Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana haru yang menyelimuti ruang tamu paviliun itu mendadak terpecah oleh suara serak Sandi. Meski matanya sendiri masih sedikit memerah, ia tidak bisa membiarkan suasana menjadi terlalu melankolis. Ia melepaskan pelukan dari ibunya, lalu menoleh tajam ke arah pintu kayu yang sedikit terbuka.
"Ngapain cuma berdiri di situ sambil nguping? Masuk cepetan, Oneng! Keburu waktu Magrib habis dan masuk Isya. Gue juga harus cicil belajar materi besok sebelum jam makan malam dimulai," ujar Sandi dengan nada yang pura-pura ketus, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa peduli.
Ibu Lisa tersentak, ia segera menghapus sisa air matanya dan menoleh ke arah pintu. Di sana, ia mendapati sosok Saskia yang tampak sangat kontras dengan penampilannya yang biasanya anggun. Gadis itu berdiri mematung dengan bahu yang naik turun menahan isak, wajahnya sembap, dan hidungnya memerah hebat karena sisa air mata serta ingus yang mulai meler tak beraturan.
Ibu Lisa segera berdiri dan menghampiri calon menantunya itu dengan langkah tergesa. "Ya ampun, kamu kenapa, Nak? Kok nangisnya sampai sesenggukan begini? Ada yang sakit?" tanya Ibu Lisa lembut sembari memegang kedua bahu Saskia.
Saskia yang masih terisak-isak berusaha mengatur napasnya. "Aku... aku ikut sedih mendengarkan obrolan kalian tadi. Aku nggak sengaja dengar pas sampai di depan pintu," jawabnya dengan suara sengau yang lucu.
Saskia menatap lekat mata Ibu Lisa dengan tatapan yang sangat tulus. "Tante... kalau nanti aku sama Sandi jadi menikah, aku... aku ju—"
Belum sempat Saskia menyelesaikan kalimatnya, Sandi sudah berdiri dan menyodorkan beberapa helai tisu ke depan wajah Saskia. "Lap dulu itu ingus lo sampai bersih, baru boleh lanjut dramanya sampai peluk-pelukan sama Ibu juga bodo amet. Kasihan munkena Ibu nanti kena 'harta karun' lo," potong Sandi dengan gaya tengilnya yang khas untuk mencairkan suasana.
Saskia mendengus kesal namun tetap menerima tisu itu. Setelah membersihkan wajah dan hidungnya, ia langsung menghambur ke pelukan Ibu Lisa, mendekap wanita paruh baya itu dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang memeluk ibunya sendiri.
"Aku mau Tante ikut tinggal sama kita juga nanti. Aku sangat senang kalau Tante bisa tertawa sama-sama dan kita bisa makan di satu meja seperti kemarin malam. Aku beneran bahagia bisa makan sate Padang bareng Tante dan Sandi. Rasanya hangat sekali," ucap Saskia dengan nada yang sangat emosional.
Ibu Lisa tak kuasa menahan kembali lelehan air matanya. Ia mencium puncak kepala Saskia dengan penuh kasih sayang, merasakan keikhlasan yang luar biasa dari gadis yang dibesarkan di tengah kemewahan ini. "Terima kasih, Saskia... terima kasih banyak ya kalau kamu benar-benar mau menerima Ibu sebagai ibu kamu juga. Ibu merasa sangat dihargai."
Ibu Lisa merenggangkan sedikit pelukannya, menangkup wajah cantik Saskia yang masih basah. "Kalau begitu, mulai sekarang jangan panggil Ibu dengan sebutan 'Tante' lagi ya? Panggil saja 'Ibu', biar kamu sama Sandi sama-sama punya panggilan yang sama ke orang tua."
Saskia mengangguk mantap dalam dekapan itu, wajahnya kini dihiasi senyum lega meski matanya masih bengkak. "Iya, Ibu... terima kasih banyak. Aku sayang Ibu," bisiknya lirih.
Sandi yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas panjang untuk menetralkan rasa haru yang menggebu di dadanya. Melihat betapa mudahnya Saskia menerima keberadaan ibunya—tanpa memandang status sosial atau latar belakang mereka sebagai pendatang di rumah ini—membuat Sandi merasakan kehangatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada rasa syukur yang mendalam karena ternyata, di balik sifat oneng dan manjanya, Saskia memiliki hati yang seluas samudra.
Sandi melangkah mantap kembali ke atas sejadah hijaunya yang sudah membentang lurus menghadap kiblat. Ia merapikan letak sarung dan pecinya, mencoba mengembalikan fokus yang sempat tercerai-berai oleh adegan mengharukan antara ibu dan kekasihnya itu. Sosoknya yang jangkung tampak kontras dengan pencahayaan temaram ruang tengah paviliun yang tenang.
"Sudah, cukup drama-dramanya. Kita mulai shalat sekarang sebelum waktu Magrib benar-benar habis. Oneng, lo wudhu dulu sana ke belakang, jangan sampai shalat kita nggak sah gara-gara lo cuma pengen nempel doang," tegur Sandi dengan nada otoriter yang dibalut perhatian.
Saskia yang masih mengusap sisa air mata di pipinya menyahut cepat, "Aku sudah wudhu kok tadi di kamar mandi rumah utama sebelum lari ke sini. Masih terjaga, suci lahir batin!"
Ibu Lisa yang melihat ketegasan putranya hanya bisa tersenyum simpul sembari merapikan kain mukenanya yang sedikit berantakan akibat pelukan Saskia tadi. "Ayo, mari kita mulai. Kalau lama-lama lagi, Ibu khawatir di kepala Sandi bisa keluar tanduk beneran. Jadi makin berabe urusannya kalau imam kita berubah jadi galak," goda Ibu Lisa.
Mendengar ledekan itu, tawa Saskia kembali pecah secara spontan. "Hahaha, iya Ibu! Nanti tanduknya malah nyangkut di lampu gantung lagi."
Sandi hanya bisa membuang muka, pura-pura tidak mendengar candaan dua wanita yang paling berharga di hidupnya itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa hangat yang menjalar karena melihat ibunya sudah bisa bercanda lepas dengan Saskia.
Begitu mereka bertiga sudah berdiri sempurna di atas sejadah masing-masing, suasana mendadak berubah menjadi sakral. Keheningan yang dalam menyelimuti ruangan. Sandi memutar badannya sejenak, melirik ke arah barisan makmum di belakangnya. Ia menatap posisi kaki ibunya dan kaki Saskia dengan saksama untuk memastikan kesempurnaan saf mereka.
"Sawwuu shufuufakum, fa inna taswiyatas shufuufi min tamaamish shalaah," ucap Sandi dengan suara bariton yang mantap, mengingatkan untuk merapatkan barisan.
"Sas, tempel kaki lo ke kaki Ibu. Geser sedikit lagi ke kiri, biar rapet dan nggak ada celah setan masuk buat gangguin khusyuknya kita," instruksi Sandi sembari menunjuk posisi tumit.
Saskia menoleh ke bawah, melihat jemari kakinya yang kecil bersanding dengan kaki Ibu Lisa yang sudah nampak guratan urat akibat kerja keras bertahun-tahun walaupun tertutup munkena. Ia menggeser posisinya hingga kulit mereka bersentuhan, menciptakan barisan yang lurus dan kokoh.
Setelah merasa semuanya sudah mantap dan tertata sesuai syariat, Sandi berbalik kembali menghadap kiblat. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk memantapkan niat, lalu mengangkat kedua tangannya sejajar telinga.
"Allahu Akbar," ucap Sandi dengan nada yang bergetar penuh ketundukan.
Suara takbir itu segera disusul oleh gerakan serupa dari Saskia dan Ibu Lisa di belakangnya. Gemeresik kain mukena yang bersentuhan dengan lantai menjadi satu-satunya suara selain lantunan ayat suci yang mulai dibacakan Sandi dengan tartil. Di dalam paviliun kecil di jantung Pondok Indah itu, mereka bertiga bersatu dalam sujud, meluruhkan segala ego dan perbedaan status, hanya menyisakan hamba-hamba yang bersyukur atas nikmat tak terduga yang mereka terima hari ini.
Setelah amin terakhir diucapkan dengan syahdu, Sandi mengusap wajahnya, lalu memutar duduknya menghadap makmum sebagaimana sunnah yang diajarkan. Suasana paviliun mendadak senyap, hanya diisi oleh gumaman zikir Sandi yang rendah dan menenangkan. Di belakangnya, Ibu Lisa dan Saskia menunduk khusyuk, meresapi setiap asma Allah yang dilantunkan sang imam muda. Usai berzikir, Sandi kembali menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, melangitkan doa-doa tulus untuk keberkahan rumah tangga barunya di sini dan kesehatan ibunya.
Selesai berdoa, Sandi bangkit berdiri dengan gerakan tangkas. Ia melipat sejadah hijaunya dengan rapi dan menatap Saskia yang masih duduk bersila dengan mukena yang membungkus wajah mungilnya.
"Oneng! Sesi religinya sudah cukup. Sekarang gue mau fokus, mau lanjut ulas materi Biologi sekalian babat habis PR Fisika. Lo ngapain masih bengong di situ? Sana balik, kerjain PR lo sendiri!" perintah Sandi dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
Ibu Lisa yang sedang melipat mukenanya ikut menimpali sambil tersenyum hangat, "Iya, Sas. Kamu belajar dan selesaikan kewajiban sekolah dulu. Nanti kan kita ketemu lagi di meja makan utama buat makan malam besar sama-sama."
Saskia memberikan senyum manis yang tulus kepada Ibu Lisa, namun sedetik kemudian ia menoleh ke arah Sandi dengan bibir yang mengerucut cemberut. "Ajarin aku dong, Yang... PR Fisika bab dinamika ini susah banget, rumusnya bikin pusing tujuh keliling. Otakku nggak nyampe kalau ngerjain sendirian."
Sandi mendengus, berpura-pura tidak peduli. "Dih, belajar sendiri lah! Lo kan sudah kelas 3 SMP, sudah gede. Masa masalah percepatan sama gaya gesek saja masih harus disuapi? Mandiri dikit kenapa."
"Sandi!" tegur Ibu Lisa tegas namun lembut. "Saskia kan bilang dia nggak mengerti, apa salahnya membantu? Kamu nggak boleh pelit sama ilmu, apalagi sama orang terdekat. Kalau calon istrimu ini pintar karena bimbingan kamu, bayangkan nanti dia bisa mengajarkan hal yang sama ke anak-anak kamu kelak. Itu pahala jariyah buat kamu juga."
Mendengar kata "anak-anak kamu kelak", jantung Saskia seolah berhenti berdetak sesaat. Pipinya merona merah padam, dan seketika pandangannya mengawang. Bayangan tentang rumah kecil yang asri dengan anak-anak kecil yang mirip Sandi sedang berlarian mulai terlukis di benak "oneng"-nya.
Sandi menepuk jidatnya sendiri. "Bu, aduuuh! Tolong jangan kasih umpan kata-kata begitu. Lihat tuh, radar onengnya langsung aktif. Otaknya kumat lagi, pasti sudah melangit ke mana-mana!"
Ibu Lisa menoleh dan mendapati Saskia memang sedang dalam mode trance dengan tatapan kosong yang penuh bunga-bunga. Tanpa ba-bi-bu, Sandi melemparkan sejadah yang baru dilipatnya tepat ke arah wajah Saskia. Pluk!
Saskia tersentak kaget, mukenanya sedikit miring karena lemparan itu. "Ihhh, Sandi mah! Orang lagi asyik ngebayangin masa depan yang indah juga, malah diganggu pakai sejadah!" protesnya gemas.
Sandi menunjuk Saskia seolah mengadu pada ibunya. "Tuh kan, Bu! Dia itu suka langsung ngaco kalau dengar kata-kata yang memicu imajinasi liarnya. Bahaya kalau dibiarkan."
Ibu Lisa akhirnya tidak bisa menahan tawa gelinya melihat interaksi mereka. "Memangnya kamu mikirin apa sih, Sas, sampai segitunya?"
Saskia menjawab dengan wajah polos yang masih tersipu malu, "Aku... aku kepikiran omongan Ibu soal anak-anak tadi. Aduh, aku jadi malu sendiri ngebayanginnya."
Ibu Lisa tertawa semakin lebar sembari mengelus bahu Saskia. "Iya, Ibu mengerti. Tapi sekarang fokus sekolah dulu ya, Nak. Belum waktunya mikir sejauh itu. Kalau nanti sudah nikah sah, baru boleh bebas ngebayangin apa saja."
Saskia yang salah tingkah langsung membenamkan wajahnya ke pelukan Ibu Lisa, mencari perlindungan dari tatapan tengil Sandi. Sandi hanya bisa menghela napas panjang melihat betapa cepatnya Saskia akrab dengan ibunya.
"Oke, begini saja," ujar Sandi memberi penawaran. "Kalau lo mau belajar bareng, gue tunggu sekarang juga. Kita ngerjain PR bareng di meja ruang tamu paviliun sini. Tapi ada syaratnya: kalau sampai adzan Isya berkumandang lo belum bawa buku dan PR lo ke sini, gue nggak mau ajarin. Kesempatan terbatas!"
Mendengar tantangan itu, Saskia langsung melepaskan pelukannya dan berdiri dengan semangat membara. "Ibu, Saskia ke kamar dulu ya ambil peralatan perang! Sandi, awas ya kalau berani ninggalin atau kunci pintu! Tungguin aku!"
Saskia berlari sekencang mungkin keluar dari paviliun, melintasi taman samping menuju rumah utama untuk mengambil buku-bukunya. Ibu Lisa tertawa kecil melihat tingkah lincah calon menantunya itu. "Calon istrimu itu benar-benar unik, San. Energik sekali, Ibu jadi ikut merasa muda kalau dekat dia. Hahaha."
Sandi menatap pintu yang baru saja dilewati Saskia dengan senyum tipis yang tulus. "Ya begitulah dia, Bu. Bener-bener spesies langka. Kadang bikin emosi, tapi kalau nggak ada dia sepi juga."
"Yaudah, sana ambil buku-buku kamu dan siapkan meja di ruang tamu. Ibu mau masuk kamar sebentar buat ngaji sampai Isya ya," pesan Ibu Lisa.
Sandi mengangguk patuh, segera bergerak mengambil tumpukan bukunya, sementara hatinya diam-diam merasa sangat bahagia melihat ibunya bisa tertawa lepas di rumah baru mereka.
Di dalam paviliun, suasana mendadak tenang. Ibu Lisa sudah masuk ke kamarnya untuk mengaji, menyisakan keheningan yang nyaman bagi Sandi. Pemuda itu segera masuk ke kamar pribadinya, menanggalkan sarung dan pecinya, lalu menggantinya dengan kaus santai yang bersih dan rapi. Ia meraih tumpukan buku Biologi dan buku tugas Fisika, lalu membawanya ke meja ruang tamu.
Sembari menunggu si "Oneng" kembali, Sandi membuka literatur Biologi, tenggelam dalam ulasan materi tentang sistem saraf manusia—sesuatu yang ironisnya sedang ia uji kesabarannya menghadapi Saskia. Tak lama kemudian, suara deru napas yang memburu terdengar dari ambang pintu. Saskia muncul dengan wajah kemerahan dan tas sekolah yang tersampir berat di bahunya.
Sandi mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Lah, sampai bawa tas sekolah segala? Lo niat mau pindah rumah ke paviliun ini atau mau belajar, Sas?"
Saskia menjatuhkan pantatnya di sofa, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. "Aku... huff... malas kalau harus nenteng-nenteng buku sama tempat pensil satu-satu, Yang. Jadi sekalian aja aku seret tasnya ke sini," jawabnya manja.
Sandi menggelengkan kepala, namun tangannya bergerak otomatis. Ia beranjak ke dapur kecil paviliun, mengambil gelas bening, dan mengisinya dengan air galon yang sejuk. Ia menyodorkannya ke hadapan Saskia. "Duduk yang bener. Nih, minum dulu biar paru-paru lo nggak pindah ke tenggorokan."
Saskia tersenyum lebar, matanya berbinar. "Makasih, Sayang!" Ia menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas dalam beberapa tegukan besar.
Sandi kembali duduk di sofa, membuka buku Fisikanya yang penuh dengan coretan perhitungan yang rapi. "Sudah, buka buku PR lo. Mana bagian yang bikin otak lo berasap?"
Saskia merogoh tasnya, mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat dan menunjuk deretan soal mengenai Hukum Newton yang penuh dengan diagram gaya. "Ini, Yang... aku beneran kurang paham kenapa gayanya harus ditarik ke sini, terus rumusnya jadi ribet begini."
Sandi mendekatkan posisi duduknya, sedikit condong ke arah buku Saskia. "Kalau soal yang ini, lo pakai rumus dasar (F \= m.a) .Tapi lihat dulu komponennya," jelas Sandi sabar. Ia mengambil buku corat-coretnya, menggoreskan pena membentuk sketsa balok. "Nih, gue kasih contoh. Misalnya gayanya bekerja miring begini, lo masukkan variabelnya, terus tinggal lo ikutin alurnya. Paham?"
Saskia memperhatikan gerakan tangan Sandi dengan seksama, meski sesekali matanya malah melirik jemari Sandi yang lincah menari di atas kertas. "Terus kalau mau cari koefisien geseknya gimana, Yang?"
"Kalau cari yang itu, lo ubah dulu perspektifnya. Hukumnya tetap sama, tinggal lo balik posisinya sesuai yang dicari," Sandi menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dicerna otak Saskia.
Saskia mengangguk-angguk, seolah mendapat pencerahan instan. "Ohhh, jadi tinggal dipindah ruas ya? Coba deh aku tes." Saskia mengambil bukunya kembali dan mulai mencoba mengerjakan soal pertama dengan panduan coretan Sandi.
Tanpa mereka sadari, di balik remang taman yang berbatasan dengan pintu paviliun yang terbuka, dua pasang mata tengah memperhatikan. Kakek Heru berdiri di samping menantunya, Mama Saskia. Sang kakek tersenyum sangat tipis, sebuah senyum kepuasan melihat cucunya dibimbing oleh pemuda yang memiliki ketenangan dan kecerdasan seperti Sandi.
Kakek Heru menepuk pelan bahu Tante Desi, seolah memberikan kode bahwa segalanya berada di jalur yang benar, lalu ia melangkah pergi dengan langkah tenang kembali ke rumah utama. Namun, Tante Desi tetap di sana, mematung di balik bayangan pohon, masih setia memperhatikan keakraban dua remaja itu dari kejauhan. Ada rasa haru dan syukur di hatinya melihat Sandi tidak hanya menjadi pelindung, tapi juga guru yang baik bagi putri tunggalnya.