Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan
Kelopak bunga jatuh perlahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Seolah waktu di tempat itu bergerak lebih lambat… atau memang tidak pernah benar-benar berjalan.
Kirana berdiri di bawah cabang sakura itu, cahaya lampion dan bayangan bunga membingkai wajahnya. Udara terasa lembut, hampir seperti bisa disentuh.
Dia tidak langsung bicara.
Tidak perlu.
Karena kehadiran Li Wei di dekatnya sudah cukup untuk mengisi ruang di antara mereka.
Li Wei melangkah mendekat.
Pelan.
Tidak ada jarak yang tersisa sekarang.
Tangannya terangkat, menyentuh satu helai kelopak yang jatuh dan tersangkut di rambut Kirana. Gerakan itu sederhana, tapi terlalu hati-hati seolah dia tidak ingin merusak apa pun.
Kirana menatapnya.
Lebih lama dari sebelumnya.
“Aku nggak ngerti kenapa tiap kali di sini…” bisiknya, “…semuanya terasa lebih nyata daripada dunia luar.”
Li Wei tersenyum tipis.
“Karena di sana kamu masih setengah menahan.”
Kirana diam.
Tidak menyangkal.
Jari Li Wei turun dari rambutnya, berhenti di sisi wajahnya.
Hangat itu kembali.
Lebih dalam.
Lebih menenangkan.
“Di sini,” lanjutnya pelan, “kamu nggak perlu jadi siapa-siapa.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi terasa sampai ke dalam.
Kirana menarik napas.
Dan untuk sesaat
dia benar-benar melepaskan semuanya.
Nama.
Pekerjaan.
Dunia yang menuntutnya untuk terus masuk akal.
Di sini
dia hanya… dirinya.
Tangannya bergerak lagi.
Menyentuh tangan Li Wei.
Menggenggamnya.
Lebih erat dari sebelumnya.
“Kalau aku terus datang ke sini…” suaranya pelan, “…aku bakal lupa cara balik.”
Li Wei tidak langsung menjawab.
Tatapannya lembut.
Tapi ada sesuatu di dalamnya
yang tahu jawaban itu tidak sederhana.
“Kamu nggak harus milih sekarang,” katanya akhirnya.
Bukan menghindar.
Tapi memberi ruang.
Kirana mengangguk pelan.
Tapi kali ini
dia tidak mundur dari pertanyaan itu.
Sebaliknya
dia mendekat.
Lebih dekat lagi.
Sampai jarak itu hilang.
Tangannya naik ke dada Li Wei.
Merasa.
Menghafal.
Seolah takut nanti hanya ini yang tersisa.
“Kalau aku tetap di sini…” bisiknya, “…kamu bakal tetap seperti ini?”
Li Wei menatapnya.
Lebih dalam.
Lebih jujur dari sebelumnya.
“Aku tetap disini ,” katanya pelan. “Tapi kamu… ”
Sunyi.
Bukan karena kosong.
Tapi karena kalimat itu terlalu penuh.
Kirana menutup mata sejenak.
Menyerap.
Menerima.
Lalu membukanya lagi.
Dan kali ini
tidak ada ragu.
Dia tidak bertanya lagi.
Tidak mencari jawaban tambahan.
Dia hanya
memilih momen itu.
Tangannya menarik Li Wei sedikit lebih dekat.
Dan tanpa kata
dia kembali menutup jarak di antara mereka.
Lebih lambat.
Lebih dalam.
Seolah setiap detik ingin dia simpan.
Kelopak bunga terus jatuh di sekitar mereka.
Lampion bergoyang pelan.
Dan dunia di luar sana
untuk sementara
tidak lagi penting.
Karena di tempat ini
Kirana tidak sedang melarikan diri.
Dia sedang menemukan sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.Jarak di antara mereka hampir tidak ada.
Kirana menatap Li Wei lebih lama bukan mencari jawaban, tapi menyimpan momen itu seutuh mungkin.
Kelopak sakura jatuh pelan di bahunya.
Dia tidak menghapusnya.
Seolah ingin membiarkan semua tetap apa adanya.
Tangannya masih di dada Li Wei.
Merasakan.
Menghafal
Dan kali ini
dia tidak menunggu.
Kirana mendekat sedikit.
Sangat pelan.
Seperti memastikan dia tidak melewati batas yang rapuh.
Lalu
Li Wei memberi kecupan kecil.
Ringan.
Singkat.
Di bibir Kirana
Bukan dorongan.
Bukan keinginan yang mendesak.
Hanya sentuhan
yang jujur.
Yang dipilih.
Dan saat dia menjauh
hanya sejengkal
napas mereka masih bertemu.
Kirana tidak langsung membuka mata.
Seolah ingin tinggal satu detik lebih lama di titik itu.
Li Wei tidak bergerak.
Tapi ada sesuatu di wajahnya
yang berubah.
Lebih lembut.
Lebih… hidup.
Kirana akhirnya membuka mata.
Menatapnya.
Tidak malu.
Tidak ragu.
Hanya diam.
Dan di antara mereka
kecupan kecil itu tidak terasa ringan.
Ia tinggal.
Mengendap.
Menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sentuhan.Kirana tidak langsung menjauh.
Setelah kecupan itu
dia tetap di sana.
Dekat.
Seolah satu sentimeter pun terasa terlalu jauh.
Matanya perlahan terbuka, menatap Li Wei dari jarak yang hampir tidak ada. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya bukan ledakan, bukan juga gejolak
tapi kedalaman.
Seperti perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya.
Tangannya naik sedikit, menahan sisi wajah Li Wei.
Lebih mantap dari sebelumnya.
Lebih sadar.
“Kamu masih di sini…” bisiknya pelan.
Bukan pertanyaan.
Lebih seperti kelegaan yang baru dia izinkan muncul.
Li Wei tidak menjawab dengan kata.
Tapi jarinya bergerak pelan di punggung tangan Kirana sentuhan kecil yang cukup untuk menjawab segalanya.
Kirana menarik napas pelan.
Lalu mendekat lagi.
Bukan untuk mengulang.
Bukan untuk mengejar.
Tapi karena dia ingin… tetap.
Kening mereka kembali bersentuhan.
Hangat itu terasa lebih dalam sekarang.
Bukan hanya di kulit
tapi di sesuatu yang lebih sunyi di dalam dirinya.
“Aku takut ini cuma jadi tempat aku lari,” katanya pelan.
Akhirnya.
Jujur.
Li Wei tidak langsung membantah.
Dia hanya mendekat sedikit.
“Kalau kamu lari,” bisiknya, “kamu nggak akan berani balik lagi.”
Kirana terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi tepat.
Karena dia tahu
setiap langkah yang dia ambil ke sini bukan untuk menjauh dari dunia.
Tapi untuk mendekat pada sesuatu yang dia abaikan terlalu lama.
Tangannya menggenggam tangan Li Wei lagi.
Lebih erat.
Bukan menahan
tapi mengakui.
“Aku nggak mau kehilangan ini,” katanya.
Suaranya pelan.
Tapi jelas.
Li Wei menatapnya lama.
Lalu, dengan gerakan yang hampir tak terasa dia mendekatkan Kirana sedikit lagi.
Bukan menarik.
Hanya membiarkan jarak itu benar-benar hilang.
“Kalau kamu tetap jujur sama perasaanmu,” katanya pelan, “ini nggak akan hilang.”
Sunyi turun lagi.
Tapi kali ini
sunyi itu terasa seperti sesuatu yang mereka jaga bersama.
Kirana menutup mata.
Bersandar sedikit.
Tidak sepenuhnya.
Cukup untuk merasa bahwa dia tidak sendiri.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak bertanya apakah ini nyata atau tidak.
Karena yang dia rasakan sekarang
tidak butuh bukti.
Tidak butuh penjelasan.
Hanya butuh dia… untuk tetap ada di dalamnya.
Dan kelopak sakura yang jatuh tanpa suara
Kirana akhirnya berhenti menahan dirinya sendiri.
Bukan untuk tenggelam.
Tapi untuk… benar-benar merasakan.
Jari Li Wei menyusuri rambut panjang Kirana yang jatuh di punggungnya.
Pelan.
Seolah setiap helai memiliki ingatan yang tidak ingin dia rusak.
Kirana tidak bergerak.
Tubuhnya sedikit condong ke belakang, tapi tangannya tetap mencengkeram pakaian Li Wein bukan untuk menahan, tapi untuk memastikan dia tidak terlepas dari momen itu.
Napas mereka masih belum sepenuhnya teratur.
Dekat.
Hangat.
Dan terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Dulu…” suara Kirana pelan, hampir pecah di ujungnya, “…aku juga kayak gini?”
Li Wei berhenti sejenak.
Tatapannya turun ke wajah Kirana.
Ada sesuatu yang berubah di sana lebih dalam, lebih berat, seolah pertanyaan itu membuka pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup.
“Iya,” jawabnya akhirnya.
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat dada Kirana terasa sesak.
Bukan karena sakit.
Tapi karena sesuatu yang hampir dia ingat… tapi belum sepenuhnya bisa dia pegang.
Jari Li Wei berpindah.
Dari rambut
ke leher Kirana.
Sentuhan itu tidak menuntut.
Tidak mendesak.
Hanya ada.
Seperti janji yang tidak pernah diucapkan ulang.
“Kamu selalu kayak gini kalau akhirnya berhenti lari,” lanjutnya pelan.
Kirana menatapnya.
Lebih lama.
Lebih dalam.
“Terus kenapa aku tetep kehilangan kamu?” bisiknya.
Pertanyaan itu tidak tajam.
Tidak menyalahkan.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.
Li Wei tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap di sana.
Hangat.
Nyata.
Tapi ada jeda di matanya sesuatu yang tidak sepenuhnya ingin dia katakan.
“Kamu nggak kehilangan aku,” katanya akhirnya.
Pelan.
Hati-hati.
“Kamu cuma… ditarik balik.”
Sunyi.
Kelopak sakura jatuh lagi.
Satu menyentuh bahu Kirana.
Lalu jatuh ke lantai tanpa suara.
“Balik ke mana?” tanya Kirana.
Li Wei menatapnya.
Lama.
Lalu
“Ke hidup yang bukan milik kita lagi.”
Kalimat itu tidak keras.
Tapi terasa seperti sesuatu yang menutup ruang.
Kirana menarik napas dalam.
Dadanya naik turun lebih cepat sekarang.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia mulai mengerti
ini bukan hanya tentang menemukan kembali.
Tapi tentang… kehilangan lagi.
Tangannya menguat di pakaian Li Wei.
“Kali ini aku nggak mau ditarik,” katanya pelan.
Lebih pasti.
Lebih sadar.
Li Wei tidak tersenyum.
Tapi ada sesuatu di matanya
yang hampir seperti harapan yang terlalu lama ditahan.
“Kalau kamu nggak mau ditarik,” katanya, “kamu harus siap… buat ninggalin yang di sana.”
Kirana diam.
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Jelas.
Tidak bisa dihindari lagi.
Dua dunia.
Dua kehidupan.
Dan dia
tidak bisa berdiri di tengah selamanya.
Tapi anehnya
dia tidak langsung panik.
Tidak langsung mundur.
Dia hanya menatap Li Wei.
Lebih dekat.
Lebih dalam.
Lalu berbisik pelan
“Kalau aku tinggal…”
Kalimatnya terhenti.
Bukan karena tidak tahu lanjutannya.
Tapi karena dia tahu
jawabannya akan mengubah segalanya.
Dan di antara napas yang masih saling bersentuhan
Kirana akhirnya mengerti:
cinta ini bukan sekadar ditemukan kembali.
Ia meminta sesuatu sebagai gantinya.
Dan kali ini
dia harus memilih.