NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

'Jangan Berhenti'

Koridor bawah tanah rumah sakit itu seperti usus buntu yang lembap dan berisik. Dengungan generator dari suatu tempat terdengar seperti nafas raksasa yang sakit. Jimin memimpin dengan senter yang mereka temukan di ruang isolasi, diikuti oleh Chenle dan dirinya yang memapah Eunseok. Minjeong dengan tegas mendorong kursi roda Ningning, diiringi oleh yang lain yang membawa tas-tas berat penuh harapan dan ketakutan.

"Kita harus naik," bisik Hina, matanya menyusuri peta denah darurat yang dia rengkuh dari dinding. "Tapi tangga servis yang kita lewati tadi... terlalu dekat dengan ruang isolasi. Bisa jadi ada Klepek-Klepek yang tertarik keributan kita."

"Ada jalur lain gak?" tanya A-na, suaranya tegang. "Jalur pasokan atau pipa?"

"Di sini!" Ian yang menunjuk ke sebuah pintu besi bertuliskan 'DOK' di ujung koridor. "Dokumentasi? Atau... mungkin ruang server?"

Jimin mendekat. Pintu itu tidak terkunci. Di dalam, ruangan kecil penuh dengan rak-rak berdebu berisi kotak-kotak berkas dan-yang lebih penting-sebuah tangga spiral besi yang menembus langit-langit.

"Ini dia," gumam Jimin. "Kemungkinan ke lantai dasar atau lantai satu. Siapa yang mau cek dulu?"

"Gue," Chenle menawarkan diri dengan segera, melepaskan papahan pada Eunseok ke Sohee. "Gue yang paling ringan dan cepet."

Sebelum Jimin bisa melarang, Chenle sudah memanjat tangga itu dengan lincah. Beberapa detik yang menegangkan, lalu suaranya terdengar dari atas. "Bersih! Ini keluar ke... gudang alat bedah, kayaknya. Ada jendela kecil ke taman!"

"Taman? Taman dalam?" tanya Jimin cepat.

"Iya! Dan... dan ada orang! Banyak orang! Di bawah pohon besar! Itu... itu Jaemin! Mark DAN Yang Lain!'' lugas chenle

Kata-kata itu seperti suntikan adrenalin ke dalam darah mereka semua. Mereka menemukan yang lain!

"Cepetan! Naik semua!" perintah Jimin.

Dengan usaha yang lebih cepat, mereka membantu Eunseok menaiki tangga. Minjeong dengan susah payah dan bantuan Yuha dan Yeon, mengangkat kursi roda Ningning langkah demi langkah. Tas-tas berat diteruskan seperti estafet.

Pintu gudang alat bedah terbuka dengan hentakan bahu Sungchan. Cahaya siang yang terik menyapu wajah-wajah mereka yang terbiasa dengan kegelapan. Mereka tumpah ruah ke sebuah teras beton kecil di belakang rumah sakit, yang menghadap langsung ke Taman Dalam-tempat yang sama di mana kelompok Jaemin terkepung tadi.

Dan di sana, di bawah naungan pohon besar yang daunnya bergugusan, kelompok Jaemin sedang dalam posisi bertahan mati-matian.

"JIMIN! MINJEONG! CHENLE!" teriak Mark, suaranya serak penuh kelegaan yang tak terbendung saat melihat wajah-wajah yang hilang itu muncul dari gedung.

"MARK! YERI! JAEMIN!" Minjeong membalas, tangannya tak sengaja melepaskan pegangan kursi roda Ningning.

Dalam sekejap, dua kelompok yang terpisah itu berlari mendekat. Tidak peduli dengan bahaya yang mungkin mengintai. Mereka bertabrakan dalam pelukan yang kacau, penuh isak tangis dan tepukan punggung.

Yeri memeluk Stella erat-erat. Chenle langsung terjatuh di samping kursi roda Ningning, memegangi tangannya sambil menangis.

Jaemin dan Jimin saling memandang, lalu Jimin menarik Jaemin dalam pelukan singkat yang kuat.

...

...

"Gue kira... gue kira lo semua-" kata Jaemin, suaranya tercekat di pelukan jimin.

"Kami juga," jawab Jimin cepat, melepaskan pelukan.

Di tengah keriuhan reuni itu, Jimin baru ngeh saat memperhatikan lengan Jaemin,ternyata terluka, Jimin langsung menuntut, "Kenapa tuh?"

Dari kerumunan, renjun menyahut dengan nada jengah, "Tuh, Jaemin sok-sokan jadi pahlawan."

"Ooh, tenang aja ini Gak papa kok," jawab Jaemin singkat.

Di samping Jimin, Minjeong berdiri kaku. Pandangannya tertancap pada luka itu, raut wajahnya jelas-jelas khawatir. juga ingin menanyai keadaan Jaemin, yang sedang menanggapi Jimin, jaemin juga tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah minjeong, memastikan dia baik-baik saja. Pandangan mereka bertemu sekilas-sebuah pertukaran diam-diam yang penuh tanya dan kelegaan-sebelum Jaemin cepat-cepat memalingkan muka, sementara Minjeong menarik napas dalam.

"Hei, gitu juga lo harus tetep hati hati, eh Tapi kita gak ada waktu. Dengerin ya." Mata jimin memindai sekeliling taman dengan waspada.

"Kami ketemu seorang dokter. Dia bilang makhluk itu disebut EF-X, Entitas Fotofobia-X. Mereka bukan alien dari luar angkasa, tapi dari... dimensi lain yang kebuka. Mereka sensitif banget sama cahaya dan suara karena di dunia asal mereka gelap dan sunyi total. Mereka nggak 'makan' daging kayak kita, tapi mereka serap energi biologis, panas, dan... sinyal kimia dari tubuh kita!"

"Makanya Ningning yang lagi demam tinggi jadi target?" Giselle menyela, mencerna informasi cepat.

"Iya!" Hina menambahkan, "Dan dokter gila itu mau jadikan Ningning bahan percobaan! Kita harus-"

Nasihat itu terpotong.

Dari atap rumah sakit, dari balik jendela-jendela yang pecah, bahkan dari selokan taman-puluhan titik cahaya biru tiba-taru bermunculan, berkedip-kedip dengan pola gila.

SKREEEEEEEEEEE-!!!

Lengkingan yang bukan lagi berasal dari satu atau dua makhluk, tapi seperti paduan suara yang mengerikan, memekakkan telinga dan mengisi udara dengan getaran murni teror.

"ASTAGA... SEMUANYA..." bisik Shotaro, matanya membelalak.

Mereka bukan lagi sekelompok kecil. Mereka adalah gerombolan. Lima, sepuluh, lima belas... lebih. Beberapa merayap di dinding seperti cicak raksasa. Beberapa berjalan dengan gerakan kaki yang janggal di tanah. Dan yang paling mengerikan, beberapa mengepakkan sayap membran besar mereka, lepas landas dari atap dan mulai mengitari area taman seperti burung nasar yang mencium bangkai.

"LARI!" teriak Jimin dan Jaemin hampir bersamaan, suara mereka menyatu dalam kepanikan yang sama.

Kepanikan sempurna meledak, tapi kali ini ada pola. Insting bertahan hidup mereka yang sudah terasah memandu.

"JANGAN ADA YANG TERTINGGAL! BANTU YANG LAIN!" pekik Jeno.

Minjeong langsung kembali ke kursi roda Ningning, tetapi Mark yang lebih kuat dan tidak terluka menyambar pegangan itu darinya. "Biar Gue aja yang dorong! Lo jaga samping!"

"Shotaro, bantuin gue bopong Eunseok!" Chenle berteriak. Shotaro berlari, dan dengan sigap mereka mengangkat Eunseok yang pucat ke dalam papahan mereka.

"Sion, gandengan erat sama gue!" Anton meraih tangan Oh Sion yang pincang.

"Ian, sini! Pegang bahu gue!" Renjun menarik Ian yang kakinya keseleo.

Mereka berhamburan meninggalkan teras beton, menyusuri jalan setapak taman yang sempit, menuju sebuah gerbang besi tinggi di ujung yang tampaknya menuju ke area parkir atau jalan samping rumah sakit. Tas-tas berat dibawa oleh yang masih kuat seperti Sungchan dan Jeno.

Di belakang, lengkingan semakin dekat. Mereka mendengar suara kepakan sayap yang mendesing di atas kepala, cakar menggores pohon, dan decitan komunikasi antar makhluk yang semakin banyak.

"CEPAT! GERBANGNYA! DORONG!" Jimin yang paling depan sampai lebih dulu. Dia dan Jaemin mendorong daun gerbang besi yang berat itu. Kreeek... Gerbang itu bergeser perlahan.

Satu Klepek-Klepek yang berjalan cepat, lebih gesit dari yang lain, sudah sampai di belakang mereka. Dia melompat, mengincar Yuha yang berlari di barisan belakang.

"YUHA, JONGKOK!" teriak Haechan dengan refleks. Yuha menjatuhkan diri. Klepek-Klepek itu melayang di atasnya, dan Sungchan yang berbalik dengan tas besar di punggungnya, mengayunkan tas itu seperti batu raksasa. Duump! Tas berisi kaleng makanan itu menghantam sisi tubuh makhluk itu, membuatnya terpelanting.

Gerbang terbuka cukup lebar. "MASUK! SEMUANYA MASUK!"

Seperti air yang meluap, remaja itu menyembur keluar dari taman, masuk ke area parkir sepeda dan motor yang berantakan di sisi rumah sakit. Mereka tidak berhenti. Mereka terus berlari, menyusuri dinding luar gedung, mencari jalan utama, mencari apa pun yang bisa menjadi perlindungan.

Napas mereka tersengal, kaki terasa seperti batu, hati berdebar kencang hampir meledak. Tapi mereka masih bersama. Ningning di kursi roda didorong kencang oleh Mark. Eunseok dibopong dengan susah payah. Sion dan Ian tertatih-tatih tetapi tidak jatuh. Mereka adalah sebuah tubuh yang terluka, ketakutan, tetapi masih bergerak, masih hidup.

Pelarian mereka belum berakhir. Mereka telah meninggalkan rumah sakit, tetapi dunia di luar ternyata sama gelap dan berbahayanya. Dan sekarang, mereka membawa serta pengetahuan mengerikan tentang apa yang mengejar mereka, serta harapan tipis untuk bertahan-sebagai sebuah keluarga yang dipersatukan oleh darah, air mata, dan ketakutan yang sama.

Pelarian mereka melalui gang-gang semput macet oleh ketakutan murni. Suara kepakan sayap yang semakin banyak dan dekat memaksa mereka untuk terus bergerak, meski kaki terasa seperti timah cair. Mark mendorong kursi roda Ningning dengan napas tersengal, roda karetnya berdecit di atas aspal yang retak.

Tiba-tiba, dari atap sebuah ruko dua lantai di samping kiri mereka, sebuah bayangan hitam meluncur dengan kecepatan mematikan. Bukan menukik dari atas, tapi melompat horizontal seperti predator kucing besar.

"DARI KIRI!" teriak Jeno, tapi sudah terlambat.

Cakar hitam yang seperti kait baja menyambar dan mengaitkan diri di tas punggung Sunkyung-yang kebetulan berlari di barisan tengah dekat Yeon dan Yuha.

"AAAAAKHHH! TOLONG! TOLONGIN AKU! IBU!!!" jeritan Sunkyung yang melengking dan penuh kengerian murni memecah udara. Tubuh mungilnya terhentak mundur, terseret beberapa langkah oleh tenaga makhluk itu yang mulai mengepakan sayap untuk membawa 'buruannya'.

Kepanikan meledak. Formasi mereka kacau. Yeon menjerit melihat temannya diseret. Yuha berusaha menarik tangan Sunkyung tapi terpental.

"JANGAN BERHENTI! YANG LAIN TETAP LARI KE DEPAN!" Sungchan meneriakkan perintah dengan suara yang menggelegar, memecah kebingungan.

Matanya yang tajam sudah menilai situasi dengan cepat. "Shotaro! Haechan! Mark! Bantu gue! Jadi umpan! Kita urus ini!"

"GUE? KENAPA HARUS GUE?!" Haechan nyaris menangis, wajahnya pucat melihat Klepek-Klepek yang sedang berusaha mengangkat tubuh Sunkyung yang menjerit-jerit. "AMBIL YANG LAIN! JENO! CHENLE! RENJUN!"

"CHENLE HARUS JAGA NINGNING! RENJUN, JENO, ANTON, SOHEE JAGA BARISAN DEPAN DAN YANG LAIN! GAADA WAKTU DEBAT, HAECHAN! SEKARANG!" Sungchan membentak, sambil sudah mengambil ancang-ancang dengan sebatang besi yang dia ambil dari tanah.

Jaemin dengan lengan terlukanya berdenyut nyeri, Eunseok yang masih lemas, dan Sion yang pincang hanya bisa melihat dengan rasa takut dan frustrasi yang menghancurkan. Mereka tidak bisa bertarung.

"HAECHAN, LO BISA! GUE PERCAYA!" Mark melepaskan kursi roda Ningning ke Minjeong, lalu mengambil pipa besi lainnya. "KITA TIGA LAWAN SATU! SHOTARO, LO BISA alihin perhatiannya!"

Shotaro, meski wajahnya juga penuh ketakutan, mengangguk cepat. Kelincahannya adalah aset.

"YANG LAIN... LARIIIIII!" pekik Jimin dari depan, hatinya tercabik antara ingin membantu dan harus menyelamatkan mayoritas.

jimin melihat Jaemin yang mengangguk pahit, lalu menoleh ke depan. "TERUS JALAN! JANGAN LIHAT BELAKANG!"

Barisan terdepan-dipimpin Jimin, dengan Chenle yang kini mendorong kursi roda Ningning, Jeno, Renjun, Anton, Sohee, dan lainnya-terpaksa terus berlari, meninggalkan empat orang teman mereka yang berbalik menghadapi mimpi buruk yang hidup.

Haechan menggigit bibirnya hingga berdarah. Air mata ketakutan mengalir deras, tapi kaki bergerak.

haechan mengambil batu bata pecah. "BAJINGAN... BAJINGAN KAU..." geramnya, lalu dengan teriakan campur amarah dan teror, dia melemparkan batu bata itu sekuat tenaga ke arah 'kepala' Klepek-Klepek yang sedang fokus pada Sunkyung.

Thwack! Batu itu mengenai tepat di bagian yang dipenuhi titik biru. Klepek-Klepek itu mendengus marah, melepaskan cengkeramannya pada tas Sunkyung untuk sesaat. Sunkyung jatuh terpelanting ke tanah, menangis histeris.

"SEKARANG!" Sungchan menerjang, menghunjamkan besinya ke sisi tubuh makhluk itu. Mark dari sisi lain mengayunkan pipanya. Shotaro dengan lincah menarik tubuh Sunkyung yang tergeletak, menjauhkannya dari jangkauan.

Klepek-Klepek itu kini menghadapi tiga ancaman. Dia mendesis, marah. Cakarnya menyambar ke arah Sungchan yang paling dekat. Sungchan menghindar, tapi cakar itu mengoyak pahanya. "SIAL!" Sungchan terpincang, tapi tidak jatuh.

"MARK, JAGA SUNKYUNG! SHOTARO, BANTU GUE!" teriak Haechan, dan untuk pertama kalinya, suaranya tidak lagi penuh kelucuan, tetapi tekad yang putus asa. Dia mengambil risiko, berlari mendekat, dan dengan sepotong besi runcing yang dia ambil dari reruntuhan, dia menusuk ke arah 'sayap' membran makhluk itu.

SCHLUCK! Suara menusuk jaringan yang kenyal.

Klepek-Klepek itu menjerit kesakitan, sebuah suara bernada tinggi yang menyayat. Dia mengibas-kibaskan tubuhnya, menjatuhkan Haechan. Tapi kerusakan telah dilakukan. Sayapnya yang terluka membuatnya tidak seimbang.

"CABUT! LARI!" teriak Sungchan.

Shotaro dan Mark langsung menarik Haechan yang terjatuh dan Sunkyung yang hampir pingsan. Mereka berlari menyusul kelompok utama, meninggalkan Klepek-Klepek yang terluka dan mengamuk di belakang.

Mereka berhasil. Mereka menyelamatkan Sunkyung. Tapi harga yang dibayar adalah luka baru di paha Sungchan, dan trauma yang lebih dalam di diri mereka semua-terutama Haechan, yang wajahnya kini dipenuhi kotoran, darah, dan ekspresi kosong, menyadari bahwa dia baru saja menusuk makhluk hidup (atau apapun itu) untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!