Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Ruang kantor siang itu panas banget, bukan karena AC rusak, tapi karena aura Yeri yang udah keburu naik darah. Dia duduk di kursi plastik, tangannya masih gemeteran habis jambak-jambakan sama Kristal. Di depannya ada selembar kertas pengakuan yang harus diisi.
Yeri udah nulis setengah halaman. Tulisan tangannya miring, kombinasi antara capek, marah, dan males.
Sementara Kristal?
Cewek itu duduk santai. Kaki disilangkan. Sambil mengagumi kuku tangannya sendiri. Bolpoin yang dikasih Pak Bram bahkan nggak disentuh sama sekali.
Yeri ngeliatin dari samping, makin lama makin kesel.
“Lo… nggak nulis?” Yeri akhirnya nyeletuk, nada udah jelas kesel.
Kristal ngangkat dagu, cuma ngelirik malas. “Enggak.”
“Lah kenapa? Ini hukuman kita berdua. Kalau lo nggak nulis, kita nggak bakal bisa pulang. Ini berlaku buat kita, Kristal.”
“Terus?” Kristal mendengus. “Guru mana yang berani nahan gue pulang? Ngasih gue hukuman? Hellooo… lo lupa ya gue anak siapa?”
Yeri ngegebrak mejanya pelan. “Gila, lo ya. Lo ngebully orang, lo salah, tapi lo malah—”
“Cepet marah amat,” Kristal potong sambil nyengir. “Emang dasar miskin, jadi gampang kepancing.”
Yeri ngepalkan tangan sampai buku-bukunya putih.
Belum sempet Yeri bales, pintu kantor kebuka. Pak Bram dateng sambil bawa tumpukan berkas.
“Kenapa ini belum selesai?” tanyanya tegas.
Yeri buru-buru duduk tegak. Kristal? Cewek itu malah berdiri, merapikan rambutnya, lalu berkata dengan seenaknya.
“Saya nggak mau nulis. Lagian bukan saya yang salah.”
Pak Bram ngucek pelan pelipisnya. “Kristal, kamu—”
“Tadi itu Yeri yang mulai ribut!” Kristal memotong lagi. “Saya cuma ngobrol sama Anna, tiba-tiba dia dateng marah-marah. Saya juga kaget, Pak.”
“NGGAK!” Yeri spontan berdiri. “Itu bohong! Dia maksa Anna buat ngasih contekan ujian minggu ini. Saya lihat sendiri, Pak!”
Kristal menatap Yeri dengan tatapan penuh drama, seolah dia korban.
“Saya ngobrol baik-baik sama Anna. Dia cuma minder aja. Yeri yang tiba-tiba nyerang saya.”
Yeri mau meledak rasanya.
“Pak, saya—”
“Tutup mulut dulu, Yeri,” potong Pak Bram, nadanya tegas. “Saya dari tadi dengar kalian berdua, dan saya sudah memutuskan.”
Yeri menunggu dengan napas cepat, dada naik turun menahan emosi.
“Kristal, kamu boleh pulang.”
Kristal tersenyum puas. “Makasih, Pak.”
Dia bahkan sempet ngasih tatapan menang sambil melenggang keluar kantor, rambutnya bergoyang seolah dia lagi iklan shampoo.
Ketika Kristal keluar, Yeri nggak bisa nahan diri lagi.
“Pak! Saya juga mau pulang dong.”
Pak Bram menatap Yeri tanpa ekspresi. “Selesaikan dulu kertas pengakuanmu.”
“Terus hukumannya?” Yeri nahan air mata karena kesal. “Masa cuma saya aja?”
Pak Bram menghela napas panjang. “Mulai hari ini, kamu bersihkan toilet setiap pulang sekolah selama seminggu.”
Yeri kaget sampai tubuhnya kaku. “Hah? Toilet?! Sendiri?”
“Ya. Kamu yang memulai keributan, kamu yang bertanggung jawab.”
“Kristal yang ngebully Anna! Saya cuma bantu—”
“Tanya itu ke orang tuamu, Yeri.” Nada Pak Bram berubah dingin. “Orang tua Kristal adalah salah satu donatur tetap yayasan sekolah ini. Jadi jangan macam-macam.”
Dunia Yeri kayak berhenti. Dadanya serasa ditonjok sesuatu yang nggak keliatan.
“Jadi karena saya miskin… saya yang disalahin, ya?” suaranya bergetar.
“Bukan begitu,” Pak Bram berusaha terdengar netral, tapi jelas-jelas berbohong. “Atur saja waktu bersihkan toiletnya. Kamu boleh pulang setelah selesai.”
Yeri menggigit bibir bawahnya, nahan biar nggak nangis di depan guru yang jelas-jelas nggak peduli sama keadilan.
Yeri menatap kertas pengakuannya lagi, tangannya gemetar. Semua terasa menyesakkan.
“Ini bener-bener gila…” bisiknya.
Tapi dia tetap duduk. Tetap menulis. Karena nggak ada pilihan lain.
Setelah menulis, Yeri bergegas diri dengan raut muka terlihat kesal, marah, jijik, seolah guru ini merupakan bakteri yang harus Yeri hindari. Bahkan tawaran Pak Bram untuk meminum air mineral gelas dan sepotong martabak manis isi coklat itu ia hiraukan.
“Pak, Bapak punya anak perempuan, ‘kan?” Tanya Yeri sambil berjalan pergi, ogah menatap Pak Bram.
“Iya, kenapa?”
“Gapapa, semoga anak bapak nggak mengalami hal yang sama, ya. Dibully tanpa ada keadilan.”
Yeri meninggalkan ruangan tanpa melihat air muka Pak Bram yang serba nggak enak.
***
Yeri keluar dari toilet dengan wajah kusut maksimal. Seragamnya basah di bagian lengan dan rok, bukan karena air bersih, tapi campuran air pel dan entah cairan pembersih yang tadi ada di sudut toilet. Bau pembersih lantai masih nempel di hidung.
“Gila… hidup gue apes banget,” gumamnya sambil nendang pelan pintu toilet sebelum keluar.
Dia capek, marah, frustasi. Semua gegara orang-orang kayak Joshua dan Kristal. Kalau bukan karena dua setan itu, mana mungkin dia bersihin toilet sekolah sendirian tiap pulang sekolah?
Begitu keluar ke lorong, lampu-lampu udah mulai diredupkan. Sekolah udah hampir kosong. Yeri cuma pengen pulang, mandi, terus tidur.
Tapi nasib emang nggak pernah sepakat sama keinginannya.
Baru dua langkah, dia berhenti karena ada seseorang berdiri sambil nyender di tembok.
Dika, dia ketua OSIS dan juga anggota geng VOCAL.
Cowok yang selama ini pura-pura netral tapi waktu ngumpul sama geng Joshua selalu kelihatan kayak ikut-ikutan.
Dika melipat tangan sambil ngeliatin Yeri dari ujung kaki sampai kepala, alisnya naik pelan.
“Lo abis diguyur hujan atau abis berantem sama toiletnya?” tanyanya santai tapi tatapannya khawatir dikit.
Yeri mendengus, “Nggak lucu, Dik.”
Dika jalan mendekat. “Gue serius. Kenapa lo kayak baru keluar dari zona perang?”
Yeri males jelasin. Orang geng mereka juga penyebab semua ini.
“Lo beneran nggak tau? Atau pura-pura nggak tau?” Yeri balas ketus.
Dika mengerutkan dahi. “Apaan?”
Yeri ngangkat seragamnya yang basah. “Ini semua gara-gara bos lo, Joshua, yang kerjaannya ngajak ribut gue tiap hari! Dan gara-gara Kristal yang hobi ngerusak hidup orang!”
“Itu bukan urusan gue. Sekarang lo udah jarang ke ruang OSIS. Kenapa?”
“Hah? Lo nanya gue kenapa jarang ke ruang OSIS sekarang? Ya karena gue sibuk bersihin toilet tiap pulang sekolah. Lo kira gue tiba-tiba hobi ngepel?”
Dika bukannya minta maaf atau ngerespon lembut malah yang keluar nada suara sinis. Seolah wakil OSIS-nya ini hanya memiliki masalah remeh.
“Oh… gitu doang ceritanya.” Dika ngeliatin dengan tatapan dingin. “Kalau lo nggak bisa bagi waktu, Yeri… mending lo mundur aja dari jabatan wakil OSIS. Gue butuh orang yang bisa komit.”
Yeri langsung nge-freeze seketika. Butuh waktu buat Yeri mencerna kalimat jelmaan anak babi yang ada di depannya ini.
“Mundur?” ulang Yeri pelan. “Lo sekarang nyuruh gue mundur?”
“Gue cuma ngomong fakta.” Dika mengangkat bahunya lalu dengan santai nyenderin badan di tembok. “Class meeting dimulai bulan depan. Kita harus sering rapat. Kalau lo jarang nongol kayak sekarang, ngapain gue pertahanin lo sebagai wakil gue?”
Yeri mendengus sinis. Matanya kelihatan tajam.
“Salah gue apa? Gue dihukum bukan karena gue males. Karena gue bela orang, Dika! dan lo tau Kristal salah tapi lo diem.”
Dika terdiam, tapi matanya berkedut kayak nahan sesuatu.
Yeri ngelangkah mendekat, suaranya naik setengah oktaf. “Lo nggak liat gue sampai begini? Lo nggak mau bantu gue tapi enak banget nyuruh gue mundur? Tai lo! Gue bisa mundur sekarang juga. Gausah ngancem segala.”
Dika mengalihkan pandangan, rahangnya ngenceng. Ada rasa bersalah yang dia tutupin rapat-rapat.
“Bukan gitu maksudnya. Gue… cuma ngikutin aturan,” katanya pelan.
Yeri ketawa hambar. “Aturan tuh cuma berlaku buat orang yang nggak punya duit kayak gue.”
Dika keliatan makin gelisah. Dia sebenarnya tahu gengnya salah, apalagi Joshua. Tapi mereka selalu jadi pusat kekuatan sekolah dan dia nggak berani terlalu beda suara dengan mereka. Apalagi Dika diminta untuk bikin Yeri keluar dari OSIS, karena Yeri banyak ngelawan anak para donatur sekolah.
“Udahlah,” Dika mencoba menurunkan suaranya dan tersenyum buat formalitas doang, “Sekarang ikut gue ke ruang OSIS. Kita mulai rapatnya.”