Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Terakhir di Jembatan Merah
Malam itu, langit Jakarta seolah tertutup jelaga. Angin pelabuhan yang membawa aroma garam dan karat bertiup kencang, menyapu gudang-gudang tua di kawasan Jembatan Merah yang legendaris. Adrian duduk di kursi belakang mobil operasional yang sengaja tidak menggunakan lampu, sementara di sampingnya, Zeva sedang sibuk memeriksa radio komunikasi kecil yang terpasang di telinganya.
"Semua unit sudah di posisi," suara Siska terdengar berderit lewat radio. "Tim IT sudah berhasil memutus sinyal seluler di area gudang. Mereka tidak akan bisa meminta bantuan dari luar."
Adrian menatap Zeva. "Zeva, aku masih merasa ini ide gila. Kita seharusnya menunggu polisi."
"Kalau nunggu polisi, mereka bakal punya waktu buat ngilangin jejak, Adrian," sahut Zeva sambil mengencangkan ikatan rambutnya. "Dan Robert Tan itu licin. Gue kenal tempat ini. Dulu gue sering balapan di jalur belakang gudang-gudang ini. Percaya sama gue, pasukan 'jaket hijau' gue udah nutup semua jalan keluar tikus."
Instruksi dimulai. Tanpa suara sirine, tim keamanan elit Adrian merangsek masuk melalui pintu utama, sementara Zeva memimpin tim kecil melewati gorong-gorong pembuangan yang menuju langsung ke bagian belakang gudang. Adrian bersikeras ikut, meski Zeva sudah melarangnya seribu kali.
Di dalam gudang, suasana sangat mencekam. Lampu-lampu merkuri yang berkedip memberikan efek strobe yang menyakitkan mata. Di tengah ruangan, dikelilingi oleh tumpukan peti kemas, berdirilah Robert Tan. Ia tampak tenang, menyesap cerutu mahal seolah-olah ia sedang di lounge hotel bintang lima, bukan di sarang kriminal. Di sampingnya, Maya berdiri dengan wajah pucat, tampak mulai menyadari bahwa ia telah salah memilih sekutu.
"Adrian, Adrian..." suara Robert menggema di langit-langit gudang yang tinggi. "Kau datang lebih cepat dari perkiraanku. Dan kau membawa... gadis itu. Sungguh romantis, seperti adegan film murahan."
Adrian melangkah ke depan, keluar dari bayang-bayang. "Lepaskan semua dokumen palsu yang kau buat tentang perusahaan kami, Robert. Kau kalah. Polisi sudah mengepung area ini."
Robert tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir aku peduli soal polisi? Aku sudah kehilangan segalanya di Singapura gara-gara kau. Malam ini, aku hanya ingin satu hal: melihat kau hancur. Jika aku tidak bisa memilikimu secara bisnis, maka kau tidak boleh memiliki apa pun secara pribadi."
Tiba-tiba, Robert memberi isyarat pada anak buahnya. Dua pria bersenjata muncul dari balik peti kemas, menodongkan senjata ke arah Zeva.
"Sekarang pilih, Adrian," ujar Robert dingin. "Tandatangani surat penyerahan aset Alfarezel Group ke perusahaan cangkangku di Panama, atau gadis ini akan pulang dalam peti mati. Aku tahu kau punya trauma soal kehilangan wanita di jalanan, bukan?"
Zeva merasakan dinginnya moncong senjata di pelipisnya, namun ia tidak gemetar. Ia menatap Adrian, memberi kode lewat matanya agar Adrian tetap pada rencana.
Adrian terdiam. Tangannya yang memegang map dokumen bergetar. Bayangan ibunya yang bersimbah darah di aspal puluhan tahun lalu kembali menghantuinya. Dunianya seolah runtuh. Kekuasaan, harta, martabat keluarga—semuanya terasa hambar jika dibandingkan dengan nyawa gadis yang baru saja mengajarinya cara mengganti busi motor itu.
"Jangan lakuin itu, Adrian!" teriak Zeva. "Dia bohong! Dia nggak bakal lepasin kita meskipun lu tanda tangan!"
"Diam, kau!" bentak salah satu anak buah Robert, memukul pundak Zeva dengan gagang senjata.
"Cukup!" teriak Adrian. "Aku akan tanda tangan. Lepaskan dia."
Maya, yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba melangkah maju. "Adrian, kau gila? Kau akan menghancurkan warisan Kakek Wijaya demi... demi dia?"
"Kau tidak akan pernah mengerti, Maya," sahut Adrian pahit. "Karena kau tidak pernah tahu rasanya mencintai sesuatu lebih dari kau mencintai dirimu sendiri."
Adrian mengambil pena, bersiap menandatangani surat yang akan mengakhiri masa kejayaan Alfarezel.
Tepat saat ujung pena menyentuh kertas, sebuah ledakan keras terdengar dari atap gudang. Bukan ledakan bom, melainkan ratusan lampu flash kamera dan suara raungan mesin motor yang memekakkan telinga.
Ternyata, tim IT Adrian telah meretas sistem keamanan Robert dan menyiarkan seluruh kejadian itu secara live ke media sosial dan stasiun televisi nasional melalui drone kecil yang diterbangkan Zeva. Di luar, ratusan pengemudi ojek online dan teman-teman bengkel Zeva melakukan "kepungan massa" dengan membunyikan klakson secara serentak, menciptakan kekacauan psikologis bagi anak buah Robert.
"Sekarang, Jang!" teriak Zeva lewat radio kecilnya.
Ujang dan kawan-kawan yang sudah berada di langit-langit gudang menjatuhkan jaring-jaring baja yang biasa digunakan untuk mengangkat mesin berat. Anak buah Robert yang memegang Zeva terjerat, memberikan kesempatan bagi Zeva untuk melakukan tendangan memutar yang ia pelajari di jalanan, menjatuhkan senjata lawan.
Adrian tidak tinggal diam. Ia menerjang Robert Tan dengan amarah yang telah tertahan selama bertahun-tahun. Perkelahian itu singkat namun brutal. Adrian menang, bukan karena teknik bela dirinya yang sempurna, tapi karena ia memiliki sesuatu yang harus ia lindungi.
Polisi akhirnya merangsek masuk dan memborgol Robert serta anak buahnya. Maya terduduk lemas di pojokan, menangis saat menyadari karier sosialnya telah berakhir selamanya karena keterlibatannya dalam penculikan ini.
Zeva berjalan menghampiri Adrian yang berdiri terengah-engah dengan kemeja robek dan buku jari yang berdarah.
"Gila lu ya, beneran mau tanda tangan tadi?" tanya Zeva sambil mengusap darah di sudut bibir Adrian dengan ibu jarinya.
Adrian menatap Zeva, lalu tiba-tiba ia berlutut di tengah gudang yang berdebu dan penuh sisa-sisa kekacauan itu. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil—bukan kotak beludru dari toko perhiasan, melainkan sebuah kotak plastik kecil bekas tempat baut yang sudah dibersihkan.
Di dalamnya ada sebuah cincin, tapi bukan berlian dari keluarga Alfarezel. Itu adalah cincin perak sederhana dengan ukiran rantai motor di sekelilingnya.
"Zevanya," ujar Adrian, suaranya tenang namun penuh keyakinan. "Kontrak kita sudah lama hangus di mataku. Aku tidak butuh pelindung reputasi, aku tidak butuh tunangan palsu. Aku butuh teman yang bisa memarahiku saat aku mulai jadi robot lagi. Aku butuh orang yang tahu bau oli sesering bau parfum mahal."
Adrian menarik napas panjang. "Maukah kau berhenti jadi tunangan kontrakku, dan mulai jadi istriku yang sebenarnya? Tanpa materai, tanpa tanggal kedaluwarsa."
Zeva terpaku. Ia melihat ke sekeliling; ada Ujang yang bersorak dari atas, ada Siska yang mengusap air mata haru, dan ada ratusan lampu dari "pasukan jalanan" di luar sana.
Zeva tersenyum lebar, air mata kebahagiaan akhirnya jatuh juga. "Lu tahu kan kalau gue nggak bakal bisa jadi nyonya rumah yang kalem?"
"Aku justru akan kecewa kalau kau jadi kalem," balas Adrian.
"Kalau gitu... deal, Bos Robot."
Adrian memasangkan cincin itu di jari Zeva, lalu berdiri dan memeluknya erat di bawah sorotan lampu drone yang masih merekam. Malam itu, di Jembatan Merah yang biasanya menjadi saksi bisu kekerasan, sebuah kisah cinta yang mustahil akhirnya menemukan pelabuhannya.
Satu bulan kemudian.
Sebuah bengkel besar dengan desain modern dibuka di pusat kota. Namanya: Z&A Automotive & Social Hub. Di lantai bawah, itu adalah bengkel kelas dunia yang mempekerjakan anak-anak jalanan. Di lantai atas, itu adalah kantor pusat yayasan yang mengelola pasar tradisional.
Adrian Alfarezel tidak lagi terlihat mengenakan dasi setiap hari. Ia sering terlihat duduk di depan bengkel, menyesap kopi sachet bersama Zeva dan para montir, sambil mendiskusikan rencana pembangunan sekolah kejuruan.
Kontrak mereka sudah lama hilang, namun mereka baru saja menandatangani janji yang jauh lebih kuat—sebuah janji yang dimulai dari sebuah tabrakan di jalanan, dan berakhir dengan persatuan dua hati yang berbeda kasta, namun satu dalam detak rasa.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan