Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meluruskan
"Alana. Kok, kamu ke sini?" Aku refleks berkata demikian. Alana tak menimpali. Ia malah kembali melihat nomor kamar yang saat ini aku singgahi. Ia sedang memastikan.
"Kamarnya bener yang ini, kok," gumamnya. Ia berbicara sendiri.
Alana kembali melihat ke arahku. Bahkan begitu lekat.
"Jadi, Mas Juna yang nge-b(o) aku?" Ucapannya terlampau blak-blakan. Hingga ada dua orang yang tengah berjalan di koridor, saat melewati kami, mereka tampak berbisik-bisik.
Tentu membicarakan kami berdua.
Settttt....
Aku meraih pergelangan tangan Alana.
"Ayo kamu masuk dulu aja!"
Aku menggeret paksa Alana masuk ke dalam. Aku malu diperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang lorong hotel. Aku takut mereka akan mengira jika aku benar-benar tengah membooking gadis muda seperti Alana.
Alana patuh. Kini kami sama-sama berada di dalam ruangan kamar hotel.
"Jelaskan sama aku, Mas, ini maksudnya apa? Mas Juna mau berselingkuh di belakangnya Mbak Liliana?" Alana tak banyak berbasa-basi. Ia langsung berkata demikian.
"Bukan kayak gitu Alana, Mas bisa jelaskan."
"Bukan kayak gitu gimana? Jelas-jelas Mas Juna nge-b (0) aku. Berarti kan Mas Juna niatnya mau tidur dengan perempuan lain selain Mbak Liliana.
"Aku harus lapor sama Mbak Liliana. Dia harus tahu kelakuan suaminya kayak apa." Alana merogoh handphone dari tas yang ia bawa. Ia benar-benar ingin menelepon Istriku.
"Kalau gitu Mas juga akan lapor sama dia," sahutku. Aku tak kalah tegas.
"Lapor apaan?"
"Ternyata pekerjaan kamu seperti ini. Ternyata kamu menjajakan tubuh kamu."
Deg....
Alana langsung memucat mendengar ancamanku. Dan seketika ia mengurungkan niatannya yang semula. Ia memasukan kembali handphonenya. Tak jadi menelepon Liliana.
"Kamu nggak mau kan Mas ngadu sama Mbak kamu, makanya ayo kita bicarakan baik-baik dulu. Jangan asal nuduh Mas," ujarku. Aku berusaha bersikap lembut menghadapi Alana.
"Ayo duduk sini." Aku mengajak Alana duduk di atas permukaan tempat tidur. Alana patuh. Kini kami pun duduk saling berdampingan.
"Mas mau ngejelasin semuanya. Ini tuh cuma kesalahpahaman," tuturku.
"Kesalahpahaman gimana?"
"Mas dikerjain sama temen.
Makanya sekarang Mas ada di sini. Sama kamu."
"Dikerjain gimana?"
"Temen Mas katanya pengen kumpul-kumpul, dan tempatnya tuh di sini. Mas udah terlanjur ke sini, eh ternyata cuma dikerjain. Ternyata dia malah pesenin wanita buat Mas. Dan ternyata itu kamu," terangku.
"Dih, nggak percaya. Alasannya terlalu mengada-ada," cibir Alana.
Aku merogoh handphoneku. Aku membuka di bagian chat. Lalu kuperlihatkan pada Alana semua obrolanku dengan Ronal.
Alana pun membacanya dengan saksama.
"Gimana? Sekarang kamu percaya, kan. Mas tuh nggak bohong. Mas nggak mungkin mengkhianati Mbakmu," ucapku setelah Alana mengembalikan handphoneku.
"Kenapa temen Mas Juna sampai ngelakuin itu?" tanya Alana.
"Karena dia sahabat Mas. Dia kasihan sama Mas. Makanya dia berbuat konyol kayak gitu?"
"Kasihan! Kasihan karena apa?" Kening Alana mengernyit.
"Soalnya Mas selama ini nggak pernah sekalipun__" Ucapanku terhenti. Aku hampir kelepasan mengatakan apa yang terjadi dengan pernikahanku bersama Liliana.
"Sudahlah. Mas nggak bisa ngejelasin sama kamu."
"Kenapa nggak bisa?"
"Ini urusan Mas. Dan kamu masih terlalu kecil untuk mengetahuinya."
Bibir Alana langsung mengerucut mendengar ucapanku.
"Sekarang giliran kamu,"
gumamku.
"Giliran apaan?"
"Giliran kamu yang harus
ngejelasin semua ini. Kenapa
kamu bisa datang ke sini.
Kenapa kamu bisa berkerja seperti ini. Apa kamu udah terbiasa ngelakuin hal kayak gini?"
"Enggak. Sumpah. Aku masih sekali ini, kok, Mas. Itu pun nggak jadi, kan. Karena ternyata yang nge-b (o) aku malah Mas Juna, kakak iparku sendiri."
"Yang bener?"
"Iya."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Kok, kamu bisa bekerja kayak gini?"
Alana diam sesaat. Ia menundukkan wajahnya.
"Aku dapat rekomendasi dari temenku."
"Rekomendasi jadi cewek kayak gini?"
Alana mengangguk.
"Huffff ...." Aku menghela nafas.
"Terus kenapa kamu mau?"
"Kayaknya enak. Kata temenku kalau kerja kayak gini cari duitnya gampang. Apalagi kalau ketemu cowok tajir. Aku kan jadi bisa punya uang banyak. Aku jadi bisa beli apapun yang aku mau. Seperti baju-baju yang bagus, tas-tas mahal. Pokoknya apapun lah."
"Kamu cari duit yang halal juga bisa kayak gitu, kok."
"Nggak bakal. Aku kan nggak kuliah, Mas. Cuma lulusan SMA. Paling aku cuma dapat pekerjaan kasar yang gajinya nggak seberapa. Ujung-ujungnya aku direndahin lagi sama mereka."
"Siapa yang ngerendahin kamu?"
"Ya banyak. Kayak Ibuk, saudara saudaraku. Tetangga tetanggaku. Pasti mereka bakal banding-bandingin aku sama Mbak Liliana. Pasti mereka akan bilang, itu lho Liliana sukses di kota, udah punya pekerjaan tetap, punya suami yang mapan. Nggak kayak Alana, hidupnya nggak pernah bener," celoteh Alana. Ia berusaha meniru nyinyiran orang-orang yang merendahkannya.
"Lebih burukan mana, kalau misal mereka tahu kamu sukses, tetapi ternyata dari pekerjaan yang seperti ini?" Aku melemparkan pertanyaan.
"Ya lebih buruk ini sih, Mas. Mereka pasti bakal semakin ngolok-ngolok aku."
"Maka dari itu, jangan bekerja kayak gini ya. Mas nggak rela, adik Mas jadi wanita yang bisa ditidurin sama laki-laki sembarangan." Aku mengelus puncak kepala Alana. Aku menasehatinya dengan ucapan lembut. Dia pun mengangguk pelan.
"Iya, Mas," lirihnya.
"Yuk!" Aku berdiri.