Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pesta Darah Biru
Lampu gantung kristal raksasa yang menjuntai dari langit-langit ballroom Hotel Ritz-Carlton membiaskan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan. Di bawahnya, ratusan manusia berlalu-lalang, persis seperti kumpulan serangga berkilau yang terhipnotis oleh cahaya lampu.
Bau ruangan ini adalah perpaduan yang memuakkan antara parfum impor seharga puluhan juta, daging sapi wagyu yang dipanggang lambat, dan keringat yang disembunyikan di balik lapisan deodoran. Wanita-wanita dengan gaun sutra ketat memamerkan perhiasan berlian yang harganya bisa menghidupi satu kelurahan miskin di pinggiran Jakarta selama setahun penuh. Sementara para pria, dibalut tuksedo hitam pekat, saling bertukar tawa palsu dan kartu nama seolah benda kecil itu adalah kunci surga.
Malam Gala Amal Tahunan. Begitulah tulisan timbul berwarna emas yang tertera pada kartu undanganku.
Sebuah ironi yang membuat perutku mual. Orang-orang ini berkumpul di sini, menyesap sampanye, dan menepuk punggung satu sama lain karena telah menyumbangkan sebagian kecil dari kekayaan kotor mereka. Kekayaan yang mereka dapatkan dari hasil merampas tanah rakyat, menyuap pejabat, dan menginjak leher orang-orang yang tak berdaya.
Aku berdiri menyandar di dekat pilar marmer, menggerakkan gelas kristal tipis di tanganku dengan putaran lambat. Cairan keemasan di dalamnya membentuk pusaran kecil. Aku memaksakan otot-otot wajahku untuk rileks, menjaga postur tubuhku agar terlihat santai.
Tidak ada yang mengenali wajahku di sini. Sepuluh tahun lalu, aku hanyalah seorang bocah laki-laki kurus yang menangis histeris di pemakaman yang sepi. Malam ini, aku adalah Arlan. Hanya Arlan. Seorang investor muda yang baru kembali dari Eropa dengan portofolio bisnis yang tak bisa dilacak dan saldo rekening yang cukup untuk membuat manajer bank rela membungkuk sopan.
Aku telah membeli dan membangun identitas ini lapis demi lapis, menyuap para pemalsu dokumen terbaik, memastikan tidak ada satu pun jejak kertas yang bisa menghubungkanku dengan putra Adrianus Wiratama yang dianggap sudah mati.
"Anda terlihat seperti seseorang yang sedang bosan, Tuan...?"
Sebuah suara serak yang sengaja dibuat menggoda menyapa dari sisi kananku. Aroma parfum bunga yang terlalu menyengat menusuk hidungku. Aku menoleh perlahan, membiarkan senyum ramah—senyum yang telah kulatih di depan cermin kamar mandi berjam-jam lamanya—terbentuk di bibirku.
Wanita itu mungkin berusia awal tiga puluhan. Gaun merah marunnya membalut tubuhnya dengan sangat ketat. Namun, dari posturnya yang sedikit kaku dan cara jari-jarinya meremas clutch bag bermanik-manik, aku tahu dia sedang cemas. Cincin emas putih di jari manisnya memiliki bekas goresan kecil di bagian bawahnya, tanda bahwa ia sangat sering melepas dan memasang cincin kawin itu secara terburu-buru.
"Arlan," jawabku, melangkah setengah langkah lebih dekat, sengaja menembus batas nyaman personalnya. "Dan saya tidak bosan, Nyonya..."
"Silvia. Silvia Hartono."
"Nyonya Silvia," ulangku dengan nada suara yang sedikit kuturunkan. "Saya hanya sedang mengamati pertunjukan di ruangan ini. Sangat menarik melihat bagaimana orang-orang bertingkah ketika mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari pasangan mereka."
Silvia tertawa pelan, namun kelopak matanya berkedut cepat. Tembakanku tepat sasaran. "Menyembunyikan sesuatu? Anda bicara seolah kita semua di sini adalah pembohong, Tuan Arlan."
"Tidak semua," balasku lembut.
Aku memindahkan gelasku ke tangan kanan, lalu menatap lurus ke matanya. Dengan kecepatan tangan yang tak bisa ditangkap mata biasa, jari-jari tangan kiriku melipat serbet sutra merah kecil yang kuambil dari meja sebelah. Dalam satu jentikan, serbet itu berubah bentuk menyerupai mawar merah. Aku menyelipkannya di antara jemarinya yang memegang gelas.
Trik sulap jalanan yang sangat murahan. Tapi sulap tidak pernah tentang bendanya; sulap selalu tentang mengalihkan perhatian target dari kebenaran.
"Beberapa dari kita hanya menyembunyikan rasa bosan," lanjutku, suaraku mengalun seperti bisikan. "Yang lain... mungkin menyembunyikan fakta bahwa mereka sebenarnya lebih suka berada di tempat lain malam ini. Mungkin di sebuah apartemen sewaan di kawasan Kuningan, misalnya? Menunggu seseorang yang bukan suaminya?"
Napas Silvia terdengar tercekat di tenggorokan. Percikan sampanye tumpah dari gelasnya, membasahi kulit jari telunjuknya. Kawasan Kuningan adalah tebakanku berdasarkan struk parkir yang mengintip dari tas kecilnya yang sedikit terbuka tadi. Reaksi paniknya baru saja memberiku jawaban pasti.
"Saya... saya rasa suami saya sedang mencari saya," ucapnya terbata-bata. Senyum menggodanya luntur seketika, digantikan oleh wajah pucat pasi. Ia memutar tubuhnya dan setengah berlari menjauh dariku, seolah aku baru saja menodongkan pisau ke perutnya.
Aku kembali menyesap minumanku. Manusia benar-benar makhluk yang rapuh. Mereka membangun tembok tebal dari uang dan status sosial, merasa diri mereka kebal. Tapi satu kalimat yang diucapkan di waktu yang tepat bisa menghancurkan fondasi itu dalam hitungan detik.
Tatapan mataku kembali menyapu ballroom, mengabaikan kerumunan sosialita dan politisi berwajah dua. Mataku mencari, dan akhirnya berhenti pada sebuah kelompok kecil yang berdiri di dekat pintu kaca menuju balkon utama.
Mereka adalah pusat gravitasi ruangan ini. Empat orang pria paruh baya yang berdiri dalam formasi setengah lingkaran. Mereka memancarkan aura arogansi yang membuat tamu-tamu lain tanpa sadar menjaga jarak beberapa meter dari mereka.
Target-targetku. Pilar-pilar penyangga kota yang korup ini.
Darahku mendidih, mengalir deras hingga telingaku terasa panas. Aku harus mencengkeram gelasku kuat-kuat agar tanganku tidak bergetar.
Di sebelah kiri adalah Jenderal Sudiro. Seragam militernya dipenuhi medali kehormatan berkilauan. Medali yang ia dapatkan bukan karena keberanian di medan perang, melainkan dari kemahirannya menjilat di lobi-lobi politik. Rahangnya kaku, dan matanya yang sipit terus bergerak menyapu sekeliling ruangan dengan kewaspadaan seorang peronda.
Di sebelahnya berdiri Hakim Agung Setiawan. Pria dengan rambut yang mulai menipis dan memutih, mengenakan kacamata berbingkai emas. Di ruang sidang pengadilan, ia duduk di kursi tertinggi, dikenal sebagai wakil Tuhan. Di balik layar tertutup, ia adalah mesin pelelang keadilan. Palu hakimnya selalu jatuh pada pihak yang berani mentransfer angka dengan nol terbanyak ke rekening lepas pantainya.
Lalu, pandanganku berhenti pada pria itu.
Jantungku serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh. Napasku terasa berat di dada.
Pria yang berdiri di tengah kelompok tersebut mengenakan tuksedo hitam pekat. Ia sedang tertawa pelan, memegang cerutu di tangan kirinya. Darmawan Salim. CEO Vanguard Group. Orang yang merencanakan kematian ayahku.
Sepuluh tahun berlalu tidak banyak mengubah wajahnya. Garis-garis usianya mungkin bertambah, tetapi ia hanya terlihat lebih kaya, lebih berkuasa, dan aura kekejamannya semakin pekat. Melihatnya berdiri santai menikmati hidup, sementara ayah dan ibuku hancur menjadi abu di dasar jurang, membuat keinginan primitif untuk mencekik lehernya hingga patah meronta-ronta di dalam kepalaku.
Aku memejamkan mata, menarik napas panjang melalui hidung, menahan binatang buas di dalam diriku agar tetap terantai. Belum saatnya.
Di sebelah Darmawan, berdiri seorang wanita muda. Rambut hitam lurusnya jatuh sempurna di bahu, kontras dengan gaun malam berwarna biru tua yang membalut tubuhnya. Berbeda dengan wanita lain di ruangan ini, ia tidak memakai riasan mencolok atau perhiasan berlebihan.
Ia tidak tersenyum. Tatapan mata cokelatnya tajam dan penuh curiga. Ia mengamati orang-orang di sekitarnya dengan cara yang tidak biasa, seolah ia sedang mencari ancaman di balik setiap senyum. Cara ia berdiri, dengan tumpuan berat badan yang merata pada kedua kakinya, siap untuk merespons secara fisik kapan saja... itu adalah bahasa tubuh yang sangat jelas.
Penegak hukum.
Berdasarkan berkas profil yang kukumpulkan bulan lalu, aku tahu siapa dia. Elara Salim. Putri tunggal Darmawan. Bidak yang secara ironis memilih jalur kepolisian, mencoba membersihkan noda yang tidak ia ketahui berasal dari ayahnya sendiri.
Malam ini, dia hanyalah informasi tambahan bagiku. Seseorang yang harus kuhindari atau mungkin kumanfaatkan nanti. Perhatianku saat ini sepenuhnya terfokus pada retakan kecil yang kulihat pada pertahanan ayahnya dan rekan-rekannya.
Jika dilihat dari jauh oleh tamu biasa, kelompok Pilar itu tampak sempurna dan tak tersentuh. Namun, mataku telah bertahun-tahun dilatih di jalanan untuk melihat kepanikan yang disembunyikan.
Jenderal Sudiro telah menghabiskan dua gelas wiski tanpa campuran dalam waktu kurang dari lima belas menit. Itu adalah sesuatu yang tidak wajar bagi seorang militer yang terkenal sangat menjaga kontrol dirinya di depan publik.
Hakim Setiawan terlihat pucat. Ia terus-menerus menarik dan melonggarkan simpul dasi kupu-kupunya dengan jari yang berkeringat. Sebuah gestur bawah sadar yang menandakan perasaan tercekik.
Sementara Darmawan Salim, sang CEO, memang tersenyum. Tetapi senyum itu hanya berhenti di bibirnya; otot-otot di sekitar matanya berkedut tegang.
Mereka sedang panik. Ketakutan sedang menggerogoti nyali mereka.
Berita tentang kematian mengerikan Handoko Salim di penthouse-nya pagi tadi pasti sudah sampai ke telinga mereka melalui informan kepolisian yang mereka bayar. Polisi mungkin masih kebingungan dengan penyebab kematiannya, tetapi orang-orang di kelompok ini tahu Handoko tidak memiliki riwayat sakit jantung. Mereka tahu Handoko adalah pemegang kunci dari lemari rahasia yang menyimpan dosa-dosa mereka.
Dan yang paling membuat mereka tidak bisa tidur malam ini: seseorang pasti sudah membisikkan pada mereka bahwa ada dokumen penting yang lenyap dari dalam brankas baja Handoko.
Permainan ini terlalu indah jika hanya kuamati dari jauh. Waktunya memindahkan pion pertamaku di atas papan catur.
Aku meletakkan gelasku yang sudah kosong di atas nampan seorang pelayan yang kebetulan lewat, lalu mulai berjalan membelah keramaian ballroom. Langkahku pelan, tidak terburu-buru, seperti bayangan yang mengitari mangsanya.
Aku memusatkan fokusku pada Hakim Setiawan. Pria tua itu akhirnya memisahkan diri dari kelompoknya, mengusap dahi dengan saputangan, lalu berjalan menuju meja bar kayu panjang di sudut ruangan yang relatif sepi dari kerumunan.
Ia menarik salah satu kursi bar yang tinggi, duduk dengan napas berat, dan mengetuk-ngetukkan kuku jarinya ke atas meja mahoni dengan gelisah.
"Wiski Skotlandia. Double. Tanpa es," perintahnya pada bartender dengan nada suara yang bergetar menahan cemas.
Aku menarik kursi kosong tepat di sebelah kanannya dan duduk bersandar santai.
"Malam yang sangat meriah untuk sebuah acara amal, bukan begitu, Yang Mulia?" sapaku, sengaja menggunakan gelar kehormatannya di ruang sidang dengan nada yang ramah namun menusuk.
Hakim Setiawan menoleh kaget. Alisnya yang mulai memutih bertaut tajam. Ia memindai penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofelku, matanya bergerak cepat mencoba menempatkanku dalam daftar orang-orang penting yang harus ia ingat. Ketika ia tidak menemukan kecocokan, ekspresinya berubah menjadi campuran antara arogan dan jengkel.
"Apakah kita saling kenal, Anak Muda?" tanyanya ketus.
"Arlan. Investor independen," aku mengulurkan tangan.
Setelah jeda beberapa detik yang disengaja untuk menunjukkan kekuasaannya, ia akhirnya membalas jabat tanganku. Seperti dugaanku, telapak tangannya terasa sangat dingin dan lembap oleh keringat.
"Saya banyak mendengar tentang Anda, Hakim Setiawan," lanjutku, menarik tanganku kembali. "Keputusan-keputusan Anda di ruang sidang selalu... sangat tepat sasaran. Sangat menguntungkan bagi iklim bisnis dan orang-orang yang bisa membayar harganya."
"Hukum adalah tentang kepastian, Tuan Arlan. Investor seperti Anda seharusnya menyukai kepastian hukum di negara ini," jawabnya retoris. Ia mengambil gelas wiski yang baru saja diletakkan bartender dan langsung meneguk setengah isinya.
"Benar sekali," aku menumpukan sikuku di atas meja bar, menatap lurus ke cermin besar di belakang deretan botol minuman, berbicara pada pantulan wajahnya yang mulai memerah karena alkohol. "Namun sayangnya, dunia ini penuh dengan ketidakpastian yang mengejutkan. Pasar saham bisa hancur dalam semalam. Perusahaan raksasa bisa bangkrut karena satu audit yang bocor."
Aku memberi jeda sesaat, membiarkan suaraku merendah. "Atau... orang-orang yang tampaknya sehat bugar, tiba-tiba ditemukan meninggal dunia karena 'gagal jantung' di apartemen mewah mereka dengan senyum yang aneh."
Cermin di depan kami tidak bisa berbohong.
Aku melihat pupil mata Setiawan mengecil secara drastis sedetik setelah kata-kataku keluar. Tangannya yang memegang gelas kristal menegang kaku di udara. Ketakutan menyapu wajah tuanya dengan sangat cepat sebelum ia buru-buru menunduk, mencoba menutupi kepanikannya.
"Kematian adalah bagian dari siklus kehidupan yang tak terhindarkan," Setiawan menjawab dengan nada yang dipaksakan datar, meski napasnya terdengar tersengal. "Itu bukan topik yang pantas dibicarakan di pesta yang meriah ini, Tuan Arlan."
"Tentu saja. Maafkan selera humor saya yang kelam," aku tersenyum ramah, memutar tubuhku perlahan untuk menghadapnya sepenuhnya. Aku sedikit mencondongkan badan ke depan, menurunkan volume suaraku hingga menjadi gumaman yang hanya bisa didengar oleh telinganya di tengah alunan musik klasik live.
"Saya hanya merasa khawatir," bisikku. "Sebagai seorang investor yang berencana menaruh modal besar di sini, saya sangat bergantung pada keamanan pemegang rahasia saya. Namun, jika pengacara sehebat dan selicin Tuan Handoko Salim saja tidak bisa menjamin nyawanya sendiri di rumahnya yang terkunci... lalu siapa yang bisa menjamin keamanan dokumen-dokumen yang disimpannya? Terutama dokumen milik Anda?"
Skak.
Kali ini, pertahanan Setiawan hancur berantakan.
Bibirnya gemetar. Wajahnya memucat seperti mayat. Ia menatapku dengan mata melotot, mencoba mencari tahu apakah aku ini seorang detektif polisi yang menyamar, seorang pemeras dari pihak lawan, atau bahkan pembunuh itu sendiri. Namun, aku menjaga ekspresiku tetap netral, menatapnya dengan tatapan polos seorang pengusaha muda yang hanya sekadar bergosip.
"Siapa kau sebenarnya?" desisnya pelan, suaranya bergetar hebat. Tangannya diam-diam meremas tepi meja bar hingga buku jarinya memutih.
"Seperti yang saya bilang, hanya seorang investor," aku mundur selangkah, melepaskan tekanan dari bahunya, lalu mengancingkan satu kancing jasku dengan santai. Aku memasukkan tangan kananku ke dalam saku mantel, menyentuh tepian serat karbon dari kartu Joker cadangan yang selalu kubawa.
"Saran saya sebagai sesama pebisnis, Hakim Setiawan," lanjutku dengan nada kasihan yang palsu. "Periksa kembali siapa saja yang memiliki akses ke brankas Anda. Terkadang, orang-orang yang paling dekat dengan kita, orang-orang yang berada di kapal yang sama... adalah mereka yang paling cepat menusuk leher kita dari belakang saat kapal itu mulai bocor."
Aku sengaja melirik sekilas ke arah Darmawan Salim dan Jenderal Sudiro di kejauhan, memastikan Setiawan mengikuti arah pandanganku, sebelum kembali menatap matanya.
Benih pemikiran itu telah tertanam. Aku baru saja menyodorkan skenario ke dalam kepalanya bahwa kematian Handoko bukanlah ulah orang luar. Bahwa mungkin saja, Darmawan atau Sudiro-lah yang membunuh Handoko untuk menutupi jejak dan mencuri dokumen kejahatan mereka semua demi menyelamatkan diri sendiri.
Paranoia adalah racun yang jauh lebih mematikan daripada peluru. Peluru membunuhmu dalam hitungan detik; paranoia membunuh akal sehatmu perlahan-lahan, membuatmu menghancurkan dirimu sendiri dan mengkhianati teman-temanmu.
"Nikmati sisa malam Anda, Hakim Setiawan."
Aku mengangguk sopan dan berbalik meninggalkannya yang masih membeku di kursi bar. Aku tidak perlu menoleh ke belakang untuk mengetahui bahwa pria tua itu baru saja kehilangan kemampuannya untuk bernapas dengan normal.
Aku melangkah tenang melintasi keramaian ballroom, mendorong pintu kaca ganda, dan melangkah keluar menuju area balkon utama yang sepi. Angin malam Jakarta langsung menerpa wajahku, mengusir bau parfum ruangan dan menggantinya dengan aroma lembap sisa hujan. Suara dentingan piano dari dalam ruangan seketika teredam oleh dengung lalu lintas kota di jalan raya bawah sana.
Aku bersandar pada pagar balkon batu, mengambil napas panjang untuk mendinginkan kepalaku. Dari sudut mataku, melalui dinding kaca yang memisahkan balkon dengan ballroom, aku melihat pertunjukanku membuahkan hasil.
Hakim Setiawan tidak lagi duduk di bar. Ia berjalan dengan langkah terburu-buru yang nyaris tersandung membelah keramaian. Tangannya merogoh saku jas bagian dalam dengan panik, mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan jari yang bergetar hebat, ia menekan nomor panggilan. Sesekali, matanya melirik ke arah Darmawan dan Sudiro dengan tatapan penuh kebencian dan ketakutan.
Umpan beracunnya telah dimakan habis.
Dalam beberapa hari ke depan, saling curiga akan tumbuh menjadi monster di antara mereka. Mereka akan mulai menyadap telepon satu sama lain. Mereka akan bertengkar, memindahkan aset rahasia mereka dengan ceroboh, dan membuat kesalahan-kesalahan fatal yang akan kupakai sebagai tali untuk menggantung leher mereka.
Aku mengeluarkan kartu Joker dari saku mantelku, memegangnya dengan ibu jari dan telunjuk. Aku mengangkat kartu itu berlatar belakang lautan gedung pencakar langit Jakarta, menjadikannya ilusi seolah-olah wajah badut itu lebih besar dari Menara Vanguard di kejauhan.
Bibirku melengkung ke atas, membentuk senyuman dingin di tengah embusan angin malam. Keadilan tidak akan pernah turun dari langit. Keadilan harus ditarik paksa dari genggaman mereka yang berkuasa.
Satu pilar mulai retak.