NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13

Dua tahun berlalu dalam sekejap mata. Lily tumbuh semakin cantik. Bicaranya juga semakin jelas dan lancar. Ia bahkan bisa berdebat dengan sang kakak selama berjam-jam penuh tanpa kelelahan.

Diusianya yang kini sudah tiga tahun lebih, Sarah berencana untuk mendaftarkannya sekolah. Taman kanak-kanak yang bersebelahan dengan tempat Andra menempuh pendidikan saat ini, telah masuk dalam pertimbangan. Selain karena berdekatan, sekolah itu juga memiliki reputasi yang baik. Jadi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sarah bisa mengantar Andra, sekaligus mengantar Lily dalam satu waktu. Lebih praktis dan lebih efisien.

Namun rencana pendaftaran sekolah Lily ini mungkin harus tertunda karena Sarah belum membicarakannya dengan Chandra. Tidak ada kesempatan. Karena sang suami sangat susah dihubungi dalam beberapa hari terakhir. Setiap kali, hanya suara operator yang terdengar. Dan hari ini pun sama.

Rasa khawatir itu ada. Selalu hinggap di hati setiap kali hal seperti ini terjadi. Apalagi pekerjaan sang suami memiliki resiko yang tinggi. Bahkan dalam beberapa kasus akan berujung pada kematian apabila tidak berhati-hati dan tidak waspada saat bertugas.

Daerah berkonflik sering kali memakan korban dimanapun itu. Entah dari warga sipil ataupun dari pihak keamanan itu sendiri. Bangunan hancur, jalan rusak, tangisan seluruh orang berjatuhan. Tempat seperti itu tak pernah benar-benar tenang. Tak ada kedamaian.

Sarah meletakkan kembali ponselnya diatas meja. Kemudian menghela nafas panjang. Hal-hal besar yang harusnya bisa didiskusikan berdua, sepertinya akan ia putuskan sendiri lagi.

Seperti saat Sarah memutuskan untuk membuka restoran miliknya satu tahun lalu, Chandra bahkan baru mengetahuinya setelah tiga bulan restoran itu berjalan. Tak ada komentar apapun, hanya dukungan yang ia dapat. Tetapi di banding itu, kabar bahwa sang suami baik-baik saja diluar sana lebih menenangkan, lebih membuat ia bahagia dari apapun.

Rumah tampak ramai seperti biasa. Bukan karena kehadiran banyak orang, melainkan karena tawa riang Lily yang terdengar. Begitu juga dengan gerutuan Andra yang tak ada habisnya.

"Sana pergi! Mas nggak mau. Kamu pake aja sendiri." Tolak Andra keras. Detak jantungnya meningkat tajam. Sementara wajahnya merah padam. Ia sudah menahan kesabarannya begitu lama, namun adiknya tak kunjung mengerti. Lily masih saja mengikutinya dengan sebuah lipstik di tangan. Lipstik mainan yang baru saja dibelikan ibunya karena anak itu terus merengek.

Sebelumnya, Lily selalu melihat sang ibu berdandan di depan cermin ketika akan pergi. Memakai bedak, lipstik dan benda-benda lainnya yang tidak ia ketahui. Menggambar sesuatu di wajah terasa baru untuknya. Dan gadis kecil dengan segudang tanya itu merasa tertarik, merasa hal itu sangat menyenangkan untuk dilakukan.

"Ayo mas, sini. Sebentar aja. Aku udah pake sendiri ini." Kata Lily.

Andra tetap menggeleng. "Nggak mau. Aku itu laki-laki yah, nggak pake lipstik."

"Mas Andra, ini cuma mainan. Nggak ada warnanya." Bujuknya lagi. Sungguh, ia hanya ingin bermain, kenapa sang kakak susah sekali diajak bekerjasama?

"Tuh, sama Jeffrey aja." Tunjuk Andra pada seseorang yang baru datang. Yang tubuhnya saja bahkan belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah.

Dahi Jeffrey mengerut, merasa kebingungan. Ia menatap Andra dan juga Lily secara bergantian. "Apa?" Tanyanya.

Senyum Lily mengambang. Ia berputar arah, lalu menarik Jeffrey dan mendudukkannya di bawah. Sementara dirinya sendiri berjongkok di sampingnya.

"Kenapa?" Tanya Jeffrey heran. Karena sejak tadi Lily hanya terus menatapnya.

Senyum itu masih tersemat disana, lama. Bahkan semakin lebar. Andra di kejauhan bahkan mengira mulut Lily akan sobek karenanya.

"Mas Jeffrey ganteng. Nggak kaya Mas Andra jelek."

Kata-kata itu keluar begitu saja ditengah rasa kesal yang melanda. Diucapkan dengan nada riang dan penuh sukacita. Berbanding terbalik dengan maknanya yang tajam dan menusuk.

Rahang Andra jatuh kebawah. Tekanan darahnya melonjak seketika. Sementara matanya melotot sempurna. Ia merasa tak terima. Bagaimana bisa wajahnya yang tampan ini malah dibilang jelek oleh sang adik? Lily tidak tahu saja bahwa disekolah anak-anak perempuan selalu berebut ingin satu kelompok dengannya.

Tapi ya, meski nggak lebih banyak dari Jeffrey.

Sedangkan di tempatnya, Jeffrey sendiri hanya terkekeh pelan. Satu tangannya terangkat untuk mengelus kepala Lily. Lembut, penuh kasih sayang. Sementara anggukan kepala terjadi beberapa kali sebagai tanda ia sependapat dengan gadis kecil itu. "Emang jelek." Ucapnya. Namun tak terdengar siapapun kecuali Lily di dekatnya yang kini tertawa.

"Kenap kamu ketawa-ketawa?? Yang jelek itu kamu. Udah ngeselin, cengeng lagi." Balas Andra.

Lily memutar kepalanya, menatap Andra penuh aura permusuhan. Seakan tak mau kalah, ia mengejek sang kakak tanpa henti. "Mas Andra itu yang jelek. Jelek jelek jelek banget pokoknya."

"Kamu jelek."

"Mas Andra yang jelek."

Pertengkaran antar saudara itu hal yang biasa. Apalagi dalam usia yang masih terbilang anak-anak. Namun konflik yang sering dipicu oleh masalah sepele itu sering kali membuat siapa saja yang mendengarnya merasa sakit kepala. Terutama para orangtua. Namun tidak bagi Jeffrey. Ia justru menikmati. Sebagai anak tunggal, hal seperti ini lah yang selalu ia rindukan. Keramaian yang tidak pernah ia dapatkan dirumah.

Jeffrey mendorong Andra mundur ketika anak itu mendekat dengan wajah merah padam penuh amarah. Lalu memberikan tatapan peringatan. "Jangan macam-macam."

"Dia itu ngeselin banget tau nggak!!" Suara Andra tertahan diantara giginya. Nafasnya menjadi lebih cepat. Rahangnya terkatup rapat.

Lily semakin merapatkan tubuhnya pada Jeffrey untuk mencari perlindungan. Ia menatap sang kakak takut-takut seperti melihat monster. "Mas..." Cicitnya lirih.

Usapan lembut ia rasakan pada punggungnya. Naik turun. Membawa ketenangan.

Ditengah pertikaian itu, Sarah datang membawa selembar kertas. Langkahnya lebar, tetapi tidak tergesa-gesa. Kepalanya memutar, melihat sekeliling. Mencoba mencari anak perempuannya. Lalu berhenti tepat di samping Jeffrey.

"Nak, mama mau ngomong sebentar." Ucapnya.

Semua kepala menoleh. Begitu juga dengan Lily yang sejak tadi menyembunyikan diri. Ia menatap ibunya dengan mata menyipit. Penuh tanya.

"Mama mau ngomong apa?" Tanya Andra penasaran. Nafasnya perlahan-lahan menjadi normal.

"Sini duduk dulu sayang." Pintanya.

Tak ada penolakan. Andra mendekat, kemudian mendudukkan dirinya di samping sang ibu di atas sofa. Sementara Jeffrey dan Lily tetap di bawah. Beralaskan karpet tebal yang hangat. Dengan nyaman, berdampingan. Seolah tak ada keniatan untuk pindah.

"Mama mau tanya, Lily mau sekolah nggak?"

Mata Lily berbinar cerah. Ia beringsut mendekat. Lalu duduk di kaki ibunya. Memeluk erat. "Sekolah kaya Kenzy?" Tanyanya.

Kenzy adalah cucu nenek. Cucu yang foto dan ceritanya selalu Lily dengar. Cucu yang meski Lily tidak saling kenal tetapi terasa akrab. Kini ia telah kembali bersama orangtuanya. Membawa tawa lain di rumah nenek, juga menjadi satu-satunya teman yang Lily punya.

Tak lama setelah ia pulang dua bulan lalu, ibu Kenzy langsung mendaftarkannya sekolah. Dan setiap kali mereka bermain bersama, anak itu selalu bercerita bagaimana dirinya saat disekolah dan betapa menyenangkannya itu. Membuat Lily merasa iri.

"Iya. Mau nggak?"

Lily mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat. "Mau-mau. Sekarang?"

"Mama udah minta formulirnya kemarin, besok kita daftar yah?"

Lily mengangguk lagi. Lalu berdiri dan berjoget dengan gembira. Meluapkan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. "Yeyyy sekolah!! Akhirnya bisa sekolah kayak Kenzy."

Sarah tertawa kecil, lalu menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Ini lah jalan yang ia ambil. Ini lah keputusannya. Bukannya tidak menghargai Chandra sebagai suami, tetapi menunggu Chandra akan memakan waktu. Dan itu tak pasti. Ia hanya ingin Lily merasakan apa yang teman-temannya rasakan. Ia hanya ingin Lily mendapat pendidikan sesuai dengan usianya. Dan Sarah yakin Chandra akan mengerti itu.

"Kalian bisa main lagi. Mama mau ke kamar dulu. Mau simpan ini." Kata Sarah.

Anak-anak mengangguk. Untuk sesaat suasana hening. Namun senyum lebar Lily tak pernah luntur. Di tangan, lipstik masih ia genggam. Tetapi sepertinya gadis kecil itu lupa dengan keberadaannya.

"Seneng kamu mau sekolah?" Andra bertanya dengan nada yang sama, masih tak bersahabat.

"Seneng, seneng banget banget. Aku bisa ketemu Kenzy setiap hari. Bisa main bareng terus." Balas Lily.

Jeffrey masih duduk dalam diam. Otak kecilnya penuh dengan berbagai macam pikiran. Karena sejak kedatangan anak bernama Kenzy, Lily tak lagi lengket padanya seperti dulu. Seolah posisinya telah tergantikan. Dan ia merasa tersisihkan.

"Mas Jeffrey..."

Panggilan itu membuat Jeffrey menarik kesadaran diri. Ia menatap Lily, lalu tersenyum tipis. "Kenapa?"

"Main lagi?"

"Okeh." Jawabnya.

Lily segera beringsut maju, kemudian duduk di pangkuan Jeffrey. Lipstik di tangan seolah telah berhasil menarik perhatiannya kembali. Wajahnya mendekat, hampir bersentuhan. Sementara tangannya terulur ke depan. Hingga lipstik itu menempel pada bibir Jeffrey.

Andra yang tak tertarik, memilih merebahkan dirinya diatas sofa. Dengan kaki dan tangan lurus sempurna. Sementara netranya menatap ke atas, pada langit-langit rumah.

Angin yang berhembus menyusup masuk melalu celah gorden. Memberikan kesejukan alami pada tubuh. Kicau burung di luar, seolah menjadi pengiring. Hingga mata Andra perlahan menutup dan kesadarannya menghilang.

Lily begitu serius dengan pekerjaannya. Masih begitu fokus. Setiap kali lipstik bergerak, bibirnya juga akan ikut bergerak. Kadang maju, lalu kembali normal, kemudian maju lagi. Membuat Jeffrey gemas dibuatnya.

Lipstik itu tak memiliki rasa, juga tak ada bau. Hanya sedikit lengket. Jeffrey merasa aneh pada bibirnya, namun tetap diam tak bergerak. Membiarkan Lily berbuat sesukanya.

Hingga terdengar lah suara seseorang di luar yang membuat Lily dan Jeffrey menoleh, sementara Andra langsung terjaga dari tidurnya.

"Aku pulang!!"

Suara dari orang yang dirindukannya.

Andra yang belum begitu lelap, bergegas bangun. Kemudian berlari keluar. Kepalanya sedikit pusing, namun tak ia hiraukan. Karena saat ini ada hal yang lebih penting dari itu.

"PAPA!!!!" Andra memanggil dengan lantang. Lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan pelukan Chandra.

Sementara Lily hanya terdiam mematung. Merasa aneh, merasa asing dengan kehadiran pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!