Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi gelap dunia bisnis
Erlangga dan Kevin tersentak kaget dan hendak langsung berlari kabur, tapi suara familiar menghentikan langkah Erlangga.
"Erlan."
"Eh? PAPA." Erlangga langsung tersenyum cerah, berlari memeluk Arga karena lega.
"Kalian berdua darimana saja? pihak sekolah bilang kalian bolos, tapi nomor ngga bisa di hubungi dan GPS mu mati." Ucap Arga, dia dan Caramel juga mencari Erlangga.
"Pa kita di culik, ngga lebih tepatnya dia yang di culik." Ucap Erlangga jujur.
"Di culik?." Arga mengerutkan kening.
"Iya, Papa tau Caffe di sebelah mall ini kan? dia ke sana buat judi, terus........
Erlangga menceritakan semuanya dari awal sampai selesai, dia bahkan bercerita dengan menggebu-gebu karena takut di kejar. Arga mendengarkan, tatapan matanya langsung menajam dan rahang nya terkatup rapat.
"Oke, syukurlah kalian berdua bisa kabur. Ayo pulang, biar Papa yang urus sisanya." Ucap Arga, harus menenangkan Erlangga dan Kevin yang masih syok.
"Pa, motor kita di parkiran sebelah." Ucap Erlangga, tidak rela motornya hilang.
"Iya nanti biar jadi urusan Papa." Arga tersenyum geli.
Arga menggandeng Erlangga dan Kevin keluar dari mall. Arga juga merasa ada yang sedang melihatnya, dia tetap diam dan prioritas utama membawa Erlangga pergi dari sana.
Erlangga dan Kevin masuk mobil, sudah ada bodyguard dan supir yang siap membawa mereka pergi dari sana. Erlangga sebenarnya khawatir jika Arga di sana sendirian, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat bagi Erlangga menentang.
Mobil yang membawa Erlangga dan Kevin melesat pergi dari sana, setiap menyalip kendaraan warna mobil langsung berubah warna. Itu untuk mengecoh pengejar, karena tidak mungkin mereka membiarkan mangsa lepas begitu saja.
Arga berjalan menuju Caffe yang aslinya tempat judi itu, di sana dia sudah di sambut banyak anak berandalan yang sudah di bayar. Arga hanya menatap dengan datar, seperti nya memang ada beberapa plot yang tidak di tuliskan di dalam buku. Atau mungkin kejadian hari ini adalah efek kupu-kupu karena alurnya berubah.
"Panggil ketua kalian." Ucap Arga datar.
"Memangnya kau siapa, bersikap jagoan padahal sendirian." Ucap mereka merendahkan.
Mereka sibuk berdebat tanpa sadar jika Arga susah menghilang dan masuk ke dalam dengan cepat. Jangan di lupakan jika Arga ini adalah sistem, dia bisa menghilang dan muncul sesuka hatinya dimana-mana.
Arga naik ke lantai tiga dengan santai, mengintai sekitar dan menemukan ruangan dimana Bos dari mereka berada di dalamnya. Sebenarnya Arga belum tau mereka berada di bawah siapa dan apa tujuan mereka. Tapi karena mereka sudah membahayakan nyawa anaknya, maka harus di beri pelajaran.
BRAKKKK
"Bangsat, siapa kau?!." Ujar para anak buah di dalam dengan congkak.
"Jadi kalian yang sudah menyentuh anakku." Ucap Arga dingin.
"Anak? sepertinya kau salah paham, kami hanya membawa anak dari keluarga Leonard." Ucap Bos tua yang masih asyik minum bir.
"Bukankah kalian mengejar dua anak." Arga kesal, gigi nya gemeletuk.
"Ah jadi anakmu yang kabur seperti tikus itu? bukankah dia sudah kabur, untuk apa kau repot-repot datang ke sini." Ucap si tua.
"Aku akan bertanya dengan sopan, apa tujuan kalian yang sebenarnya?." Tanya Arga.
"Hei anak muda, aku pikir bukan urusan orang asing sepertimu untuk ikut campur." Ucap si tua mencibir.
Kesabaran Arga sudah habis, dia langsung melesat membogem dan mematahkan leher semua bawahan yang ada di sana. Hanya dalam sekejap mata semuanya tumbang tak tersisa, si tua yang melihat anak buahnya habis langsung panik.
"B-berhenti di sana brengsek." Ucap si tua mengacungkan pistol.
"Pistol tidak berguna untukku, jawab pertanyaan ku atau mati." Ucap Arga, berjalan mendekat.
"Mati saja kau sialan." Teriak si tua menarik pelatuk.
DOR
Duaghh
gedubrakkk
"Aku sudah bilang itu tidak berguna." Arga dengan mudah menghindari peluru dan memukul wajah di Bos tua.
Bos tua sudah di hajar oleh Arga dan di cekik dengan menyedihkan. Arga membawa nya ke lantai paling atas, mungkin interogasi ekstrem bisa membuka mulutnya.
"Jika kau tidak mau bicara, maka aku akan melempar mu dari lantai empat. Kau akan mati mengenaskan dan aku bisa mencari tau informasi dari orang lain." Ucap Arga.
"B-brengsek___
"Aku akan melemparmu." Arga mendorong si Bos tua.
"Aarrgghhhhhhhh baiklah-baiklah aku akan bicara, aku akan bicara brengsek." Ucap si tua akhirnya menyerah.
"Pilihan yang bagus." Arga menurunkan si tua dan mengikatnya dengan erat.
"Kami berasal dari RUDE, organisasi kriminal terkenal di kalangan para mafia bisnis di seluruh dunia. Kami akan mendapatkan permintaan dari setiap orang, kami hanya bekerja dan tidak ikut campur dalam persaingan bisnis." Ucap nya menjelaskan.
"Kalau begitu setidaknya kau pasti tau kan alasan mereka menginginkan anak dari keluarga Leonard?." Tanya Arga.
"Ya, hanya persaingan bisnis. Kepala keluarga Leonard saat ini sedang bentrok dengan pesaing lain di dunia bawah, penculikan seperti ini sudah sering terjadi. Tujuan nya tentu saja untuk mengekang kepala keluarga Leonard, agar mau memberikan apa yang mereka inginkan." Jelasnya.
"Kalau begitu, bagaimana caranya aku bisa bertemu dari pemilik organisasi RUDE ini?." Tanya Arga.
"Aku tidak begitu mengerti tentang dunia gelap bisnis. Aku sudah memberitahu semua yang aku tau, jadi sekarang lepaskan aku." Ucapnya.
"Satu lagi, apa di organisasi RUDE ini adalah semacam tingkat an atau semacamnya?." Tanya Arga.
"Tentu saja, yang tertinggi adalah pemilik dari RUDE yang kami panggil Ketua. Di bawahnya ada banyak bawahan kuat, termasuk aku." Ucapnya jujur.
"Lalu anak-anak sekolah di depan itu?." Tanya Arga.
"Mereka adalah anak sekolah yang bergabung karena memiliki nilai, mereka yang bisa bergabung rata-rata adalah yang dulu nya pelanggan." Ucap nya.
"Pelanggan?." Arga memicing.
"Kau tidak mungkin sepolos itu, selain menculik dan membunuh orang. Kami tentu saja menjual aneka macam obat-obatan terlarang, dan para anak-anak muda banyak yang sudah kecanduan. Karena harga obat mahal, mereka pun membayarnya dengan tenaga mereka dan mereka akan membawa mangsa baru untuk mengedarkan___
BUGH
ukhhh
"Brengsek menjijikan, kalian bahkan melibatkan anak-anak di bawah umur?!." Arga marah besar.
"Hei.. ini sudah biasa__
Bugh
KRAAKK
Aarrgghhhhhhhh
Arga tidak mengizinkan si tua itu bicara, dia mematahkan kedua kaki dan melemparnya dari lantai empat. Arga menggeram marah, bisa-bisanya mereka memilih anak-anak sekolah sebagai target pasar narkoba.
"Apa ini efek kupu-kupu akibat perubahan plot?." Arga bergumam emosi.
Arga berusaha mencari petunjuk lain di sana, lalu setelah itu kembali ke rumah. Di rumah Erlangga dan Kevin sudah mandi dan sedang makan, mereka menceritakan semua yang terjadi pada Caramel.
"Mama, apa tidak masalah membiarkan Papa menghadapi mereka sendirian? mereka memiliki pistol, bahkan orang-orang mereka sangat banyak." Ucap Erlangga, menunjukan kekhawatiran.
"Tidak apa-apa, Papa mu lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Dia pasti akan segera kembali dengan selamat." Ucap Caramel tersenyum tenang.
"Tapi_
"Lihat, Papa mu sudah kembali." Caramel mendengar suara motor memasuki pekarangan rumah.
Erlangga dan Kevin keluar untuk melihat, di sana Arga pulang menaiki motor Erlangga dan seorang bodyguard membawa motor Kevin. Erlangga tersenyum cerah, dia merasa bangga dan kagum dengan sosok Papa angkatnya ini.
aneh ga sih 🤔🤔🤔