Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reputasi yang buruk
Bukti yang diserahkannya ternyata tidak membuat masalah selesai. Pihak berwewenang malah mempertanyakan 10 menit di dalam kamar hotel tersebut. Benar kecerobohannya sebagai petugas sipil adalah kesalahan apalagi sampai merusak citra ke ranah publik. Tetapi Ikhram merasa beberapa pihak seolah menyulitkan menyudutkan dirinya.
Kepala Ikhram sampai pusing memikirkan masalah yang tidak menemukan titik ujung. Apalagi beberapa warga selalu memancing dirinya jika bertemu di toko ibunya atau sekedar lewat.
"Ih ada mako Ikhram, ada juga istrimu?" tanya ibu-ibu yang berbelanja di toko. Kebetulan Ikhram menjadi kasir menggantikan karyawan ibunya. Ada banyak barang masuk, sehingga kasir sebelumnya membantu di bagian rak.
"Banyak pekerjaanya di jakarta." Ikhram menyahut semberi menjumlah belanjaan ibu-ibu itu.
"Ouh kukira saya ikut pulang istrimu. Percuma jako itu punya istri kalau tidak ada urusko." Nada mencibir itu dibalas senyuman oleh Ikhram sebagai penjaga toko yang harus ramah meski dunianya sendiri tidak baik-baik saja.
Menjelang magrib, Ikhram pamit pulang pada ibunya. Singgah di masjid untuk shalat dan berencana langsung ke rumah.
Namun, di balai-balai dekat masjid banyak ibu-ibu sedang berkumpul. Ikhram tidak heran akan hal itu, hanya saja dia sedikit terganggu oleh pembahasan yang tidak sengaja tertangkap oleh indera pendengarannya.
"Pulangmi Ikhram dari jakarta tapi tidak ada Jani."
"Aih pasti itu tidak kembali-kembali cucunya hj Ira."
"Tolong mintang itu Ikhram. Di goda-goda mau tommi tergoda. Na taujj kalau anak kota nakal ki."
"Memang kapang di kalau orang kota." Cibiran-cibiran terus terjadi di balai-balai tersebut.
"Nu ingatki pasnya pertama kali datang Jani? Kayak tommi pel*acur mondar-mandir. Masa olahraga di depan rumahnya hj Ira pakai sorji sama baju dalam. Sengaja itu na goda anaknya kepala desa."
Danm, tangan Ikhram terkepal. Kalimat terakhir tidak bisa dia toleransi begitu saja. Apa pe*lacur? Atas dasar apa ada warga yang menghina istrinya dengan sebutan menjijikkan seperti itu.
Ikhram turun dari motor, mendekati segerombolan ibu-ibu. Ia berusaha menguasai emosinya.
"Eh Ikhram, dari tadi mako?" Segerombolan ibu-ibu itu terkejut.
"Berhentiki bicarai istriku apalagi sampai dibilangi pela*cur! Lama-lama saya tuntutki sebagai pencemaran nama baik!" Gigi Ikhram bergemulutuk. Sekarang repotasinya sudah buruk di desa tersebut dan dia tidak peduli lagi jika semakin parah dengan membela istrinya.
"Siapa bicarai istrimu Ikhram. Salah dengarko itu nak. Tadi kita bicara-bicara."
"Kalian pikir tidak punyaka telinga!" Lepas sudah. Suara Ikhram meninggi, kepalan tanganya bergetar.
Pikirannya sedang kacau dan ibu-ibu di desa malah semakin menyulut bara api dalam dirinya.
"Ikhram sadar ki nak."
Dari kejauhan hj Ira menghampiri Ikhram. Mengelus lengan berurat itu sampai sedikit melemah.
"Tidak saya suka Hj kalau ada bicarai Jani," jawab Ikhram dan melanggang pergi dengan motornya.
Dan saat itu pula, repotasi buruk Ikhram menyebar. Sebagai orang yang tidak menghormati yang lebih tua.
Siklus itu terjadi selama hampir seminggu, dan Ikhram tidak peduli. Kegiatannya hanyalah toko, menemani ibu atau hj Ira belanja. Atau setidaknya video call dengan sang istri yang tampak baik-baik saja.
"Bagaimana? Semuanya berjalan lancar?"
"Hm, berkatmu." Ikhram tersenyum, melihat wajah cantik Rinjani di seberang telepon. Tampaknya Rinjani baru selesai mandi dilihat rambutnya setengah basah. "Baru pulang?"
"Udah dari sore, tapi baru mandi karena gerah."
"Kangen nggak sama saya?"
"Menurut kamu?" Pipi Rinjani mengembung.
"Sabar sayang, nanti kalau ...."
"Nggak, nggak usah ke sini. Kayaknya dalam waktu dekat saya yang kesana deh. Kliennya agak sepi."
"Biar saya yang mengujungimu." Ikhram tentu tidak membiarkan Rinjani ke desa. Yang ada wanita itu akan menjadi sumala karena mengamuk pada warga.
"Ikhram, antarki dulu hj Ira beli beras nak!"
"Iye Bu," sahut Ikhram.
"Jani, saya ...."
"Iya pergi saja, tapi ponselnya kasih ke ibu. Saya pengen bicara."
Akhirnya Ikhram menemui ibunya dan menyerahkan ponsel. "Menantu ibu pengen bicara nih." Dan setelahnya dia benar-benar pergi.
Mendengar kata menantu membuat ibu Ikhram begitu senang. Lantas mengarahkan wajahnya pada kamera.
"Aduh menantunya ibu cantik. Kapanki lagi ke desa nak? Katanya Ikhram sibuk sekali. Baik-baikji keadaanta Nak?"
"Alhamdulillah baik, ibu sendiri sehat? Ayah gimana?"
"Sehat-sehat ayahmu."
"Dalam waktu dekat kayaknya Jani bakal pulang kok Bu."
"Syukurlah."
"Ibu ...." Rinjani tampak ragu untuk bicara. "Ikhram baik-baik aja? Masalahnya gimana?" Tentu pertanyaan itu penting untuk Rinjani melihat wajah Ikhram tidak seperti dulu.
Seolah menanggung banyak beban dan tidak punya tempat untuk bicara.
"Begitu-begitu saja nak. Hampir setiap hari suamimu di panggil kodong tapi belumpi ada kejelasan. Tidak pernah cerita Ikhram sama kau Nak."
"Nggak pernah bu. Ikhram selalu tersenyum kalau bicara sama Jani."
"Kalau begitu pura-pura maki pale tidak tau Nak."
.
.
.
Huhuhu hug jauh buat Ikhram
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,