Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEBUS DOSA DI BAWAH LANGIT LONDON
Angin musim dingin di London menusuk hingga ke tulang, namun Fardan Raffasyah seolah telah kehilangan syaraf perasanya. Penampilannya tak lagi menyerupai CEO bertangan dingin yang disegani di Asia. Janggut dan kumis tipis tumbuh tak beraturan di rahangnya, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang kontras dengan kulitnya yang memucat. Tiga bulan pencarian nihil di Jakarta telah mengubahnya menjadi raga tanpa jiwa.
"Tuan, jet sudah siap. Kita akan mendarat di Heathrow dalam beberapa jam," lapor Dewa dengan nada khawatir yang kental.
Fardan hanya mengangguk lemah. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Henry Corp. Jika Ghifari bisa menghapus jejak digital di seluruh dunia, maka satu-satunya petunjuk fisik yang tersisa adalah orang tua angkat Alisha. Ia harus bersujud di kaki Henry jika perlu, demi mendapatkan satu kata tentang keberadaan anak dan istrinya.
Perjalanan udara yang panjang terasa seperti siksaan abadi bagi Fardan. Begitu mendarat, ia tidak membuang waktu untuk beristirahat. Mobil sewaan yang dikemudikan Dewa membelah jalanan London menuju sebuah kawasan elit di pinggiran kota, tempat mansion megah milik Henry berdiri kokoh di balik gerbang besi yang menjulang.
"Maaf, Sir. Tuan Henry tidak menerima tamu tanpa janji temu, terutama tamu dari Indonesia," ujar seorang petugas keamanan bertubuh kekar melalui interkom di gerbang.
Fardan melangkah maju, menempelkan wajahnya yang kuyu ke terali besi. "Katakan padanya, Fardan Raffasyah ada di sini. Aku tidak akan pergi sampai dia bicara padaku."
"Perintah Tuan Henry sudah jelas. Anda tidak diizinkan menginjakkan kaki di tanah ini," balas petugas itu dingin sebelum memutus sambungan.
Dewa mendekati bosnya, mencoba menyampirkan mantel tebal ke bahu Fardan. "Tuan, suhu udara mulai turun drastis. Mari kita kembali ke hotel dan mencoba menghubungi pengacara mereka besok."
"Tidak, Dewa. Aku sudah membiarkan Alisha kedinginan dalam kesedihan selama enam tahun. Berdiri di sini bukan apa-apa dibanding luka yang ia tanggung," sahut Fardan dengan suara serak.
Fardan berdiri tegak bak patung di depan gerbang. Jam berganti hari, namun ia tetap di sana. Saat matahari menyengat di siang hari, ia tak bergeming. Ketika hujan deras mengguyur London di malam kedua, ia tetap berdiri meski tubuhnya mulai menggigil hebat. Dewa berkali-kali memohon agar ia masuk ke dalam mobil, namun Fardan hanya menatap lurus ke arah jendela mansion yang tertutup rapat.
Di dalam ruang kerja yang hangat, Henry berdiri menatap layar monitor CCTV. Di sampingnya, Margaretha, sang istri, memegang cangkir teh dengan tangan bergetar. Mereka telah mengawasi pria di luar gerbang itu selama empat puluh delapan jam terakhir.
"Henry, lihatlah dia. Wajahnya sudah sepucat kertas. Dia benar-benar akan mati jika kita membiarkannya lebih lama lagi," ucap Margaretha dengan nada iba.
Henry menghela napas panjang, guratan di wajah tuanya tampak semakin dalam. "Dia adalah orang yang menghancurkan hati putri kita, Margaretha. Dia harus merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dianggap."
"Tapi dia juga korban manipulasi ibunya sendiri, Henry. Laki-laki itu sedang mencoba menebus kesalahannya. Jika dia mati di depan gerbang kita, Alisha tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri," balas Margaretha meyakinkan.
Henry terdiam sejenak. Ia merogoh saku jasnya dan menghubungi sebuah nomor satelit yang sangat rahasia. Di layar ponselnya, wajah genius Ghifari muncul melalui panggilan video.
"Kakek, kenapa menghubungiku di jam ini?" tanya Ghifari datar. Di latar belakangnya, terlihat pemandangan pegunungan salju yang indah.
"Ayahmu sedang sekarat di depan gerbangku, Ghifari. Dia sudah berdiri di sana selama dua hari dua malam tanpa makan dan tidur. Apa kau ingin kakek membiarkannya jatuh?" tanya Henry langsung pada poinnya.
Ghifari terdiam, matanya yang tajam tampak bergetar sesaat sebelum kembali tenang. "Bunda baru saja tertidur. Dia tidak tahu pria itu ada di London."
"Dia mencari kalian seperti orang gila, Nak. Kakek rasa hukumannya sudah cukup berat," tambah Henry.
"Terserah Kakek kalau ingin memberitahukan keberadaan kami," sahut Ghifari akhirnya dengan helaan napas berat. "Tapi cukup katakan kalau kami ada di Swiss. Jangan beri tahu alamat lengkapnya. Aku ingin tahu seberapa besar rasa cintanya untuk benar-benar menemukan kami di antara ribuan desa di sana."
"Baiklah, cucuku. Itu adil," ujar Henry sebelum menutup telepon.
Tepat saat Henry meletakkan ponselnya, di layar monitor CCTV terlihat tubuh Fardan mulai goyah. Pria itu mencoba berpegangan pada terali gerbang, namun kesadarannya telah mencapai batas. Dalam hitungan detik, Fardan tumbang dan terjerembap ke aspal yang dingin.
"Dewa! Tolong!" teriak Fardan dalam igauan terakhirnya sebelum semuanya menjadi gelap.
"Security! Buka gerbangnya! Bawa dia masuk sekarang!" perintah Henry melalui pengeras suara.
Dewa yang sedang tertidur di dalam mobil langsung melompat keluar, namun petugas keamanan Henry sudah lebih dulu membopong tubuh Fardan yang tak berdaya. Mereka membawa Fardan masuk ke dalam salah satu kamar tamu terbesar di mansion tersebut. Dokter pribadi Henry segera datang untuk melakukan pemeriksaan darurat.
Satu jam kemudian, Henry masuk ke dalam kamar tersebut. Ia melihat Fardan yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di lengannya. Wajah pria itu masih pucat, namun napasnya sudah mulai teratur. Dewa berdiri di sudut ruangan dengan wajah penuh rasa terima kasih.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Henry.
"Dia mengalami kelelahan ekstrem, dehidrasi, dan syok akibat tekanan mental yang hebat. Beruntung dia segera dibawa masuk, jika tidak, hipotermia bisa menyerang organ dalamnya," jelas sang dokter sambil merapikan peralatannya.
Setelah dokter pergi, Henry mendekati tempat tidur. Fardan mulai mengigau pelan, memanggil nama Alisha dan Ghifari berulang kali. Henry merasa hatinya sedikit melunak melihat kerapuhan pria yang dulu begitu sombong ini.
"Kau sangat gigih, Fardan. Tapi kegigihan tanpa kebijaksanaan adalah kesia-siaan," gumam Henry.
Perlahan, mata Fardan terbuka. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu yang hangat. Saat melihat sosok Henry di hadapannya, Fardan mencoba untuk bangun meski tubuhnya terasa sangat berat.
"Tuan Henry... tolong... beri tahu aku di mana mereka," rintih Fardan, suaranya hampir tak terdengar.
Henry duduk di kursi di samping tempat tidur. "Kau hampir mati hanya untuk mencari mereka. Apa kau pikir dengan menemukan mereka, Alisha akan langsung memaafkanmu?"
"Aku akan melakukan apa pun... aku akan menjadi pelayan mereka jika itu yang dibutuhkan," jawab Fardan dengan air mata yang mulai mengalir di sudut matanya. "Aku sudah membuang keluargaku yang busuk itu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka."
Henry menatap Fardan dengan tajam. "Ghifari yang memberiku izin untuk bicara padamu. Dia bilang, kalian harus mencari mereka sendiri jika benar-benar mencintai mereka."
Fardan mencoba memegang tangan Henry. "Di mana? Tolong beritahu aku."
"Swiss," jawab Henry singkat. "Hanya itu yang boleh aku katakan. Mereka ada di suatu tempat di Swiss. Jika kau benar-benar pria yang hebat seperti yang kau klaim, temukan mereka di sana."
Fardan merasakan secercah harapan meledak di dadanya. "Swiss... terima kasih, Tuan Henry. Terima kasih."
"Istirahatlah dulu. Kau tidak akan sampai ke bandara dalam kondisi seperti ini," ujar Henry sambil berdiri. "Dan satu hal lagi, Fardan. Ghifari sedang mengawasimu. Setiap langkahmu, setiap pikiranmu, dia tahu. Jangan pernah mencoba bermain curang jika kau ingin bertemu Alisha lagi."
Fardan mengangguk lemah namun pasti. Swiss adalah negara yang luas dengan ribuan desa di lereng pegunungan, namun bagi Fardan, itu adalah peta harta karun yang paling berharga dalam hidupnya. Ia bersumpah dalam hati, meski ia harus mendaki setiap puncak Alpen, ia tidak akan pulang sebelum membawa Alisha dan Ghifari kembali ke pelukannya.
Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Fardan tidak akan membiarkan kebodohan masa lalu menghalangi langkahnya menuju penebusan dosa yang abadi.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya