NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh Belas

Sudah tiga hari terakhir, tubuh Hana terasa tidak seperti biasanya.

Awalnya hanya pusing ringan. Ia pikir hanya kelelahan karena terlalu banyak pikiran. Tapi hari kedua, rasa itu berubah jadi mual yang datang tiba-tiba. Perutnya terasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang berputar-putar di dalamnya.

Dan hari ini, hari ketiga, semuanya terasa lebih parah. Namun, Hana tetap memaksakan diri.

Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya. Wajahnya terlihat pucat, matanya sedikit cekung, tapi ia tetap mencoba tersenyum tipis.

“Cuma capek …,” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Tangannya meraih jaket tipis di gantungan. Hari ini ia masih harus mengantar pesanan. Hidup tidak akan berhenti hanya karena tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Dan jujur saja, ia tidak punya pilihan. Ini sumber mata pencahariannya.

Jalanan pagi itu cukup ramai. Matahari belum terlalu tinggi, tapi kendaraan sudah padat. Hana mengendarai motornya pelan, menjaga keseimbangan sambil sesekali menarik napas dalam.

Pesanan di tasnya masih utuh. Ia harus mengantarkannya tepat waktu. Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba perutnya bergejolak.

“Mmmh …,” ia mengerang pelan. Rasa mual itu datang lagi. Lebih kuat dari sebelumnya.

Kepalanya juga mulai terasa berat. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Hana langsung menepi ke pinggir jalan, mematikan mesin motornya dengan cepat.

Ia melepas helm, napasnya memburu. “Kenapa sih …,” bisiknya lirih.

Tangannya menekan perutnya. Mual itu tidak mau hilang. Bahkan semakin menjadi-jadi.

Hana menutup mata sebentar. Berusaha menenangkan diri. Tapi tubuhnya seolah menolak untuk diajak bekerja sama.

“Aku nggak kuat kalau lanjut …,” gumamnya pada diri sendiri.

Setelah beberapa menit mencoba bertahan, akhirnya ia mengambil keputusan. Ia akan ke rumah sakit. Ia harus periksa.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Hana sudah duduk di ruang tunggu rumah sakit. Tangannya masih terasa dingin. Sesekali ia mengusap wajahnya sendiri, mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman yang terus datang.

Namanya dipanggil. “Hana .…”

Ia langsung berdiri dan masuk ke ruang pemeriksaan dokter umum. Di dalam, seorang dokter wanita menyambutnya dengan senyum ramah. “Silakan duduk, Bu.”

Hana duduk perlahan. Dokter lalu bertanya, “Keluhannya apa?”

Hana menarik napas. “Sudah tiga hari ini saya pusing, Dok. Terus sering mual juga.”

Dokter mengangguk, mencatat sesuatu. “Mualnya sampai muntah?”

“Kadang iya. Tapi lebih sering cuma mual aja.”

“Pusingnya seperti apa?”

“Kayak ringan di awal, tapi hari ini lumayan berat.”

Dokter kembali mencatat. Lalu menatap Hana lebih serius. “Saya tanya sedikit ya, Bu. Kapan terakhir haid?”

Pertanyaan itu membuat Hana sedikit terdiam.

Kapan terakhir …?

Ia mencoba mengingat. Alisnya berkerut. Otaknya seperti memutar kembali hari-hari yang sudah ia lewati.

“Terakhir … bulan kemarin, Dok,” jawabnya pelan.

Dokter mengangguk. “Tanggal berapa kira-kira?”

Hana kembali berpikir. “Awal bulan … sekitar tanggal lima atau enam.”

Dokter berhenti menulis. “Berarti bulan ini sudah datang?”

Hana langsung membeku. Bulan ini …?

Ia menghitung cepat dalam pikirannya. Hari demi hari. Dan di situlah ia sadar. Belum datang bulan, bahkan ia telah telat.

“T-telat, Dok …,” ucapnya pelan.

“Sudah berapa lama telatnya?”

“Sekitar … satu minggu.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi. Dokter mengangguk pelan, wajahnya berubah sedikit lebih serius. “Baik. Kalau begitu, saya sarankan Ibu untuk periksa ke dokter kandungan.”

Hana langsung mengangkat kepala. “Dokter kandungan?”

“Iya.”

“Kenapa … harus ke sana?”

Dokter menatapnya lembut, tapi tegas. “Karena dari gejala yang Ibu alami—mual, pusing, dan telat haid—ada kemungkinan Ibu sedang hamil.”

Hana bagai disambar petir saat mendengar ucapan dokter itu. Dan rasanya langsung menghantam Hana tepat di dadanya.

“Hamil …?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Dokter hanya mengangguk pelan. “Itu kemungkinan, ya. Untuk memastikan, sebaiknya diperiksa lebih lanjut.”

Hana tidak langsung menjawab. Kepalanya tiba-tiba terasa kosong.

Hamil? Bagaimana mungkin?

Sebelum ia pergi dari rumah Farhan mereka sudah lama tidak bersama. Bahkan terakhir kali ... Hana menelan ludah.

Sejak kematian ayah mertua Farhan, suaminya itu lebih sering menginap di rumah ibunya. Hampir satu bulan penuh. Mereka jarang sekali bertemu, apalagi berhubungan sebagai suami istri.

Jadi kalau benar dia hamil maka hanya ada satu kemungkinan. Dan pikiran itu langsung membuat tubuh Hana merinding.

Pria asing itu. Malam itu. Malam yang berusaha ia lupakan. Malam ketika ia kehilangan kendali.

“Enggak …,” bisiknya pelan, hampir seperti menolak pikirannya sendiri.

Namun, bayangan itu tetap muncul. Wajah yang samar. Sentuhan yang masih ia ingat. Dan kenyataan yang sekarang berdiri di hadapannya. Hana menutup matanya sebentar. Napasnya terasa berat.

“Baik, Dok …,” ucap Hana akhirnya, suara sedikit bergetar. “Saya … akan ke dokter kandungan.”

Beberapa menit kemudian, Hana sudah berada di bagian pendaftaran. Tangannya masih dingin saat mengisi formulir. Ia bahkan sempat salah menulis tanggal lahirnya sendiri.

Pikirannya terlalu penuh. Setelah selesai, ia duduk lagi di ruang tunggu poli kandungan.

Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik seperti memperpanjang kegelisahannya. Satu jam terasa seperti satu hari.

Hana hanya duduk diam, menatap lantai. Sesekali ia menggenggam tangannya sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.

“Semoga cuma salah …,” gumamnya pelan.

“Semoga bukan itu .…”

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu. Tubuhnya tidak berbohong. Namanya akhirnya dipanggil.

“Hana .…”

Ia berdiri dengan langkah pelan. Masuk ke dalam ruang dokter kandungan.

Seorang dokter wanita menyambutnya dengan senyum hangat. “Silakan duduk.”

Hana duduk. Ia tampak gelisah dan gugup.

“Keluhannya apa, Bu Hana?” tanya dokter dengan lembut.

Hana menelan ludah. “Saya … telat haid, Dok. Sudah satu minggu. Terus beberapa hari ini sering mual dan pusing.”

Dokter mengangguk. “Baik. Saya tanya beberapa hal ya. Terakhir haid kapan?”

“Bulan kemarin, awal bulan.”

“Biasanya teratur?”

“Iya, cukup teratur.”

Dokter mencatat. “Mualnya sejak kapan?”

“Sekitar tiga hari lalu.”

“Disertai muntah?”

“Kadang.”

Dokter mengangguk lagi. Lalu tersenyum tipis. “Baik. Untuk memastikan, kita lakukan tes kehamilan dulu, ya.”

Hana hanya mengangguk pelan. Dokter mengambil sebuah alat tes, lalu menyerahkannya. “Silakan ke kamar mandi, tampung urin, lalu gunakan ini.”

Tangan Hana menerima alat itu dengan sedikit gemetar. Ia berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, suasana terasa lebih sunyi. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri. Hana menatap alat tes di tangannya. Kecil dan sederhana. Tapi bisa mengubah hidupnya.

Ia menarik napas panjang. Lalu melakukan apa yang diminta. Beberapa menit kemudian, ia keluar dan kembali ke ruang dokter. Alat tes itu ia letakkan di meja dengan hati-hati.

Dokter mengambilnya. Hana duduk diam. Menunggu apa yang akan dokter itu katakan.

Detik demi detik terasa menyiksa. Ia menatap wajah dokter itu, mencoba membaca ekspresinya. Namun, dokter masih fokus pada alat tes di tangannya.

Beberapa detik berlalu. Dokter itu tersenyum.

Senyum yang langsung membuat jantung Hana berhenti sejenak.

“Selamat, Bu Hana,” ucap dokter dengan lembut.

Hana menahan napas. Ia tak sabar menantikan kata selanjutnya dari sang dokter.

“Berdasarkan hasil tes, Anda positif hamil.”

Kalimat yang dokter ucapkan itu membuat dunia seakan berhenti. Suara itu menggema di kepalanya. Positif hamil.

Tangannya langsung mencengkeram ujung kursi. “Sa… saya … hamil …?” suaranya bergetar.

Dokter mengangguk. “Iya.”

Hana tidak langsung bereaksi. Ia hanya diam. Mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantam hidupnya.

Di dalam dirinya, ada kehidupan lain. Tapi, anak siapa?

Pertanyaan itu langsung muncul, menusuk tanpa ampun. Wajahnya perlahan memucat. Air matanya mulai menggenang, tapi tidak jatuh.

**

Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!