Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kalang Kabut
Pukul setengah dua dini hari Gerry baru saja kembali ke hotel, saat membuka pintu kamar ruangan sudah temaram. Namun, tampak jelas dia tidak mendapati punggung Emeery di atas ranjang, matanya menyipit, kakinya melangkah semakin dekat untuk memastikan.
Benar, istri tengilnya tidak ada di sana. Akhirnya Gerry menyalakan lampu utama, mencari ke setiap sudut maupun toilet, tapi dia tidak menemukan Emeery di mana pun.
"Ke mana dia? Kenapa nggak izin dulu kalo mau pergi?" gumam Gerry sambil menyugar rambut. Lalu tangannya dengan cepat merogoh ponsel, dia sudah mendapatkan nomor Emeery sejak mereka mengurus pernikahan.
Drt ... Drt ... Drt ...
Benda pipih yang dituju bergetar di atas meja rias membuatnya berdecak keras.
"Dia nggak bawa hp."
Gerry semakin dibuat kalang kabut, bisa-bisa dia dimarahi habis-habisan kalau ketahuan meninggalkan Emeery di malam pertama mereka dan gadis itu malah kabur untuk mengadu. Haduh, mau ditaruh di mana wajahnya yang tampan ini? Padahal siang tadi dia sudah merasa cukup keren.
"Ck, ada-ada aja tingkahnya nih bocah!"
Tak menyerah, Gerry menghubungi pihak keamanan. Karena mereka pasti tahu ke mana istrinya pergi melalui kamera CCTV.
"Yang baru menikah tadi siang."
"...."
"Iya saya turun ke bawah," kata Gerry dalam sambungan telepon sambil melangkah keluar dari kamar. Salahnya memang, jadi dia tidak akan beristirahat sebelum menemukan istrinya.
Sementara itu di kamar Ethan dan Sansan, sedari tadi Ethan tak bisa tidur nyaman seperti adiknya yang sudah sangat pulas. Beberapa kali dia memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka, lantas kapankah ibu barunya itu akan keluar?
"Sudah mau dua jam," gumam Ethan setelah melirik jam dinding, menghitung sejak Emeery masuk ke kamar mereka dan memilih tinggal di kamar mandi. Entah apa yang dilakukan gadis itu di dalam sana.
Karena merasa penasaran akhirnya Ethan pun bangkit dari tempat tidur, dia berjinjit-jinjit supaya tak menimbulkan suara. Baru saja mencapai pintu kamar mandi, pintu kamarnya diketuk. Ethan sedikit terlonjak, lalu dengan cepat membukanya.
Ceklek!
"Daddy?"
"Di mana ibumu?"
Gerry tak menggubris karena sedang kalang kabut mencari keberadaan Emeery yang ternyata masuk ke kamar anak-anaknya.
Ethan mengernyitkan dahi, karena tak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi antara dua orang dewasa ini. Aneh. Tapi akhirnya dia menggunakan isyarat dagu. Menunjuk tempat persembunyian.
Kaki Gerry melangkah lebar, dia mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Matanya awas menelisik, hingga dia menemukan Emeery yang tergeletak di atas lantai dan menggunakan bathub sebagai bantalan kepala.
"Bagaimana bisa ibumu tidur di sini?" tanya Gerry pada Ethan yang mengekor di belakang. Sumpah demi apapun, bocah itu juga tidak tahu.
Ethan menggeleng.
"Kami habis main, terus dia bilang mau menumpang kamar mandi. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa Daddy," jawab Ethan dengan jujur.
Gerry menghela napas panjang, tak dipungkiri kelegaan merasuk ke dalam hatinya. Tanpa memperpanjang masalah Gerry langsung menggendong tubuh ramping Emeery untuk kembali ke kamar mereka.
"Kembalilah istirahat, besok kita akan pulang," ucap Gerry sebelum pintu tertutup. Ethan langsung mengangguk patuh dan kembali ke tempat tidurnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Di sela langkah Gerry sesekali menatap wajah Emeery yang masih ada sisa lipstik. Dia selalu geleng-geleng kepala kalau sudah menghadapi tingkah Emeery, entah apalagi besok.
Sampai di kamar Gerry hendak menurunkan Emeery di atas ranjang. Namun, gadis itu lebih dulu bangun dan terlonjak saat tahu ada di gendongan suaminya.
"Ahhh!" Emeery melompat dan mengambil posisi seperti seekor kucing. "Om ngapain?" Serunya, belum terbiasa dengan panggilan baru, dia masih suka memanggil Gerry seperti itu.
"Am-om am-om, seharusnya aku yang tanya kamu ngapain di kamar anak-anak dan tidur di kamar mandi?" omel Gerry dengan tampang kaget campur kesal.
Emeery mencoba mengingat-ingat situasi beberapa jam yang lalu. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung.
"Aku, aku ...," gagapnya.
"Ah udahlah, bikin repot aja. Lain kali kalo mau ke mana-mana bilang, hp jangan cuma jadi pajangan."
Gerry melenggang ke arah kamar mandi sambil melepas pakaiannya, diiringi dumelan kepada sang istri yang sudah bikin khawatir dan pusing tujuh keliling.
Di belakangnya Emeery menelan ludah, dia menatap punggung Gerry yang tertelan pintu kamar mandi, lalu mencengkram pakaian bagian dada.
"Dia marah karena apa ya? Apa karena nggak sabar bikin adik sama aku? Atau?"
Kalimat-kalimat tanya itu kembali tertelan saat daun pintu terbuka. Dari pada malam ini dia diterkam, lebih baik di tidur duluan. Emeery sudah berusaha memejamkan mata dan memegang selimut kuat-kuat, sampai dia merasakan Gerry berbaring di sampingnya, tapi tak ada tanda-tanda ingin memeluk atau bahkan menyentuhnya sedikit saja.
'Eh nggak ada apa-apa kok.'
Emeery berusaha mengintip, dilihatnya Gerry tidur dengan posisi memunggunginya. Ada perasaan lega sekaligus aneh, membuat dahinya berkerut dalam.
'Apa aku yang berlebihan ya? Lagian kenapa aku percaya omongan anak kecil? Mereka tahu apa tentang buat adik? Hem, pasti dia juga mikir-mikir buat nambah anak.'
"Sampe kapan mau liatin aku kayak gitu? Tidur!"
Emeery tersentak kaget, reflek membalik badan hingga kini mereka saling memunggungi. Sampai pagi.
*
*
*