Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Laporan Kematian
Ruang kerja Adrian dipenuhi asap cerutu. Renaldo meletakkan map berisi foto-foto dari vila Puncak.
Aroma tembakau Kuba kualitas wahid gagal menutupi hawa kematian dari lembaran kertas cetak di atas meja mahoni. Adrianus Halim mengambil foto pertama. Cahaya lampu meja kerja menyorot kontras genangan merah pekat di dasar tangga beton kotor.
Tiga mayat pria dewasa bertumpuk layaknya sampah pemotongan hewan.
"Tidak ada jejak ban mobil lain di sekitar vila, Bos," lapor Renaldo, berdiri tegap dengan tangan terlipat di belakang punggung. "Tim forensik internal kita sudah membersihkan seluruh area sebelum polisi setempat mencium bau busuknya."
Adrian menggeser foto pertama. Matanya menyipit menatap foto kedua. Fokus lensa menangkap detail mengerikan di area lorong. Paku beton berkarat menancap tegak lurus menembus rahang bawah seorang pria bertubuh gempal.
"Ini Haryo," tunjuk Adrian menggunakan ujung cerutunya. "Orang kepercayaan Kania untuk urusan kotor."
"Benar, Bos." Renaldo mengangguk kaku. "Kematiannya paling brutal. Paku itu menembus rahang, tapi penyebab kematian utamanya adalah sayatan presisi memutus urat nadi leher. Pelakunya menggunakan pecahan kaca cermin."
"Pecahan kaca?" Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Bukan pisau belati?"
"Murni pecahan kaca cermin rias, Bos. Pelakunya merobek leher korban hanya dengan ayunan tunggal."
Adrian mengisap cerutunya dalam-dalam. Asap tebal mengepul keluar dari celah bibirnya. Ia menyebarkan sisa foto lainnya memenuhi meja kerja. Luka koyak di betis Boni. Jejak darah seret dari kamar mandi menuju tangga. Kawat baja yang terentang setinggi mata kaki. Genangan cairan amonia di anak tangga teratas.
"Siapa yang mengirim tim pembunuh profesional ke gunung itu untuk menyelamatkan istriku?" interogasi Adrian dingin. "Keluarga Tanjung tidak punya koneksi militer bawah tanah yang mumpuni."
Renaldo menelan ludah pelan. Jakun pria berjas hitam itu naik turun. "Itu masalahnya, Bos. Tidak ada tim profesional."
Adrian menoleh tajam. "Jelaskan."
"Semua jejak kaki yang tercetak di atas genangan darah adalah jejak kaki telanjang berukuran kecil." Renaldo menunjuk satu foto jarak dekat dari lantai keramik. "Ukuran kaki perempuan dewasa. Jejak itu selaras dengan rute pelarian darah Nyonya Sabrina dari gudang menuju halaman belakang."
Hening turun menyergap ruang kerja kedap suara tersebut.
Hanya terdengar bunyi denting pelan saat Adrian menjentikkan abu cerutu ke dalam asbak kristal. Otak sang taipan memutar ulang memori malam itu. Tubuh pucat Sabrina yang hancur di tepi jalan Puncak. Tangan kirinya memeluk bayi, tangan kanannya sobek hancur berlumur darah kawat berduri.
"Kau ingin menyimpulkan istriku yang baru saja robek rahimnya membantai empat preman ini sendirian?" Adrian tertawa kering. Suara tawanya murni ejekan logika. "Sabrina Tanjung pingsan melihat anjing penjaga menggonggong. Dia tidak punya kapasitas fisik maupun mental untuk merangkai jebakan tripwire."
"Bukti fisiknya mutlak, Bos," bantah Renaldo hati-hati, mempertahankan fakta lapangan. "Tidak ada jejak orang ketiga. Cairan amonia pembersih lantai sengaja disiram untuk menghilangkan gaya gesek. Sudut kemiringan paku di anak tangga dikalkulasi sempurna untuk merobek urat keting pria dewasa yang tergelincir jatuh dari atas. Ini bukan tindakan panik membabi buta. Ini murni operasi taktis."
Adrian berdiri dari kursi kulitnya. Ia membiarkan cerutunya berasap di atas asbak. Kakinya melangkah pelan menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta di bawah sana.
Cahaya ibukota memantul di bola matanya yang tajam. Taipan itu membiarkan keheningan mengambil alih sejenak. Ruang napas ini memberinya waktu untuk mencerna anomali absolut yang menampar egonya secara telak. Ia selalu memandang perempuan hanya sebagai aset biologis atau alat negosiasi politik. Kania Tanjung adalah musuh yang berisik. Sabrina Tanjung adalah boneka porselen rapuh yang ia beli murah.
Namun, tumpukan foto di atas mejanya membuktikan fakta sebaliknya.
"Lalu bagaimana dengan anjing-anjing Kania di halaman belakang?" tanya Adrian memecah jeda tanpa membalikkan badan. "Tiga rottweiler gila itu dikosongkan perutnya selama tiga hari."
"Tim kita menemukan tiga rottweiler itu duduk diam di sudut pagar," jawab Renaldo cepat. "Hewan-hewan itu tidak terluka secara fisik, tapi pawang mereka bilang anjing-anjing itu mengalami trauma teror. Mereka menolak makan dan terus gemetar ketakutan."
"Trauma?" Adrian berbalik perlahan. "Anjing pembunuh trauma melihat mangsanya lari?"
"Sesuatu, atau seseorang, menundukkan insting buas mereka secara psikologis, Bos. Mereka seperti baru saja berhadapan dengan harimau liar."
Senyum miring, tipis, dan sangat gelap perlahan terbentuk di wajah Adrian. Ketertarikan yang sangat berbahaya mulai mendidih di dalam nadinya.
Bukan mangsa. Ia tidak membawa pulang seekor domba betina yang terluka. Ia baru saja membawa pulang predator buas yang memakai kulit domba. Monster mematikan yang sanggup menidurkan tiga anjing neraka hanya dengan aura dominasi absolut.
"Taktik bertahan hidupnya terlalu ekstrem," gumam Adrian menganalisis. "Dia sengaja menahan rasa sakit robekan jalan lahir agar otaknya tidak kehilangan fokus. Dia menggunakan suhu tubuhnya sendiri untuk menjaga anakku tetap hangat."
"Pola pergerakannya murni militer, Bos," tambah Renaldo. "Menghindari konfrontasi fisik langsung, memanipulasi lingkungan menjadi senjata, lalu lari menyusup keluar."
"Panggil Dokter Tirta," perintah Adrian seraya berjalan kembali ke mejanya.
"Dokter Tirta sedang memantau kondisi panggul Nyonya Sabrina di sayap barat, Bos."
"Panggil dia ke mari sekarang juga." Adrian mengetukkan buku jarinya ke atas meja mahoni. "Aku butuh konfirmasi toleransi obat bius istriku saat operasi penjahitan tadi. Aku menolak percaya wanita rapuh bisa menahan jarum bedah tanpa berteriak."
Renaldo menekan tombol interkom di atas meja. Perintah singkat tersampaikan ke ruang medis sayap barat.
Adrian mengambil kembali foto mayat Haryo. Matanya mengunci luka sayatan di leher preman itu. Potongannya sangat bersih. Sekali ayun. Tidak ada keraguan sedikit pun, tidak ada jejak tangan yang gemetar ketakutan. Ini eksekusi mati dari seseorang yang sudah sangat terbiasa melihat darah menyembur membasahi wajahnya.
"Ada satu hal lagi, Bos." Renaldo mengeluarkan sebuah map tipis berwarna merah dari dalam tas kerjanya. "Hasil autopsi awal dari dokter forensik internal kita untuk mayat Jono. Preman yang jatuh pertama kali di tangga gudang."
"Buka isinya."
Renaldo meletakkan lembaran kertas berbau formalin itu ke atas meja. Tinta hitam tercetak tebal di atas kertas putih kusam. "Kita awalnya mengira dia mati murni karena benturan tengkorak akibat jatuh tersandung kawat jebakan."
"Faktanya berbeda?"
"Dokter menemukan kerusakan parah di area laring." Renaldo menunjuk diagram anatomi leher di kertas laporan. "Sebelum kepalanya menghantam dinding, ada jeratan kawat baja sangat tipis yang sengaja dililitkan ke lehernya. Lilitan itu ditarik paksa dari arah belakang dengan tenaga konstan hingga menghancurkan trakea."
Adrian membaca deretan teks medis tersebut lambat-lambat. Matanya menelusuri detail setiap kalimat ketikan dokter koroner.
Kalkulasi logis sang tiran mulai merajut benang merah menjadi satu kesatuan gambar utuh. Sabrina meminta operasi penjahitan tanpa bius total murni untuk menjaga kewaspadaan otaknya. Cengkeraman mematikan di leher perawat rumah sakit. Pemindahan senjata pisau daging dari meja makan. Tatapan mata yang tidak memiliki emosi selain niat membunuh saat ia menemukannya di jalan raya.
Perempuan itu sama sekali bukan Sabrina Tanjung. Cangkang fisiknya memang milik keluarga konglomerat rapuh itu, tapi jiwa yang mengisi dan menggerakkan otot-otot berdarah itu adalah entitas asing yang jauh lebih mematikan.
"Pembersihan lokasi sudah selesai total?" Adrian menatap Renaldo tajam.
"Seratus persen, Bos. Kania Tanjung tidak akan pernah menemukan jejak cecunguknya. Mayat mereka sudah dibakar di fasilitas krematorium internal kita."
"Bagus." Adrian melempar map merah itu kembali ke tumpukan foto. "Biarkan Kania terus tenggelam dalam kepanikan buta. Wanita itu pasti berpikir anak buahnya membawa lari uang bayarannya."
"Apa rencana Anda selanjutnya untuk Nyonya Sabrina, Bos?"
"Kita amati polanya." Adrian menyesap sisa wiski di gelas kristalnya. Cairan kuning keemasan itu membakar tenggorokannya, memberikan sensasi panas yang selaras dengan gairah destruktif di kepalanya. "Kita lihat seberapa jauh istriku mau bermain sandiwara di dalam rumah ini."