NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Kapal cepat itu membelah ombak Selat Malaka dengan kecepatan tinggi, namun bagi Adella, setiap detik terasa seperti keabadian yang menyesakkan. Nyonya Sarah sudah dipindahkan ke rumah aman yang dikelola oleh Palang Merah Internasional di bawah pengawasan ketat Zero. Sekarang, di dalam kabin kecil yang pengap, Adella menatap layar laptop Viona yang menampilkan sebuah video rekaman CCTV beresolusi rendah.

Video itu diambil dari sebuah bandara pribadi di Swiss, tiga jam setelah penangkapan Aristho Arkana di Jakarta. Seorang pria dengan jas abu-abu metalik melangkah keluar dari jet pribadi. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup topi, namun gerakan tangannya saat memutar sebuah koin perak—bukan emas—membuat jantung Adella berdegup kencang.

"Itu bukan Aristho," bisik Adella. "Dan itu pasti bukan Pak Adwan."

"Namanya Valerius Arkana," suara Viona terdengar bergetar dari speaker laptop. "Dia adalah adik laki-laki Aristho yang selama ini dianggap sudah mati dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu. Dia adalah 'Arsitek Lapangan' yang sebenarnya. Jika Aristho adalah otak di balik sistem, Valerius adalah tangan yang memastikan sistem itu bekerja secara fisik di seluruh dunia."

Viona menggeser layar, menampilkan data baru yang lebih mengerikan. "Adella, penangkapan Aristho dan kehancuran Maratama ternyata memicu protokol 'Phoenix'. Ini adalah perintah otomatis untuk melenyapkan semua saksi mata di tingkat internasional yang pernah bersentuhan dengan proyek Arkana. Termasuk orang-orang yang pernah membantumu di Singapura."

Adella mencengkeram pinggiran meja. "Zero?"

"Zero menghilang, Adella. Markasnya di Singapura diledakkan sejam yang lalu. Aku hanya bisa menyelamatkan diri karena aku sedang berada di server bayangan," Viona terisak kecil. "Kita benar-benar sendirian sekarang."

Lukas, yang duduk di sudut kabin sambil memeluk lututnya, tiba-tiba mendongak. Matanya yang tadinya tenang kini mulai bergetar. "Kak... ada getaran baru. Bukan infrasonik. Ini lebih... tajam. Seperti ribuan jarum yang menusuk udara."

Adella segera menghampiri Lukas. "Apa yang kamu rasakan, Lukas?"

"Mereka menggunakan satelit, Kak. Bukan untuk meretas, tapi untuk melacak frekuensi biologis kita. Mereka tahu kita ada di kapal ini karena detak jantung kita sudah terdaftar dalam database mereka sebagai 'Subjek'."

Adella menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi bersembunyi di laut lepas. Mereka adalah mercusuar berjalan bagi teknologi Arkana.

"Viona, cari koordinat terdekat untuk 'Zona Buta'. Tempat di mana tidak ada sinyal satelit, tidak ada listrik, tidak ada apa pun!" perintah Adella.

"Hanya ada satu tempat dalam jangkauan kita, Adella. Pulau Mati. Itu bekas koloni kusta di era kolonial yang sekarang dikelilingi oleh anomali magnetik alami. Jika kita masuk ke sana, kita akan buta, tapi mereka juga tidak bisa melihat kita."

"Arahkan kapal ke sana. Sekarang!"

Pulau Mati muncul dari balik kabut fajar seperti gigi raksasa yang mencuat dari laut. Hutan bakaunya tampak hitam dan membusuk, dan sisa-sisa bangunan batu yang hancur memberikan kesan horor yang nyata. Begitu kapal mereka memasuki radius pulau, semua perangkat elektronik di kabin mulai mengeluarkan percikan api dan mati total.

Adella, Lukas, dan Viona (yang akhirnya bergabung secara fisik di titik jemput terakhir) melompat ke air setinggi pinggang dan menyeret perlengkapan mereka ke pantai. Sunyi di pulau ini terasa berbeda—bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang mengintai.

"Kita harus membangun pertahanan manual," ujar Adella sambil mengeluarkan pisau komando. "Tanpa teknologi, kita kembali ke insting dasar."

Namun, saat mereka baru saja mencapai reruntuhan kapel di tengah pulau, suara langkah kaki yang berat terdengar dari balik semak-semak. Adella segera memasang posisi tempur, namun ia terpaku saat melihat siapa yang muncul.

Seorang pria dengan seragam compang-camping, wajahnya dipenuhi luka parut, dan matanya hanya tersisa satu. Pria itu memegang sebuah busur panah tradisional.

"Pak Guru?" bisik Lukas dengan suara gemetar.

Bukan Pak Adwan. Pria itu jauh lebih tua dan lebih liar. "Namaku Baron Senior," suara pria itu serak seperti gesekan batu. "Aku adalah ayah dari Baron Adwan yang kalian hancurkan. Dan aku sudah menunggu di pulau ini selama dua puluh tahun agar seseorang datang dan mengakhiri kutukan keluarga ini."

Adella menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam bab paling gelap dari sejarah keluarga Adwan. Orang yang seharusnya sudah mati dua dekade lalu ternyata dibuang ke pulau ini oleh Aristho untuk menjadi "arsip hidup" yang terlupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!