"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Siang hari, pukul 11.30 WIB.
Matahari Desa Sukamaju bersinar cerah, tapi tidak sepanas Jakarta. Di halaman rumah orang tua Disa, terlihat Disa sedang memasangkan sepatu sandal baru ke kaki mungil Fikri. Bocah itu terus melonjak kegirangan karena tahu siang ini mereka akan jalan-jalan.
"Bapak, Ibu... ayo sudah siap belum?, Disa kan mau ngajak kalian makan siang di kota, sekalian Disa mau ajak Fikri cari mainan," seru Disa dengan suara riang yang sudah lama tidak terdengar.
Bapak keluar dari rumah sambil merapikan kemeja batiknya yang sudah agak pudar. "Nggak usah jauh-jauh, Nduk. Makan di rumah saja kan sudah ada lodeh masakan Ibumu."
Disa tersenyum, ia bangkit dan merangkul pundak Bapaknya. "Sesekali, Pak. Disa ingin Bapak dan Ibu merasakan duduk di mobil baru milik Disa ini. Disa ingin ajak kalian makan di tempat yang paling enak."
Sebenarnya, dalam hati Disa tersenyum sinis. Uang yang ada di dompetnya saat ini adalah sisa uang "jatah bakti" Abdi yang berhasil ia amankan. Ia sengaja tidak menyentuh uang tabungan pribadinya. Ia ingin setiap rupiah yang keluar dari dompetnya hari ini adalah uang yang seharusnya dulu ia gunakan untuk makan, tapi malah dikirim Abdi ke rumah Ibu Ratna.
"Hari ini, uangmu aku pakai foya-foya untuk orang tuaku, Mas. Bukan untuk keluargamu yang rakus." batin Disa.
Pusat Kota, pukul 13.00 WIB.
Mobil SUV putih itu berhenti di depan sebuah restoran keluarga yang cukup mewah di pusat kota terdekat. Fikri langsung berlari masuk begitu pintu dibuka.
"Selamat datang mbak." Sapa pelayan.
Deg
Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan oleh Disa tentang sebuah sapaan saat Disa mempunyai uang dan mobil seperti ini, bahkan Disa setelah menikah tidak pernah yang namanya makan di restoran mewah.
"Siang mbak saya sudah reservasi atas nama Disa ya." Jawab Disa yang langsung tersenyum.
"Baik mbak mari ikut saya." Jawab pelayan dengan ramah.
Disa langsung mengajak kedua orang tuanya dan Fikri masuk kedalam restoran. Di dalam, Disa memesan banyak sekali menu makanan seperti ayam bakar madu, udang asam manis, cah kangkung spesial, hingga jus buah yang segar.
Ibu menatap deretan menu itu di buku menu dengan cemas. "Nduk, ini nggak kebanyakan? Mahal lho pasti harganya."
"Ibu tenang saja, jangan memikirkan soal harga ya ibu dan bapak Makan yang banyak, ya? Disa mau Ibu dan Bapak sehat," jawab Disa sambil memeberikan buku menu ke pelayan.
Beberapa saat kemudian semua menu yang Disa pesan ada di depan Mereke semua dan Disa memepersilah kan kedua orang tuanya untuk makan, ibu dan bapak terseyum dan memulai makan.
Disa terlihat langsung menyuapi Fikri yang makan dengan sangat lahap.
Melihat Fikri makan daging dengan bebas, tanpa harus berbagi atau mengalah demi "porsi Ayah", membuat hati Disa berdesir.
Dulu, Disa sering memberikan bagian dagingnya sendiri untuk Abdi, sementara ia hanya makan kuah dan sambal. Sekarang, ia memastikan anaknya mendapatkan potongan terbaik.
Setelah makan, mereka menuju toko mainan terbesar di mal tersebut. Fikri terpaku di depan rak robot-robotan besar yang bisa berubah menjadi mobil mainan yang sudah ia minta sejak setahun lalu tapi selalu ditolak Abdi dengan alasan "uangnya belum ada".
"Fikri mau yang ini?" tanya Disa lembut.
Fikri menatap Disa dengan ragu. "Tapi kata Ayah... harganya mahal, Bunda."
Kata-kata itu seperti sembilu yang menyayat hati Disa. Seorang anak sekecil Fikri sudah paham kata "mahal" karena seringnya ia ditolak oleh ayahnya sendiri.
Disa tanpa ragu langsung mengambil robot yang di inginkan oleh Fikri dan dua mainan lainnya.
"Sekarang nggak mahal lagi, Sayang untuk Bunda." Ucap Disa dan membuat Fikri diam mematung.
Fikri melihat ke arah Disa pada akhirnya dan kembali membuka mulut. "Apa ini karena kata Kakek dan Nenek Bunda sudah bekerja?." Pertanyaan polos meluncur dari bibir mungil itu.
Disa langsung berjongkok di depan putra semata wayangnya dan tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya Sayang, ini alasan Bunda menitipkan Fikri di asuh oleh Kakek dan Nenek di kampung." Jelas Disa lagi.
Fikri tiba-tiba langsung memeluk Disa dan membuat Disa kaget. "Bunda boleh kerja tapi jangan pernah sakit ya, Fikri di sini nggak bakal nakal kok janji." Jawab Fikri.
Deg
Disa menahan air matanya dan melihat kearah kedua orang tuanya yang tersenyum ke arah Disa yang saat ini masih di peluk Fikri. "Iyah udah Ayok, ambil saja yang Fikri suka. Bunda yang bayar," ujar Disa mantap dan mengalihkan pembicaraan.
Fikri tersenyum dan langsung di temani kakek dan Nenek nya sedangkan Disa pura-pura membentakan posisi rambutnya, padahal pada kenyataannya dia menghapus air mata yang jatuh.
Saat di kasir, tagihannya mencapai angka jutaan rupiah. Disa mengeluarkan kartu ATM Abdi yang ia pegang. Dengan satu gerakan swipe, transaksi berhasil. Ada kepuasan luar biasa saat melihat saldo Abdi berkurang demi kebahagiaan Fikri.
Taman Kota, pukul 16.00 WIB.
Pulang dari toko mainan Disa langsung mengajak keluarga healing tipis-tipisan, mereka duduk di sebuah taman kota yang rindang. Fikri sibuk berlari ke sana kemari di atas rumput hijau dengan robot barunya, dijaga oleh Bapak yang sesekali tertawa melihat tingkah cucunya.
Disa duduk berdua dengan Ibunya di bangku kayu di bawah pohon beringin yang teduh. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Inilah saat yang tepat bagi Disa untuk bicara jujur.
"Bu... Disa mau bicara soal Mas Abdi," mulai Disa, suaranya tenang tapi sangat dalam.
Ibu menoleh, meletakkan tangannya di atas punggung tangan Disa. "Ibu sudah nunggu, Nduk. Ibu tahu ada yang nggak beres. Kamu pulang sendirian, bawa mobil dan belanja banyak itu... bukan seperti Disa yang Ibu kenal dulu."
Disa menghela napas panjang. Ia menceritakan semuanya. Mulai dari uang lima belas juta yang dikirim Abdi ke Ibu Ratna setiap bulan, soal asuransi Fikri yang dipakai Amel beli mobil, sampai soal dirinya yang sering menahan lapar selama tiga tahun terakhir.
Ibunya menutup mulut dengan tangan, air matanya menetes. "Ya Allah, Nduk... kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu simpan sendiri penderitaanmu?"
"Karena dulu Disa pikir itu adalah bakti istri, Bu. Tapi Disa salah. Itu bukan bakti tapi itu semua sebuah kebodohan," suara Disa bergetar namun tetap tegas. "Sekarang Disa sudah kerja lagi. Disa sudah pegang kendali. Semua uang Mas Abdi, Disa sita. Biar dia tahu rasanya jadi aku selama ini."
Bapak yang rupanya sudah mendekat dan mendengar cerita itu, duduk di samping Disa. "Lalu, kamu mau cerai, Nduk?"
Disa menggeleng perlahan. "Nggak, Pak. Kalau Disa cerai sekarang, Mas Abdi akan merasa bebas. Dia akan balik ke keluarganya, foya-foya lagi dan mungkin cari istri baru yang bisa mereka injak-injak lagi. Disa belum mau cerai."
Bapak mengerutkan kening. "Lalu mau kamu apa?"
"Disa mau bertahan, tapi dengan aturan Disa. Disa mau Mas Abdi membayar setiap tetes keringat dan lapar yang Disa rasakan dulu. Disa mau buat dia sadar kalau tanpa Disa, dia itu nggak ada harganya. Disa akan buat dia jadi 'pelayan' di rumahnya sendiri sampai dia benar-benar mengerti arti menghargai seorang istri," mata Disa berkilat tajam. "Ini bukan soal benci, Pak. Tapi soal keadilan. Disa ingin dia merasakan penjara yang dia buat sendiri."
Ibu dan Bapak saling lirik. Mereka melihat kemandirian dan kekuatan yang luar biasa dari putri mereka. Meskipun terasa ngeri, mereka tahu Disa punya hak untuk menuntut keadilan itu.
"Apapun keputusanmu, Nduk... Bapak dan Ibu cuma bisa dukung. Tapi ingat, jangan sampai hatimu jadi hitam karena dendam. Lakukan apa yang menurutmu benar untuk masa depan Fikri," pesan Bapak bijak.
"Iya, Pak. Justru demi Fikri, Disa harus kuat. Disa nggak mau Fikri tumbuh besar melihat ibunya ditindas. Dia harus tahu kalau bundanya adalah pejuang," jawab Disa sambil menatap Fikri yang sedang tertawa lebar di kejauhan.
Sore itu, di bawah langit jingga Desa Sukamaju, Disa merasa akarnya kembali kuat. Ia sudah mendapatkan restu dan kekuatan dari tanah kelahirannya. Ia siap kembali ke Jakarta, bukan sebagai mangsa, tapi sebagai pemegang kendali permainan.
Malam Hari di Rumah Kampung.
Sebelum tidur, Disa memeriksa saldo m-banking Abdi melalui ponsel yang ia bawa. Ia tersenyum melihat sisa saldo yang menipis setelah foya-foya hari ini.
"Masih ada jatah buat bayar asuransi Fikri bulan depan, Mas. Jangan harap bisa kirim uang buat arisan Ibumu," gumam Disa sambil mematikan ponselnya.
Ia memeluk Fikri yang sudah tertidur pulas dengan mainan barunya di samping bantal. Besok, ia akan kembali ke Jakarta. Kembali ke kontrakan yang kini akan menjadi "medan audit" bagi hidup Abdi yang berantakan.