Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 13: Heimdall
Pepohonan mulai menipis.
Cahaya matahari yang sebelumnya tertahan oleh kanopi hutan kini jatuh lebih bebas ke tanah. Jalur yang Grachius lewati perlahan berubah dari jalan sempit penuh akar menjadi tanah yang lebih rata dan sering dilalui.
Udara juga berubah.
Tidak lagi hanya aroma daun basah dan tanah hutan.
Ada bau asap.
Kayu terbakar.
Dan sesuatu yang asing namun hangat—
makanan.
Grachius terus berjalan dengan langkah tenang.
Namun matanya mulai lebih sering bergerak.
Mengamati.
Mendengar.
Karena untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gubuk—
ia mendengar suara manusia lain.
Percakapan samar.
Tawa pendek.
Roda kayu yang berderit.
Langkah kaki yang bercampur dengan suara hewan penarik kereta.
Semua suara itu datang dari depan.
Dari luar hutan.
Grachius akhirnya berhenti ketika pepohonan terakhir terbuka.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melihat Heimdall.
Kota itu berdiri di kejauhan di bawah langit siang yang terang. Dinding batu besar mengelilinginya seperti benteng yang menjaga dunia di dalamnya dari apa pun yang ada di luar.
Gerbang utama terbuka lebar.
Orang-orang keluar masuk tanpa henti.
Asap tipis membumbung dari dalam kota, naik perlahan ke langit bersama suara kehidupan yang tidak pernah benar-benar diam.
Grachius memperhatikannya dalam diam.
Tidak kagum.
Tidak takut.
Namun jelas—
ini berbeda dari dunia yang ia kenal.
Sangat berbeda.
Angin bertiup pelan melewati rambut putih panjangnya.
Lalu ia kembali berjalan.
Keluar dari bayangan hutan.
Menuju jalan utama menuju Heimdall.
Semakin dekat ia ke gerbang, semakin banyak orang yang terlihat.
Pedagang dengan gerobak penuh barang.
Pengelana dengan pakaian berdebu.
Pemburu yang membawa hasil tangkapan.
Dan penjaga kota yang berdiri di dekat gerbang dengan tombak dan zirah kulit sederhana.
Grachius mengamati semuanya tanpa menyembunyikan tatapannya.
Orang-orang juga mulai memperhatikannya.
Bukan karena ia melakukan sesuatu.
Melainkan karena penampilannya sulit diabaikan.
Rambut putih panjang dengan semburat kuning kemerahan.
Mata berwarna kuning-merah redup seperti bara matahari.
Dan ketenangan aneh yang terlalu dalam untuk seseorang seusianya.
Namun Grachius tidak memedulikan tatapan itu.
Ia terus berjalan lurus menuju gerbang.
“Berhenti sebentar.”
Salah satu penjaga mengangkat tangan ketika Grachius mendekat.
Grachius berhenti tanpa protes.
Dua penjaga memperhatikannya dengan hati-hati.
Bukan curiga sepenuhnya.
Namun waspada.
“Kau dari mana?”
Pertanyaan itu datang singkat.
Grachius menjawab tanpa berpikir lama.
“Hutan.”
Kedua penjaga saling berpandangan singkat.
“Tujuan?”
Grachius sedikit memiringkan kepalanya.
“…Lewat.”
Jawaban itu membuat salah satu penjaga mengernyit.
“Lewat?”
Grachius mengangguk kecil.
“Aku menuju timur.”
Tidak ada kebohongan dalam nada suaranya.
Justru itu yang membuat jawaban tersebut terasa aneh.
Penjaga yang lebih tua memperhatikan Grachius lebih lama.
Tatapannya turun pada pedang Enjin di pinggangnya.
Lalu kembali ke mata Grachius.
Ada sesuatu yang terasa… tidak biasa.
Namun ia tidak bisa menjelaskan apa.
Pria muda di hadapannya terlihat tenang.
Seperti seseorang yang tidak benar-benar terpengaruh oleh suasana di sekitarnya.
Dan matanya—
mata itu terasa berbeda dari mata manusia biasa.
“Namamu?”
“Grachius.”
Penjaga itu mengangguk pelan.
Masih memperhatikan.
Namun tidak menemukan alasan untuk menahan lebih lama.
“Baiklah.”
Ia melangkah sedikit ke samping.
“Tapi jangan membuat masalah di Heimdall.”
Grachius mengangguk kecil.
“Aku tidak berniat begitu.”
Lalu ia kembali berjalan.
Melewati gerbang batu besar Heimdall.
Dan ketika langkahnya benar-benar masuk ke dalam kota—
sesuatu terasa berubah.
Bukan pada dirinya.
Melainkan pada dunia di sekitarnya.
Suara menjadi lebih ramai.
Langkah kaki.
Percakapan.
Teriakan pedagang.
Bau makanan, besi panas, kayu, dan manusia bercampur di udara.
Untuk pertama kalinya—
Grachius benar-benar memasuki dunia manusia.
...—...
Di belakangnya, kedua penjaga masih memperhatikan punggungnya yang semakin jauh masuk ke dalam kota.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Lalu penjaga yang lebih muda menghembuskan napas kecil.
“Orang yang aneh.”
Yang lebih tua tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih mengikuti Grachius.
“Lihat matanya?”
“Ya.”
Penjaga muda mengangguk.
“Kuning kemerahan…”
Ia menggaruk pipinya pelan.
“Dan rambutnya… aku belum pernah lihat warna putih seperti itu.”
Penjaga yang lebih tua menyilangkan tangan.
“Aku juga.”
Hening sejenak.
“Menurutmu dia bangsawan?”
“Tidak terasa seperti itu.”
“Pengelana?”
“Entahlah.”
Tatapan pria itu sedikit menyipit.
“Dia terasa…”
Ia berhenti sejenak, mencoba mencari kata yang tepat.
“…tidak cocok dengan tempat ini.”
Penjaga muda tertawa kecil.
“Selama dia tidak membuat masalah, aku tidak peduli.”
“Semoga saja.”
Namun jauh di dalam dirinya—
perasaan aneh itu belum hilang.
Seolah seseorang baru saja melewati gerbang kota…
dan membawa sesuatu bersamanya.
Sementara itu, jauh di depan—
Grachius terus berjalan menyusuri Heimdall.
Tatapannya bergerak pelan, mengamati bangunan batu, toko-toko kecil, dan manusia yang hidup dalam dunia yang belum pernah benar-benar ia lihat sebelumnya.
Tenang.
Diam.
Dan tanpa disadari siapa pun—
kedatangannya telah meninggalkan jejak kecil di kota itu.
Jejak yang suatu hari nanti…
mungkin akan mengubah jauh lebih banyak daripada Heimdall saja.
...—...
Kota Heimdall… hidup.
Itu adalah hal pertama yang disadari Grachius setelah beberapa langkah memasuki jalan utama kota.
Suara datang dari segala arah.
Pedagang meneriakkan dagangan mereka.
“Buah segar! Baru datang pagi ini!”
“Daging asap! Murah!”
“Rempah dari selatan!”
Langkah kaki memenuhi jalan batu. Orang-orang berjalan saling melewati tanpa berhenti—membawa keranjang, senjata, kain, atau hanya berbicara satu sama lain seolah dunia tidak pernah benar-benar sunyi.
Di kejauhan terdengar suara logam dipukul berulang kali.
Tang! Tang!
Pandai besi.
Anak-anak berlari di antara keramaian sambil tertawa tanpa peduli pada orang-orang dewasa yang mengomel karena hampir ditabrak.
Semua terasa… penuh.
Grachius berhenti sejenak di tengah jalan.
Tatapannya bergerak perlahan.
Mengamati.
Bukan seperti seseorang yang kagum melihat dunia baru.
Melainkan seperti seseorang yang sedang mempelajari sesuatu yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Bangunan-bangunan batu berdiri rapat di kiri kanan jalan. Sebagian memiliki papan kayu dengan simbol atau tulisan sederhana. Jendela-jendela terbuka memperlihatkan kehidupan di dalamnya.
Orang-orang berbicara dengan cepat.
Tertawa.
Bernegosiasi.
Mengeluh.
Hidup mereka bergerak begitu alami hingga terasa asing baginya.
Grachius kembali berjalan perlahan.
Matanya memperhatikan pakaian orang-orang.
Sebagian memakai kain sederhana.
Sebagian lain mengenakan zirah ringan dan membawa senjata.
Pedang.
Tombak.
Busur.
Namun kebanyakan dari mereka… biasa saja.
Tidak ada Qi yang kuat.
Tidak ada tekanan seperti yang biasa ia rasakan dari Purus atau dirinya sendiri.
Tetapi justru itu yang menarik.
Mereka tetap hidup.
Tetap berjalan.
Tetap tertawa.
Beberapa orang mulai memperhatikan Grachius saat ia lewat.
Bukan karena ia membuat keributan.
Melainkan karena ia terlihat berbeda.
Rambut putih panjang dengan semburat warna matahari.
Mata kuning kemerahan yang terlalu tenang.
Dan pedang Enjin di pinggangnya.
Tatapan orang-orang sering berhenti sepersekian detik padanya sebelum segera berpaling kembali.
Namun tidak ada yang mendekat.
Grachius tidak memedulikannya.
Perhatiannya tertarik pada suara logam di sisi jalan.
Ia berhenti di depan sebuah bengkel pandai besi terbuka.
Seorang pria besar bertelanjang lengan sedang mengangkat palu berat dan menghantam logam merah membara di atas landasan.
Tang!
Percikan api kecil beterbangan.
Keringat mengalir di wajah pria itu, namun gerakannya stabil dan terlatih.
Grachius memperhatikan cukup lama.
Bukan pada kekuatan pria itu.
Melainkan pada ritmenya.
Panas api.
Cara logam berubah bentuk.
Cara palu menghantam dengan pola tertentu.
Pandai besi itu sempat melirik Grachius.
Namun karena pemuda itu hanya berdiri diam memperhatikan, ia kembali bekerja tanpa berkata apa-apa.
Saat Grachius hendak melanjutkan langkah—
seorang anak kecil berlari melewatinya sambil tertawa.
“Hei! Jangan lari di jalan!”
Suara seorang wanita terdengar dari belakang.
Anak itu hanya tertawa lebih keras sebelum menghilang di antara keramaian.
Grachius memperhatikan beberapa detik.
Lalu melanjutkan langkahnya.
Angin membawa aroma hangat dari arah lain.
Grachius sedikit menoleh.
Roti.
Aromanya lembut dan baru matang.
Tanpa sadar, langkahnya bergerak mengikuti aroma tersebut hingga berhenti di depan sebuah lapak kecil.
Seorang pedagang tua sedang menyusun roti-roti hangat di atas kain bersih.
“Silakan.”
“Baru matang.”
Grachius memperhatikan roti itu sejenak.
Warna keemasan.
Uap tipis masih keluar dari permukaannya.
“Aku mau satu.”
Pedagang tua akhirnya mengangkat kepala.
Tatapannya sempat berhenti sesaat pada wajah Grachius, namun ia tidak banyak bereaksi.
“Dua Coppra.”
Grachius diam beberapa detik.
“…Coppra?”
Pedagang tua mengernyit sedikit.
“Koin perunggu?”
Grachius akhirnya teringat kantong kecil yang diberikan Purus.
Ia membuka kantong itu perlahan.
Dan benar saja—
di dalamnya terdapat beberapa koin berwarna berbeda.
Perunggu.
Dan perak.
Grachius mengambil dua koin perunggu dan memperhatikannya.
“Ini?”
Pedagang tua mengangguk.
"Ya."
Pedagang tua menyerahkan satu roti hangat padanya.
“Kau bukan orang dari sekitar sini?”
Grachius menerima rotinya.
“Terlihat?”
Pedagang tua tertawa kecil.
“Kau terlihat belum familiar dengan uang."
Grachius hanya tersenyum tipis.
Grachius kemudian melihat roti di tangannya.
Hangat.
Aromanya lembut.
Ia menggigitnya perlahan.
Dan untuk sesaat—
dunia terasa diam.
Karena sesuatu yang sangat sederhana.
Roti hangat.
Baru matang.
Grachius mengunyah perlahan sambil berdiri di tengah jalan kota yang ramai.
Orang-orang terus berjalan di sekitarnya.
Pedagang terus berteriak.
Anak-anak masih berlari.
Dan untuk pertama kalinya—
Grachius benar-benar merasakan kehidupan yang tidak berhubungan dengan latihan, pertarungan, atau balas dendam.
Kecil.
Namun berarti.
Tatapannya perlahan bergerak menyusuri Heimdall sekali lagi.
Dunia ternyata jauh lebih hidup daripada yang ia bayangkan.
Dan mungkin—
lebih rumit juga.
Grachius kembali berjalan perlahan menyusuri jalan batu kota.
Roti hangat masih di tangannya.
Dan di hadapannya—
dunia luas terus terbuka sedikit demi sedikit.
...A Novel By Franzzz...