NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Naya baru saja keluar dari rumah orang tuanya ketika langkahnya terhenti di halaman.

Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal terparkir tidak jauh dari gerbang. Lucio berdiri di sampingnya, setengah menyandar di dekat pintu mobil dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Pria itu tampak tenang, tetapi caranya menatap membuat Naya gugup dan takut.

Dia benar-benar menjemputnya?

Jantung Naya langsung berdebar lebih cepat.

“Lu…” panggil Naya pelan sambil berjalan menghampiri.

Semakin dekat ia dengan Lucio, semakin kuat pula detak jantungnya. Ia sendiri tidak yakin apakah itu karena takut, atau karena ia bisa merasakan dengan jelas bahwa Lucio sedang marah.

Lucio menatapnya sekilas, tatapannya dingin dan sulit dibaca.

“Masuk.”

Ia membuka pintu mobil dengan gerakan singkat, suaranya datar. Biasanya Lucio tidak pernah berbicara dengan suara sedatar itu. Meskipun Lucio terkenal menakutkan, tapi Naya tahu dia bukanlah orang yang dingin. Dia bukan pria yang irit bicara. Tapi, kali ini, Lucio sangat dingin.

“Y-ya…”

Naya segera masuk tanpa berani membantah. Tangannya terasa dingin saat ia duduk di kursi penumpang.

Beberapa detik kemudian Lucio juga masuk, menutup pintu dengan bunyi cukup keras sebelum duduk di belakang kemudi.

Tanpa mengatakan apapun lagi, ia langsung menyalakan mesin mobil.

Mobil itu melesat meninggalkan halaman rumah Tuan Tuqman dengan kecepatan tinggi.

Tangan Lucio mencengkeram kemudi dengan kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Rahangnya mengeras, sementara matanya lurus menatap jalan di depan.

Beberapa kendaraan yang disalip mendadak membunyikan klakson panjang. Umpatan kesal terdengar dari pengendara lain yang terkejut oleh cara mengemudi Lucio yang terlalu agresif.

Namun Lucio sama sekali tidak mempedulikannya.

Ia mengabaikan klakson, umpatan, bahkan beberapa rambu lalu lintas yang seharusnya dipatuhi.

Di dalam mobil, Naya duduk kaku di kursinya, menatap tangan Lucio yang masih mencengkeram kemudi dengan keras. Ia tahu betul pria itu sedang menahan amarah yang mungkin bisa meledak kapan saja.

Namun Naya tidak berani membuka mulut. Hingga akhirnya mobil berhenti di parkiran sebuah hotel mewah.

“Keluar!” Suara bernada perintah dari Lucio kembali terdengar. Naya buru-buru membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dengan cepat.

“K-kenapa ki-kita kemari?” Naya memberanikan diri bertanya sambil memperhatikan gedung hotel di depannya dengan raut wajah bingung.

Lucio tidak menjawab, melainkan menarik kuat pergelangan tangan Naya menariknya setengah menyeret ke lobi hotel.

“Selamat datang pak Lucio,” resepsionis hotel menyambutnya ramah.

Pria itu bahkan tidak melirik resepsionis itu sedikitpun, ia terus menarik Naya, masuk ke dalam lift kemudian menekan angka lima.

Naya menahan ringisan karena cengkeramanan di pergelangan tangannya sangat kuat hingga rasanya hampir meremukkan tulangnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap lift yang bergerak naik. Melihat sikap Lucio, hotel ini pasti salah satu aset miliknya.

Tak lama kemudian lift berhenti di lantai lima, Lucio kembali menarik tangan Naya. Dia membuka salah satu kamar, mendorong Naya masuk ke sana.

“Ada apa? Kenapa kamu sangat marah?” Naya berjalan mundur, menjauhi Lucio yang sudah menutup pintu dan melayangkan tatapan penuh kemarahan padanya.

“Sudah aku katakan, jangan pernah mengkhianati pernikahan kita.” Lucio menggeram, tangannya yang satu membuka dasi sementara tangan lainnya menarik pinggang Naya.

Seketika badan Naya membentur cukup keras badan Lucio.

“Apa maksudmu? Aku tidak ber–” Naya tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia langsung ingat dimana masalahnya. Sial! Rima pasti memperlihatkan rekaman itu pada Lucio dan mungkin juga mengarang beberapa cerita.

Lucio menunduk. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. “Sudah ingat? Bagus, kamu memang wanita murahan yang setelah kupungut dari pria sampah itu masih berani mendekatinya dibelakangku.”

PLAK!

Satu tamparan melayang ke pipi Lucio, Naya menatapnya penuh kebencian dengan wajahnya yang sudah di penuhi air mata.

“Aku bukan wanita murahan.” Ketakutan yang Naya rasakan berganti dengan kemarahan saat Lucio menyebutnya murahan. “AKU BUKAN WANITA MURAHAN, SIALAN! KAMU PIKIR KAMU BISA MENUDUHKU SEENAKNYA DAN MENGHAKIMIKU HANYA KARENA KAMU LEBIH KUAT, LEBIH SUPERIOR? IYA?”

“Kamu berani menamparku?” Kemarahan Lucio semakin tersulut karena Naya yang ikut-ikutan marah.

“Iya, aku berani?” Naya mendongak, menatap nyalang tepat ke mata Lucio. “Kenapa? Harga dirimu terluka karena ada wanita yang berani menamparmu?”

Lucio mengepalkan tangannya, matanya memerah, dan giginya bergemeletuk menahan amarah. Dalam satu gerakan cepat, ia melayangkan kepalan tangannya ke arah samping telinga Naya, bukan kepadanya, tapi ke kaca di belakangnya.

Prang!

Kaca itu pecah berhamburan ke lantai, serpihannya beterbangan.

“Tutup mulutmu!” teriak Lucio sebelum berbalik dan melangkah pergi.

BAM!

Pintu ditutup dengan kasar, menimbulkan dentuman keras yang memekakkan telinga.

Tubuh Naya menggigil hebat. Ia memutar kepala ke belakang, menatap serpihan kaca yang berserakan. Untungnya, tidak ada yang mengenainya.

Namun rasa sakitnya tetap ada, bukan dari fisik, melainkan dari hati. Hatinya terasa teriris karena harus menghadapi kenyataan menikah dengan pria mengerikan seperti Lucio.

Ting! Tong!

“Permisi, Bu, saya cleaning service yang diperintahkan oleh bapak Lucio untuk membersihkan kamar.”

“Ya, masuk saja.” Naya buru-buru menghapus air matanya, lalu memilih duduk di ranjang.

Pintu terbuka, cleaning service itu seorang wanita muda. Dia membawa peralatan kebersihan ke tempat pecahan kaca dan mulai membersihkan.

Naya mengamatinya, dalam hati mencibir sikap aneh Lucio. “Kenapa dia tidak membiarkan kaca itu tetap disana, mungkin dia akan senang kalau aku menginjaknya.”

Memikirkan hal itu, Naya turun dari ranjang. Ia melangkah ke atas pecahan kaca yang belum dibersihkan.

“Bu Naya, apa yang ibu lakukan?!” Wanita itu menjerit melihat apa yang dilakukan Naya.

Naya mengabaikannya, membiarkan telapak kakinya tergores. Darah segar mengucur dari luka.

“Bilang ke Lucio kalau aku sudah melukai kakiku, seperti yang dia inginkan.” Kata Naya, ia kembali ke ranjang dengan kaki yang berdarah.

“Saya panggilkan dokter,” wajah wanita itu memucat, dengan cepat membereskan semua pecahan kaca yang sudah bercampur dengan darah Naya.

“Tidak perlu. Katakan saja pada Lucio,”

“Tapi, Bu…”

“Sudahlah, dia akan tertawa senang, jadi kamu tidak perlu takut.” Kata Naya lagi, ia sedikit meringis namun rasanya lebih baik daripada kenyataan menyesakkan tentang pernikahannya.

Wanita itu hanya bisa mengangguk lalu bergegas pergi.

Tidak sampai sepuluh menit, pintu kembali terbuka dengan kasar. Lucio masuk dengan wajah merah padam.

“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu, hah!”

Mario, si asisten berdiri di pintu dengan wajah robotnya.

“Bukankah ini yang kamu inginkan?” Naya balik bertanya.

“Sialan!” Lucio mengumpat, tapi kemudian mengangkat Naya ke dalam gendongannya. Matanya kian berkilat marah melihat beberapa bercak merah di kasur.

“Hei, lepaskan aku!” Naya berontak dalam gendongan Lucio.

Lucio memeluknya erat, lalu melangkah lebar ke pintu. “Siapkan mobil, kita ke rumah sakit.”

“Baik, Tuan.” Mario bergegas pergi.

“Lepaskan aku! Aku tidak mau ke–hmmp!”

Lucio membungkam mulut Naya dengan sebuah lumayan agresif di bibirnya. Naya melotot, berontak lagi, namun semakin ia berontak, Lucio semakin memperdalam ciumannya.

Naya akhirnya diam, wajahnya memerah saat beberapa tamu hotel yang ada di koridor memusatkan perhatian pada mereka berdua.

Astaga! Ini memalukan!

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!