Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 PGS
Sherina berjalan dengan sangat cepat sampai-sampai Nining pun tidak mampu menyusul Sherina. Sesampainya di sekolah, Sherina langsung duduk dengan napas yang masih memburu antara capek dan emosi. "Ya, Allah Sherina, kamu cepat banget jalannya," seru Nining ngos-ngosan.
Sherina tidak menjawab, dia masih emosi kepada Ariel. "Maafkan aku ya, Sher, gara-gara aku kamu jadi punya masalah dengan Pak Ariel. Nanti kita patungan saja buat benerin motor Pak Ariel," seru Nining merasa bersalah.
"Tidak usah Ning, motor itu cuma lecet dikit kok dibenerin juga gak seberapa," sahut Sherina.
"Tapi tetap saja, itu 'kan salah aku jadi aku harus bertanggung jawab juga," keukeuh Nining.
"Sudah kamu santai saja jangan banyak pikiran, ini urusan aku," sahut Sherina kembali.
Tidak lama kemudian, Ariel pun datang dengan motornya. Sherina melihat hanya sedikit saja yang tergores tapi gaya Ariel kaya yang penyok saja tuh motor. Ariel menatap tajam ke arah Sherina, begitu pun dengan Sherina yang tidak mau kalah membalas tatapan Ariel juga.
"Nanti pulang sekolah, kamu harus pulang sama aku dan ikut aku ke bengkel jangan kabur kamu," seru Ariel dingin.
"Ngakunya orang kaya, giliran motor lecet sedikit saja rewel banget. Memangnya kamu pikir aku bakalan kabur ke mana? kamu tahu rumah aku di mana, tinggal susul saja ke rumah gak usah berlebihan," ledek Sherina.
Ariel hendak membalas ucapan Sherina, tapi lonceng berbunyi dan semua guru harus segera masuk ke dalam kelas masing-masing. Sherina bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangan guru menuju ruangan kelas. Ariel mengenalkan kedua tangannya merasa sangat emosi dengan ucapan Sherina barusan.
Sementara itu di perkebunan, Tama tiba-tiba baik kepada Tri dan juga Syarif. "Pak Tri dan Syarif jika capek boleh istirahat dulu jangan terlalu bekerja keras," ucap Juragan Tama.
"Hah, tidak Juragan kerjaan kita banyak kalau kita istirahat gak enak sama yang lain," sahut Daddy Tri.
"Gak apa-apa, tidak akan ada yang berani memarahi kalian. Jika nanti ada yang negur, kalian bisa ngadu kepada saya," seru Juragan Tama dengan senyumannya.
Tri dan Syarif saling pandang satu sama lain, keduanya sangat bingung dengan kelakuan Tama yang tiba-tiba baik. Padahal sebelumnya Tama merupakan orang yang paling sombong yang pernah mereka temui. "Oh iya, kalau kalian bekerja di kebun kaya gini rumah kalian kosong dong," seru Juragan Tama pura-pura tidak tahu.
"Enggak lah, di rumah ada Mommy," sahut Syarif dengan cueknya.
"Sendirian di rumah?" tanya Juragan Tama kembali.
"Iya, soalnya anak perempuan saya mengajar di sekolah kampung yang di dekat balai desa," sahut Daddy Tri.
"Berarti anak perempuan Pak Tri ngajar dengan Ariel dong," ucap Juragan Tama.
"Oh, putra Juragan ngajar di sana juga?" tanya Daddy Tri baru tahu.
"Iya. Sekolah itu saya yang jadi donatur terbesarnya kalau tidak saya bantu, sekolah itu sudah ambruk," sahut Juragan Tama dengan sombongnya.
"Oh, begitu ya," ucap Daddy Tri.
Syarif hanya tersenyum sinis, lagi-lagi dia muak mendengar kesombongan pria tua di hadapannya itu. "Baiklah, kalian lanjutkan saja pekerjaannya saya pamit dulu," seru Juragan Tama.
Tama pun pergi. "Dad, kok si tua bangka itu sikapnya aneh pagi ini? apa jangan-jangan pas mau ke sini dia jatuh dan kepalanya terbentur?" celetuk Syarif.
"Hus, kamu kalau ngomong jangan sembarangan," sahut Daddy Tri.
"Habisnya aneh banget, kemarin-kemarin sombongnya minta ampun tapi sekarang tiba-tiba dia nyuruh kita istirahat," seru Syarif bingung.
"Sudahlah gak usah dipikirin, mungkin saat ini Juragan Tama sedang mendapatkan hidayah," celetuk Daddy Tri.
"Takut kena azab kali ya, Dad," ledek Syarif.
Anak dan Ayah itu terkekeh. Keduanya tidak tahu jika dibalik kebaikan Tama, ada niat terselubung yang akan Tama lakukan. Tama pura-pura baik karena dia ingin mendekati Wita, Tama sengaja memanfaatkan keduanya supaya dia bisa leluasa mendekati Wita.
Tama memutuskan untuk mendatangi rumah Tri karena dia ingin bertemu dengan Wita. Tama memang orang yang nekad, apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan bagaimana pun caranya. Tama pergi ke rumah Tri menggunakan motor yang dikendarai oleh Yosep.
"Bagaimana penampilan saya, Yosep?" tanya Juragan Tama pada saat sampai di depan rumah Tri.
"Tampan sekali Tuan, saya saja kalah dengan Tuan," puji Yosep.
Tama tersenyum penuh kemenangan, dia merasa semakin percaya diri karena dipuji oleh ajudannya. Padahal Yosep berkata seperti itu hanya mencari aman saja karena tidak mungkin dia mengatakan kalau penampilan bosnya jelek, bisa-bisa dia digampar oleh Tama. Tama masuk ke halaman rumah Wita dengan percaya dirinya.
"Assalamualaikum!" seru Juragan Tama.
Wita yang sedang masak di dapurnya segera membuka pintu kala mendengar suara. "Waalaikumsalam," sahut Mommy Wita sembari membuka pintu.
Betapa terkejutnya Wita saat melihat siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya. "Juragan Tama," gumam Mommy Wita.
"Selamat pagi, Jeng Wita," sapa Juragan Tama.
"Ada apa ya, Juragan datang pagi-pagi ke rumah saya? apa suami dan anak saya sudah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya?" tanya Mommy Wita.
"Ah tidak, saya datang ke sini hanya ingin menyapa Jeng Wita saja," sahut Juragan Tama.
Wita merasa risih dengan tatapan Tama yang seperti menelanjanginya itu. "Maaf Juragan, saya sedang masak jika tidak ada hal penting lebih baik Juragan pergi soalnya gak enak dilihat tetangga apalagi saat ini suami saya sedang tidak ada," ucap Mommy Wita mengusir Tama secara halus.
"Oh, begitu ya. Baiklah, maaf kalau sudah menggangu. Tapi, sayur, buah-buahan, dan beras yang saya kirimkan sudah Jeng Wita terima 'kan?" seru Juragan Tama dengan senyumannya.
Wita tersentak kaget. "Jadi yang menyimpan barang-barang itu Juragan?" tanya Mommy Wita tidak percaya.
"Iyalah, memangnya siapa lagi? di kampung ini saya orang paling kaya, saya memberikan itu semua karena saya merasa kasihan takutnya Jeng Wita tidak punya uang untuk belanja soalnya Tri gajihannya masih lama," ledek Juragan Tama.
Wita mengenalkan tangannya, dia emosi saat Tama menghina suaminya. "Maaf, Juragan saya harus melanjutkan masak saya." Wita segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
"Sial, sepertinya saya akan sedikit susah untuk mendapatkan hati Jeng Wita," gumam Juragan Tama.
Akhirnya Tama pun mengajak Yosep untuk pergi dari rumah Tri dan menyusun rencana lagi untuk meluluhkan hati Wita. Sementara itu, setelah dirasa Tama pergi, Wita pun mengeluarkan semua sayur dan buah-buahan dari dalam kulkas dan langsung membuangnya ke tempat sampah. Sedangkan beras, dia berikan kepada tetangga di samping rumahnya.
"Menakutkan sekali Juragan Tama," gumam Mommy Wita.