NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Suasana di dalam gerai elit itu mendadak menjadi sangat mencekam. Udara seolah membeku, tersedot oleh gravitasi sebuah benda yang bertengger angkuh di atas meja kaca.

Semua mata kini terpaku pada satu titik, batu berlian raksasa milik Juan yang tengah berada di bawah ujung sensor alat detektor paling canggih.

Bunyi desis halus dari alat itu terdengar seperti detak jantung yang memburu di tengah keheningan yang menyesakkan.

Heri dan Tarjo berdiri di sisi kanan Juan dengan tubuh kaku.

Heri bahkan tak sadar jemarinya menggenggam topi lusuh di tangannya hingga remuk, sementara Tarjo berkali-kali menelan ludah, melirik ke arah para pengunjung elit yang kini menatap mereka dengan sorot mata yang berubah drastis, dari hinaan menjadi rasa ingin tahu yang liar.

Di sudut lain, Ferdiyan berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya yang tampan kini tampak tegang, urat-urat di lehernya menonjol, meski ia berusaha keras memoles wajahnya dengan senyum sinis yang dipaksakan.

Di belakangnya, Laras berdiri dengan tubuh sedikit gemetar. Wajah cantik wanita itu kini tampak kacau, ada rona malu yang membakar pipinya, namun matanya tak bisa lepas dari kilau batu yang dulu ia anggap sebagai sampah pasar malam.

Alisa, sang manajer yang mempesona, berdiri dengan sikap sempurna. Blazer putihnya yang ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal, sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik staf ahlinya. Ia tahu, momen ini akan menjadi sejarah terbesar bagi tokonya.

Menit-menit berlalu seperti jam yang lambat. Ketegangan memuncak hingga ke ujung saraf.

Akhirnya, staf ahli pria paruh baya itu menegakkan punggungnya. Ia melepas kacamata dengan tangan yang gemetar hebat, lalu menatap Alisa dengan pupil mata yang melebar penuh guncangan.

“Bu Alisa,” suaranya serak, hampir pecah karena takjub. “Batu ini… ini bukan sekadar asli. Ini adalah salah satu jenis berlian paling langka yang pernah ditemukan manusia. Struktur molekul dalamnya hampir sempurna tanpa cacat sedikit pun, dan warnanya… ini adalah kejernihan tingkat tertinggi yang pernah saya lihat seumur hidup saya.”

DEZ!

Bisikan langsung meledak di seluruh ruangan seperti ombak yang pecah di karang. Para pembeli yang tadi ikut mencibir kini saling pandang dengan wajah pucat pasi.

“Langka katanya…?”

“Tuhan, kalau asli dan sebesar itu, berarti nilainya tidak masuk akal!”

“Siapa sebenarnya anak muda berbaju kusam itu?”

Alisa mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat belahan dadanya sedikit terlihat di balik kerah blazer, namun ia tak peduli. Fokusnya hanya pada satu hal. “Kau yakin dengan penilaianmu?”

“Seratus persen yakin, Bu. Selama puluhan tahun saya bergelut di dunia permata, saya bahkan belum pernah bermimpi melihat yang seperti ini ada di tangan seseorang secara langsung.”

Alisa menatap Juan. Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen menenangkan debar jantungnya. Ada rasa syukur yang mendalam di hatinya karena ia tidak ikut-ikutan menghina pemuda di depannya ini.

Ia melangkah mendekat, aroma parfum melatinya kini menyerbu indra penciuman Juan, terasa sangat intim dan menggoda.

“Tuan Juan,” Alisa berucap dengan nada yang kini sangat manis namun penuh penghormatan. “Berlian Anda ini benar-benar harta karun. Izinkan saya menawarkan harga pembuka yang layak bagi kehormatan batu ini.”

Juan tetap tenang, wajahnya yang kini terlihat lebih maskulin dan berwibawa tidak sedikit pun goyah oleh pesona Alisa. “Silakan, Bu.”

Alisa membasahi bibirnya yang merah, lalu berucap dengan suara yang jelas ke seluruh ruangan, “Dua miliar rupiah.”

Angka itu menghantam ruangan seperti dentuman meriam. Seisi toko langsung riuh.

“Dua miliar? Hanya untuk satu batu?”

“Gila! Pemuda itu mendadak jadi miliarder!”

Heri nyaris melompat, matanya melotot tajam ke arah Tarjo. “Dua miliar, Jo! DUA MILIAR! Kita bisa beli satu desa!” bisiknya dengan suara yang bergetar hebat karena kegirangan. Tarjo sendiri hanya bisa memegangi dadanya, napasnya tersengal seolah baru saja berlari berkilo-kilo meter.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Juan tetap berdiri tegak. Tak ada euforia berlebihan, tak ada lompatan kegirangan.

Ia tahu, Ferdiyan sedang menatapnya, dan ia tidak ingin memberikan kepuasan pada pria sombong itu dengan terlihat seperti orang yang kaget melihat uang.

Ferdiyan, yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh kenyataan, mendengus keras. Ia melangkah maju dengan angkuh, mencoba menutupi rasa malunya. “Heh, cuma dua miliar? Kecil! Itu hanya uang receh bagi keluarga Sudarman,” ejeknya dengan nada menghina yang dipaksakan.

Laras melirik Ferdiyan dengan tatapan ragu, namun pria itu sudah telanjur dikuasai ego. Ferdiyan menatap Juan dengan tatapan penuh kebencian. “Selamat, Juan. Sekarang kamu bisa beli motor bekas atau rumah petak di pinggiran kota. Tapi ingat, uang dua miliar tidak akan pernah membuatmu sejajar dengan aku. Kekayaan keluarga Sudarman tidak akan pernah terkejar oleh gembel sepertimu bahkan dalam seratus tahun!”

Heri yang naik pitam hendak maju menantang, namun Juan mengangkat tangannya. Sebuah gerakan sederhana yang penuh wibawa, menghentikan langkah sahabatnya seketika.

“Sudah, Ri. Tidak perlu melayani orang yang sedang ketakutan,” ucap Juan datar. Ia menatap Ferdiyan dengan pandangan yang kosong, seolah pria kaya itu hanya butiran debu. “Kamu boleh kaya, Fer. Tapi kekayaan tanpa harga diri hanyalah tumpukan sampah. Aku tidak datang ke sini untuk bersaing dengan siapa pun, apalagi dengan orang sepertimu.”

Ferdiyan terbungkam. Lidahnya kelu. Ketenangan Juan justru membuatnya terlihat semakin kecil dan pecundang.

Juan kemudian menoleh pada Alisa yang masih menantinya. “Bu Alisa, terima kasih atas tawarannya. Tapi saya rasa, dua miliar masih terlalu murah untuk berlian langka yang bahkan belum pernah dilihat oleh staf ahli Anda seumur hidupnya.”

Alisa tersentak. Ia melihat kilat kecerdasan dan ketegasan di mata Juan. Ia segera menyadari bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan yang bisa dibodohi dengan angka besar.

“Maafkan saya, Tuan Juan. Anda benar,” Alisa berucap cepat, wajahnya sedikit memerah karena malu menawar terlalu rendah. “Izinkan saya memperbaikinya. Lima miliar rupiah. Itulah harga yang pantas untuk batu luar biasa ini.”

Juan tersenyum tipis. Ia sudah menduga insting Alisa akan bekerja cepat. “Jika Anda memang menginginkannya, lima miliar adalah angka yang adil. Saya setuju.”

Transaksi dilakukan dengan sangat cepat. Alisa sendiri yang memproses transfer dana tersebut. Dalam hitungan detik, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Juan, sebuah angka dengan nol yang sangat banyak kini menghuni saldo ATM-nya. Lima miliar rupiah.

Setelah bersalaman dan menerima kartu nama pribadi Alisa yang disisipkan dengan cara yang sedikit menggoda ke telapak tangannya, Juan mengajak kedua sahabatnya pergi.

Di dalam toko, Ferdiyan hanya bisa berdiri mematung. Wajahnya merah padam, menanggung malu yang luar biasa saat para pengunjung lain mulai berbisik sinis ke arahnya.

“Kaya tapi sombongnya minta ampun, ternyata cuma pecundang,” bisik seorang sosialita sambil menatap Ferdiyan jijik.

Ferdiyan mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Tanpa kata, ia berbalik dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Laras yang masih terpaku menatap pintu keluar.

Laras meremas gaunnya, matanya berkaca-kaca menatap punggung Juan yang menjauh. Ada rasa penyesalan yang begitu dalam dan menyesakkan dadanya, ia baru saja membuang berlian asli demi mengejar tembaga yang berkarat.

Alisa menghela napas panjang, menatap kepergian Juan dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menoleh pada bawahannya.

“Ingat ini baik-baik. Jangan pernah menilai orang dari pakaiannya. Terkadang, yang terlihat paling biasa justru menyimpan kekuatan yang sanggup membeli seluruh isi toko ini.”

Di luar toko, langkah Juan terasa ringan namun mantap. Ia bisa merasakan energi dari liontin biru di lehernya bergetar selaras dengan saldo di rekeningnya. Ia tahu, hidupnya telah berubah selamanya.

Ia meraba saku bajunya, merasakan kartu nama Alisa di sana. Sebuah isyarat bahwa takdir baru saja membuka pintu ke dunia yang lebih luas, lebih mewah, dan tentu saja... lebih liar.

"Ini baru permulaan, Fer... Laras... Kalian akan melihat siapa Juan yang sebenarnya," gumamnya dalam hati sembari menembus keramaian kota dengan kepala tegak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!