Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utang Kak Sultan
Sore itu, langit kota perlahan berubah warna. Dari jendela rumah tua peninggalan Ayah, cahaya oranye senja masuk menyapu lantai yang sedikit kusam. Rumah itu sederhana, tapi cukup luas untuk kutinggali bersama Ibu. Dindingnya berwarna putih pudar, pintu kayu jati masih berdiri kokoh, dan halaman kecil di depan rumah selalu bersih karena Ibu rajin menyapunya setiap pagi.
Meski sederhana, rumah ini penuh kenangan. Di sini aku tumbuh. Di sini pula Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Kini rumah itu terasa sepi, hanya ditemani suara kendaraan dari jalan besar tak jauh dari gerbang. Sesekali azan magrib terdengar sayup dari masjid kompleks.
Aku sedang bersiap-siap. Pakaian panjang sudah rapi melekat di tubuhku, jilbab sederhana menutupi kepala. Tas kecil menggantung di bahu. Dari cermin tua di ruang tengah, wajahku tampak biasa saja lembut, polos sama sekali tak menunjukkan jejak dunia malam tempatku bekerja. Penampilan itu sengaja kujaga demi melindungi rahasia yang harus tetap tersimpan rapat.
“Sudah mau berangkat, Nak?” suara Ibu terdengar lembut dari kursi rotan. Tubuhnya masih ringkih, diselimuti kain tipis.
“Iya, Bu.” jawabku sambil mendekat. Senyum kecil kupaksakan di wajah, meski ada rasa bersalah yang terus mengganjal. “Ibu nggak usah nunggu aku pulang, ya. Kalau mau tidur, tidur aja. Aku bawa kunci kok.”
Ibu mengangguk, matanya penuh kasih. “Pakaian kotormu nggak usah di-laundry lagi, Nak. Biar Ibu yang nyuci. Kan ada mesin juga. Uang laundry-nya lebih baik kamu tabung.”
Dadaku langsung mengencang. Aku cepat-cepat menunduk agar wajahku tak terbaca. Kalau sampai Ibu lihat seragam kerjaku… bisa habis aku diinterogasi. Senyum tipis kuberi, mencoba menutup panik.
“Nggak usah, Bu. Nggak seberapa kok. Aku nggak mau Ibu capek. Ibu baru sembuh juga, kan.”
Belum sempat suasana mencair, pintu depan diketuk lalu terbuka. Kakak laki-lakiku masuk dengan setelan kantor. Kemejanya sedikit kusut, dasinya masih melingkar. Wajahnya lelah, matanya tajam.
“Kamu udah mau berangkat, Dek?” tanyanya.
Aku menoleh singkat. “Iya, Kak.”
Tatapannya menyapu tubuhku dari atas ke bawah, meneliti. Pakaian sopan, jilbab rapi, tak ada yang mencurigakan.
“Tumben kamu ke rumah, Nak?” suara Ibu terdengar heran.
“Iya, Bu. Aku ada perlu sama Aluna.” Tatapannya beralih padaku. Perasaanku langsung tidak enak.
“Ada perlu apa, Kak?” tanyaku hati-hati.
Ia melirik sebentar ke arah Ibu, lalu diam. Ibu menengahi, “Ya sudah, kalian duduk dulu. Biar enak ngobrolnya.”
Kami bertiga duduk di teras. Kursi kayu panjang peninggalan Ayah menjadi saksi. Dari luar, lampu jalan sudah menyala, bayangan pepohonan kecil bergoyang ditiup angin sore.
“Kakak langsung aja ya, Lun. Soalnya kamu juga mau berangkat kerja.” Nada suaranya berat.
Aku mengangguk cepat. Degup jantungku makin kencang. Entah kenapa aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
“Kamu ada uang dua puluh juta nggak? Kalau ada, Kakak pinjem dulu.”
Aku terperanjat. “Dua puluh juta?” suaraku meninggi, tak percaya. Bagaimana mungkin ia begitu enteng menyebut angka sebesar itu?
“Aku nggak ada, Kak. Dua puluh juta itu banyak banget. Buat apa?” suaraku bergetar menahan kesal.
Sultan menunduk, meremas jari-jemarinya. Sesekali ia melirik ke arah Ibu.
“Kamu perlu uang sebanyak itu buat apa, Nak?” tanya Ibu, nada khawatir.
“Utang, Bu.” Napasnya berat. “Aku terlilit utang. Malam ini batas terakhir aku harus bayar.”
“Utang?” Ibu terperanjat, tangannya refleks memegang dada. “Kenapa bisa sampai segitu banyak, Nak?”
“Aku juga nggak sadar. Awalnya cuma buat kebutuhan rumah, sekolah anak-anak. Lama-lama menumpuk.”
Aku mengepalkan tangan. Panas memenuhi kepalaku. “Kebutuhan rumah? Memang gaji Kakak nggak cukup sebulan?”
Aku tahu gajinya enam juta. Itu saja masih kurang? Aku dulu dengan tiga juta masih bisa hidup, bahkan kuliahin Alika.
“Ya nggak cukup, Dik. Makanya aku pinjam sana-sini.”
Aku berdiri, napasku memburu. “Maaf, Kak. Aku nggak ada uang sebanyak itu. Kakak tahu gajiku kecil. Aku ini cuma waitress. Jangan harap dari aku.”
“Lun, tolonglah…” suaranya berubah memohon. Ia lalu menoleh ke Ibu. “Atau Ibu ada uang? Aku pinjam dulu.”
Kesabaranku benar-benar habis. Dengan tidak tahu malunya, ia berani meminta pada Ibu yang jelas-jelas tak bekerja.
“Tapi, Nak…” suara Ibu lirih hampir pecah. “Ibu nggak ada uang. Kamu tahu sendiri, selama ini adikmu Aluna yang membiayai semua kebutuhan rumah, termasuk obat-obatan Ibu.”
Sultan terdiam sejenak, lalu pandangannya jatuh pada gelang emas di pergelangan tangan Ibu. Ia meraihnya, menyentuhnya dengan enteng.
“Bu… kalau gitu, aku pinjam gelang ini aja. Setelah gajian, aku cicil buat ganti.”
Kepalaku panas seketika. “Kak. Apa Kakak nggak malu minta itu sama Ibu? Itu gelang peninggalan Ayah. Masa Kakak tega mau jual buat bayar utang? Yang berutang Kakak, kok malah Ibu yang harus menanggung? Sadar, Kak. Selama ini aja Kakak nggak pernah kasih nafkah ke Ibu sejak Ayah meninggal.”
Ia bangkit, matanya menajam penuh amarah. “Terus aku harus apa, ha? Aku minta ke kamu nggak ada. Lagian, aku pasti ganti gelang Ibu. Nggak usah lebay.”
Aku menatap balik, tak gentar. “Itu juga yang selalu Kakak bilang dari dulu. Utang-utang kemarin aja belum Kakak bayar, baik ke aku maupun ke Ibu.”
Dia terdiam. Wajahnya menegang, bibirnya terbuka seolah ingin bicara, tapi tak ada kata keluar.
“Sudahlah…” suara Ibu bergetar. “Kenapa kalian harus bertengkar begini? Ibu nggak sanggup lihat kalian seperti ini.”
Aku menarik napas panjang, mengembuskannya kasar. Hati ini sudah panas. “Hufft… aku berangkat kerja dulu, Bu. Assalamu’alaikum.”
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah cepat, menyalakan motor, lalu melaju keluar dari halaman.
**
Di perjalanan, dada ini sesak. Panas. Sakit hati. Kakak yang seharusnya menggantikan peran Ayah justru tak pernah membantu sama sekali. Ia tak peduli beban yang kupikul sendirian. Tak peduli pada Ibu. Tak pernah memberi uang belanja, tak pernah mengirim sepeser pun untuk jajan Alika. Semua aku yang tanggung. Semua aku jalani tanpa sekalipun mengeluh.
Air mata mulai memenuhi pelupuk. Kugigit bibir kuat-kuat, berusaha menahan. Tapi wajahku panas, merah, hingga akhirnya bulir itu jatuh juga.
Di atas motor, aku membiarkan rasa sesak ini pecah perlahan.
Saat lampu merah menyala, aku berhenti bersama puluhan kendaraan lain. Kupejamkan mata sebentar, mencoba mengatur napas yang tercekat. Dengan tangan gemetar, aku mengusap pipi, menghapus sisa air mata agar wajahku tak sembab.
Aku harus terlihat tegar ketika sampai di klub nanti. Aku tak ingin Friska curiga dan pada akhirnya aku akan di introgasi habis-habisan lagi.