Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Tikungan Terakhir
Deru mesin Rolls-Royce itu menderu, memecah kesunyian malam yang basah.
Di belakang, dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor terus menempel ketat, lampu jauh mereka berkedip-kedip seperti mata predator yang sedang mengincar mangsa.
"Paman, mereka tidak berniat menakuti kita. Mereka ingin kita keluar dari jalan ini!" seru Elena, tangannya mencengkeram erat handle pintu.
Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut.
Ini adalah adrenalin murni—perasaan yang sama seperti malam kecelakaan itu, tapi kali ini dia punya kendali.
"Tahan, Nona! Kita menuju kawasan industri yang lebih terbuka," balas Paman Han dengan tenang.
Tangannya begitu stabil di atas kemudi, menunjukkan kelasnya sebagai mantan instruktur mengemudi taktis.
Tiba-tiba, salah satu SUV itu menyodok bagian belakang mobil Elena.
DUAAK!
Guncangan keras membuat Elena terlempar sedikit ke depan.
"Haryo tua bangsat!" Elena mengumpat.
"Dia baru saja menandatangani kesepakatan itu dan sekarang dia ingin menghapus buktinya bersama dengan nyawaku?"
"Itulah caranya berbisnis, Nona. Tidak ada saksi, tidak ada masalah," sahut Paman Han.
Ia membanting setir ke kiri, masuk ke sebuah tikungan tajam yang membuat ban mobil berdecit nyaring di atas aspal basah.
SUV pertama mencoba memepet sisi kanan mobil Elena, berusaha menggiring mereka menuju pembatas jembatan layang.
Elena bisa melihat kaca jendela SUV itu turun perlahan. Moncong sebuah senjata api muncul dari sana.
"Paman, mereka bawa senjata!"
TAT-TAT-TAT!
Rentetan peluru menghantam kaca samping Rolls-Royce.
Untungnya, mobil itu sudah dilapisi baja ringan dan kaca antipeluru level B7.
Peluru-peluru itu hanya meninggalkan bekas putih seperti retakan bintang tanpa berhasil menembus ke dalam.
"Jangan panik, Nona. Ini mobil lima belas miliar, bukan kaleng kerupuk," ujar Paman Han dengan nada humor yang sedikit kering.
Ia menekan sebuah tombol di konsol tengah.
"Sekarang, mari kita beri mereka sedikit hadiah perpisahan."
Dari bagian belakang mobil, keluar sebuah kepulan asap tebal yang bercampur dengan butiran minyak licin.
SUV yang tepat berada di belakang mereka kehilangan traksi seketika.
Mobil besar itu melintir tak terkendali, menghantam trotoar, dan akhirnya terguling beberapa kali sebelum meledak kecil dalam kobaran api.
Satu tumbang. Tinggal satu lagi.
SUV kedua tampak lebih berhati-hati.
Mereka menjaga jarak namun tetap menempel.
Elena mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor yang sudah ia simpan sebagai 'Kontak Darurat'.
"Halo? Kapten Bayu? Target sedang mengejarku di KM 12 arah pelabuhan. Bawa mereka sekarang."
SUV terakhir itu terus mengejar hingga mereka memasuki jalur tol yang sepi.
Mereka tampak yakin bisa menghabisi Elena di jalanan panjang ini.
Namun, saat mereka bersiap untuk menabrakkan diri ke samping mobil Elena, tiba-tiba dari kegelapan di depan, muncul barisan lampu strobo biru dan merah yang menyilaukan.
Empat mobil polisi anti-teror mengepung jalur tol tersebut, menutup seluruh akses jalan.
SUV hitam itu mencoba mengerem mendadak, namun mereka sudah terjebak.
Dari arah belakang, dua mobil hitam lainnya—milik tim keamanan pribadi Elena—muncul dan mengunci posisi mereka.
"Turun dari kendaraan! Angkat tangan!" teriak petugas melalui pengeras suara.
Elena menyuruh Paman Han menghentikan mobil beberapa meter dari tempat kejadian.
Ia keluar dari mobil, membiarkan rintik hujan membasahi wajahnya yang sempurna.
Ia melihat para penyerang itu diseret keluar dari mobil, dan di antara mereka, ada satu wajah yang ia kenal.
Kepala keamanan pribadi Haryo Adiguna.
"Bawa mereka," perintah seorang pria tegap dengan seragam polisi lengkap yang menghampiri Elena.
"Terima kasih atas informasinya, Nona Elena. Bukti penyerangan ini sudah cukup untuk menyeret keluarga Adiguna ke meja hijau atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana."
Elena tersenyum tipis.
"Bukan hanya itu, Kapten Bayu. Di dalam SUV mereka pasti ada dokumen yang mereka coba rebut kembali. Dokumen yang membuktikan keterlibatan Haryo dalam berbagai kasus sabotase."
Keesokan paginya, suasana di depan gerbang rumah Haryo Adiguna berubah menjadi sirkus media.
Puluhan kamera televisi sudah bersiaga.
Pukul 08.00 tepat, beberapa mobil dari kepolisian dan kejaksaan masuk ke halaman rumah mewah itu.
Elena menonton semua itu dari layar besar di ruang kerjanya.
Di sampingnya, Paman Han menyajikan teh kamomil hangat.
"Adrian sudah ditangkap di sebuah bar tadi subuh, Nona. Dia sedang mabuk berat saat polisi membawanya," lapor Paman Han.
"Sedangkan Haryo... dia terkena serangan jantung saat polisi menunjukkan surat perintah penggeledahan. Sekarang dia di bawah penjagaan ketat di rumah sakit."
Elena menghela napas panjang. Ada rasa lega, tapi juga rasa hampa yang aneh.
"Mereka sudah jatuh, Paman. Siska di penjara, Adrian kehilangan segalanya, dan Haryo... dia sedang sekarat di atas tumpukan dosa-dosanya sendiri."
"Apakah ini akhir yang Anda inginkan, Nona?"
Elena menatap foto Alana yang ia simpan di dalam laci—satu-satunya foto dirinya sebelum operasi.
Wajah wanita yang lugu, penuh cinta, dan terlalu baik pada dunia.
"Ini bukan tentang akhir, Paman. Ini tentang awal. Alana sudah mati di jurang itu, dan dia tidak akan pernah kembali. Tapi Elena? Elena punya seluruh dunia untuk ditaklukkan."
Ia berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.
Di sana, sudah menumpuk berkas baru: "PROYEK REHABILITASI KAWASAN KUMUH JAKARTA."
"Kita akan mengubah semua aset yang kita ambil dari keluarga Adiguna menjadi sesuatu yang berguna bagi orang-orang yang dulu mereka tindas. Aku ingin nama Adiguna dihapus dari sejarah kota ini, digantikan dengan sesuatu yang lebih bermartabat."
Tiba-tiba, ponsel Elena bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang ia gunakan untuk memantau Siska di penjara.
“Ada tamu yang ingin bertemu Anda di penjara. Dia mengaku punya informasi tentang ibu kandung Anda yang selama ini dikatakan meninggal saat melahirkan.”
Mata Elena membelalak. Tangannya sedikit bergetar saat memegang ponsel.
Selama ini, Haryo selalu mengatakan bahwa ibunya meninggal karena komplikasi.
Tapi jika itu bohong... jika ada rahasia lain di balik identitasnya sendiri...
Elena menatap Paman Han. "Paman, siapkan mobil lagi. Sepertinya lubang kelinci ini jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan."
Di depan cermin besar, Elena menatap dirinya sekali lagi.
Ia bukan lagi 'Nyonya yang Terbuang'.
Ia adalah penguasa baru, pemenang dari permainan berdarah yang ia menangkan dengan kecerdasan dan kesabaran.
Balas dendam mungkin telah selesai, tapi pencarian jati diri baru saja dimulai.
Ia menyadari bahwa identitas rahasia bukan hanya soal menyembunyikan wajah, tapi tentang menemukan siapa dirinya saat tidak ada lagi dendam yang tersisa di hati.
"Mari kita lihat rahasia apa lagi yang mereka sembunyikan dariku," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Elena melangkah keluar ruangan dengan langkah mantap.
Di luar, matahari mulai menembus awan mendung Jakarta, menyinari jalanan yang baru saja dibersihkan oleh hujan semalam.
Sebuah lembaran baru telah dibuka, dan kali ini, Elena tidak akan membiarkan siapa pun menuliskan ceritanya selain dirinya sendiri.
Bersambung...
Ayo buruan baca...