NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Tiga hari menjelang hari yang akan mengubah seluruh garis takdirnya, Zaheera semakin sering melangkahkan kaki ke ndalem.

Jika biasanya ia datang ke kompleks pesantren dengan perasaan terasing, kini ada getaran berbeda yang menjalar di hatinya. Setiap sudut bangunan kayu ini tak lagi terasa seperti penjara, melainkan tempat perlindungan.

Pagi itu, di sebuah bilik khusus yang harum dengan aroma kayu gaharu, Zaheera duduk bersimpuh di hadapan Ning Syafi'iyah. Kakak perempuan Zavier itu memiliki ketenangan yang menyejukkan, sangat kontras dengan ketegasan Gus Azlan. Di depan mereka tergeletak kitab kecil bertuliskan Arab pegon—sebuah panduan bagi wanita muslimah yang akan menempuh hidup baru.

"Zaheera, kemarilah mendekat," ujar Syafi'iyah lembut. "Hari ini kita akan belajar tentang hal yang paling mendasar namun paling penting: thaharah, atau bersuci. Khususnya, tata cara mandi wajib dan dasar-dasar kewanitaan dalam Islam."

Zaheera beringsut mendekat, jantungnya berdegup kencang. Selama ini, ia menganggap mandi hanyalah sekadar membersihkan raga dari debu kota. Ia tidak pernah tahu bahwa dalam setiap kucuran air, ada niat yang bisa menghapus hadas besar dan mengembalikan kesucian seseorang untuk menghadap Tuhannya.

"Niatnya harus tulus karena Allah, Zaheera," lanjut Syafi'iyah sambil memeragakan urutan membasuh anggota tubuh secara rinci. "Air harus menyentuh seluruh permukaan kulit, tanpa terkecuali. Ini adalah cara kita memuliakan tubuh kita sendiri setelah melakukan kewajiban sebagai istri, atau setelah masa haid."

Mendengar kata "kewajiban sebagai istri", Zaheera tertunduk dalam. Air matanya tiba-tiba menetes, jatuh membasahi punggung tangannya. Ia teringat betapa seringnya ia melakukan hal-hal itu—penyatuan raga yang ia anggap sebagai bentuk cinta, namun dilakukan tanpa dasar hukum, tanpa niat suci, dan tanpa mandi wajib yang benar setelahnya.

“Ya Allah... betapa jauhnya aku melangkah,” ratapnya dalam hati.

Syafi'iyah yang melihat bahu Zaheera bergetar, segera merangkulnya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa ada yang sulit dimengerti?"

"Tidak, Mbak Syafi... aku hanya... aku merasa sangat bodoh. Aku baru tahu hal-hal seindah ini sekarang," isak Zaheera, menyembunyikan wajahnya di bahu Syafi'iyah.

"Jangan berkata begitu. Allah mencintai hamba-Nya yang ingin belajar. Masa lalumu adalah urusanmu dengan-Nya, dan hari ini kamu sedang membuka lembaran putih yang baru. Zavier akan membimbingmu lebih dalam nanti," hibur Syafi'iyah, tanpa tahu betapa tajamnya kata-katanya menghujam rahasia Zaheera.

Selesai belajar, Syafi'iyah mengajak Zaheera keluar menuju selasar ndalem untuk menikmati teh hangat. Saat mereka berjalan melewati taman tengah yang asri, langkah Zaheera mendadak terhenti.

Di seberang taman, di bawah pohon beringin yang rimbun, Zavier sedang duduk bersama beberapa kitab di pangkuannya. Pemuda itu mengenakan baju koko putih bersih dan sarung batik gelap. Ia tampak begitu khusyuk, jemarinya membalik halaman kitab dengan perlahan.

Zavier mendongak secara tidak sengaja. Matanya bertemu dengan mata Zaheera yang masih sedikit sembab.

Dulu, jika mereka bertemu di penthouse, Zavier akan langsung menarik pinggangnya dan mencium keningnya dengan berani. Namun di sini, di bawah langit pesantren yang sakral, segalanya berubah. Zavier segera menundukkan pandangannya kembali ke arah kitab. Ia tidak berani menatap Zaheera lebih dari satu Tiga detik. Bukan karena benci, melainkan karena rasa hormat yang mendalam pada proses taubat mereka.

Zaheera pun sama. Ia segera membuang muka ke arah rumpun bunga melati, namun rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan. Ia meremas ujung jilbab Nya, merasakan jantungnya berdebar jauh lebih hebat daripada saat mereka berdansa di kelab malam dulu. Ada keromantisan yang aneh dalam jarak ini—sebuah rasa sayang yang terjaga oleh rasa malu.

Syafi'iyah yang memperhatikan interaksi bisu itu hanya bisa tersenyum simpul. Ia merasa sangat terharu melihat adiknya, kini menjadi sangat menjaga pandangan.

"Lihatlah Zavier, Zaheera," bisik Syafi'iyah menggoda. "Dia bahkan tidak berani menatap calon istrinya sendiri. Dia sangat menghargaimu, dia ingin menjaga kesucianmu sampai akad nanti."

Zaheera tersipu malu, wajahnya semakin memerah karena kedapatan mencuri pandang pada Zavier dari kejauhan. "Mbak Syafi bisa saja..."

"Zavier itu tipe yang setia, Zaheera. Jika dia sudah memilihmu, dia akan menjagamu dengan nyawanya. Aku senang kalian bisa saling menjaga seperti ini. Tidak ada fitnah, hanya ada doa yang saling bersahutan di antara kalian," tambah Syafi'iyah.

Zavier, di tempat duduknya, sebenarnya tidak benar-benar membaca kitabnya lagi. Pikirannya melayang pada sosok Zaheera yang berdiri di selasar. Ia bisa merasakan kehadiran gadis itu meski ia menunduk. Ia bangga melihat Zaheera yang semakin rajin belajar dengan kakaknya.

“Sabar, Zee... Tiga hari lagi. Hanya tiga hari lagi, dan aku tidak perlu lagi menundukkan kepala di hadapanmu. Aku akan memelukmu dengan cara yang paling diridhoi-Nya,” batin Zavier.

Zavier menutup kitabnya, lalu bangkit berdiri. Sebelum ia masuk ke dalam masjid, ia sempat memberikan satu isyarat kecil—sebuah anggukan singkat ke arah kakaknya dan Zaheera, tanpa berani menatap mata sang kekasih secara langsung.

Zaheera membalas dengan senyuman tipis yang sangat manis, sebuah senyuman yang penuh dengan janji untuk menjadi wanita yang lebih baik. Syafi'iyah tertawa kecil melihat tingkah dua sejoli itu. Baginya, ini adalah bukti bahwa hidayah telah benar-benar masuk ke dalam hati mereka berdua.

Malam itu, di bawah rembulan yang mulai membulat, Zaheera kembali ke rumahnya dengan perasaan yang lebih tenang. Ia telah belajar bagaimana cara bersuci secara lahiriah, dan kini ia sedang berjuang menyucikan batinnya.

Sementara di masjid, Zavier melakukan sujud syukur. Ia merasa beruntung memiliki kakak seperti Syafi'iyah yang bisa membimbing Zaheera tanpa curiga, dan ia berjanji akan menjadi imam yang paling sabar bagi gadis yang telah menempuh perjalanan jauh dari kota A demi selembar jilbab dan sebuah pengampunan.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!