NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi itu, kedai bubur ayam di pinggir jalan yang biasanya ramai terasa sedikit berbeda dengan kehadiran dua personel polisi yang berjaga di dekat pintu masuk.

Di salah satu sudut meja, Zaidan dan Sulfi duduk berdampingan, menikmati bubur ayam yang masih mengepulkan uap panas dengan taburan kerupuk yang melimpah.

Sulfi menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya, membiarkan rasa gurih kaldu dan lembutnya nasi menyatu di lidah.

Ekspresi wajahnya yang tadi pucat kini berangsur segar.

"Enak sekali, Mas," ucap Sulfi sambil tersenyum lebar ke arah suaminya. Seolah-olah rasa mual yang menyiksanya di kamar mandi tadi hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat.

Zaidan yang sejak tadi hanya memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan saksama, mengusap sisa kecemasan di hatinya.

Ia meletakkan sendoknya sendiri lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi kening Sulfi.

"Masih mual?" tanya Zaidan lembut, suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.

Ia sudah bersiap jika tiba-tiba Sulfi harus kembali mencari tempat untuk mengeluarkan isi perutnya.

Sulfi menggelengkan kepalanya dengan mantap. Ia menyuapkan sendok kedua dengan lebih bersemangat.

"Ajaib ya, Mas. Tadi rasanya mau mati karena mual, tapi begitu mencium bau bubur ini, semuanya langsung hilang. Sepertinya bayi kita memang penggemar bubur ayam sejak dalam kandungan."

Zaidan tertawa kecil, rasa syukur memenuhi dadanya.

Ia kembali teringat pada tekanan di kantor polisi semalam, namun melihat Sulfi yang lahap makan di depannya membuat semua lelah itu menguap.

Baginya, pemandangan sederhana di kedai bubur ini adalah kemenangan yang jauh lebih berarti daripada kemenangan apa pun di ruang interogasi.

"Makan yang banyak, Sayang. Habis ini kita ke rumah sakit untuk cek kesehatanmu dan si kecil secara resmi," ujar Zaidan sambil menggenggam tangan Sulfi di bawah meja, bertekad memberikan perlindungan terbaik bagi kebahagiaan kecil mereka yang baru saja dimulai.

Setelah mangkuk bubur ayam itu tandas tak bersisa, rona merah di pipi Sulfi perlahan kembali, menggantikan pucat yang sempat menyelimutinya pagi tadi.

Zaidan menarik napas lega; melihat istrinya bisa makan dengan lahap adalah ketenangan tersendiri baginya di tengah badai teror yang belum sepenuhnya reda.

Setelah selesai sarapan, mereka menuju ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Sulfi. Zaidan mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati, sesekali melirik spion untuk memastikan mobil pengawal dari satuannya tetap berada di posisi yang tepat di belakang mereka.

Di dalam kabin mobil yang sejuk, tangan Zaidan tak lepas menggenggam jemari Sulfi.

"Kamu tidak tegang, kan?" tanya Zaidan lembut saat mereka mulai memasuki area parkir rumah sakit.

Sulfi menggeleng pelan, meski detak jantungnya berkata lain.

"Hanya sedikit berdebar, Mas. Aku masih merasa seperti bermimpi. Di satu sisi ada ketakutan karena ancaman Bima, tapi di sisi lain, ada keajaiban kecil ini di perutku."

Zaidan membawa tangan Sulfi ke bibirnya, mengecupnya lama.

"Anak ini adalah pelindung kita, Sayang. Dia hadir untuk memberi kita alasan agar tidak pernah menyerah."

Mereka melangkah masuk ke lobi rumah sakit dengan pengawalan yang cukup diskret agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.

Di depan ruang praktik dokter spesialis kandungan, Zaidan mendaftarkan nama istrinya. Sepanjang menunggu giliran, ia terus mengusap punggung tangan Sulfi, mencoba menyalurkan keberanian.

Bagi Sulfi, perjalanan ke rumah sakit kali ini terasa begitu sakral.

Jika dulu rumah sakit identik dengan aroma duka dan kenangan pahit atas kehilangan mendiang suaminya, kini tempat ini menjadi gerbang awal menuju kehidupan baru yang penuh harapan.

Ia mengelus perutnya yang masih rata, berjanji dalam hati bahwa apa pun yang terjadi di luar sana—termasuk ancaman Bima—ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menjaga titipan Tuhan ini bersama Zaidan.

Suasana koridor rumah sakit yang tenang terasa semakin mencekam bagi jantung Sulfi yang berdegup kencang.

Ia duduk merapat pada Zaidan, menghirup aroma parfum suaminya yang maskulin untuk menenangkan sarafnya yang tegang.

Harapan dan kecemasan bercampur aduk, menciptakan sensasi aneh di ulu hatinya.

Tiba-tiba, pintu ruang periksa terbuka pelan. Seorang perawat memanggil Sulfi untuk masuk dengan suara yang ramah.

Sulfi sempat ragu sejenak, namun kekuatan segera kembali saat ia merasakan jemari kokoh menyusup di antara jemarinya.

Zaidan menggenggam tangan istrinya, memberikan tekanan lembut seolah sedang menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki.

"Ayo, Sayang. Kita lihat malaikat kecil kita," bisik Zaidan pelan di telinganya.

Di dalam ruangan, aroma antiseptik yang khas menyambut mereka.

Dokter spesialis kandungan menyapa dengan senyum hangat, mempersilakan Sulfi berbaring di atas bed pemeriksaan.

Zaidan tidak melepaskan genggamannya sedikit pun, ia berdiri tegak di samping ranjang, menjaga Sulfi seperti benteng yang tak tergoyahkan.

Setelah memberikan gel dingin di perut Sulfi, dokter melakukan USG dengan menggerakkan transduser secara perlahan. Mata Zaidan dan

Sulfi terpaku pada layar monitor hitam putih di samping mereka.

Awalnya hanya terlihat bayangan kabur, namun tak lama kemudian, sebuah titik kecil muncul di tengah kegelapan rahim.

"Nah, ini dia," ujar dokter sambil menunjuk layar.

"Detak jantungnya sangat kuat dan sehat."

Suara detak-detak-detak yang cepat namun teratur mulai memenuhi ruangan melalui pengeras suara mesin USG.

Air mata Sulfi luruh seketika; itu adalah suara paling indah yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Zaidan terpaku, rahangnya mengeras karena menahan haru.

Di tengah ancaman maut dari Bima dan kekacauan hukum yang sedang mereka hadapi, suara detak jantung itu menjadi pengingat nyata bahwa hidup terus berlanjut dan mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan.

Layar monitor USG yang tadi menampilkan detakan kehidupan kecil itu perlahan dimatikan, meninggalkan kehangatan yang menjalar di dada Zaidan dan Sulfi.

Setelah membantu istrinya merapikan diri, Zaidan membimbing Sulfi untuk duduk kembali di hadapan meja kerja dokter.

Suasana ruangan yang semula penuh haru kini berubah menjadi sesi konsultasi yang serius.

Dokter memberikan obat dan vitamin untuk kandungan Sulfi, menyusun beberapa strip suplemen asam folat dan penguat kandungan di atas meja.

Jemari dokter dengan cekatan menuliskan dosis pada lembar resep, sesekali melirik catatan medis Sulfi untuk memastikan semuanya sesuai dengan kondisi fisiknya yang sempat mengalami tekanan mental belakangan ini.

"Ini vitaminnya harus rutin diminum ya, Bu Sulfi. Sangat penting untuk pembentukan saraf janin di fase awal ini," ujar dokter dengan nada lembut namun tegas.

Dokter kemudian melepas kacamatanya, menatap Sulfi dan Zaidan secara bergantian dengan raut wajah penuh pesan.

"Untuk trimester pertama jangan terlalu lelah ya, Bu. Hindari stres yang berlebihan dan aktivitas fisik yang berat karena janinnya masih sangat rentan menempel di dinding rahim."

Mendengar kata "stres," Zaidan sedikit mengeratkan genggaman tangannya pada Sulfi.

Ia tahu betul bahwa istrinya baru saja melewati rentetan teror dan pemeriksaan polisi yang menguras energi.

"Saya akan pastikan dia istirahat total, Dok," sela Zaidan mantap.

"Bagus, Pak Zaidan. Dukungan suami sangat krusial sekarang. Jika ada flek atau kram perut yang tidak biasa, segera bawa ke sini tanpa menunggu jadwal kontrol," tambah dokter lagi.

Sulfi mengangguk patuh, menyimpan resep itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena bahagia.

Di balik pesan dokter tentang "jangan terlalu lelah," Sulfi menyadari tantangan besar di depannya.

Ia harus tetap tenang di tengah kasus Bima yang sedang memanas, demi nyawa kecil yang kini menjadi prioritas tertingginya.

Dengan vitamin di tangan dan Zaidan di sisinya, ia merasa memiliki kekuatan baru untuk menghadapi badai apa pun yang akan datang esok hari.

1
Hilmiya Kasinji
Luar biasa
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
my name is pho: iya kak, terima kasih 🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!