Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pagi itu, suasana café belum sepenuhnya ramai. Kursi-kursi masih tertata rapi, aroma kopi baru mulai menyebar, dan cahaya matahari masuk perlahan dari kaca depan, memberi kesan hangat yang tenang.
Seperti biasa, orang pertama yang sudah mengisi ruang itu adalah Maria.
Wanita itu berdiri di pantry, mengenakan apron, tangannya sibuk membentuk adonan roti dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Wajahnya tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya, seolah rutinitas pagi adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan pikirannya.
Pintu café terbuka pelan. Nindi masuk. Langkahnya ringan, tapi pikirannya masih belum benar-benar tenang sejak perjalanan tadi bersama Clay. Ada sesuatu yang tertinggal dari percakapan mereka. Sesuatu yang belum selesai. Namun seperti biasa, Nindi memilih menaruh itu di belakang dulu.
“Pagi, Maria,” sapa Nindi sambil langsung menuju pantry.
Maria menoleh dan tersenyum hangat. “Pagi. Cepat sekali.”
Tanpa banyak basa-basi, Nindi langsung mendekat. “Aku bantu ya?”
Maria tidak langsung menolak seperti biasanya. Ia hanya melirik sekilas, lalu mengangguk kecil.
“Kamu bisa bantu masukkan roti ini ke oven. Yang sudah matang nanti dibawa ke depan.”
“Siap,” jawab Nindi.
Gerakan mereka mulai selaras. Satu menyiapkan, satu memanggang, satu mengantar. Ritme sederhana yang terasa nyaman.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tidak canggung. Namun seperti biasa, Maria bukan tipe orang yang benar-benar diam terlalu lama.
“Kamu berangkat sama Clay hari ini?” tanyanya tiba-tiba, nadanya ringan, seolah hanya pertanyaan biasa.
Nindi menjawab tanpa curiga. “Iya. Kebetulan ketemu di depan rumah.”
Maria mengangguk pelan. Tapi senyumnya berubah sedikit.
“Ketemu atau ditunggu?” gumamnya setengah bercanda.
Nindi berhenti sebentar. “Hah?”
Maria melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Oh… jadi ditunggu, ya.”
Nindi mengernyit. “Apa maksudnya?”
Maria tidak langsung menjawab. Ia kembali merapikan adonan di tangannya, seolah itu bukan hal penting. “Kalau ‘ketemu’, itu biasanya tidak sengaja,” katanya santai. “Kalau ‘menunggu’…” ia berhenti sebentar, lalu melirik lagi, “…itu berarti memang sengaja.”
Hening.
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, terasa seperti ada jarak yang cukup jelas di antara dua kemungkinan itu. Dan Nindi, tiba-tiba tidak yakin, ia berada di yang mana.
Maria menggeser loyang ke samping, lalu menatapnya lagi. “Kamu tidak merasakan bedanya?”
Nindi mengernyit. “Bedanya apa?”
Maria tersenyum kecil. Tidak mengejek, tapi jelas tahu sesuatu yang Nindi belum mau akui. “Sudah cukup kelihatan, sebenarnya.”
Nindi menggeleng pelan, sedikit defensif. “Aku tidak merasa ada yang berbeda.”
Maria tidak langsung membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali ke pekerjaannya. “Ya, mungkin kamu memang tidak sadar.”
Lalu, tanpa melihat lagi ke arah Nindi, Maria menambahkan dengan nada ringan, “Clay mulai memperhatikanmu.”
Sunyi.
Kalimat itu tidak keras. Tidak juga dramatis. Tapi justru karena itu, terdengar jauh lebih jelas. Tangan Nindi yang tadi bergerak perlahan, kini benar-benar berhenti. Nindi tidak menyangka Maria akan mengatakan itu sejelas itu. Bukan karena kalimatnya keras, justru karena nadanya terlalu biasa. Terlalu tenang. Seolah itu sesuatu yang sudah jelas terlihat oleh orang lain.
Dan sebelum Nindi sempat membalas suara langkah masuk ke pantry terdengar.
Clay.
Tanpa menyapa. Tanpa bertanya. Ia langsung mendekat, berdiri di samping Nindi, lalu dengan gerakan cepat mengambil loyang dari tangannya.
“Sudah,” katanya singkat. “Aku lanjutkan.”
Nindi mengerjap, sedikit kaget. “Eh, aku masih—”
“Ke depan saja,” potong Clay ringan, tapi tidak memberi ruang untuk ditolak. “Aku yang kerjakan di sini.”
Tidak ada nada memaksa. Tapi juga tidak benar-benar memberi pilihan. Nindi menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar melangkah mundur.
“Iya.”
Nindi keluar dari pantry. Langkahnya terasa lebih pelan dari biasanya. Bukan karena lelah. Tapi karena pikirannya kembali penuh.
Kalimat Maria tadi— Clay mulai memperhatikanmu— terus terulang.
Dan kini tanpa perlu dipikirkan terlalu jauh semuanya terasa… lebih masuk akal.
Nindi sampai di area kasir. Tangannya bergerak otomatis, merapikan meja, menyusun struk, melakukan hal-hal kecil yang tidak benar-benar ia sadari. Lalu matanya berhenti.
Segelas kopi susu hangat. Masih mengepul tipis. Diletakkan rapi di sudut meja kasir. Nindi menatapnya beberapa detik. Ia tidak perlu bertanya siapa yang meletakkannya. Tidak perlu memastikan. Karena ia tahu. Dan justru itu yang membuatnya diam lebih lama.
Perlahan, Nindi mendekat. Jarinya menyentuh sisi gelas, merasakan hangat yang masih tersisa. Hangat, dan entah kenapa terasa terlalu pas.
Nindi menghela napas kecil. Tatapannya kembali ke arah pantry, tanpa benar-benar ingin terlihat sedang mencari. Clay masih di sana. Fokus pada pekerjaannya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah semua itu hal biasa.
Nindi menelan pelan. Kalau ini hanya kebetulan, kenapa rasanya terlalu sering? Dan kalau ini bukan kebetulan …?
Nindi mengalihkan pandangannya cepat. Seolah takut melanjutkan pikirannya sendiri. Suara langkah terdengar.
Clay.
Ia masuk ke pantry sambil membawa nampan roti yang baru saja matang. Tanpa banyak bicara, ia langsung menaruhnya di meja kerja, fokus pada susunan roti di depannya.
Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Seolah ia tidak mendengar apa pun. Seolah semuanya biasa saja.
Nindi diam. Entah kenapa, suasana di antara mereka tiba-tiba terasa lebih sempit.
Clay mulai menyusun roti satu per satu, rapi, presisi. Tangannya bergerak cepat, tapi terkontrol. Nindi berdiri di samping, sedikit canggung tanpa alasan jelas. Ia lalu meraih apronnya yang sejak tadi belum terpakai. Gerakan sederhana. Ia mengalungkannya ke leher, lalu mencoba mengikat tali di belakang. Namun sebelum simpul itu selesai, tiba-tiba, Clay menarik ujung tali apron itu. Gerakannya cepat. Refleks. Tanpa peringatan.
Nindi terkejut. “Eh—”
Ia belum sempat menoleh sepenuhnya ketika Clay sudah berdiri lebih dekat di belakangnya. Jaraknya terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Tanpa bicara, Clay menarik kedua tali apron itu ke belakang, lalu mengikatnya dengan rapi. Gerakannya cekatan. Seolah itu hal biasa. Seolah ia tidak sedang melakukan sesuatu yang terlalu personal.
Jari-jarinya sempat menyentuh punggung Nindi. Ringan. Singkat. Tapi cukup untuk membuat Nindi menahan napas sepersekian detik.
Selesai.
Clay melepaskan tali itu, lalu mundur setengah langkah. “Sudah,” katanya singkat, seolah tidak terjadi apa-apa.
Nindi masih diam. Ia menoleh sedikit, menatap Clay dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Antara bingung dan sadar.
Clay sudah kembali ke pekerjaannya. Menata roti. Fokus. Tenang. Seolah barusan tidak berarti apa-apa. Dan justru itu yang membuatnya terasa berbeda.
Nindi menelan pelan. Kalimat Maria kembali terngiang. Clay mulai memperhatikanmu.
Nindi mengalihkan pandangannya cepat. Tangannya bergerak lagi, pura-pura sibuk. Namun pikirannya tidak lagi sama. Karena sekarang, ia tidak hanya mendengar. Ia mulai melihatnya sendiri.
Satu per satu, tanpa diminta, potongan kejadian itu muncul begitu saja.
Tatapan Clay yang terlalu lama.
Cara dia tiba-tiba mengambil alih pekerjaan di pantry.
Kopi hangat yang sudah tersedia tanpa diminta.
Dan barusan tangan yang menariknya mendekat, hanya untuk mengikat apron, seolah itu hal yang wajar. Padahal tidak.
Nindi menarik napas pelan. Dulu semuanya berbeda.
Clay yang dingin.
Clay yang tidak suka padanya.
Clay yang bahkan terlihat malas berurusan dengannya.
Dan sekarang, berubah.
Pelan, tapi jelas. Dan entah sejak kapan, perubahan itu mulai terasa terlalu konsisten untuk disebut kebetulan. Nindi menunduk sedikit. Jarinya berhenti bergerak. Ada sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak suka. Justru karena ia mulai mengerti. Dan itu jauh lebih berbahaya. Karena memahami, berarti tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.