Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Kuntilanak Siang Hari”
Di kejauhan, seorang pria berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tidak lepas dari jet ski yang semakin menjauh itu.
Wajahnya tetap datar. Tenang. Seperti biasa.
Namun matanya mengikuti dengan cermat—terutama pada dua sosok kecil di atasnya.
Arkan.
Dan wanita itu.
Ia terdiam beberapa saat.
Anak itu…
Alisnya sedikit berkerut, hampir tak terlihat.
Biasanya tidak seperti itu.
Arkan bukan tipe yang mudah dekat dengan orang baru.
Apalagi sampai menempel, berbicara tanpa jarak, bahkan terlihat nyaman.
Namun tadi…
Anak itu tertawa lepas.
Menarik tangan wanita itu.
Bahkan tanpa ragu mengajaknya naik bersama.
Tatapannya masih tertuju ke laut.
Apa istimewanya dia…
Bukan pertanyaan yang diucapkan, tapi cukup jelas terlintas di benaknya.
Ia menghembuskan napas pelan.
Tidak ada ekspresi cemburu, tidak juga kesal.
Hanya… rasa penasaran yang diam-diam mengganggu ketenangannya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, perhatiannya tidak hanya tertuju pada anaknya.
**
Jet ski perlahan kembali mendekat ke tepian. Suara mesinnya menurun, digantikan lagi oleh debur ombak yang lebih lembut.
Begitu berhenti, Arkan langsung berseru,
“Lagi! Lagi! Mau lagi!”
Kak Danu terkekeh pelan. “Turun dulu.”
“Aku belum capek!” protes Arkan, tapi tangannya sudah dipegang untuk dibantu turun.
Begitu kakinya menyentuh pasir basah, Arkan langsung berlari kecil, lalu berbalik menghadap Nayla.
“Kakak! Tadi seru banget, kan?!”
Nayla masih duduk sebentar di atas jet ski, mencoba menenangkan napasnya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan tangannya masih terasa bergetar halus.
“Iya…” jawabnya pelan, lalu turun dengan hati-hati. “Seru… tapi kaget juga.”
Arkan mendekat lagi tanpa jarak, tangannya langsung meraih ujung pelampung Nayla.
“Tapi Kakak gak nangis.”
Nayla tertawa kecil. “Iya, kan aku berani.”
“Aku juga!” Arkan menyela cepat.
Kak Danu hanya melirik sekilas, lalu mengibaskan sedikit air dari tangannya. “Yang tadi teriak paling keras siapa ya?”
“Itu bukan takut!” Arkan langsung membela diri. “Itu… seneng!”
Nayla menutup mulutnya, menahan tawa.
Beberapa langkah dari sana, pria itu masih berdiri di tempatnya.
Kini jaraknya lebih dekat.
Ia tidak langsung mendekat. Hanya memperhatikan.
Cara Arkan berdiri terlalu dekat.
Cara tangannya tanpa sadar terus mencari Nayla.
Cara wanita itu menanggapi—tidak berlebihan, tapi juga tidak menjaga jarak.
Natural.
Itu yang membuatnya sedikit mengernyit.
Bukan tipe yang dibuat-buat…
Tatapannya beralih sejenak pada Nayla.
Tidak ada usaha menarik perhatian.
Tidak juga sikap terlalu manis seperti orang dewasa pada anak kecil.
Tapi Arkan tetap menempel.
Kenapa…
Langkahnya akhirnya bergerak.
Tidak terburu-buru.
Arkan yang sedang bercerita tiba-tiba berhenti. Matanya langsung berbinar begitu melihat sosok itu mendekat.
“Papa!”
Ia langsung berlari kecil, lalu memeluk kaki pria itu tanpa ragu.
Pria itu menunduk sedikit, tangannya otomatis menyentuh kepala anaknya.
“Iya.”
Singkat. Datar. Tapi tidak menolak.
“Kita naik lagi boleh gak?” tanya Arkan cepat.
“Lihat nanti.”
Jawabannya pendek, tapi cukup membuat Arkan kembali tersenyum.
Baru setelah itu, tatapan pria itu beralih.
Ke Nayla.
Beberapa detik.
Cukup untuk membuat Nayla yang tadinya santai, mendadak merasa canggung. Ia berdiri lebih tegak tanpa sadar, tangannya merapikan ujung pelampungnya.
“Oh… anu… halo, pak…” ucap Nayla, sedikit kikuk.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Hanya menatap sejenak, lalu mengangguk tipis.
“Terima kasih.”
Nayla sedikit bingung. “Eh?”
“Udah temenin dia.”
Nada suaranya tetap tenang. Sulit ditebak.
Nayla tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Gak apa-apa, pak. Arkan juga… anaknya asik.”
Arkan langsung menyela, “Aku emang asik!”
Kak Danu yang berdiri di samping hanya menahan senyum.
Pria itu kembali menatap anaknya sebentar, lalu tanpa sadar sudut matanya kembali ke Nayla.
Seperti masih menilai.
Masih mencari sesuatu yang belum ia temukan jawabannya.
**
Nayla duduk di pondok pantai, menatap hamparan laut biru kehijauan di depannya. Angin berhembus cukup kencang, membuat rambutnya seketika berantakan.
Arkan tertawa cekikikan melihatnya.
“Kakak kayak kuntilanak siang hari,” katanya polos.
Nayla menoleh perlahan.
“Apa kau bilang?”
Arkan masih cekikikan, sambil menunjuk wajah Nayla.
“Kakak…” ucapnya terputus oleh tawa,
“kayak kuntilanak siang hari.”
Nayla mendelik sinis.
“Maksudmu begini, hah?”
Ia langsung memperagakan gerakan zombie, rambutnya yang berantakan sengaja dibiarkan menutupi wajah.
“AAAA!” Arkan berteriak histeris saat Nayla mendekat dengan gerakan anehnya.
Namun tak lama kemudian, Nayla menangkap Arkan dan mulai menggelitiknya, masih dengan penampilan “menyeramkan”-nya. Arkan yang tadinya takut kini malah tertawa terbahak-bahak.
“Ampun, Kak! Ampun!” katanya di sela tawa.
“Papah! Papah, tolong Arkan!”
Arkan ihh
Nayla seketika berhenti. Ia langsung merapikan rambut dan pakaiannya.
“Arkan, sssst!” Nayla berbisik cepat.
“Arkan nggak seru banget sih. Jangan panggil papahmu, kita kan lagi main. Arkan gimana sih…”
Ia menyilangkan tangan di dada, cemberut, lalu memalingkan wajah.
Arkan mendekat pelan.
“Kakak… maaf.”
Nayla melirik sekilas, masih pura-pura kesal.
“Kakak tadi serem sih,” lanjut Arkan jujur.
“Bajunya putih semua, terus mukanya… waktu Arkan lihat dari atas… Serem banget. jadi Arkan pikir kakak kesurupan.”
Nayla langsung menoleh cepat. Gerakan itu membuat Arkan tersentak kaget.
Beberapa detik mereka saling pandang… lalu—
“Hahaha!”
“Hahahah!”
Mereka tertawa lepas bersamaan.
Tawa mereka menarik perhatian orang-orang di sekitar. Sejenak, dunia terasa hanya milik mereka berdua.
Saat sadar jadi pusat perhatian, keduanya langsung berdehem bersamaan—gerakan dan suara mereka sama persis, seolah tersambung tanpa kabel.
Mata mereka kembali bertemu. Tawa nyaris meledak lagi.
Keduanya menggigit bibir, menahan tawa yang memaksa keluar. Wajah mereka memerah.
Namun akhirnya, Nayla menyerah. Ia menarik tangan Arkan.
“Ayo!”
Mereka berlari ke tepi pantai, lalu tertawa lepas tanpa ditahan lagi. Air laut memercik ke kaki mereka saat berlarian, seolah ikut merayakan kebahagiaan kecil itu.
Dari kejauhan, ayah Arkan memperhatikan dengan seksama.
Tatapannya tak lepas dari dua sosok di tepi pantai itu.
Ia masih bertanya-tanya…
mengapa Arkan bisa sedekat itu dengan Nayla.
Seolah bukan pertemuan biasa.
Apakah… di kehidupan sebelumnya mereka pernah saling mengenal?
Atau mungkin, sekadar dua jiwa yang entah bagaimana langsung menemukan kenyamanan satu sama lain.
Pukul dua siang.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat.
Tadinya ia ingin mengajak mereka pulang.
Namun, setelah melihat pemandangan di depannya, niat itu perlahan menghilang.
Apa yang ia lihat sekarang…
jauh lebih berharga.
Nayla dan Arkan berlarian di tepi pantai, tertawa lepas tanpa beban.
Sesekali mereka terjatuh, terguling, bahkan hampir terseret ombak kecil.
Namun itu tidak menghentikan mereka.
Justru sebaliknya—mereka semakin menikmati permainan itu.
Ayah Arkan tetap diam di tempatnya.
Entah mengapa…
dadanya terasa hangat.
Apa ini…?
Sebuah suara pelan bergema di dalam dirinya.
Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Perasaan apa ini…?
Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Bahkan saat pertama kali meraih kesuksesan—tidak seperti ini.
Bahkan saat Arkan lahir ke dunia—tidak seperti ini.
Saat itu, yang ia rasakan hanyalah satu hal:
Akhirnya… aku punya pewaris.
Namun sekarang…
Perasaan ini berbeda.
Lebih hangat.
Lebih hidup.
Dan… entah mengapa, terasa begitu asing sekaligus menenangkan.