“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah Menuju Cakrawala
Suasana di mansion mewah Paris yang semula tenang kini telah berubah total menjadi pusat komando perang yang mencekam. Hanya dalam hitungan menit setelah kotak kayu berisi tasbih berdarah itu ditemukan, ketenangan malam di Paris seolah tercabik-cabik. Deru mesin mobil-mobil SUV hitam yang sedang dipanaskan di halaman depan terdengar seperti geraman sekumpulan serigala yang sedang kelaparan dan siap untuk berburu.
Di dalam ruang tengah yang luas, Kaelthas berdiri tegak dengan aura yang begitu gelap dan menyesakkan. Ia membiarkan beberapa pelayan setianya memasangkan rompi taktis antipeluru di balik kemeja hitam mahalnya. Gerakannya tenang, namun tatapan matanya yang tajam tak pernah sekalipun lepas dari sosok Ceisya yang sedang duduk tegang di depan layar monitor besar, jemarinya bergerak secepat kilat meretas satelit.
"Guntur! Pastikan semua jalur menuju pangkalan udara Le Bourget sudah steril. Aku tidak mau ada hambatan satu detik pun, mengerti?!" perintah Kaelthas. Suaranya menggelegar penuh otoritas, sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas karena ngeri.
Ceisya, dengan napas yang masih sedikit memburu akibat syok melihat foto makamnya yang dibongkar, mendongak. Wajahnya yang putih bersih tampak tegang namun penuh dengan determinasi yang luar biasa. "Kael, aku baru saja berhasil meretas sistem lampu lalu lintas seluruh Paris. Aku sudah mengatur rute hijau permanen untuk konvoi kita. Tapi ada masalah... radar satelit menangkap tiga kendaraan tanpa plat nomor baru saja keluar dari markas mawar hitam. Mereka bergerak memotong jalur kita menuju bandara."
Kaelthas tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia melangkah mendekat, sepatu bot militernya berbunyi berat di atas lantai marmer. Ia mencengkeram bahu Ceisya dari belakang, memberikan tekanan yang sangat posesif sekaligus protektif. Ia merunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga istrinya dengan suara yang serak dan dalam.
"Biarkan mereka datang, Sayang. Mereka hanya akan menjadi rongsokan besi di jalanan Paris malam ini. Tidak akan kubiarkan satu peluru pun menyentuh helai jilbabmu."
Kaelthas menarik Ceisya untuk berdiri dan berbalik menghadapnya. Ia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan besarnya, menatap mata Ceisya dengan tatapan yang seolah ingin menelan seluruh keberadaan wanita itu ke dalam dirinya sendiri. Ia menunduk, mencium bibir Ceisya dengan sangat intens—sebuah ciuman yang penuh dengan janji kematian bagi musuh-musuh mereka.
"Kau siap, Bidadariku? Begitu kita keluar dari pintu mansion ini, tidak ada jalan kembali. Kita akan menjemput paksa masa lalumu dan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuhnya," bisik Kaelthas di sela ciumannya.
Ceisya tersenyum tengil, meski matanya masih sedikit berkaca-kaca mengingat tasbih Abah Kyai. Ia mengepalkan tangannya yang kecil namun kuat. "Santriwati nggak pernah diajarkan buat takut sama setan, apalagi cuma mafia kayak mereka, Kael. Ayo berangkat!"
Konvoi lima mobil SUV hitam melesat keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kaelthas dan Ceisya berada di mobil tengah, sebuah limosin lapis baja yang dirancang khusus untuk menahan ledakan granat sekalipun. Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Kaelthas benar-benar menunjukkan sisi "candu"-nya. Ia tidak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya dari jemari Ceisya, seolah-olah Ceisya akan menghilang jika ia lengah.
"Kael, tanganmu dingin sekali," bisik Ceisya, merasakan ketegangan suaminya.
"Aku tidak takut pada musuh yang menanti di depan sana, Ceisyra," jujur Kaelthas dengan suara parau yang dipenuhi obsesi. "Aku hanya takut pada satu hal... aku takut kau akan memilih untuk pergi dan kembali ke duniamu jika pintu itu benar-benar terbuka lebar di depanmu."
Kaelthas menarik tangan Ceisya, menciumi punggung tangan dan setiap ujung jemari istrinya berulang kali dengan sangat posesif. Ini adalah sisi rapuh sang penguasa yang hanya diperlihatkan pada Ceisya. Baginya, Ceisya bukan sekadar istri, tapi napas yang membuatnya tetap menjadi manusia di tengah kegelapan dunianya.
Tiba-tiba, DUARRR!
Sebuah ledakan dahsyat menghantam SUV paling depan dalam konvoi mereka. Mobil itu terpelanting ke udara sebelum akhirnya meledak dan terbakar hebat di tengah jalanan Paris yang biasanya romantis namun kini berubah menjadi medan laga.
"Tuan! Kita diserang dari arah jam dua! Mereka menggunakan peluncur roket!" teriak Guntur melalui radio panggil yang terpasang di dashboard.
"Terus melaju! Jangan pernah injak rem!" perintah Kaelthas dingin, matanya kini berkilat penuh nafsu membunuh. Ia segera mengeluarkan senjata laras panjang dari bawah kursi mobilnya.
Ceisya tidak tinggal diam dan hanya menjadi beban. Ia segera membuka laptop mininya di pangkuan. "Kael, mereka menggunakan jammer sinyal tingkat tinggi untuk memutus komunikasi kita! Aku akan mencoba menembusnya agar Guntur bisa memanggil bantuan udara!"
Di luar, rentetan tembakan otomatis mulai menghujani mobil mereka seperti air hujan. Percikan api terlihat berkali-kali saat peluru-peluru itu beradu dengan kaca antipeluru yang tebal. Di tengah guncangan mobil yang bermanuver liar menghindari serangan, Ceisya menutup matanya sejenak, merapalkan doa-doa keselamatan di bawah napasnya dengan penuh keyakinan. Sifat "pecicilan"-nya hilang sepenuhnya, berganti dengan insting bertahan hidup seorang pesilat yang tajam.
"Kael, di sebelah kiri! Dua motor pembunuh bayaran mendekat dengan bom tempel!" seru Ceisya sambil jarinya tetap menari di atas papan ketik.
Kaelthas menurunkan sedikit kaca mobil, membiarkan angin malam Paris masuk dengan liar. Dengan satu tangan yang masih menggenggam tangan Ceisya, ia melepaskan tembakan presisi. Dor! Dor! Pengendara motor itu terjungkal hebat dan meledak saat menabrak tiang lampu jalan. Kaelthas segera menarik Ceisya kembali ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Jangan melihat ke luar, Sayang. Tetaplah fokus pada layarmu!" ucap Kaelthas, lalu ia mencium kening Ceisya dengan penuh pemujaan di tengah desingan peluru.
Setelah pengejaran yang membakar adrenalin selama dua puluh menit, konvoi mereka akhirnya berhasil menerobos gerbang pangkalan udara Le Bourget. Di ujung landasan pacu, jet pribadi Virelion yang gagah sudah menunggu dengan mesin yang menderu keras, siap untuk lepas landas menuju samudra lepas.
Mobil mereka berhenti tepat di samping tangga pesawat dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Kaelthas keluar lebih dulu, memuntahkan timah panas ke arah musuh yang masih mengejar di belakang untuk memberikan jalan bagi Ceisya. Angin malam yang sangat dingin menerpa wajah mereka saat mereka berlari menaiki tangga jet dengan cepat.
Begitu pintu jet tertutup rapat dan terkunci secara otomatis, Ceisya terduduk lemas di sofa kabin yang mewah. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Kaelthas langsung menghampirinya, ia tidak peduli pada luka gores di lengannya sendiri. Ia berlutut di depan Ceisya, memeriksa setiap inci tubuh istrinya dengan tatapan cemas yang gila.
"Kau terluka? Katakan padaku, ada yang sakit? Mana yang luka?!" tanya Kaelthas dengan nada suara yang bergetar.
Ceisya menggeleng perlahan, ia mencoba mengulas senyum tengilnya yang khas meski bibirnya masih sedikit bergetar karena syok. "Aku nggak apa-apa, Mas Sultan. Aku cuma kaget saja... ternyata hidup sama kamu itu jauh lebih ngeri dan seru daripada ujian hafalan kitab kuning di pesantren."
Kaelthas menarik napas lega yang sangat panjang. Ia menarik wajah Ceisya dan mencium bibirnya dengan sangat intens, sangat lama, seolah-olah ia sedang melepaskan seluruh ketegangan dan rasa takut kehilangan yang ia tahan sejak mereka meninggalkan mansion tadi. Ciuman itu adalah tanda bahwa maut sekalipun tidak akan bisa memisahkan mereka.
"Jangan pernah bercanda soal nyawamu, Ceisyra. Karena kau adalah satu-satunya napas yang tersisa di paru-paruku," bisik Kaelthas tepat di depan bibir Ceisya.
Jet pribadi itu kini sudah berada di ketinggian 35.000 kaki, membelah awan hitam menuju Samudra Atlantik. Di dalam kabin yang sangat sunyi dan privat, Ceisya kembali duduk di depan meja kaca, menatap tasbih kayu milik Abah Kyai yang tadi ia bawa dari kotak kiriman itu.
"Kael... tasbih ini. Aku baru saja menyadari sesuatu," ucap Ceisya tiba-tiba setelah ia memeriksa butiran kayu itu dan melakukan analisis cepat lewat sensor di laptopnya.
"Apa itu, Sayang?" Kaelthas mendekat, ia tidak bisa membiarkan ada jarak lebih dari satu meter di antara mereka. Ia duduk di samping Ceisya, merangkul pinggangnya dengan posesif dan membiarkan Ceisya bersandar di dadanya.
"Darah ini... ini bukan darah manusia sungguhan, Kael. Ini darah buatan yang sangat canggih, semacam tinta biometrik," jelas Ceisya dengan mata yang berkilat cerdas. "Seseorang di Pulau Von Heist itu sengaja melakukan ini untuk memancing emosiku. Mereka ingin aku merasa sangat bersalah dan berpikir bahwa keberadaanku di dunia ini mencelakai orang-orang tercintaku di dunia nyata."
Kaelthas mengeratkan pelukannya, menciumi pelipis Ceisya dengan penuh kasih sayang yang mendalam. "Dan apakah rencana mereka berhasil membuatmu ingin meninggalkanku?"
Ceisya menoleh, menatap mata gelap suaminya yang penuh dengan obsesi itu. "Awalnya aku sempat goyah, Kael. Tapi setelah melihat bagaimana kamu rela bertaruh nyawa melindungiku di jalanan Paris tadi... aku sadar sepenuhnya. Kalau aku pergi, siapa lagi yang bakal jagain singa galak dan posesif kayak kamu? Dunia bisa hancur kalau nggak ada aku yang ingetin kamu buat zikir dan tetap jadi manusia, kan?"
Kaelthas terkekeh rendah—sebuah suara maskulin yang sangat langka terdengar. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Ceisya, menghirup aroma vanila yang menenangkan hatinya. "Kau benar. Jika kau berani pergi, aku tidak akan hanya menghancurkan dunia ini, aku akan merobek langit untuk menjemputmu kembali ke pelukanku."
"Tuan, kita akan memasuki zona udara Atlantik dalam waktu tiga puluh menit lagi," lapor Guntur yang masuk ke kabin utama dengan langkah tegap.
Kaelthas berdiri, wajahnya seketika kembali menjadi dingin dan tanpa ampun seperti es. Ia mengambil sebuah kotak kayu hitam dari lemari rahasia jet dan membukanya di depan Ceisya. Di dalamnya terdapat sebuah setel pakaian taktis khusus berwarna hitam pekat, terbuat dari bahan serat karbon yang sangat ringan namun antipeluru.
"Pakai ini, Ceisyra. Dan ini..." Kaelthas mengeluarkan sepasang belati perak yang sangat indah dengan ukiran mawar hitam di gagangnya. "Ini untukmu. Gunakan teknik silatmu untuk melindungi dirimu sendiri jika keadaan memaksaku terpisah darimu sejenak. Aku ingin kau menjadi bidadari yang paling mematikan malam ini."
Ceisya mengambil belati itu, menimbangnya dengan teliti di tangan. Insting pesilatnya bangkit seketika. "Terima kasih, Mas Sultan. Aku pastikan belati pemberianmu ini hanya akan meminum darah orang-orang jahat yang sudah berani mengusik kita."
Ceisya masuk ke kamar ganti jet untuk bersiap. Beberapa menit kemudian saat ia keluar, Kaelthas terpaku diam. Ceisya tampak begitu memukau sekaligus sangat berbahaya. Pakaian taktis itu membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan jilbab hitam yang diikat ringkas untuk memudahkannya bergerak.
Kaelthas mendekat dengan langkah predator, ia membelai pipi Ceisya dengan lembut. "Kau tampak seperti bidadari kematian, Sayang. Sangat cantik sampai-sampai aku ingin membatalkan misi ini sekarang juga dan mengurungmu di kamar jet ini selamanya agar tidak ada mata lain yang melihatmu."
"Eits, nggak boleh posesif berlebihan dulu! Kita punya misi menyelamatkan kehormatan dan teman-teman, Kael!" sahut Ceisya sambil mencubit pelan hidung Kaelthas untuk mencairkan ketegangan.
Tiba-tiba, seluruh lampu di dalam jet mewah itu berkedip merah dengan cepat. Suara peringatan sistem yang melengking bergema di seluruh kabin jet.
"WARNING! ELECTROMAGNETIC PULSE DETECTED! TOTAL SYSTEM FAILURE!"
Jet pribadi itu mendadak kehilangan tenaga dan menukik tajam ke arah laut. Ceisya terpelanting hebat, namun Kaelthas dengan sigap menangkap tubuhnya dan mendekapnya erat ke kursi. Di luar jendela jet, terlihat cahaya biru raksasa yang sangat menyilaukan memancar dari tengah samudra, menembus awan-awan hitam yang menggantung rendah.
"Mereka sudah menyalakan mesin dimensinya, Kael! Mereka mencoba menarikku!" teriak Ceisya di tengah guncangan hebat yang membuat jet itu bergoyang liar.
Kaelthas mencengkeram sabuk pengaman Ceisya dengan tangan yang gemetar oleh amarah, matanya menatap tajam ke arah cahaya biru di luar. "Guntur! Siapkan parasut darurat sekarang juga! Kita tidak akan mendarat dengan jet ini... kita akan terjun langsung ke jantung badai itu!"
Jet itu mulai terbakar di bagian mesin kanan, meluncur jatuh dengan sangat cepat menuju Pulau Von Heist yang misterius di tengah samudra yang mengamuk.
BERSAMBUNG...
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca