dengan luka lecet di wajahnya akibat pergulatan tadi. Ingatan tentang "Papah Andreas" dan "Abang" tiba-tiba menghantamnya seperti ombak besar.

Tanpa kata, Marsha berlari dan menghambur ke pelukan Andreas. Pelukan yang tertunda selama dua dekade.

"Aku pulang, Pa..." bisik Marsha lirih.

Di belakang mereka, Erlan dan Shafira berdiri dengan haru, menyadari bahwa mulai hari ini, Marsha tidak lagi memiliki satu keluarga, melainkan dua. Namun bagi Selena, jeruji besi di negeri asing kini menjadi tempat peristirahatannya atas dosa yang ia tanam dua puluh tahun silam.

Suasana yang semula tampak terkendali dalam kepungan polisi London mendadak berubah menjadi horor murni. Dalam satu detik yang fatal, saat petugas sedikit melonggarkan cengkeraman karena mengira Selena sudah menyerah, wanita itu melakukan gerakan terakhir yang penuh kegilaan

Bab: Darah yang Mengikat Kembali

Selena meronta, sebuah pistol kecil yang ia sembunyikan di balik korsetnya terjatuh ke telapak tangannya. Matanya yang merah mengunci sosok Marsha yang baru saja melangkah keluar.

"Jika aku neraka, kau harus ikut bersamaku!" pekik Selena.

DUARRRR!

Suara tembakan itu memekakkan telinga, bergema di antara dinding-dinding bangunan tua Kensington. Marsha terpaku, matanya membelalak melihat maut meluncur ke arahnya. Namun, sebelum timah panas itu menyentuh kulitnya, sebuah bayangan melompat dengan kecepatan yang hanya bisa didorong oleh cinta persaudaraan.

Archio. Putra kedua Andreas yang selama ini lebih banyak diam, sang adik yang baru berusia beberapa tahun saat Marsha hilang, kini berdiri sebagai tameng hidup.

"TIDAKKK!" teriak Archio.

Peluru itu menghantam lengan atas Archio dengan telak, memuncratkan darah segar ke gaun putih yang dikenakan Marsha. Tubuh Archio terjerembap ke depan, menghantam aspal dingin. Di saat yang sama, Xabiru yang berada paling dekat dengan Selena berusaha merebut senjata itu kembali. Letusan kedua terdengar dalam pergulatan jarak pendek. Peluru itu menyerempet pinggang Xabiru, merobek kemejanya dan meninggalkan jejak luka bakar yang dalam.

Keheningan yang Menyakitkan

"Archio! Xabiru!" Andreas meraung, suaranya pecah seperti kaca yang dihantam palu. Ia berlari, namun bingung harus menangkap putra yang mana dulu.

Polisi London langsung menindih Selena dengan kasar hingga wajahnya mencium aspal. Kali ini, tidak ada ampun. Borgol besi mengunci pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang final. Namun Selena hanya tertawa—tawa melengking yang mengerikan, seolah melihat darah anak-anaknya sendiri adalah sebuah kemenangan.

Marsha jatuh terduduk di samping Archio. Insting dokternya berperang dengan syok hebat yang melanda jiwanya. Tangannya yang gemetar hebat segera menekan luka di lengan Archio yang terus mengucurkan darah.

"Dek... Archio... tahan, tetap bicara padaku!" suara Marsha serak, air mata jatuh tanpa henti ke wajah adiknya.

Archio meringis, wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba tersenyum tipis menatap wajah kakaknya yang selama 20 tahun hanya ia lihat di bingkai foto tua. "Kak... Marsha... ternyata benar... Kakak cantik sekali," bisiknya lirih sebelum matanya perlahan menutup karena syok.

"TIDAK! Jangan tutup matamu! Archio!" Marsha berteriak, beralih menatap Xabiru yang memegangi pinggangnya yang bersimbah darah namun tetap berusaha merangkak mendekat ke arah mereka.

Xabiru menahan napasnya yang memburu, satu tangan menekan pinggangnya yang terus mengucurkan darah. Namun tatapannya tetap terpaku pada Marsha dan Archio, seolah rasa sakit itu tak lagi berarti. "Fokus ke Archio dulu…" gumamnya pelan, suaranya serak menahan nyeri. "Aku… masih bisa bertahan."

Marsha menggeleng cepat, air matanya tak berhenti mengalir. "Kalian berdua terluka… aku tidak bisa…"

"Marsha!" suara Erlan menggema tegas dari belakang. Ia berlari cepat bersama tim medis yang baru saja tiba. "Kamu dokter. Jangan biarkan emosimu mengambil alih."

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!