Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
...****************...
Malam semakin dalam di mansion keluarga Draco.
Bangunan besar itu berdiri megah di atas bukit yang menghadap langsung ke kota. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan suasana elegan sekaligus dingin.
Di ruang kerja pribadi yang luas, dua pria duduk berhadapan.
Salah satunya adalah Revano Ace Draco.
Di seberangnya duduk seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang tersisir rapi, aura wibawanya jauh lebih menekan.
Dia adalah Dominic Julius Draco, ayah Revano sekaligus tokoh lama yang disegani di dunia bawah.
Dominic memegang gelas wine sambil memperhatikan putranya yang baru saja menutup telepon.
Revano meletakkan ponselnya di meja.
Di sudut bibirnya muncul senyum tipis.
Sangat tipis hingga sulit di lihat.
Namun senyum itu menyimpan banyak arti.
Dominic memperhatikan itu beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
"Sepertinya kabar baik."
Revano bersandar santai di kursinya.
"Dia sudah membuka flashdisknya."
Dominic mengangkat alis sedikit.
"Dan?"
Revano menjawab tenang.
"Seperti yang kita duga."
"Alicia sudah berjalan di jalur yang kita buat."
Dominic menyesap wine-nya pelan.
Matanya tajam seperti elang tua yang berpengalaman.
"Jadi..., Mr A sudah berada di pihak kita?"
Revano mengangguk.
"Ya."
Dominic tersenyum kecil.
"Bagus, dia berada di bawah kendali kita."
Ruangan itu menjadi hening beberapa detik.
Dominic kemudian menatap lurus ke mata putranya.
"Apakah kau benar-benar yakin?"
Revano sedikit mengernyit.
"Yakin tentang apa?"
Dominic menaruh gelasnya di meja.
"Bahwa hanya Alicia yang bisa menemukan proyek Helios."
Revano tidak langsung menjawab.
Ia menatap keluar jendela besar di belakangnya.
Lampu kota terlihat kecil dari kejauhan.
"Ayah.., kau tau aku tidak akan bertindak jika masih ada keraguan."
Revano akhirnya berkata.
"Kau tahu seberapa hebat Dr Adrian Roses."
Dominic mengangguk pelan.
"Ilmuwan paling jenius yang pernah bekerja di dunia gelap."
Revano melanjutkan.
"Teknologi Helios bukan sekadar proyek senjata biasa."
"Itu sesuatu yang bahkan Red Devils pun tidak berhasil menemukannya setelah membunuh Adrian."
Dominic menyipitkan mata.
"Lalu mengapa kau begitu yakin Alicia bisa?"
Revano tersenyum lagi.
Namun kali ini lebih jelas.
"Karena dia putrinya."
Dominic tidak berbicara.
Revano melanjutkan dengan nada penuh keyakinan.
"Aku sudah melihat caranya berpikir."
"Caranya merencanakan sesuatu."
"Dan bagaimana dia menyerang Alessandro."
Revano mengetuk meja dengan jarinya perlahan.
"Alicia bukan hanya hacker."
"Dia seorang strategist."
Dominic sedikit tertarik.
Revano menambahkan.
"Jika Adrian Roses adalah otak di balik teknologi Helios.."
"Maka Alicia adalah evolusi berikutnya."
Ia berhenti sejenak sebelum berkata pelan.
"Dan mungkin.."
"Dia bahkan lebih berbahaya dari ayahnya."
Dominic terdiam beberapa detik.
Lalu tiba-tiba ia tertawa pelan.
"Hahaha...!!!"
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dengan wajah puas.
"Bagus."
"Benar-benar bagus."
Dominic menatap putranya dengan tatapan bangga.
"Berarti semuanya berjalan sesuai rencana."
Revano tidak membantah.
Memang sejak awal ini adalah rencana mereka.
Dominic berkata pelan.
"Sejak proyek Helios menghilang dari dunia, semua orang mencari harta Karun itu dengan berbagai cara."
"Semua organisasi besar mencarinya."
"Red Devils."
"Kartel Eropa."
"Bahkan beberapa badan intelijen negara."
Ia mengangkat gelasnya lagi.
"Namun tidak ada yang berhasil menemukannya."
Dominic tersenyum tipis.
"Dan sekarang.."
"Kita memiliki kunci untuk membuka semuanya."
Revano berkata singkat.
"Alicia."
Dominic mengangguk.
"Ya."
"Putri sang pencipta Helios."
Dominic memutar gelas wine-nya perlahan.
"Kita hanya perlu membiarkannya berjalan."
"Dia akan mencari jejak ayahnya."
"Dan tanpa sadar.., dia akan menemukan lokasi Helios yang sebenarnya."
Revano tetap diam.
Dominic lalu menambahkan dengan nada licik.
"Dan saat dia menemukannya ?"
"Kita tinggal mengambilnya."
Ruangan kembali sunyi.
Namun Dominic tiba-tiba menatap Revano lebih dalam.
Ia memperhatikan wajah putranya beberapa detik.
Kemudian berkata santai.
"Ngomong-ngomong.."
Revano menoleh sedikit.
Dominic tersenyum samar.
"Kau terlihat sangat tertarik pada gadis itu."
Revano mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Dominic mengangkat bahu.
"Aku sudah mengenalmu sejak kau lahir, Son"
"Dan aku jarang melihatmu tersenyum seperti tadi."
Revano tidak langsung menjawab.
Dominic berkata sambil tertawa kecil.
"Hati-hati saja."
Revano menatap ayahnya.
Dominic melanjutkan.
"Jangan sampai rencana kita menjadi rumit karena perasaan yang tidak tepat,"
Ia berhenti sebentar.
"hanya karena seorang wanita."
Revano terdiam beberapa detik.
Namun kemudian ia tersenyum tipis lagi.
"Kau terlalu banyak berpikir, ayah."
Dominic hanya mengangkat gelas wine-nya.
"Mungkin."
Namun setelah itu Dominic tidak berkata apa-apa lagi.
Sementara di dalam hati Revano, ia mulai merasakan kegelisahan karena ucapan ayahnya.
" Cinta..??, Tidak mungkin." pikirnya sesaat.
...****************...