Kimberly kembali ke negaranya bersama ke empat anak kembarnya untuk membawa anak sulungnya yang terpaksa dititipkan oleh seorang pria. Di mana pria tersebut adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekejamannya dan super dingin.
Kimberly hamil di luar nikah karena melakukan hubungan satu malam dengan seorang pria. Di mana saat itu Kimberly di jebak oleh Ibu tirinya dan adik tirinya demi mendapatkan warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya.
Selain ingin membawa putra sulungnya, Kimberly berniat membalaskan dendam terhadap Ibu tirinya dan juga adik tirinya dengan cara menikah dengan pria yang membuat dirinya hamil.
Akankah rencananya berjalan lancar? Apakah pernikahan Kimberly berakhir bahagia atau bercerai? Mengingat banyak orang yang ingin memisahkan hubungan mereka. Ikuti yuk novel terbaruku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
("Tidak ada apa-apa. Oh ya, sudah dulu ya Aku ingin mengobrol dengan Arnold." Jawab Kimberly).
("Ok." Jawab Ronald dengan singkat).
Kimberly kemudian memutuskan sambungan komunikasi tanpa melepaskan tangannya yang memegang tangan orang tersebut. Dia adalah Alexander, putra ketiga yang dikiranya Arnold.
"Arnold, apakah kamu sudah lelah bermain?" Tanya Kimberly sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya kemudian duduk agar sejajar dengan Alexander.
Alexander hanya menganggukkan kepalanya agar Kimberly tidak curiga dengan dirinya. Namun sayang Kimberly sangat hafal perbedaan ke lima anak kembarnya walau wajah mereka sangat mirip.
"Kamu bukan Arnold, Kamu Alexander." Ucap Kimberly dengan nada kesal.
"Hehehehe ... Mommy." Panggil Alexander sambil tertawa dan tersenyum manis agar tidak dimarahi oleh Kimberly.
"Kamu itu nakal ya? Tidak mau menuruti perkataan Mommy." Ucap Kimberly.
"Maafkan Alexander, Mom." Ucap Alexander.
"Kalau kamu di sini lalu di mana Kakakmu?" Tanya Kimberly dengan wajah kuatir pasalnya Arnold belum bisa berbicara.
"Kak Arnold pulang dengan Kak Adrian, Amanda dan Alma. Mommy jangan kuatir kalau Aku tidak akan mungkin ketahuan." Ucap Alexander yang mengerti kalau Kimberly takut ketahuan rahasianya terbongkar.
"Tapi Mommy langsung bisa mengenalimu bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Kimberly sambil mencolek hidung mancung putra ketiganya.
"Hanya Mommy yang mengetahui perbedaan kami. Aku janji orang lain tidak akan menyadarinya." Jawab Alexander.
"Kenapa kalian berdua bertukar identitas?" Tanya Kimberly penasaran.
"Karena Aku ingin menyembuhkan ke dua kaki Daddy. Kak Arnold juga berharap Daddy cepat sembuh begitu pula dengan Kak Adrian, Amanda dan Alma." Jawab Alexander.
("Sepertinya kaki Diego harus disembuhkan. Kalau tidak, Arnold mungkin tidak mau ikut denganku." Ucap Kimberly sambil berpikir).
"Baiklah. Tapi kamu harus menurut apa yang dikatakan Mommy." Pinta Kimberly.
"Baik." Jawab Alexander dengan singkat.
Kemudian Kimberly dan Alexander berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju ke villa keluarga milik Roberto. Di mana saat itu Roberto sedang berada di kamarnya sambil mengecek dokumen yang diberikan oleh Asisten Mike.
"Tuan Diego, bukankah waktu itu Tuan Diego memintaku untuk menyelidiki Nyonya Diego?" Tanya Asisten Mike yang tiba-tiba datang sambil membawa dokumen.
Diego yang sedang serius mengecek dokumen langsung menatap ke arah Asisten Mike dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Setelah kebakaran besar waktu itu Nyonya Diego menghilang. Tapi sebelum kebakaran itu, Nyonya Diego di kurung oleh keluarganya di gudang tua hal ini dikarenakan kabarnya Nyonya Diego hamil di luar nikah." Ucap Asisten Mike menjelaskan secara singkat.
"Sepertinya ini bukan sekedar kebetulan. Dengan sifat Kimberly kalau bukan karena kesalahan besar maka keluarga Baskoro tidak mungkin bisa mengurungnya." Ucap Diego.
"Menurut Tuan Diego, anak yang di kandung Nyonya Diego mungkinkah Tuan Muda Kecil?" Tanya Asisten Mike dengan wajah terkejut dan bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Kimberly.
"Kapan pemakaman Ibunya Kimberly? Aku ingat waktu malam itu di mana Aku berhubungan dengan seorang wanita tepat di hari pemakaman Ibunya." Ucap Diego yang masih ingat dengan kejadian enam tahun yang lalu.
"Tanggal 19 Maret enam tahun yang lalu." Jawab Asisten Mike.
"Aku ingat, tanggal 19 Maret enam tahun yang lalu adalah di mana Tuan Diego tepat di hari Tuan Diego di beri obat perang sang." Sambung Asisten Mike.
"Asisten Mike, apakah menurutmu di dunia ini ada kebetulan seperti ini?" Tanya Diego sambil menatap ke arah Asisten Mike.
"Tentu saja tidak mungkin. Aku sangat yakin kalau Nyonya Diego pasti Ibu kandung Tuan Muda Kecil." Jawab Asisten Mike.
"Aku akan berusaha mendapatkan sehelai rambutnya untuk melakukan tes DNA dengan Arnold." Ucap Diego.
Ketika Asisten Mike ingin berbicara tiba-tiba terdengar dua suara langkah kaki membuat Asisten Mike memalingkan wajahnya ke arah samping.
Asisten Mike melihat Kimberly sedang menggandeng Alexander yang dikiranya Arnold. Asisten Mike yang tidak ingin Kimberly mengetahui pembicaraan mereka membuat Asisten Mike berhenti berbicara.
"Tuan Diego, Saya permisi dulu." Pamit Asisten Mike.
"Hmmm." Ucap Diego berdehem sambil menganggukkan kepalanya kemudian kembali melanjutkan mengecek dokumen.
"Ayo duduk di samping Daddy." Ucap Kimberly.
Alexander hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di samping Diego. Di mana Diego hanya tersenyum tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Sedangkan Kimberly berjalan ke arah Diego kemudian duduk di pegangan kursi untuk menopang bokongnya.
"Dokter bilang meski matamu sudah bisa melihat tapi tidak boleh terlalu lelah. Ayo tutup matamu dan biarkan Aku memijatmu sebentar." Ucap Kimberly sambil memberikan kode ke arah Alexander.
Alexander yang mengerti langsung berdiri kemudian duduk di karpet yang berbusa halus sedangkan Diego menatap ke arah Kimberly yang bersiap memijat kepalanya.
"Apa dokter pernah bilang begitu?" Tanya Diego sambil menutup dokumen yang tadi dipegangnya dan masih menatap ke arah Kimberly.
"Tentu saja dokter bilang begitu padaku. Jadi tutup ke dua matamu." Jawab Kimberly sambil mengarahkan tangan kanannya untuk menutup sepasang mata Diego.
Kemudian Kimberly menatap ke arah Alexander sambil menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali sebagai tanda supaya Alexander mulai melakukan akupuntur.
Alexander yang mengerti langsung mengambil satu set jarum akupuntur dari balik bajunya kemudian dengan perlahan menarik salah satu celana panjang milik Diego.
Sedangkan Kimberly menarik tangan kanannya yang tadi menutup sepasang mata Diego lalu mulai memijat kepala Diego dengan lembut.
Diego sangat menikmati pijatan Kimberly sambil memejamkan matanya karena kepalanya terasa ringan dan tidak pusing lagi.
Namun ketika Arnold menancapkan jarum akupuntur ke arah kaki Diego bersamaan Diego membuka matanya dan langsung menatap ke arah Kimberly.
Kimberly yang tidak ingin ketahuan langsung memindahkan tubuhnya di mana Kimberly duduk di pangkuan Diego.
Entah kenapa Diego sama sekali tidak marah malah yang ada memeluk pinggang Kimberly agar Kimberly tidak terjatuh.
"Diego, kakiku terpeleset jadi tolong maafkan Aku." Ucap Kimberly berbohong sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher Diego.
Kimberly kemudian menatap sekilas ke arah Alexander yang masih melakukan akupuntur. Hal itu membuat Kimberly menatap ke arah Diego untuk mengalihkan perhatian.
"Emmm ... Kakiku belum sembuh jadi Aku perlu istirahat sebentar dengan duduk di pangkuanmu." Ucap Kimberly mencari alasan yang tepat.
Diego hanya terdiam sambil menatap ke arah Kimberly dari jarak sangat dekat dan masih memeluk pinggang Kimberly.
Tidak berapa lama Alexander sudah selesai melakukan akupuntur kemudian Alexander menyimpan kembali satu set jarum akupuntur dari balik bajunya. Setelah selesai barulah Alexander menepuk perlahan kaki Kimberly.
Hal itu membuat Kimberly menganggukkan kepalanya sekali tanda mengerti sambil tersenyum. Kemudian Alexander langsung berdiri dan kembali duduk di samping Diego agar Diego tidak curiga dengan dirinya.
"Kakiku sudah mulai baikan, terima kasih." Ucap Kimberly sambil menatap Diego dengan senyuman semanis mungkin.
Kemudian Kimberly berdiri namun tiba-tiba Diego menarik Kimberly agar tidak bisa pergi. Hal itu membuat Kimberly terkejut dan kembali duduk dipangkuan Diego.
"Kimberly, Apa kita pernah bertemu enam tahun yang lalu?" Tanya Diego sambil masih memeluk erat tubuh Kimberly.
"Hehehehe ... Diego, ternyata kamu juga bisa bercanda juga ya?" Tanya Kimberly sambil memaksakan untuk tersenyum dan berusaha melepaskan pelukan Diego namun Diego enggan melepaskannya.
"Tapi rasanya Aku sangat familiar denganmu." Jawab Diego sambil mengarahkan wajahnya ke arah wajah Kimberly dan bersiap mencium bibir Kimberly.
"Diego, sekarang inikan Aku sudah menjadi istrimu." Ucap Kimberly sambil menahan bibir Diego dengan jari telunjuknya agar tidak mencium bibirnya.
"Kamu tidak perlu merayuku dengan kata-kata basi seperti itu." Sambung Kimberly.
"Kamu berpikir kalau sekarang ini Aku sedang merayumu?" Tanya Diego sambil meraba-raba punggung Kimberly.
"Diego, kamu jangan begitu di depan anak-anak karena ini bisa mempengaruhi anak kita. Jadi jangan memberi contoh yang buruk pada anak kita." Ucap Kimberly mengalihkan pembicaraan dengan suara menggoda.
Diego hanya terdiam sambil menarik perlahan jari telunjuk Kimberly kemudian mengarahkan bibirnya agar bisa mencium bibirnya.
Kimberly langsung memundurkan kepalanya agar Diego tidak mencium bibirnya sambil tersenyum manis kemudian bersiap untuk berdiri. Sedangkan Diego hanya terdiam sambil membalas senyuman Kimberly dan dengan enggan melepaskan pelukannya mengingat apa yang dikatakan Kimberly benar adanya.
"Arnold, ayo kita pergi dan biarkan Daddy istirahat." Ucap Kimberly sambil memegang tangan Alexander.
Alexander hanya menganggukkan kepalanya kemudian berdiri setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan Diego sendirian. Sedangkan Diego hanya tersenyum melihat tingkah laku Kimberly yang sangat menggemaskan.
"Kimberly, tunggu hasil tes DNA keluar. Lihat saja bagaimana kamu bisa mengelak." Ucap Diego sambil tersenyum dan menatap tangan kanannya yang sedang memegang dua lembar rambut milik Kimberly.