NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Angin di Puncak Sandaran pagi ini tidak sedang bercanda. Dia melolong, mencambuk permukaanku yang keras, dan mencoba melempar tubuh kecilku ke jurang sedalam ribuan meter di bawah sana. Aku berdiri di atas sebongkah batu runcing yang bergoyang tertiup badai. Di depanku, langit tidak lagi biru; warnanya kelabu tua, penuh dengan gumpalan awan yang bergerak secepat kuda pacuan.

"Sudah siap, Bocah? Atau kakimu sudah berubah jadi jeli?"

Ki Kusumo berdiri di tepi tebing, santai sekali. Dia sedang memegang keranjang bambu kosong di punggungnya. Jenggot putihnya berkibar-kibar liar terkena angin kencang, tapi anehnya, tubuh kerempeng itu tidak bergeser satu senti pun dari tanah.

"Aku siap, Ki! Tapi di mana burung-burungnya? Yang kulihat cuma kabut dan debu!" teriakku, suaraku hampir habis ditelan deru angin. Wusssshhh!

"Sabar! Mereka datang kalau mereka mau!" Ki Kusumo menunjuk ke arah celah tebing yang sempit. "Dengar, Qinar. Kulit Besimu itu bagus untuk menahan pukulan, tapi dia membuatmu berat. Kamu kaku seperti batang kayu jati tua. Di dunia ini, kekuatan tanpa kecepatan itu cuma jadi samsak tinju yang mahal."

Aku mendengus. "Lalu apa hubungannya dengan burung walet?"

"Ujian Kedua: Menangkap Angin," Ki Kusumo menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya yang tinggal satu. "Burung walet gunung ini bukan burung biasa. Mereka memakan serangga petir dan terbang secepat kilat. Tugasmu sederhana: tangkap seratus ekor dengan tangan kosong. Jangan ada satu bulu pun yang rontok, jangan ada satu tulang pun yang patah. Masukkan mereka hidup-hidup ke keranjang ini."

"Seratus?! Tangan kosong?!" aku terbelalak. "Ki, mereka itu burung, bukan batu kali yang diam saja kalau kutangkap!"

"Makanya, gunakan matamu! Gunakan Qi-mu untuk meringankan tubuhmu, bukan mengeraskannya!"

Ciaaaaakkk! Ciaaaaakkk!

Tiba-tiba, dari balik celah tebing, ratusan bayangan hitam melesat keluar. Mereka bergerak zig-zag, membelah angin dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Itu dia. Walet Gunung Sandaran. Sayap mereka pendek tapi tajam, dan gerakan mereka tidak bisa ditebak.

"Ayo, mulai! Satu burung yang lolos berarti satu jam tambahan meditasi di atas duri!" teriak Ki Kusumo sambil tertawa jahat.

Aku menarik napas dalam. Huuu... Aku mencoba melompat ke arah bayangan hitam terdekat. Hup!

Sret!

Kosong. Tanganku hanya menangkap angin hampa. Burung itu berbelok tajam di udara, seolah-olah dia sudah tahu arah gerakanku sebelum aku sempat menggerakkan otot bahuku.

"Sial!" makiku.

Aku mencoba lagi. Kali ini aku mengerahkan Qi ke kakiku untuk melompat lebih tinggi. Brak! Batu tempatku berpijak retak karena kekuatanku yang terlalu besar. Aku meluncur ke udara, tanganku menyambar ke depan—hap!

Ciaakk!

Burung itu menukik tajam ke bawah, melewati selangkanganku, dan terbang menjauh sambil berkicau mengejek. Aku jatuh tersungkur di tanah yang berbatu. Bugh!

"Hahaha! Kamu itu seperti kerbau yang mencoba menangkap lalat, Qinar! Terlalu banyak tenaga, terlalu sedikit rasa!" Ki Kusumo berteriak dari kejauhan. "Jangan gunakan ototmu! Ikuti aliran anginnya! Burung itu tidak melawan angin, mereka adalah angin!"

Aku berdiri, mengusap debu di wajahku. Tujuh tahun usiaku, dan aku baru sadar kalau kekuatanku yang bisa menghancurkan batu ternyata tidak berguna di depan seekor burung kecil. Aku menutup mataku sejenak, mencoba mengingat meditasi semalam.

Jangan lawan... ikuti...

Aku membiarkan angin badai itu menghantam tubuhku. Kali ini, aku tidak mengeraskan kulitku. Aku membiarkan otot-ototku rileks. Aku merasakan aliran udara yang menabrak tebing, berputar di celah batu, dan meluncur ke atas. Di dalam kepalaku, aku mulai bisa merasakan "jalur" yang dilewati burung-burung itu.

Wush!

Satu bayangan melesat di sisi kiriku. Aku tidak langsung menyambar. Aku membiarkan tubuhku miring mengikuti arah angin, lalu dengan satu gerakan lembut—bukan hentakan keras—tanganku mengalir mengikuti arah terbang burung itu.

Hap.

Terasa ada sesuatu yang hangat dan bergetar di dalam genggamanku. Aku membuka mata. Seekor walet gunung mungil menatapku dengan mata hitamnya yang bulat. Jantungnya berdegup kencang di telapak tanganku.

"Dapat satu!" seruku girang.

"Cepat masukkan ke keranjang! Masih kurang sembilan puluh sembilan!" Ki Kusumo mengingatkan.

Aku berlari kecil dan memasukkan burung itu ke keranjang bambu. Tapi ujian ini ternyata jauh lebih berat dari yang kukira. Burung-burung itu mulai menyadari kehadiranku. Mereka tidak lagi terbang sembarangan; mereka mulai terbang dalam kelompok, saling bersilangan untuk mengacaukan pandanganku.

Setiap kali aku melompat, aku merasa tubuhku terlalu berat. Kulit Besiku, yang selama setahun ini kubanggakan, sekarang terasa seperti baju zirah seberat ratusan kilo yang menghambat gerakanku.

"Ki! Aku tidak bisa lebih cepat lagi! Tubuhku terasa berat!" protesku setelah gagal menangkap burung kesepuluh secara berturut-turut.

Ki Kusumo berjalan mendekat, wajahnya tidak lagi bercanda. "Itu karena kamu masih terikat pada 'kerak' kekuatanmu. Kamu pikir jadi kuat itu harus keras? Salah besar. Kekuatan sejati itu seperti air; dia bisa menghancurkan karang, tapi dia juga bisa melewati celah terkecil tanpa hambatan."

Beliau memegang pundakku. "Kosongkan Qi-mu dari permukaan kulit. Tarik semuanya ke dalam tulang. Biarkan kulitmu menjadi ringan seolah-olah kamu hanya terbuat dari kertas. Jadilah bagian dari angin ini, Qinar."

Aku mencoba instruksinya. Sulit sekali melepaskan perlindungan Kulit Besi yang sudah jadi instingku. Rasanya seperti menelanjangi diri di tengah badai salju. Begitu aku menarik Qi-ku ke dalam tulang, angin dingin langsung menusuk kulitku. Aku menggigil hebat.

"Jangan dilawan dinginnya! Biarkan angin itu lewat menembus pori-porimu!"

Aku memejamkan mata lagi. Aku membayangkan tubuhku menjadi hampa. Tidak ada tulang, tidak ada daging, hanya ada aliran energi yang tipis.

Ciaakk!

Suara itu terdengar sangat dekat. Aku tidak membuka mata. Aku merasakan perubahan tekanan udara di depanku. Sekarang!

Aku melangkah. Bukan melompat keras, tapi meluncur pelan. Tanganku bergerak seperti dahan pohon yang tertiup angin—lemas namun presisi.

Hap.

Burung kedua.

Hap.

Burung ketiga.

Gerakanku mulai berubah. Aku tidak lagi menghentakkan kaki ke batu hingga retak. Aku mulai menari di antara bebatuan. Setiap kali kakiku menyentuh tanah, aku segera memanfaatkannya untuk meluncur ke arah berikutnya. Aku mulai bisa menangkap dua burung sekaligus dengan kedua tanganku.

"Dua puluh... tiga puluh... lima puluh!" aku mulai menghitung dengan napas yang mulai teratur.

Namun, rintangan sebenarnya muncul saat aku mencapai angka delapan puluh. Langit mendadak gelap total. Kilat mulai menyambar-nyambar di kejauhan. Angin berubah menjadi badai puting beliung kecil yang mencoba mengangkat tubuhku yang sekarang sengaja kubuat ringan.

"Tahan posisimu, Qinar! Jangan sampai terbang terbawa angin!" Ki Kusumo memperingatkan.

Satu kelompok walet terakhir, sekitar dua puluh ekor, terbang berputar di dalam pusaran angin kencang itu. Mereka bergerak sangat liar, naik turun dengan pola yang kacau. Jika aku salah melangkah sedikit saja, aku akan terhisap ke dalam badai dan jatuh dari tebing.

Aku menggertakkan gigi. Tanda merah di pergelangan tanganku mulai terasa hangat lagi. Aku bisa merasakan setiap getaran sayap burung-burung itu di dalam badai.

Srett!

Aku melompat tepat ke tengah pusaran angin. Tubuhku berputar di udara. Tangan kananku menyambar, tangan kiriku menangkap. Satu, dua, tiga...

Dunia seolah melambat di mataku. Di tengah badai yang mengamuk, aku menemukan sebuah titik hening. Titik di mana angin dan gerakanku menjadi satu. Dalam hitungan detik, aku mendarat kembali di atas batu besar dengan napas memburu.

"Selesai," bisikku.

Aku berjalan menuju Ki Kusumo dan membuka kedua tanganku yang penuh dengan burung walet yang masih hidup. Aku memasukkan dua puluh burung terakhir itu ke dalam keranjang.

Ki Kusumo menatap keranjang yang kini penuh dengan kicauan burung. Beliau memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang terluka. Setelah yakin, beliau membuka tutup keranjang dan membiarkan seratus burung itu terbang kembali ke langit.

"Lepaskan?" tanyaku heran. "Capek-capek aku tangkap, kenapa dilepas?"

"Tujuanmu bukan memiliki burung itu, Bocah. Tujuanmu adalah memiliki kecepatan mereka," Ki Kusumo menepuk kepalaku. "Lihat dirimu. Kamu tidak lagi berdiri kaku. Kamu berdiri seperti angin yang sedang beristirahat."

Aku melihat tubuhku sendiri. Benar. Rasa berat yang tadinya menghimpitku sudah hilang. Aku merasa bisa berlari menembus gunung tanpa merasa lelah.

"Ujian Kedua: Menangkap Angin... kau lulus setengah jalan," kata Ki Kusumo sambil menatap ke arah puncak yang paling gelap. "Besok, kita tidak lagi menangkap burung. Kita akan menangkap sesuatu yang jauh lebih panas dan lebih cepat dari ini."

Aku menatap tanganku yang gemetar. Tanganku tidak lagi sekeras dulu, tapi aku tahu, di bawah kulit yang tampak lembut ini, tersimpan kekuatan yang bisa meledak kapan saja.

"Apa itu, Ki?" tanyaku penasaran.

Ki Kusumo hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali kulihat. "Petir, Qinar. Besok, kamu akan belajar cara mencuri api dari langit."

Aku menelan ludah, menatap kilatan cahaya di atas sana. Tujuh tahun usiaku, dan aku baru saja belajar cara terbang tanpa sayap.

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!