NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Benar-benar Menghancurkan Logika

Segala pertanyaan itu berputar-putar di benakku tanpa henti, seolah aku tersesat di dalam sebuah labirin tanpa jalan keluar. Semakin kupikirkan, semakin terasa sesak, hingga kepalaku berdenyut nyeri, seperti dipukul oleh kebingungan yang tak kunjung mereda.

Namun di tengah kekacauan itu, akal sehatku berbisik tegas ini bukan saatnya larut dalam kebuntuan. Ada sesuatu yang lebih penting yang harus kulakukan sekarang.

Tanpa menunda lagi, aku segera duduk di depan meja kerja dan menyalakan komputer milik Deng Jiazhe. Jemariku bergerak cepat, memasukkan deretan kata sandi yang sebelumnya dikirimkan oleh Zea Helia. Layar sempat berkedip beberapa detik, membuat napasku tertahan, sebelum akhirnya halaman utama muncul dengan jelas di hadapanku.

Seberkas kegembiraan menyusup ke dalam dadaku, begitu kuat hingga membuat tanganku sedikit gemetar. Tanpa membuang waktu, aku langsung membuka dokumen yang tersimpan di dalamnya, menelusuri satu per satu folder dengan rasa penasaran yang semakin membesar.

Entah karena sisa-sisa perasaan yang belum sepenuhnya padam setelah sepuluh tahun bersama Dean Junxian, hal pertama yang ingin kulihat justru adalah rekaman CCTV rumah kami. Ada dorongan aneh dalam diriku seolah aku ingin mencari jawaban atas sesuatu yang selama ini tak pernah berani kuhadapi.

Namun, aku sama sekali tidak siap dengan apa yang kemudian terpampang di layar.

Rekaman itu seketika meruntuhkan logika dan keyakinanku, menghancurkan semua hal yang selama ini kuanggap nyata.

Di sana… aku melihat diriku sendiri.

Tubuhku terbaring kaku di atas ranjang, tak bergerak sedikit pun, seperti sosok tanpa jiwa yang hanya menyerupai orang yang tertidur lelap. Pemandangan itu membuat napasku tercekat, dadaku terasa dingin seketika.

Belum sempat aku mencerna apa yang kulihat, sosok Zhiyi Pingkan muncul di dalam rekaman. Ia berdiri di samping ranjang, membawa ketiga anakku bersamanya. Mereka berdiri berjajar di depan tubuhku yang tak berdaya.

Dengan gerakan tenang, Zhiyi Pingkan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku. Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar. Awalnya, anak-anak itu mendengarkan dengan saksama, wajah mereka polos dan penuh perhatian.

Namun perlahan… ekspresi mereka berubah.

Raut wajah yang semula tenang mulai dipenuhi ketakutan. Mata mereka membesar, tubuh kecil mereka mundur selangkah demi selangkah. Ada sesuatu dalam kata-kata Zhiyi Pingkan yang jelas menanamkan rasa ngeri di hati mereka.

Tak lama kemudian, rasa takut itu berubah menjadi penolakan yang nyata. Mereka menatapku dengan ekspresi jijik ekspresi yang seharusnya tidak pernah muncul dari anak-anak kepada ibunya sendiri.

Detik berikutnya, ketiganya berbalik dan berlari keluar kamar, hampir saling bertabrakan, seolah-olah sedang melarikan diri dari sesuatu yang mengerikan.

Jantungku terasa seperti diremas kuat.

Melihat reaksi itu, Zhiyi Pingkan justru tersenyum. Senyum yang tipis, namun dingin dan menyeramkan senyum seseorang yang puas melihat rencananya berjalan sempurna.

Saat itulah semuanya menjadi jelas bagiku.

Pantas saja selama ini aku hampir tidak pernah melihat si sulung dan si tengah. Rupanya bukan karena mereka sibuk atau menjauh tanpa alasan… melainkan karena mereka benar-benar enggan pulang. Mereka tidak ingin melihatku.

Dan jika pun mereka pulang, mereka justru mengelilingi Zhiyi Pingkan menempel, bermanja, memperlakukannya seperti seorang ibu. Seolah-olah aku tidak pernah ada dalam hidup mereka.

Dadaku terasa perih, seperti ditusuk berkali-kali oleh kenyataan yang kejam.

Wanita itu… benar-benar licik.

Ia tidak hanya ingin merebut tempatku, tetapi juga menghapus keberadaanku sepenuhnya dari kehidupan anak-anakku. Menggantikan posisiku, meracuni pikiran mereka, dan perlahan mencabut ikatan yang seharusnya tak tergoyahkan.

Lebih menyakitkan lagi, ketika rekaman itu berlanjut hingga memperlihatkan Dean Junxian pulang ke rumah.

Namun bukannya menuju kamarku, bukan pula sekadar melihat keadaanku, ia justru berjalan lurus… menuju kamar Zhiyi Pingkan, tanpa ragu, tanpa menoleh sedikit pun.

Seolah-olah aku… memang sudah tidak ada lagi.

Rekaman itu terus berlanjut, memperlihatkan mereka baru keluar dari ruangan setelah fajar mulai menyingsing. Cahaya pagi yang samar justru membuat semua yang terjadi sebelumnya terasa semakin nyata… dan semakin menyakitkan.

Masih belum cukup, ada pula beberapa potongan rekaman lain dari ruang tamu. Adegan-adegan itu dengan terang-terangan menunjukkan hubungan terlarang antara Dean Junxian dan Zhiyi Pingkan. Dalam salah satu rekaman, Dean terlihat bersandar santai di sofa tanpa rasa bersalah sedikit pun, sementara Zhiyi Pingkan berada begitu dekat dengannya dalam posisi yang tak pantas untuk dilihat. Gerakan mereka, kedekatan mereka semuanya berbicara tanpa perlu suara.

Dadaku langsung terasa sesak. Rasa mual naik begitu cepat, tak tertahankan. Aku buru-buru menarik tempat sampah dari bawah meja dan memuntahkan isi perutku tanpa kendali.

Di sela-sela itu, pandanganku sempat menangkap sesuatu di dalam tempat sampah sebelum akhirnya tertutup oleh muntahanku sebuah kondom yang sudah terpakai. Meski hanya sekilas, pemandangan itu cukup untuk membuat rasa jijik dalam diriku melonjak berkali-kali lipat.

Perutku semakin bergolak. Aku muntah lagi, kali ini lebih hebat, hingga tubuhku kehilangan tenaga dan jatuh berlutut di lantai.

Air mata dan ingus bercampur tak karuan. Tanganku mencengkeram dada, mencoba menahan sesak yang terasa seperti merobek dari dalam. Namun tiba-tiba, tanpa bisa kutahan, aku justru mendongak dan tertawa—tawa yang pecah begitu saja, keras, kosong, dan penuh keputusasaan.

Ternyata… ayah dan ibu benar selama ini.

Inilah wajah asli Dean Junxian.

Bayangan dari rekaman tadi terus berputar di kepalaku, tak mau hilang. Ekspresinya, sikapnya semuanya begitu asing, begitu kotor. Tak ada lagi sosok pria yang dulu kukenal. Yang tersisa hanyalah seseorang yang dipenuhi hasrat, rakus, dan menjijikkan.

Rasa mual kembali menyerang. Aku kembali muntah, hingga tak ada lagi yang tersisa selain cairan pahit yang membakar tenggorokan.

Namun di tengah kondisi itu, logikaku masih berusaha bertahan. Aku tahu, ini belum selesai. Masih ada hal lain yang harus kucari.

Dengan susah payah, aku menahan rasa mual yang terus bergelora. Sambil terbatuk pelan, aku menutup rekaman CCTV itu dan memaksa diriku untuk tetap fokus. Jemariku kembali bergerak, membuka satu per satu folder lain di dalam komputer.

Beberapa di antaranya hanya berisi data perusahaan yang tampak biasa. Namun ada juga sejumlah folder yang terenkripsi rapat, seolah menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar sesuatu yang bahkan aku belum siap untuk mengetahuinya.

Tanpa sengaja, aku mengklik sebuah folder berisi foto.

Dan di situlah… aku benar-benar terdiam.

Jumlahnya sangat banyak.

Foto-foto itu menampilkan berbagai wanita semuanya cantik, berbeda-beda, namun memiliki satu kesamaan: mereka semua pernah terlibat dalam hubungan intim dengannya. Setiap gambar menjadi bukti tanpa bantahan, memperlihatkan sisi lain Dean Junxian yang selama ini tersembunyi di balik topengnya.

Keberaniannya, bahkan mungkin kegilaannya, benar-benar di luar batas nalar.

Yang lebih mengejutkan lagi, banyak di antaranya adalah foto lama diambil saat dia masih bekerja di sebuah studio pencitraan. Dalam foto-foto itu, dia masih terlihat muda, bahkan tampak polos dan sederhana. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah lugu itu, tersimpan sisi gelap yang begitu dalam.

Jika rekaman dirinya bersama Zhiyi Pingkan tadi sudah cukup untuk mengguncang pandanganku tentang hidup, maka apa yang kulihat sekarang benar-benar menghancurkan segalanya.

Prinsip, kepercayaan, bahkan kenangan yang selama ini kujaga… semuanya runtuh, hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Hal itu membuatku mulai mempertanyakan seluruh hidupku sendiri.

Apakah ini benar-benar Dean Junxian yang selama ini kukenal?

Perlahan, kesadaran pahit itu merayap masuk ternyata sejak awal aku sudah salah melangkah. Aku bukan sekadar keliru… aku kalah, dan kekalahan itu begitu telak hingga tak menyisakan ruang untuk menyangkal.

Dia benar-benar seorang aktor ulung.

Selama sepuluh tahun penuh, dia memainkan perannya dengan sempurna di hadapanku tanpa cela, tanpa retakan sedikit pun. Sosok pria santun dan elegan yang selama ini kupercaya… ternyata hanyalah topeng.

Di balik itu semua, dia tak lebih dari seorang pria bejat yang menyembunyikan kebusukannya dengan rapi. Seseorang yang tampak terhormat di luar, namun menyimpan sisi gelap yang begitu menjijikkan di dalam.

Tanpa sadar, aku mengangkat tanganku dan menampar wajahku sendiri dengan keras. Bunyi tamparan itu menggema di ruangan sunyi, disusul rasa nyeri yang menjalar hingga membuat kepalaku berdenging dan pandanganku sejenak berkunang-kunang.

Aku terlalu keras kepala.

Begitu keras kepala hingga berani mempertaruhkan seluruh hidupku untuk sesuatu yang ternyata hanya ilusi. Dan pada akhirnya, semua itu berujung pada kehancuran… bahkan nyaris merenggut nyawaku sendiri.

Api amarah perlahan menyala di dalam dadaku, semakin lama semakin membesar. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk segera menghancurkan pria menjijikkan itu, menghapusnya dari hidupku untuk selamanya.

Namun tidak.

Aku tidak boleh gegabah.

Aku harus menyimpan semua ini setiap bukti, setiap rekaman, setiap jejak kebusukannya. Meski hanya melihatnya saja sudah cukup membuatku mual, aku tahu… suatu hari nanti, semua ini akan menjadi senjata yang sangat berharga.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku mencari sebuah flashdisk berkapasitas besar, lalu segera mencolokkannya ke komputer. Tanpa ragu, aku mulai menyalin semua data foto, video, hingga dokumen yang bisa diakses ke dalamnya.

Proses itu terasa berjalan terlalu lambat, seolah menguji kesabaranku.

Dan tepat saat pemindahan data belum selesai sepenuhnya, samar-samar aku mendengar suara mesin mobil dari kejauhan.

Jantungku seketika berdegup kencang.

Suara itu semakin mendekat.

Aku terperanjat, refleks berdiri dan berlari keluar dari ruang kerja menuju kamarku sendiri. Dengan napas tertahan, aku mendekat ke jendela dan mengintip ke luar.

Benar saja.

Di halaman rumah, mobil Dean Junxian baru saja berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!