NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

edukasi besar

Sinar matahari pagi ini terasa lebih hangat dari biasanya, seolah-olah alam pun ikut bersiap menyambut perhelatan besar yang sudah kami rencanakan berbulan-bulan. Aku berdiri di tengah halaman utama pesantren, memegang sebuah map berisi jadwal acara yang sudah mulai lecek karena terlalu sering kubuka-tutup. Di depanku, panggung utama berdiri dengan gagah, dibalut kain beledu berwarna hijau tua dan emas yang memantulkan cahaya pagi.

​Pagi ini, kesibukan di area pesantren terasa sangat intens namun terorganisir. Para vendor dekorasi terlihat sedang melakukan sentuhan akhir. Struktur utama panggung sudah selesai, sound system sudah terpasang rapi di sisi kiri dan kanan, hanya tinggal beberapa hal kecil yang perlu diselesaikan. Aku memperhatikan dua orang pekerja yang sedang memasang kipas angin misty fan di sudut-sudut tenda agar udara tetap sejuk saat ratusan wali santri dan alumni berkumpul nanti sore.

​"Mbak, dekorasi bunganya mau ditaruh di depan podium atau di sepanjang pinggiran panggung?" tanya seorang pekerja vendor sambil membawa vas besar berisi rangkaian melati dan mawar putih.

​"Taruh di depan podium saja, Pak. Pastikan tidak menghalangi pandangan penonton ke arah layar LED ya," jawabku sambil memberikan instruksi singkat. Aku menarik napas panjang, mencoba meredam debar jantung yang tak kunjung tenang.

​Acara hari ini adalah webinar hibrida sekaligus temu kangen yang sangat eksklusif. Yang audiensnya terbatas hanya untuk seluruh wali santri dan para alumni dari berbagai angkatan. Namun, karena gaungnya yang terdengar ke beberapa orang dan truk-truk yang terus berdatangan dari kemaren, tantangan terberatku pagi ini bukan hanya soal teknis panggung, melainkan menjawab rasa penasaran masyarakat sekitar.

​Sejak tadi subuh, beberapa tetangga pesantren dan pelanggan setia unit bisnis pesantren kami bolak-balik bertanya. Saat aku berjalan menuju gerbang untuk mengecek kedatangan katering, Bu Ida, tetangga yang rumahnya tepat di depan gerbang, mencegatku.

​"mbak aleea, itu acaranya nanti sore boleh buat umum tidak? Katanya ada Pak Bupati sama dokter terkenal?" tanya Bu Ida dengan mata berbinar.

​Aku tersenyum santun, mencoba memberikan pengertian tanpa menyinggung perasaan. "Mohon maaf sekali, Bu Ida. Untuk hari ini acaranya memang khusus untuk internal wali santri dan alumni saja karena kapasitas tempat yang terbatas dan protokol internal kami. Tapi jangan khawatir, besok lusa kalau ada acara bazar santri, semua warga boleh masuk kok,."

​Jawaban yang sama harus kuulang berkali-kali kepada beberapa customer yang mengirim pesan chat ke WhatsApp butik hanya untuk mencari informasi. Menjaga eksklusivitas acara ini penting, bukan untuk sombong, melainkan agar pesan yang disampaikan narasumber nanti bisa terserap dengan baik oleh target audiens yang memang berkepentingan langsung dengan perkembangan pendidikan di pesantren ini.

​Setelah urusan gerbang selesai, aku kembali duduk di teras rumah yang juga ada abah disana, aku duduk di samping Abah dan membuka lembaran map untuk melakukan tugas krusial lainnya: konfirmasi akhir narasumber. Aku membuka ponsel, memastikan semua pesan yang kukirim sudah terbaca.

WhatsApp....

​"Assalamualaikum, Bapak Bupati. Saya ingin mengonfirmasi kembali jadwal kehadiran Bapak sore nanti di Pesantren,"

tulisku dalam pesan singkat kepada asisten Bapak Bupati Hasan Abdullah. Tak lama, balasan masuk memastikan beliau akan hadir tepat waktu setelah kunjungan dinasnya selesai. Aku juga menghubungi asisten Bapak Agus Setyawan dari Dinas Pendidikan dan tim dari Dr. dr. Gunawan Hendra Wijaya, Sp.OG-KFM, PhD. Semuanya memberikan lampu hijau. Kehadiran ketiga tokoh besar ini adalah magnet utama acara hari ini.

​Waktu merambat naik. Ketika adzan Ashar berkumandang, suasana berubah menjadi lebih sakral. Para santri sudah rapi dengan baju koko putih dan sarung senada, sementara santriwati tampak anggun dengan jilbab yang seragam. Para wali santri dan alumni mulai berdatangan, mengisi kursi-kursi yang telah tertata rapi di bawah tenda besar.

Langkahku mantap menuju pentas besar. Di sana, ratusan wali santri sudah duduk rapi. Wajah-wajah mereka menunjukkan campuran antara rasa penasaran dan skeptisisme. Sepertinya mereka membaca tema acara ini yang tertulis jelas di layar LED, "Bukan Sekadar Akad: Membedah Kesiapan Fisik dan Mental untuk Generasi Santri yang Berkualitas", Bagi sebagian dari mereka, menjodohkan anak di usia belia adalah cara menjaga kehormatan. Tugas beratku sore ini adalah meruntuhkan tembok persepsi itu.

Tiga kursi mewah di atas panggung telah terisi. Aku menarik napas panjang dan melangkah ke sana sebagai moderator sekaligus penggagas acara. Di sampingku, telah hadir tiga tokoh besar yang kehadirannya saja sudah mampu membungkam bisik-bisik di barisan belakang.

Ada Bapak Bupati, Drs. Hasan Abdullah SE. M.M., dengan wibawanya yang tenang. Di sebelahnya, Bapak dr. Agus Setyawan M.Pdi, Kepala Dinas Pendidikan yang dikenal vokal soal literasi. Dan yang paling khusus, Dr. dr. Gunawan Hendra Wijaya Sp.OG-KFM, PhD, seorang ahli bedah persalinan kompleks yang sengaja kuundang agar para orang tua mendengar realita medis dari pakarnya.

"Selamat sore, Bapak-Bapak sekalian," sapaku memulai acara. Suaraku menggema di pengeras suara. "Terima kasih telah hadir untuk masa depan putri-putri kita."

Setelah pembukaan yang cukup emosional dariku, dan sambutan dari Abah selaku pemilik pesantren, diskusi mulai memanas. Aku menghaturkan kepada Bapak Bupati untuk menyampaikan pesan dan apa apa yang harus dilakukan.

Bapak Bupati Hasan Abdullah berdehem, suaranya berat dan berwibawa. "Ananda sekalian dan para orang tua yang saya hormati. Kabupaten kita tidak akan maju jika sumber daya manusianya berhenti belajar di usia 16 tahun. Pernikahan dini seringkali menjadi pintu masuk kemiskinan struktural. Ketika seorang anak yang seharusnya masih memegang buku terpaksa memegang popok sebelum waktunya, ada rantai kecerdasan yang terputus."

Beliau menatap tajam ke arah barisan wali santri. "Pemerintah tidak melarang ibadah nikah, tapi kita mengatur kedewasaan. Seorang ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas. Bagaimana mereka bisa mendidik anak jika mereka sendiri belum selesai dengan masa pertumbuhannya?" ucap bapak Hasan dengan wibawa, lalu penyampaian kedua beralih ke Bapak dr. Agus Setyawan. Sebagai tokoh pendidikan yang juga memiliki latar belakang agama yang kuat, beliau membawa sudut pandang yang sangat relevan dengan lingkungan pesantren.

"Saya sering mendengar alasan 'daripada zina, lebih baik dinikahkan segera'," ujar dr. Agus dengan nada tenang namun tegas. "Tapi Bapak dan Ibu, pernikahan bukan tempat 'pembuangan' masalah. Pendidikan adalah hak setiap santriwati. Di dalam Islam, menuntut ilmu itu wajib hingga ke liang lahat. Jika kita menikahkan mereka tanpa kesiapan, kita secara tidak langsung memangkas hak mereka untuk menjadi bermanfaat bagi umat secara lebih luas."

Beliau menambahkan, "Santriwati di sini punya potensi menjadi dokter, menteri, atau guru besar. Jangan persempit dunianya hanya karena ketakutan orang tua yang berlebihan."

Suasana mendadak hening. Kalimat itu terasa menghujam.kata kata yang beliau sampaikan terasa sangat tepat dan masuk akal, lalu beralih ke narasumber terakhir dan puncaknya adalah saat Dr. dr. Gunawan Hendra Wijaya mulai berbicara. Beliau tidak membawa teks, melainkan membawa fakta-fakta medis yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan di lingkungan pesantren.

"Saya adalah dokter yang sering berada di ruang operasi, Bapak dan Ibu," Dr. Gunawan memulai, wajahnya tampak serius. "Saya sering menangani kasus preeklampsia, perdarahan hebat, hingga robekan jalan lahir yang permanen pada ibu-ibu muda berusia di bawah 20 tahun. Kenapa? Karena panggul mereka belum siap secara anatomi untuk melahirkan."

Beliau mencondongkan tubuh ke depan. "Rahim seorang remaja wanita itu seperti buah yang dipetik sebelum waktunya. Belum matang. Memaksakan kehamilan di usia dini bukan hanya membahayakan nyawa sang ibu, tapi juga meningkatkan risiko stunting dan cacat lahir pada bayi. Apakah ini yang Bapak Ibu inginkan untuk cucu-cucu kalian? Memberikan beban berat pada tubuh yang masih ingin tumbuh?"

Seorang wali santri di barisan depan tampak tertunduk. Mungkin dia adalah ayah dari ila dan nisa, atau ayah-ayah lain yang semula menganggap pernikahan dini adalah solusi singkat.

Pergolakan Batin sang Penggagas

Melihat interaksi ketiga narasumber tersebut, dadaku terasa sesak oleh haru. Aku ingat bagaimana aku harus mendengarkan kisah mereka, Aku ingat tatapan kosong santriwati yang merasa masa depannya sudah tamat saat surat lamaran datang ke rumahnya.

"Dokter Gunawan," potongku pelan, mencoba membawa diskusi ke aspek mental. "Bagaimana dengan kesiapan psikologis? Bukankah menjadi ibu bukan hanya soal fisik?"

Dr. Gunawan mengangguk setuju. "Tepat sekali. Gangguan depresi pascamelahirkan atau postpartum depression jauh lebih tinggi pada pernikahan dini. Mereka kehilangan masa bermain, kehilangan identitas, dan akhirnya terjebak dalam rasa penyesalan yang dalam. Itu akan berpengaruh pada pola asuh anak yang tidak stabil."

Bapak Bupati Hasan kembali menimpali, "Itulah mengapa saya di pemerintahan daerah sangat mendukung gerakan 'Pendewasaan Usia Perkawinan'. Kita butuh pemuda-pemudi yang punya pengalaman hidup, yang pernah gagal lalu bangkit lagi dalam belajar, sebelum mereka memikul tanggung jawab membimbing manusia lain."

Acara berlangsung hingga matahari benar-benar tenggelam. Sesi tanya jawab menjadi sangat hidup. Para wali santri yang tadinya tertutup mulai berani bertanya tentang bagaimana mendampingi anak yang ingin lanjut kuliah, hingga bagaimana membicarakan kesehatan reproduksi tanpa rasa malu.

Di akhir acara, aku berdiri di tengah panggung. Aku menatap ribuan mata yang kini tampak lebih bersinar, seolah ada beban yang terangkat dari pundak mereka.

"Bapak dan Ibu," ucapku dengan suara yang hampir pecah. "Santri-santriwati ini adalah amanah. Mereka bukan beban yang harus segera dilepaskan lewat pernikahan. Mereka adalah aset peradaban. Mari kita beri mereka waktu untuk belajar, ruang untuk bermimpi, dan hak untuk siap sebelum mereka melangkah ke babak baru kehidupan."

Sore itu, di bawah langit pesantren yang mulai memerah, aku melihat ila dan nisa di sisi lainnya berdiri di kejauhan. mereka tidak lagi menangis. Ia tersenyum ke arahku, sebuah senyum penuh harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, perjodohan itu bisa dibicarakan ulang dengan kepala dingin dan ilmu pengetahuan.

Langkahku turun dari panggung terasa ringan. Acara perdana ini hanyalah awal. Perjuangan untuk kesejahteraan dan keberlanjutan hidup mereka masih panjang, namun hari ini, satu benih kesadaran telah ditanam di tanah pesantren ini. Dan aku tahu, benih itu akan tumbuh menjadi pohon pelindung bagi masa depan mereka.

Setelah tamu-tamu besar itu pulang, aku duduk di bawah pentas yang kini sepi. Abah menghampiriku, meletakkan tangannya di bahuku dengan bangga.

"Kamu hebat, aleea," bisik Abah. "Ilmu memang harus disampaikan, meski itu pahit bagi kebiasaan lama. Terima kasih sudah mendukung dan membersamai Abah untuk pesantren ini lebih baik."

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Di mataku, terbayang masa depan di mana tidak ada lagi santriwati yang harus mengubur mimpinya hanya karena selembar surat undangan yang dipaksakan. Mereka punya masa muda yang harus dihabiskan dengan tawa di perpustakaan, diskusi di bawah pohon jati, dan pengalaman yang akan membentuk mereka menjadi wanita tangguh. Karena pernikahan, bagi seorang wanita, seharusnya adalah gerbang menuju surga, bukan penjara bagi potensinya.

setelah itu, acara belum benar-benar usai. Setelah jeda istirahat dan shalat Maghrib berjamaah, suasana pesantren yang tadinya formal berubah menjadi lebih ceria dan penuh semangat.

​Malam ini adalah panggung bagi para santri. Program "Bakat dan Minat Santriwan dan Santriwati" dimulai. Ini adalah bagian yang paling kusukai karena di sinilah kita bisa melihat sisi lain dari kehidupan pesantren.

​Lampu panggung yang tadinya hanya menggunakan pencahayaan standar, kini berubah menjadi lebih berwarna. Aku duduk di barisan samping, memperhatikan penampilan pertama: sebuah drama musikal yang menceritakan sejarah berdirinya pesantren ini. Para santriwan tampil dengan akting yang luar biasa, menggabungkan unsur komedi dan pesan moral yang kuat. Suara tawa para wali santri pecah berkali-kali, mencairkan suasana malam yang mulai dingin.

​Tak kalah memukau, para santriwati menampilkan tari saman yang sangat sinkron dan enerjik. Gerakan tangan mereka yang cepat mengikuti irama nyanyian puji-pujian membuat semua mata terpaku. Di sudut lain, ada pameran kecil yang menampilkan karya tulis, lukisan, hingga produk kerajinan tangan hasil kreativitas santri selama di asrama.

​Aku melihat Abah duduk di barisan depan dengan senyum kecil yang menghias bibirnya. Beliau tampak bangga melihat anak-anak didiknya tidak hanya mahir membaca kitab kuning, tapi juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk menunjukkan bakat mereka di depan umum.

​Sambil memegang secangkir teh hangat di tanganku, aku menyadari bahwa acara hari ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu lewat para alumni, masa kini lewat para wali santri dan narasumber, serta masa depan lewat bakat-bakat luar biasa yang ditampilkan oleh para santri malam ini.

Riuh rendah tepuk tangan, sorak-sorai penuh semangat, dan wajah-wajah puas dari para santri dan tanu adalah bayaran setimpal bagi segala persiapan yang telah kami lakukan. Di bawah langit pesantren yang bertabur bintang, aku tahu bahwa kerja keras ini telah membuahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesuksesan sebuah acara: yaitu rasa memiliki dan kebanggaan akan identitas sebagai bagian dari keluarga besar pesantren ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!