NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: RUNTUHNYA PILAR SURGA

Hening yang mematikan menyelimuti dataran kaca Alam Dewa Sejati. Arsitek Nasib menyentuh luka di pipinya, menatap darah emas yang menempel di jemarinya dengan tatapan tidak percaya. Di depannya, Han Jian berdiri sebagai anomali yang mustahil—sosok yang menyelimuti dirinya sendiri dengan energi Kehampaan Purba, sebuah kekuatan yang ada sebelum hukum ruang dan waktu diciptakan.

"Energi Kehampaan..." desis sang Arsitek, suaranya kini bergetar antara amarah dan teror. "Kau ingin menghancurkan segala sesuatu? Jika pilar-pilar ini runtuh, alam semesta akan kehilangan keseimbangan dan kembali menjadi abu!"

"Jika keseimbangan yang kau maksud adalah membangun surga di atas penderitaan triliunan nyawa, maka biarlah alam semesta ini menjadi abu!" balas Han Jian. Suaranya bergema seperti tabrakan dua galaksi.

Han Jian menghentakkan kakinya. Alih-alih melompat, ia seolah-olah "menghapus" jarak antara dirinya dan pilar cahaya terdekat. Pilar itu begitu besar, mengalirkan jutaan jiwa yang terperangkap dalam bentuk arus energi murni yang menuju ke Istana Pusat.

"Hentikan!" Arsitek Nasib mengangkat tongkatnya yang patah, merapalkan hukum kosmis. "Hukum Ruang: Penyempitan Dimensi!"

Ruang di sekitar Han Jian tiba-tiba menyusut, mencoba menjepit tubuhnya hingga menjadi titik mikroskopis. Namun, Tulang Ilahi Transenden milik Han Jian yang kini dialiri energi Kehampaan tidak lagi tunduk pada hukum ruang. Ia berjalan menembus tekanan dimensi itu seolah-olah ia hanya berjalan melewati kabut tipis.

"Seni Kehampaan: Taring Pemutus Siklus!"

Han Jian mengayunkan tombaknya dalam gerakan vertikal yang megah. Cahaya hitam pekat membelah pilar cahaya raksasa itu.

KRAAAAAAAAKKKKK!

Suara itu lebih keras dari ledakan bintang. Pilar cahaya yang menghubungkan ribuan dunia bawah ke Alam Dewa Sejati pecah berkeping-keping. Arus jiwa yang selama ribuan tahun terperangkap di dalamnya tiba-tiba terlepas. Triliunan cahaya kecil berbentuk bola-bola energi melesat keluar, mengisi ruang hampa Alam Dewa dengan jeritan kebebasan yang memekakkan telinga.

Efeknya instan. Di seluruh alam semesta, para kultivator yang sedang bermeditasi tiba-tiba merasakan beban yang selama ini menindas jiwa mereka terangkat. Di Dunia Atas, para Tetua Sekte Tulang Abadi menengadah ke langit, melihat bintang-bintang berpendar dengan warna yang lebih murni.

Namun, bagi Alam Dewa Sejati, ini adalah awal dari kiamat.

"Apa yang telah kau lakukan?!" Arsitek Nasib meraung. Tubuhnya mulai memudar karena pasokan energi dari pilar tersebut terputus. "Kau telah melepaskan 'Ternak' itu! Kau menghancurkan fondasi keabadian!"

"Aku tidak menghancurkan keabadian," kata Han Jian, matanya yang hitam-putih menatap tajam. "Aku mengembalikannya kepada pemilik aslinya."

Tiba-tiba, dari arah Istana Pusat, dua aura yang jauh lebih menakutkan dari Arsitek Nasib muncul. Dua sosok raksasa muncul dari kegelapan. Yang satu adalah seorang wanita dengan sayap yang terbuat dari jalinan takdir berwarna perak—Penunai Jiwa. Yang lainnya adalah pria raksasa berbaju zirah hitam yang memegang kapak pemusnah—Pilar Kekekalan.

"Arsitek, kau membiarkan seekor ulat merusak kebun kita?" suara wanita itu dingin, membuat jiwa siapa pun yang mendengarnya merasa ingin membeku.

"Jangan hanya bicara, bantu aku membunuhnya!" teriak Arsitek Nasib.

Ketiga penguasa tertinggi Alam Dewa itu kini mengepung Han Jian. Ini adalah situasi yang mustahil. Satu penguasa saja sudah cukup untuk menghapus satu galaksi dengan jentikan jari, dan kini Han Jian harus menghadapi ketiganya sekaligus.

"Jian-er... waktunya telah tiba," suara Han Shuo bergetar di dalam sumsum tulang Han Jian. "Tulangmu adalah wadah bagi semua jiwa yang kau bebaskan. Jangan tahan mereka... biarkan mereka mengalir melaluimu!"

Han Jian memahami maksud ayahnya. Ia membuka tangannya lebar-lebar. Triliunan jiwa yang tadi terlepas dari pilar mulai tertarik ke arah Han Jian. Bukannya diserap secara paksa seperti yang dilakukan para dewa, jiwa-jiwa itu datang secara sukarela, memberikan rasa terima kasih mereka dalam bentuk energi murni yang tak terbatas.

Tubuh Han Jian mulai membesar, bukan secara fisik, melainkan secara eksistensial. Ia menjadi pusat dari pusaran energi jiwa seluruh alam semesta. Tulang-tulangnya yang transparan kini berisi galaksi-galaksi kecil yang berputar.

"Kalian menyebut mereka ternak," Han Jian mengangkat tombaknya, yang kini telah berubah menjadi Pedang Kehendak Semesta. "Tapi sekarang, rasakan kekuatan dari setiap nyawa yang kalian khianati!"

Penunai Jiwa melesat maju, benang-benang takdirnya mencoba menjerat keberadaan Han Jian. "Hapus dari sejarah: Eksekusi Garis Waktu!"

Ia mencoba menghapus eksistensi Han Jian dari masa lalu agar ia tidak pernah lahir. Namun, ia menemukan sebuah tembok yang tak tertembus. Han Jian, yang berkultivasi tanpa dantian dan menggunakan energi kehampaan, telah menjadi sosok yang "Berdiri di Luar Takdir".

"Masa laluku adalah milikku, bukan milik hukummu!" Han Jian menebas ke depan.

Pedang hitamnya memotong benang-benang perak itu. Penunai Jiwa menjerit saat sayap takdirnya terbakar oleh api kehampaan. Di sisi lain, pria raksasa, Pilar Kekekalan, menghantamkan kapaknya ke arah kepala Han Jian.

BOOOOOMM!

Hantaman itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan istana-istana melayang di sekitarnya. Namun, Han Jian menahan kapak raksasa itu hanya dengan satu tangan kiri. Tulang lengannya berpendar dengan cahaya triliunan jiwa.

"Kekekalanmu adalah palsu," desis Han Jian. "Hanya perubahan yang abadi."

Dengan sentakan tangan, Han Jian menghancurkan kapak raksasa itu menjadi serpihan. Ia kemudian melakukan putaran cepat, menusukkan pedangnya langsung ke jantung sang raksasa.

Satu per satu, para dewa palsu itu mulai tumbang. Kejatuhan mereka bukan karena Han Jian lebih kuat secara fisik, tetapi karena fondasi kekuatan mereka—yaitu energi yang mereka curi—telah berbalik melawan mereka melalui perantara Han Jian.

"Ini belum berakhir..." Arsitek Nasib mencoba melarikan diri menuju inti Istana Pusat. "Masih ada 'Dia'! Pencipta Sejati tidak akan membiarkanmu—"

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Han Jian sudah berada di depannya. Ia mencengkeram wajah sang Arsitek, matanya menatap langsung ke dalam ketakutan terdalam dewa tersebut.

"Jika ada pencipta sejati yang membiarkan kalian melakukan ini, maka dia adalah targetku berikutnya," ucap Han Jian dingin.

Dengan satu tekanan tangan, Han Jian meledakkan energi kehampaan di dalam kepala sang Arsitek. Penguasa terakhir Alam Dewa itu hancur, menjadi partikel cahaya yang diserap kembali oleh alam semesta yang kini mulai pulih.

Han Jian berdiri sendirian di tengah reruntuhan Alam Dewa Sejati. Pilar-pilar cahaya lainnya mulai runtuh secara berantai. Istana Pusat mulai hancur.

Tiba-tiba, sebuah kehangatan keluar dari dadanya. Cahaya perak ayahnya, Han Shuo, memisahkan diri dari tulangnya dan membentuk wujud transparan di depannya.

"Kau berhasil, Jian-er," ucap Han Shuo dengan air mata kebanggaan. "Kau telah membebaskan alam semesta dari siklus peternakan jiwa ini."

"Ayah... apakah kau bisa kembali?" tanya Han Jian penuh harap.

Han Shuo tersenyum sedih. "Esensiku sudah menyatu dengan kehendak semesta ini. Aku tidak bisa kembali dalam bentuk fisik, tapi aku akan ada di setiap embusan angin dan setiap bintang yang bersinar. Tugasmu belum selesai, Nak. Kau sekarang adalah penjaga baru. Bukan sebagai dewa yang memanen, tapi sebagai Kaisar yang melindungi kebebasan."

Han Jian mengangguk perlahan. Ia melihat ke arah kosmos yang kini terasa lebih "hidup" dan "bebas". Ia meletakkan pedangnya dan duduk bersila di tengah reruntuhan surga yang hancur.

Kisah tentang anak tanpa dantian yang dihina sebagai sampah telah mencapai puncaknya. Ia tidak hanya menghancurkan klannya, sektenya, atau para dewanya. Ia telah menghancurkan batas antara yang fana dan yang ilahi.

Di bawah sana, di jutaan dunia, orang-orang mulai merasakan kekuatan mereka sendiri tumbuh tanpa perlu memberikan persembahan kepada langit. Era baru telah dimulai—Era Manusia Berdaulat.

Dan di puncak segalanya, duduk seorang pemuda dengan tulang yang menyimpan sejarah alam semesta, menjaga agar kegelapan tidak pernah lagi mengurung cahaya jiwa manusia.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!