Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Kebenaran yang Datang Terlambat”
Cessa tidak tidur nyenyak malam itu.
Kalimat terakhir dari pesan anonim terus berputar di kepalanya.
Besok kamu akan tahu kebenarannya.
Kebenaran seperti apa?
Tentang Benny?
Tentang Diana?
Atau tentang dirinya sendiri—yang terlalu berharap?
Pagi datang dengan langit mendung. Rumah masih sunyi. Cessa keluar dari kamar tamu dan mendapati Benny sudah duduk di meja makan, menatap secangkir kopi yang tidak disentuh.
“Kamu nggak tidur?” tanya Cessa.
“Tidur,” jawab Benny. “Sebentar.”
Mereka duduk berhadapan. Jarak aman. Terlalu aman untuk pasangan yang katanya sudah menikah.
“Hari ini aku mau ke kampus,” kata Cessa. “Ada presentasi.”
“Aku antar,” tawar Benny.
Cessa menggeleng. “Aku bisa sendiri.”
Benny menelan ludah. “Aku jemput?”
“Nanti aku kabarin.”
Jawaban itu menggantung. Tidak menolak. Tidak menerima.
Benny berdiri. “Aku ke kantor dulu.”
Cessa mengangguk.
Pintu tertutup.
Dan Cessa kembali sendirian—dengan ponsel yang terasa lebih berat dari biasanya.
Di kampus, Cessa berusaha fokus. Presentasi berjalan lancar. Tepuk tangan terdengar. Dosen memuji. Tapi Cessa nyaris tidak merasakannya.
Ponselnya bergetar saat ia duduk kembali.
Nomor tak dikenal.
Pesan masuk.
Aku tunggu kamu jam 3 sore.
Kafe depan gedung lama.
Datang sendiri.
Jantung Cessa berdegup kencang.
Ia menatap jam. Masih pukul dua.
Bagian dirinya ingin mengabaikan pesan itu. Bagian lain—yang lelah hidup dalam ketidakpastian—memilih menghadapi.
Cessa:
Jam 3.
Pesan dibalas hampir seketika.
Bagus.
Sementara itu, di kantor, Benny sedang menandatangani berkas ketika sekretarisnya masuk dengan wajah tegang.
“Pak Benny,” katanya pelan. “Bu Diana minta bertemu. Mendesak.”
Benny menghela napas. “Aku sibuk.”
“Katanya… ini soal Cessa.”
Nama itu membuat Benny berdiri seketika. “Di mana dia?”
“Ruang meeting kecil.”
Benny berjalan cepat. Begitu pintu tertutup, Diana berdiri dari kursinya.
“Kamu harus hentikan ini,” ucap Diana tanpa basa-basi.
“Hentikan apa?” tanya Benny dingin.
“Kebohongan,” jawab Diana. “Atau setidaknya—setengah kebenaran yang kamu bangun.”
Benny menegang. “Jangan libatkan Cessa.”
“Dia sudah terlibat sejak kamu memilih diam,” balas Diana. “Kamu belum bilang semuanya, kan?”
Benny mengepalkan tangan. “Apa yang kamu mau?”
Diana menatapnya lurus. “Aku mau kamu jujur. Sekarang. Atau aku yang akan melakukannya.”
Benny mendekat satu langkah. “Ancaman?”
“Peringatan,” koreksi Diana. “Aku nggak mau jadi penjahat di cerita kalian.”
“Cerita ini bukan urusan kamu lagi,” tegas Benny.
Diana tersenyum tipis. “Kita lihat nanti.”
Jam tiga sore.
Cessa duduk di kafe kecil yang hampir kosong. Tangannya melingkar di gelas es teh. Jantungnya berdebar. Setiap pintu terbuka, kepalanya terangkat.
Lalu—
Diana masuk.
Elegan. Tenang. Senyumnya tipis.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Diana sambil duduk di seberang Cessa.
“Apa yang mau kamu sampaikan?” tanya Cessa langsung. “Aku nggak suka berputar-putar.”
Diana tersenyum. “Aku juga.”
Ia meletakkan ponselnya di meja. Layar menyala. Sebuah email terbuka.
“Ini kontrak,” kata Diana. “Kerja sama lama. Bertahun-tahun.”
Cessa menatap sekilas. “Dan?”
“Benny dan aku pernah hampir menikah,” ucap Diana tenang.
Kalimat itu menghantam keras.
Cessa membeku.
“Bukan rumor,” lanjut Diana. “Bukan gosip. Keluarga tahu. Media hampir tahu.”
Cessa menelan ludah. “Kenapa batal?”
Diana menghela napas. “Karena Benny tidak bisa… mencintai.”
Kalimat itu terasa familiar. Terlalu familiar.
“Dia menarik diri,” lanjut Diana. “Mendadak. Tanpa penjelasan.”
Cessa mengepalkan tangan di bawah meja.
“Aku tidak datang untuk merebutnya,” ucap Diana. “Aku datang karena aku tahu pola itu.”
“Pola apa?” tanya Cessa lirih.
“Benny mendekat, lalu mundur saat perasaan jadi nyata,” jawab Diana. “Dan kamu… berada di titik yang sama sekarang.”
Cessa menggeleng pelan. “Dia mengaku cinta.”
“Dia juga pernah bilang hal serupa padaku,” jawab Diana lembut. “Tapi cinta yang tidak dihadapi… hanya akan melukai orang lain.”
Cessa menutup mata.
“Kalau kamu masih ingin percaya,” lanjut Diana, “pastikan kamu tahu seluruh ceritanya.”
Diana berdiri. “Aku sudah bilang.”
Ia pergi.
Dan Cessa tertinggal—dengan kepala penuh dan dada yang terasa retak.
Malam itu, hujan turun deras.
Cessa pulang ke rumah dengan langkah pelan. Pintu terbuka. Lampu ruang tengah menyala. Benny berdiri di sana—menunggu.
“Kamu ke mana?” tanya Benny.
“Kafe,” jawab Cessa. “Ketemu Diana.”
Wajah Benny memucat.
“Apa yang dia bilang?” tanya Benny cepat.
Cessa menatapnya lama. Terlalu lama.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” tanya Cessa akhirnya.
“Bilang apa?” Benny mencoba tenang.
“Kalau kamu hampir menikah.”
Keheningan jatuh seperti palu.
“Karena itu masa lalu,” jawab Benny pelan.
“Karena itu penting,” bantah Cessa. “Karena itu tentang kamu.”
Benny mendekat. “Aku takut kamu salah paham.”
“Justru karena kamu diam, aku salah paham,” suara Cessa bergetar.
Benny menarik napas. “Aku gagal waktu itu. Aku tidak mau gagal lagi.”
Cessa tersenyum pahit. “Atau kamu takut menghadapi cinta yang nyata?”
Kalimat itu membuat Benny terdiam.
“Kamu bilang jatuh cinta,” lanjut Cessa. “Tapi setiap kali aku mendekat, kamu mundur.”
Benny membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Katakan,” desak Cessa. “Apa aku cuma fase?”
“Tidak!” jawab Benny cepat. “Kamu bukan pengganti.”
“Terus apa?” tanya Cessa lirih. “Jawaban jujur, Ben. Sekali ini saja.”
Benny menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca.
“Aku mencintaimu,” ucapnya akhirnya. “Tapi aku masih belajar… berani.”
Air mata Cessa jatuh.
“Cinta yang butuh keberanian,” katanya pelan, “nggak bisa tumbuh di ketakutan.”
Ia berbalik menuju kamar tamu.
“Cessa—”
“Aku butuh waktu,” ucapnya tanpa menoleh. “Kali ini, bukan kamu.”
Pintu tertutup.
Dan Benny berdiri sendiri, menyadari satu kebenaran pahit:
Mengakui cinta tidak cukup—
jika ia belum siap mempertahankannya.
Cessa tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Kini, pilihan ada di tangannya—menunggu, atau pergi selamanya.