Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goyah
Dengan perasaan yang campur aduk, Nia masih berusaha untuk tetap tenang dan menahan diri.
Dia ingin menyanggah, namun fakta yang nampak di depan matanya terlalu nyata.
Di tengah nyaringnya suara musik dan lampu temaram, perlahan gadis itu mendekat ke arah Alex, berharap matanya salah mengenali seseorang, tapi semakin dekat langkahnya, maka semakin nampak bahwa lelaki itu memang Alex kekasihnya.
"Nia...??" ucapnya nampak terkejut melihat Jenia yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Sedangkan gadis itu hanya diam menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Akhirnya aku menemukanmu Nia, bagaimana kau bisa ada di sini...?? Kau tidak papa kan.?? Apa mereka melukaimu...?? Aku mencarimu kemana-mana Nia...??!!" ucpay berdalih seakan akan khawatir dengan keadaan Jenia.
"Harusnya aku yang tanya begitu Al, bagaimana bisa kau ada di tempat seperti ini…?? dan apa yang kau lakukan dengan para wanita itu...??"
"Nia, tenang dulu Nia, dengarkan aku dulu, aku ada disini gara-gara kelompok mafia itu…!!!mereka bilang kalau mereka menyekapmu di sini, itu sebabnya setiap hari aku mencarimu supaya bisa menemukanmu...!!" tukasnya lagi berharap Nia percaya dan masih gampang di bodohi.
Namun malam itu Nia mulai sadar dan melihat dengan jelas dari sorot mata Alex. Tidak ada perasaan panik meski dia sudah tertangkap basah oleh sang kekasih, seolah ia memang sangat lihai dalam berdalih dan berpura-pura.
Sejujurnya saat itu Nia sangat merindukan kekasihnya, namun siapa sangka dia justru bertemu Alex dalam kondisi yang benar-benar tak terduga.
Meski lelaki itu nampak khawatir dan mengaku sudah mencari Nia kemana-mana, tapi apa yang dia lihat sungguh berbanding terbalik dengan kata-katanya.
Dari yang Nia lihat Alex justru tengah bersenang-senang dan menikmati waktunya di tempat itu. Tidak ada rindu atau merasa kehilangan seperti yang dikatakan
Samar-samar gadis itu juga melihat bekas tanda merah di area leher kekasihnya, bahkan Nia mencium aroma alkohol yang sangat menyengat saat Alex mendekatinya. Tapi lagi-lagi Nia hanya diam dan pura-pura tidak tahu.
Dia bingung harus memulai dari mana, ada banyak sekali pertanyaan yang menumpuk di kepalanya. Tapi setelah bertemu Alex, Nia justru kehabisan kata-kata.
"Kalau kau memang mencariku, kenapa tidak lapor polisi sejak awal Al...??" tanyanya sambil tertunduk menutupi air mata yang mulai bercucuran.
"Aku sudah berulang kali melapor Nia, tapi polisi tidak mendengarku...!! Para penjahat itu sengaja menjebakku…!! dan mereka juga kebal terhadap hukum...!!" ucapaya masih berbohong.
"Lalu kemana semua uang yang kuberikan padamu...?? Bukankah kau bilang semua utangmu sudah lunas...?? Tapi kenapa mereka menawanku dan mengatakan kau punya hutang yang sangat banyak..?? Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi Al...!!" dan apa hubunganmu dengan orang-orang itu..??!!"
Mulai kesal, gadis itu mulai mencecar Alex dengan banyak pertanyaan.
"Sudah kubilang aku dijebak, orang-orang itu menjebakku Nia, kau jangan percaya dengan mereka. Karena semua yang mereka katakana itu semuanya tidak benar...!!" Jawabnya terdengar kasar dan mulai melantur.
Semakin dia mengelak, maka semakin nampak kebohongannya di hadapan Jenia. dia sangat paham kalau Alex sekarang tengah berada di bawah pengaruh alkohol.
Meski lelaki itu berusaha menatapnya,namun Nia tahu sorot mata Alex sedang tidak fokus terhadap lawan bicaranya.
"Baiklah, sekarang tolong jawab dengan jujur sekali lagi, mereka bilang kau sengaja menjadikanku sebagai ¡aminan demi sejumlah uang…?? apa itu benar...??" tanya Nia
memastikan.
Namun lagi-lagi Alex enggan mengaku dan masih saia berbohong, padahal Nia sudah memberinya satu kesempatan untuk jujur.
"Sekarang giliranku yang bertanya, kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini Nia...?? Dan kenapa tampilanmu seperti ini hah...?? apa jangan-jangan kau sedang jual diri...?? Haha ternyata selama ini aku telah salah menilai....."
PLAKK………………!!! Belum selesai Alex bicara tiba-tiba satu tamparan keras mendarat di
wajahnya.
Seketika lelaki itu langsung terdiam memegang pipinya yang terasa panas.
Nia menamparnya dengan penuh kesadaran dan amarah yang sudah tak terbendung, lagi.
Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Alex justru memutar balikkan fakta dan menuduh Nia berbuat hal senonoh.
"Cukup Al...!! Cukup...!! Sudah cukup kau membohongiku selama ini...!! Dan bodohnya aku selalu percaya padamu..!!" Pekiknya mendorong tubuh Alex agar lelaki itu menjauh darinya.
Namun bukannya sadar tamparan itu justru memancing emosi Alex, ditambah dirinya yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Ya...!! Memang benar, aku memang menukarmu dengan sejumlah uang...!! Karena apa....??
Karena kau adalah gadis yang bodoh Nia..!! selama ini aku memang hanya ingin memanfaatkanmu, tidak lebih dari itu...!! Puasss....!!" Bentaknya sambil mencengkram wajah Nia dengan Kasar.
Karena menurutnya tidak ada gunanya lagi berpura-pura di hadapan wanita yang sudah tak punya apa-apa.
Habis manis sepah di buang. Alex memang tidak bernah berharap untuk bertemu kembali dengan Nia. Bahkan sebenarnya dia cukup kaget kenapa gadis itu tiba-tiba ada di Fantasia.
Pengakuan itu membuat Nia semakin tersadar. Dia kaget bukan main ketika Alex yang selama ini ia kenal berubah menjadi laki-laki yang kasar dan mulai menunjukkan sifat aslinya.
Ditengah perdebatan itu, terdengarlah suara tepuk tangan dari seseorang yang seiak tadi menonton pertunjukan keduanya.
"Benar-benar luar biasa..." ucapnya sambil mendekat.
Jenia segera pergi saat menyadari siapa yang datang, sedangkan Alex sama sekali tidak mengenal pria bermasker yang tiba-tiba hadir di tengah mereka.
"Siapa kau...??!!" tanyanya dengan angkuh.
"Aku...?? Aku adalah pemilik boneka..." jawabnya sambil berlalu menepuk pundak Alex.
Sementara di tempat lain suara isak tangis mulai terdengar dari dalam dalam toilet.
Untuk yang kesekian kalinya Nia kembali menelan pil pahit dalam hidupnya, seolah keberuntungan tak pernah berpihak padanya.
Sudah lelah menangisi hidup, kini Jenia juga harus menangis karena kegagalan cintanya.
Seakan cobaan datang silih berganti tanpa ada habisnya.
"Kenapa semua ini harus terjadi padaku...?? Kenapa hidupku tidak pernah berjalan sesuai harapan...?? Kenapa…??" gumamnya menangis meratapi nasibnya.
Kini hatinya benar-benar hancur dan kecewa, lantaran selama ini dia begitu percaya dan tulus terhadap Alex, namun siapa sangka laki-laki yang dia cintai ternyata seorang pembohong besar.
Yang lebih memalukan lagi adalah ketika mati-matian Nia membela nama Alex di hadapan Veron, padahal sang mafia lebih mengetahui siapa Alex ketimbang dirinya.
Sekarang Nia baru menyadari betapa bodohnya dia selama ini. Seketika dia teringat dengan semua uang tabungannya yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah.
Seluruh hasil keringatnya ada pada tabungan itu, tidak peduli siang ataupun malam Nia bekerja demi bisa mewujudkan mimpinya.
Dia nyaris tidak tidur dan hidup seperti zombie karena terlalu fokus mengumpulkan uang.
Bahkan Nia sendiri tidak pernah menyentuh uang itu sepeserpun, tapi karena kebodohan serta kesadaran penul dia memberikan semuanya untuk Alex.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, bukan cuma kehilangan cinta dan kepercayaan, gadis itu juga akan kehilangan masa depannya untuk menjadi seorang dokter, satu-satunya mimpi yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup.
Kini harapan tinggal harapan, Jenia sudah tidak punya apapun selain rasa penyesalan yang terus menghantuinya.
Setelah membuka pintu Nia dikejutkan dengan sosok Veron yang tengah berdiri dengan membawa sebotol minuman di tangannya.
"Kau senang kan melihatku begini...??" ucap Nia lebih dulu sebelum Veron menertawakan kesialannya.
Sementara lelaki itu hanya diam sambil terus memandanguya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Apa minuman itu rasanya manis...??" Tanya Nia menatap minuman yang dibawa sang mafia.
"Hmm, tergantung seberapa kacau orang yang memi....." belum selesai dengan kalimatnya, Jenis sudah meraih botol tersebut dari tangan Veron.
Meski sempat kaget saat tegukan pertama, namun ia justru kembali meminumnya tanpa ragu.
Veron mencoba menghentikannya, tapi gadis itu sudah terlanjur menenggak sisanya sampai habis. Benar-benar sebuah adegan yang berbahaya untuk seorang pemula.
Lalu ia kembali menangis dan terduduk di lantai. Ditengah kesadarannya yang mulai berkurang, Nia mengucapkan sesuatu pada Veron.
"Tolong bunuh aku...!! Bunuh saja aku...!! Aku sudah terlalu lelah dengan semua ini…” pintanya berderai airmata sambil bersimpuh memeluk kaki sang mafia.
Mendengar permintaan itu Veron hanya bisa menghela napas panjang menatap Nia yang begitu menyedihkan.
"Ternyata untuk hal seperti ini kau gampang sekali putus asa Nia...!! Kemana perginya gadis pantang menyerah yang kukenal itu hmm...??"
"Aku tidak bisa membunuhmu Nia, tapi kalau kau mau aku bisa membantumu membalas laki-laki itu....!!" ucap Veron sambil mengusap air matanya.
"Caranya..??" tanya Nia dengan penglihatan yang mulai buram.
"Caranya tentu saja dengan caraku...!!"
"Cih… kalau kau berencana membunuh seseorang, maka lebih baik bunuh saja aku....!!" Sahutnya sambil tergeletak di lantai.
Akhirnya malam itu Jenia berakhir di punggung sang mafia. Veron menggendong Nia dan membawanya kembali ke markas.
Malam semakin larut, sambil menenteng sepasang sepatu wanita, perlahan Veron membawa Nia menaiki anak tangga menuju ruang pribadinya.
Sepanjang jalan gadis itu terdengar menangis sambil bergumam mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
Sesampainya di dalam kamar Veron langsung membaringkan Nia yang masih dalam pengaruh alkohol.
“Tahu akan merepotkan begini harusnya ku lemparkan saja kau ditengah kebun anggur…!!” Ucap Veron sembari memijat bahunya yang terasa pegal.
Bahkan dia juga ikut membaringkan tubuhnya di samping Nia.
Padahal Ben dan anak buah lainnya bersedia membawa Jenia, namun Veron yang tidak mengijinkannya.
Dia menggerutu dan keberatan karena menggendong Nia, tapi dia juga tidak mau Nia dibawa oleh orang lain.
“Kau benar-benar tega Al..!! Kau tidak akan kumaafkan…!!” Gumam gadis itu kembali menangis.
“Sepertinya kau sangat mencintainya ya…??” Tanya Alex pada gadis mabuk di sampingnya.
“Tidak…!!!” Sahutnya singkat.
“Lalu kenapa kau sampai sesedih itu…??”
“Karena keyakinanku telah dirusak…!!!” Jawabnya diiringi tetes air mata.
“Itulah sebabnya jangan berekspektasi tinggi terhadap siapapun…!! Karena sebenarnya yang paling menyakitkan bukanlah dia yang bersalah, melainkan ekspektasi kita yang terlalu tinggi…!!”
“Semoga setelah kejadian ini kay bisa jauh lebih pintar Nia…!!! Kau harus tahu bahwa laki-laki yang banyak janjinya adalah dia yang paling banyak bohongnya…!!!” Ucap Veron menasihati orang setengah sadar.
“Ibu… dimana kau sekarang..?? Saat ini aku sangat-sangat merindukanmu…!!!” Gumam Nia tiba-tiba memeluk erat lelaki di sampingnya.
“Ehem… apa-apaan ini…??? Kau sengaja ya Nia..??? Heyy, sadarkan dirimu dasar gadis mesum…!!!”
Bukannya bangun Nia justru makin tertidur dengan lelap sambil membenamkan wajahnya di tubuh Veron.
Nampaknya pertemuannya dengan Alex malam itu benar-benar menguras air mata dan energinya.
“Nia….?? Ehemm… bangun Nia…!!! Kalau kau tidak bangun, bisa-bisa aku yang bangun…!!!” gumam sang mafia berusaha menahan diri.
………………………………………………………………………………….