NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

“RA!! AIRAAA!! JANGAN DIPIKIRIN GITU DONG!! LO ITU CANTIK BANGET SUMPAH!!”

Suara Dinda kembali terdengar nyaring memecah keheningan kamar yang mulai diselimuti malam. Beberapa malam ini Dinda memang sengaja menginap dirumah Aira untuk menghibur dan menyemangati sahabatnya itu. Sama seperti biasanya, malam ini sudah semakin larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi kegembiraan dan kepanikan sahabat Aira itu sepertinya tidak ada habisnya. Energi Dinda seolah tidak pernah habis. Sejak tadi pagi, siang, sore, hingga sekarang menjelang tengah malam, mulutnya tidak berhenti bergerak. Bertanya ini itu, mengoceh, menertawakan, dan terus menerus mengingatkan hal yang sama berulang-ulang.

Aira yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk lututnya, hanya bisa menghela napas panjang sambil tersenyum kecut. Dadanya masih terasa sesak oleh berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Rasa takut, cemas, haru, dan sedih bercampur menjadi satu.

“Iya Din… Aira tahu kok. Aira tahu maksud kamu baik,” jawab Aira pelan, suaranya terdengar lemah namun tenang. “Tapi tetep aja rasanya aneh dan ngeri ya bayanginnya. Besok kita bakal lamaran secara resmi. Keluarga besar mereka bakal datang ke sini. Rasanya kayak mimpi buruk yang bercampur indah. Aira bingung harus ngerasa senang atau takut.”

“Mimpi buruk maksud lo! Mimpi indah kali!” potong Dinda cepat dengan tegas. Dia langsung berguling di atas kasur, mendekatkan tubuhnya ke arah Aira, matanya berbinar-binar penuh dengan antusiasme yang tinggi. “Gila ya Ra… lo sadar gak sih apa yang bakal terjadi besok? Besok lo bakal dilamar secara resmi sama keluarga Praditya! Keluarga terkaya dan paling terpandang di kota ini!”

Dinda menghela napas panjang, seolah sedang membayangkan sesuatu yang sangat luar biasa.

“Lo tahu gak sih berapa banyak cewek di dunia ini yang mati-matian pengen ada di posisi lo sekarang?! Dapet suami tajir melintir, harta kekayaan yang gak ada habisnya, ganteng kayak model internasional, badan juga oke, wajah juga dapet! Ya meskipun kata orang-orang sih dia itu dingin banget, kayak es batu yang dibekuin di kutub utara gitu…”

Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi senyumnya tak pernah hilang.

“Tapi ya namanya juga cowok sukses kan, Ra! Wibawa gitu lho! Pokoknya lo beruntung banget bisa dapet dia!”

“Tapi kan pernikahannya kontrak, Din…” Aira menunduk, jari-jarinya yang lentik memainkan ujung kain selimut dengan gugup. Wajahnya terlihat sendu. “Bukan pernikahan biasa yang didasari sama cinta dan rasa sayang. Ini cuma perjanjian, cuma kesepakatan bisnis. Itu yang bikin Aira takut. Aira takut nggak sanggup menjalani hidup yang kayak gitu.”

Mendengar itu, Dinda langsung mendengus kesal. Dia mencolek pelan kening Aira dengan jarinya, ekspresinya berubah menjadi sedikit kesal tapi penuh dengan kasih sayang.

“Ih lo ini ya! Udah dibilangin berkali-kali! Kenapa sih harus dipikirin yang negatif mulu? Jalani aja dulu! Nikmati prosesnya! Yang penting tujuan utama lo tercapai kan? Papa lo bisa sembuh, usaha keluarga bisa selamat, hutang-hutang lunas! Urusan cinta-cintaan belakangan lah! Jangan dipikirin dulu!”

Dinda berhenti sejenak, lalu tiba-tiba dia menyengir jahil, senyumnya mengembang lebar dengan tatapan yang seolah tahu segalanya. Dia mendekatkan wajahnya, sangat dekat ke wajah Aira, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

“Lagian… siapa yang tahu kan? Jodoh itu rahasia Tuhan. Awalnya kontrak, siapa tahu akhirnya langgeng sampai tua, sampai punya anak cucu! Banyak kan cerita gitu di film-film? Awalnya benci atau cuek, eh ujung-ujungnya malah cinta mati! Atau… jangan-jangan malah lo yang baper duluan nih? Hah? Ngaku!”

Aira langsung memukul pelan lengan Dinda berkali-kali, pipinya memerah padam karena malu dan tersinggung sedikit.

“Apasih Din! Udah ah jangan ngeledek terus! Kan Aira udah bilang berkali-kali, Aira bakal jaga hati Aira kok! Nggak bakal ada yang namanya baper-baper klub! Ini cuma kerja sama!” elak Aira cepat, wajahnya membenam sedikit ke balik selimut.

“Halah… ngomong doang mah mudah!” Dinda terkekeh renyah, tawanya terdengar sangat ceria memenuhi kamar kecil itu. “Mulut sih ngomongnya kuat, hati siapa yang tahu? Perasaan itu gak bisa dipaksa Ra, dan gak bisa diatur sama kontrak!”

Dinda kembali duduk tegak, menatap Aira dengan wajah yang kembali serius dan penuh penekanan.

“Tapi inget terus kata gue ya Ra! HATI-HATI JANDA MUDA YA!!” serunya lagi, mengulang kalimat sakti yang sudah menjadi mantra beberapa hari ini. “Jangan sampai lo udah sayang banget, udah nyaman, eh tiba-tiba dia minta pisah pas kontrak habis! Nanti lo nangis darah gue gak mau tanggung jawab! Gue gak siap jadi tempat curhat lo yang galau berkepanjangan!”

“Dinda!!” Aira membenamkan wajahnya ke dalam bantal dengan keras, suaranya tertahan oleh kain bantal. “Kok lo ngomongin janda muda terus sih! Apaan sih! Belum nikah udah dibawa-bawa cerai segala! Sialan tau nggak!”

“Kan buat ngingetin! Biar lo waspada!” Dinda tertawa lepas, puas bisa menggoda sahabatnya itu. “Gue kan sayang sama lo! Gue gak mau sahabat gue yang cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung ini malah patah hati gara-gara cowok es batu! Lagian kan lo cewek baik-baik, pantes dapet yang lebih baik! Tapi ya sudahlah, ini takdir lo sekarang, jadi gue dukung aja.”

Setelah puas tertawa, Dinda kemudian duduk bersila menghadap Aira, posturnya terlihat lebih dewasa dan serius.

“Jadi… gimana detailnya besok? Proses lamaran itu gimana? Keluarga mereka datang langsung ke rumah ini ya? Pasti heboh banget tuh tetangga pada liat mobil mewah berjejer di jalan sempit ini! Wah, besok nama Aira Maharani bakal jadi buah bibir satu desa nih! Pasti ibu-ibu arisan pada iri!”

Aira mengangguk pelan, ia mengangkat wajahnya dari bantal. Matanya menatap jauh ke arah jendela tempat bulan bersinar terang.

“Iya Din. Besok sore jam empat mereka bakal datang. Bawa rombongan lengkap, bawa seserahan yang katanya banyak banget dan mewah, semuanya lengkap. Mas Elvano bilang, meskipun prosesnya cepat dan mendadak, tapi harus tetap sopan dan sesuai adat. Biar nggak ada yang bisa gunjing. Ibu sama Papa juga udah siapin yang terbaik buat menyambut mereka, meskipun rumah kita sederhana.”

“Wah… keren banget!” Dinda bersorak kecil, bertepuk tangan pelan. “Terus cincinnya? Gimana bentukannya? Besar gak? Berapa karat tuh? Wah, mulai sekarang jari manis lo bakal kinclong kayak ratu-ratu di TV!”

“Entahlah…” Aira menggeleng pelan, jari-jarinya secara tidak sadar menyentuh jari manisnya sendiri. “Aira belum tahu. Semuanya dirahasiakan sama pihak mereka. Katanya mau kasih kejutan buat Aira. Aira juga nggak berani nanya lebih jauh.”

“Wih… romantis juga dong si Mas Elvano!” Dinda semakin antusias. “Atau jangan-jangan dia sebenernya tipe orang yang romantis tapi dingin di luar? Tipe yang cuek tapi perhatian? Wah, seru nih ceritanya! Gue jadi penasaran banget gimana ekspresi dia pas liat lo cantik gitu besok! Pasti dia bakal kaget!”

“Mana mungkin dia terkesan…” Aira tersenyum getir, membayangkan wajah datar dan dingin pria itu. “Bagi dia ini cuma formalitas doang. Pasti pas lamaran nanti mukanya datar terus, dingin, kaku, gak ada senyumnya sama sekali kayak orang dipaksa dan diculik. Pasti dia juga nggak bakal nengokin Aira lama-lama.”

“Yaaa… kalau dia gak senyum, lo yang senyum dong!” seru Dinda semangat, mencoba membakar semangat sahabatnya. “Lo senyum yang lebar! Tunjukkin kalau lo itu cewek baik, sopan, ramah, dan berkelas! Biar dia sadar kalau dia dapet istri yang luar biasa harganya! Biar dia tahu dia beruntung banget punya lo!”

Tanpa menunggu jawaban, Dinda langsung menarik tangan Aira, memutar tubuh gadis itu menghadap cermin rias besar yang ada di sudut kamar. Cahaya lampu kamar yang hangat menerangi wajah mereka berdua.

“Coba liat deh! Lihat pantulan lo di cermin!” seru Dinda dengan nada yang sangat meyakinkan. Tangannya membetulkan sedikit rambut Aira. “Lo itu cantik Ra! Cantik alami! Manis! Aura baiknya keluar banget! Walaupun lo gak pake baju mewah sekalipun, walaupun lo cuma pake baju rumahan, lo tetep cantik dan memikat!”

Dinda menunjuk pantulan wajah Aira di kaca.

“Jadi bayangin besok… pas lo pake kebaya yang bagus, pas lo pake dandanan yang sopan, rambut diatur rapi… pasti lo bakal kelihatan anggun banget! Bakal kelihatan banget aura Nyonya Besarnya! Pasti semua orang pada terpana! Termasuk calon suami lo yang dingin itu!”

Aira menatap bayangannya sendiri di cermin lekat-lekat. Wajahnya yang berbentuk oval dengan mata besar yang teduh dan bulu mata yang panjang, kulitnya yang putih bersih, dan senyumnya yang selalu lembut. Memang, dia tipe kecantikan yang menenangkan, tipe kecantikan yang membuat siapa saja merasa nyaman dan damai melihatnya.

“Makasih ya Din…” bisik Aira tulus, matanya berkaca-kaca melihat pantulan sahabatnya di balik bahunya. “Kalau gak ada kamu mungkin Aira udah hancur dari kemarin. Kamu selalu bisa bikin Aira ketawa dan lebih percaya diri. Kamu sahabat terbaik Aira.”

“Duh masa sih?” Dinda tersenyum lebar, lalu memeluk lengan Aira erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya. “Iya dong! Gue kan sahabat sejati! Sahabat sejati itu yang ada di saat lo senang maupun susah! Yang bakal dukung lo apapun keputusan lo!”

“Dan mulai sekarang,” lanjut Dinda dengan semangat baru, “tugas gue adalah memastikan sahabat gue ini jadi istri yang paling bahagia, walaupun suaminya agak-agak dingin dan kaku kayak patung!”

 

Di tempat lain, jauh di tengah keramaian kota yang tidak pernah tidur. Di lantai tertinggi Gedung Praditya Group, di ruang kerja pribadi Elvano yang megah dan luas.

Suasana di sana terasa hening, dingin, dan sangat mencekam. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang besar dan suara AC yang menderum pelan.

Elvano Praditya sedang duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit asli berwarna hitam. Kedua tangannya saling bertaut menopang dagunya, matanya yang tajam dan gelap menatap lurus ke dinding kosong di hadapannya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Dingin, namun ada sedikit beban di sana.

Di hadapannya, berdiri Raka yang sedang melaporkan persiapan terakhir dengan wajah yang serius meski sesekali matanya melirik ingin menggoda.

“Jadi semuanya sudah siap Van,” lapor Raka dengan suara jelas. “Tim sudah mengecek ulang semuanya. Besok sore jam empat tepat kita berangkat ke sana. Rombongan juga sudah diatur urutannya, mobil pengiring sudah siap. Seserahan semuanya sudah dikemas dengan sangat mewah dan elegan sesuai permintaan orang tua lo dan standar keluarga kita. Buah-buahan, kue, perhiasan, semuanya yang kualitas terbaik.”

Raka berhenti sejenak, lalu menyentuh sebuah kotak kecil di atas meja.

“Cincin pertunangan juga sudah disimpan aman di sini. Modelnya elegan, berliannya besar dan bersinar. Pasti cewek mana pun bakal langsung klepek-klepek liatnya. Semuanya berjalan dengan mulus sesuai rencana. Nggak ada kendala sama sekali.”

Elvano hanya mengangguk pelan sekali, tanpa bersuara. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

“Tapi…” Raka tiba-tiba mengubah suaranya menjadi nada menggoda, dia menyandarkan tubuhnya ke tepi meja kerja Elvano. “Gue heran deh sama lo. Besok lo bakal lamar cewek yang bakal jadi istri sah lo, kenapa muka lo malah lebih menyeramkan daripada mau memimpin perang? Coba dong senyum dikit dong Van! Senyum yang manis gitu!”

Raka mencoba meniru senyum, tapi Elvano hanya menatapnya datar.

“Nanti pas liat calon istri jangan kaku banget gitu! Kasihan ceweknya bisa lari terbirit-birit ketakutan! Ingat Van, besok lo jadi mempelai pria, bukan jadi hakim pengadilan!”

“Urusi diri lo sendiri Ka,” sahut Elvano dingin, suaranya rendah dan berwibawa tanpa memandang sahabatnya. “Gue tahu apa yang harus gue lakuin. Gue ngerti etika dan sopan santun. Gue cuma mau ini semua cepat selesai dan berjalan dengan lancar tanpa ada drama yang tidak perlu. Gue gak suka keributan atau hal-hal yang berlebihan dan membuang waktu.”

“Wih… galak banget sih!” Raka terkekeh, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oke oke, siap Tuan Bos Besar! Perintah diterima!”

Namun, Raka tidak langsung pergi. Dia menatap Elvano lekat-lekat, kali ini nadanya lebih serius.

“Tapi serius Van… lo harus siap mental ya. Setelah lamaran ini, semuanya bakal berjalan sangat cepat. Hitungan hari lagi lo bakal akad nikah, dan langsung hidup serumah sama dia. Lo beneran siap hidup bareng cewek yang sama sekali asing buat lo?”

Elvano terdiam sejenak. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Di benaknya, tiba-tiba terbayang wajah lembut Aira. Gadis itu terlihat begitu polos, begitu tulus, dan sangat berbeda dengan wanita-wanita karir atau sosialita yang biasa ada di sekitarnya. Ada kesucian di matanya yang membuat Elvano merasa… aneh.

“Gue sudah mengambil keputusan, Ka,” jawab Elvano akhirnya dengan suara yang tegas dan mantap. “Dan gue tidak akan pernah menyesal atau mundur. Aira sudah setuju dengan syaratnya, dan gue akan menepati janji gue. Dia akan dapat apa yang dia mau, pengobatan ayahnya dan keamanan ekonomi, dan gue dapat ketenangan yang gue butuhin serta pewaris yang sah. Itu saja. Saling menguntungkan.”

“Semoga aja langgeng sampai waktu yang ditentukan ya…” gumam Raka pelan, hampir tak terdengar.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!