NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi datang perlahan bersama cahaya matahari yang menyusup melalui tirai tipis kamar. Suasana rumah persembunyian itu masih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar.

Sudah beberapa hari sejak Cameron tiba di Indonesia. Sejak saat itu pula, suasana di rumah tersebut berubah tanpa disadari. Awalnya Cameron hanya berniat memastikan keadaan Giana dan Cayden baik-baik saja sebelum kembali mengurus pekerjaannya. Namun kenyataannya, ia justru semakin sering menghabiskan waktu di sana.

Pagi itu, Giana terbangun lebih dulu. Ia duduk perlahan di tepi ranjang sambil memastikan Cayden masih tertidur pulas di sampingnya. Bayi kecil itu tampak damai hingga membuat sudut bibir Giana terangkat tipis. Namun senyum itu perlahan memudar ketika ia teringat seseorang yang kini berada di rumah yang sama dengannya.

.

Semakin lama pria itu berada di dekatnya, semakin sulit bagi Giana menjaga perasaannya tetap tenang. Ia mengusap wajahnya pelan lalu bangkit dari tempat tidur. Setelah memastikan Cayden masih tidur, ia keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan susu hangat.

Rumah masih sangat sepi sampai suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Giana menoleh refleks dan mendapati Cameron berjalan memasuki dapur dengan pakaian santai yang jarang sekali ia lihat dikenakan pria itu. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru bangun tidur.

Untuk sesaat, Giana terpaku dalam diam. Penampilan Cameron yang jauh lebih santai justru membuat pria itu terlihat berbeda. Tidak sedingin biasanya.

“Pagi,” sapa Cameron pelan dengan suara serak khas bangun tidur.

Giana sedikit gugup. “Pa-pagi, Tuan.”

Cameron membuka kulkas lalu mengambil air mineral. Tatapannya kemudian jatuh pada panci kecil yang sedang dipanaskan Giana.

“Kau sedang memasak apa?”

“Aku sedang menghangatkan susu.”

Cameron mengangguk kecil sebelum bersandar santai di meja dapur. “Di mana Cayden? Apa dia masih tidur?”

“Iya, Cayden masih tertidur pulas. Akhir-akhir ini, Cayden tertidur lebih nyenyak dari biasanya.”

Keheningan kembali muncul di antara mereka. Namun anehnya, kali ini tidak terasa canggung seperti sebelumnya. Justru terasa nyaman dan menenangkan, entah itu bagi Giana maupun Cameron.

“Aku akan kembali ke London besok,” ucap Cameron tiba-tiba.

Tangan Giana yang sedang memegang sendok berhenti sesaat. Entah mengapa, dadanya terasa sedikit kosong mendengar itu. Namun ia segera menyembunyikan ekspresinya.

“Baik.”

Jawaban singkat itu membuat Cameron memperhatikannya lebih lama dengan kening mengernyit.

“Kau tidak senang aku pergi?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu langsung membuat Giana salah tingkah. “Aku tidak mengatakan aku tidak senang, aku hanya—”

“Tapi eskpresimu terlihat kecewa,” potong Cameron cepat.

Giana spontan menoleh cepat. “Tidak. Aku tidak begitu. Mungkin … mungkin hanya perasaan Anda saja, Tuan.”

Cameron justru tersenyum tipis melihat reaksi itu, ia merasa bisa bernapas lebih tenang ketika berada di dekat wanita itu.

Tidak ada tuntutan. Tidak ada kepalsuan. Semuanya terasa sederhana. Dan tanpa sadar, Cameron mulai menikmati perasaan itu terlalu dalam.

Sementara Giana justru semakin panik dengan dirinya sendiri. Karena semakin dekat Cameron bersikap seperti ini, semakin sulit ia mengingat batas di antara mereka.

Ia hanyalah ibu susu Cayden dan tidak lebih dari itu.

Cameron adalah pria yang sudah memiliki tunangan. Pikiran itu membuat Giana buru-buru memalingkan wajah.

“Susu untuk Cayden sudah siap. Aku permisi,” katanya cepat, berusaha mengalihkan suasana.

Namun sebelum ia sempat bergerak, Cameron tiba-tiba melangkah mendekat. Jarak di antara mereka langsung memendek.

Giana refleks menahan napas sementara Cameron menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh pelan ujung rambut wanita itu.

“Ada tepung,” katanya santai.

Padahal jelas-jelas bukan hanya itu yang membuat suasana berubah. Jantung Giana berdetak kacau, dan Cameron menyadarinya. Tatapan pria itu perlahan turun menatap wajah Giana lebih lama dari seharusnya.

Sampai suara tangisan kecil Cayden terdengar dari lantai atas. Mereka langsung tersadar.

Giana buru-buru mundur beberapa langkah lalu mematikan kompor dengan gerakan gugup.

“Aku akan melihat Cayden,” ucapnya cepat sebelum akhirnya pergi meninggalkan dapur.

Cameron tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti langkah Giana sampai wanita itu menghilang dari pandangan. Perlahan, ia mengusap wajahnya kasar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cameron merasa dirinya mulai kehilangan kendali atas sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Siang harinya, suasana rumah kembali ramai oleh suara Cayden yang aktif bermain. Bayi kecil itu tampak jauh lebih ceria dibanding sebelumnya.

Giana duduk di karpet ruang keluarga sambil memangku Cayden yang terus tertawa kecil setiap kali ia menggelitik perutnya. Sementara Cameron duduk tidak jauh dari mereka sambil membuka laptop kerjanya.

Namun anehnya, sejak tadi fokusnya terus buyar. Tatapannya berkali-kali beralih pada Giana. Pada cara wanita itu tersenyum, caranya memeluk Cayden dengan penuh kasih sayang, caranya memperhatikan keponakannya dengan penuh kasih sayang.

Semakin lama ia melihatnya, semakin muncul perasaan yang mulai sulit ia abaikan.

“Tuan Cameron.”

Suara Abraham dari arah pintu membuat Cameron akhirnya mengalihkan perhatian.

“Ada yang ingin saya laporkan.”

Cameron langsung berdiri dan berjalan menuju ruang kerja kecil di sisi rumah. Abraham mengikuti di belakangnya dengan wajah serius.

“Ada seseorang yang mulai mencari keberadaan Nona Giana,” kata Abraham pelan begitu pintu tertutup.

Tatapan Cameron langsung berubah tajam. “Siapa dia? Apa kau sudah mencari tahu?”

Abraham menggeleng pelan. “Tidak, karena kami belum yakin. Tapi saya berasumsi, orang itu kemungkinan besar adalah orang suruhan Nona Regina.”

Rahang Cameron langsung mengeras. Ia sudah menduga cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Namun ia tidak menyangka Regina akan bergerak secepat ini.

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan. Apakah kita perlu memimdahkan Tuan Muda dan Nona Regina ke tempat yang lebih aman?” tanya Abraham, menunggu perintah.

Cameron terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng. “Jangan,” jawabnya tegas. “Terlalu berbahaya jika mereka terus berpindah. Terlebih lagi, berpindah tempat hanya akan membuat Giana merasa tidak nyaman.”

“Kalau begitu—”

“Perketat penjagaan.” Nada suara Cameron berubah dingin.

“Pastikan tidak ada siapa pun yang mendekati rumah ini tanpa izinku.”

Abraham mengangguk paham, lalu membungkuk hormat, berpamitan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Namun setelah pria itu keluar, Cameron justru berdiri diam cukup lama. Pikirannya mulai kacau lagi, karena sekarang semuanya sudah berubah. Ini bukan lagi sekadar tanggung jawab atau sekadar rasa iba. Jika ia salah langkah, ia bisa saja membahayakan Giana.

Sementara di ruang keluarga, Giana masih tertawa kecil melihat Cayden yang terus menggenggam jarinya. Wanita itu sama sekali belum tahu bahwa seseorang mulai bergerak mendekati mereka. Dan lebih dari itu, ia juga belum menyadari bahwa hati Cameron perlahan mulai jatuh terlalu dalam padanya.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kamu aman Giana 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
modus 🤭
awesome moment
menghilang bersama. keknya lbh keren. bikin smua blingsatan. tp...ttp mengendalikan sumber uang. regina pasti menggila. bianca antara cemas, lega dan kangen. ayah cameron tiba2 dpt boom dri bianca. bhw cameron melindungi anak cassie. ato...munculkan asal usul giana. yg...sdh pasti tdk bisa diabaikan. kn keren tu.
HK: Kak, thank u km sudah memberiku ide 🥺👏👏👏
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga kamu ketahuan selingkuh Regina 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin dikira Cameron itu ayahnya 🤭
awesome moment
😄😄😄buka kaki lebar2 y, Regina. service hra paripurna utk hasil yg memuaskan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah hatimu sudah berpaling 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bersabarlah Giana 🤭
awesome moment
kapan cameron akan memilih cay dan giana. regina makin arogan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar ulat bulu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu merindukan mereka 🤭
awesome moment
yg ptg Giana dan Cay, aman dlu. buat bianca tersiksa rasa bersalah. tp...jgn smp bocor ke regina
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ibu harus minta maaf pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sekarang cari lg Cayden 🤭
awesome moment
akhirnya...cay dan giana aman.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ayo pulang Cameron 🤭
elief
cameron harus nya lebih tegas, batalin aja pertunangannya thor. jadi gemes ih
awesome moment
nha kn bener. kasihan cay. ditolak ibunya. pamannya jg g bisa melindungi. biarkan giana dan cay menghilang lg j. g ush ketemu cameron. buat p? g guna. klo toch ketemu jg g bakalan bisa melindungi. cameron akan ttp tunduk ke keingan kelg. menghilamg lagi lah. giana dan cay. hidup berdua dgn nyaman meski g berlimpah. jgn smp jd korban plin plannya cameron. pergi yg jauh. klo perlu...g ush kembali.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah sembarangan nih 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!