Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi Klien
Saat perjalanan dinas Vandini berikutnya, Satura menunggu di dapur sampai Vandini selesai bersiap. Penampilan wanita itu rapi dan sempurna, jauh lebih siap daripada biasanya di jam segini. Vandini terlihat sangat fokus saat mengecek ponsel dan mengatur jam tangannya.
Perasaan rindu dan ketertarikan tiba-tiba menyerang Satura. Ia sangat merindukan istrinya, merindukan kedekatan mereka dulu di mana sentuhan terasa begitu mudah dan hangat. Kini, semua itu hilang dan terganti oleh jarak serta sikap yang kaku.
Melihat Vandini, rasa bersalah itu semakin menggerogoti hati Satura. Ia tahu semua ini salahnya, namun ia tetap berharap bisa memperbaiki semuanya jika diberi kesempatan.
Pintu tertutup. Vandini pergi. Satura berdiri diam di tengah dapur, menatap Connan dan Cia yang sedang sarapan.
"Aku pasti pernah lakuin ini dulu, cuma udah lama banget kayaknya," batinnya. "Makanan udah ada, baju juga siap. Tinggal atur waktu doang. Pasti gampang."
Pikiran itu buyar seketika. Sendok Connan jatuh, susu tumpah membasahi meja. Di saat yang sama, Cia menarik-narik lengan bajunya sambil protes.
"Mama nggak pernah suruh aku pakai sepatu ini!" seru Cia sambil berontak ingin turun dari kursi makan.
Satura menghela napas panjang. Masih ada dua puluh menit sebelum harus berangkat. Ia mencoba sabar membersihkan tumpahan, tapi Cia malah mencocol telur orak-arik pakai tangan lalu mengoleskannya ke baju sendiri.
"Cia, jangan pakai tangan dong," ucap Satura lembut sambil membersihkan jari-jari mungil itu.
"Aku mau sepatu yang warna pink!" teriak anak itu lagi.
"Oke, oke, kita cari sepatu pink-nya," jawab Satura sedikit keras. Ia buru-buru mengobrak-abrik rak sepatu.
Setelah sepatu ditemukan dan terpasang, Connan tiba-tiba menarik bajunya.
"Pa, tas ranselku hilang!"
Satura mendengus kasar. "Pasti di kamarmu tuh, cari sana!"
"Nggak ada, Pa. Aku udah cari dari tadi," sahut Connan dengan mata berkaca-kaca.
"Ya sudah, ayo kita cari bareng."
Satura berlari mengikuti anaknya ke kamar. Ia mencari di tengah tumpukan mainan dan pakaian berserakan. Akhirnya tas itu ketemu di bawah kasur.
"Nah, ini dia," kata Satura sambil menyerahkannya dengan senyum palsu.
Saat kembali ke dapur, Satura baru sadar ia belum menyiapkan bekal. Ia membuka kulkas dan lega melihat kotak makanan sudah siap, diporsikan dan diberi label rapi oleh Vandini.
Baru sadar Satura betapa luar biasanya istrinya. Selama ini ia menganggap semua itu hal biasa, padahal Vandini bekerja sangat keras agar segalanya bisa berjalan lancar.
Saatnya berangkat, tapi anak-anak malah berjalan lambat dan lupa bawa jaket. Jam menunjukkan mereka sudah terlambat sepuluh menit.
"Ayo cepet! Ambil tas dan jaket kalian!" seru Satura panik sambil mendorong mereka masuk ke mobil. Dadanya sesak. Ia harus sampai kantor lebih awal untuk rapat penting, tapi malah begini jadinya.
Di perjalanan, pertanyaan anak-anak soal camilan dan kapan Mama pulang makin menguji kesabarannya. Setelah menurunkan mereka di sekolah dengan terburu-buru, Satura menyadari jawabannya tadi terdengar sangat ketus dan tidak enak didengar.
Rasa bersalah langsung menghantam. Vandini melakukan rutinitas gila ini setiap hari tanpa mengeluh, sementara ia hanya sekali saja sudah kewalahan. Ia baru sadar, istrinyalah yang selama ini menjadi tiang penyangga keluarga mereka.
Sepanjang hari, Satura merasa gelisah. Perasaan tidak nyaman itu muncul lagi saat ia duduk dalam rapat bersama Virgo dan Arumi.
Di seberang meja, ada klien mereka, seorang pria paruh baya yang bicara tajam dan sok berkuasa. Cara pria itu memandang Arumi membuat Satura muak. Tatapannya seolah merendahkan, menganggap wanita itu hanya sebagai pelengkap.
"Jadi, Arumi," kata pria itu dengan nada meremehkan. "Kulihat kamu yang pegang bagian angka di proyek ini. Pasti kalian butuh sentuhan wanita untuk urusan detail kecil begini, kan?"
Rahang Arumi menegang. Senyumnya dipaksakan. Ia mencoba tertawa kecil, tapi suaranya terdengar kaku dan tidak percaya diri.
"Detail memang penting," jawabnya pelan. Tangannya gemetar saat mencoba membetulkan posisi pulpen di atas meja.
Klien itu tertawa, tidak peduli atau sadar bahwa ucapannya membuat orang lain tidak nyaman.
"Betul juga. Wanita emang lebih jago soal detail, kan? Jadi kita para cowok nggak perlu pusing mikirin hal-hal remeh."
Ia tersenyum ke arah Satura dan Virgo, berharap mereka ikut tertawa. Dada Satura terasa sesak. Ia sangat tidak suka melihat sikap pria itu.
Arumi berusaha bersikap biasa saja. Wanita itu melirik ke arah Satura dan Virgo seolah memohon dukungan. Namun, Virgo justru gelagapan dan pura-pura sibuk melihat catatan.
Satura bisa melihat bahu Arumi menegang. Wanita itu tetap tersenyum meski hatinya pasti perih menahan hinaan tersebut dengan sabar.
Satura seharusnya membela, tapi ia justru terpaku diam. Kebiasaan lamanya untuk membiarkan masalah berlalu begitu saja, kembali menguasai dirinya.
Arumi akhirnya mengatasi situasi itu dengan profesional. Ia melanjutkan presentasi dengan penjelasan singkat, padat, dan tajam. Ucapannya jelas dan tegas, sebuah tantangan halus terhadap anggapan klien tadi. Tapi, pria itu hanya mengangguk malas tanpa benar-benar mendengarkan.
Rahang Satura mengatup kuat. Pikirannya tiba-tiba melayang pada Vandini, istrinya.
Vandini yang begitu kompeten dan fokus mengurus ribuan detail kecil dalam keluarga mereka. Sementara Satura dulu sering mengabaikan usaha itu dan menganggapnya hal sepele.
Ia teringat saat Vandini dapat promosi jabatan. Dulu, ia malah menafsirkannya sebagai ancaman terhadap harga dirinya sebagai kepala keluarga. Padahal, Vandini tidak pernah menyinggung soal uang atau siapa yang lebih hebat.
Vandini hanya bicara soal pengakuan dan tantangan baru dalam karirnya. Rasa bersalah makin menggunung dan melukai hati Satura. Ia membayangkan betapa seringnya ia mematahkan semangat Vandini dengan sikapnya.
Matanya kembali tertuju pada Arumi yang tetap tampil percaya diri. Padahal, klien itu bahkan tidak memberi respek sedikit pun. Rasa jijik dan malu menyelinap ke dalam diri Satura. Ia teringat ketangguhan, kesetiaan, dan kekuatan Vandini. Dan ia sadar, betapa besar pengkhianatan yang telah ia lakukan.
Penyesalanmenghantamnya, bercampur rasa bersalah yang sudah lama mengendap.
Ia sadar, ia sering meremehkan kontribusi Vandini. Ia merasa hanya pekerjaannya yang paling penting, persis seperti apa yang dilakukan klien itu terhadap Arumi sekarang.
Sudah berapa kali Vandini harus tersenyum pahit menahan sikap acuh tak acuhnya?