NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyadari

Pintu kamar hotel itu tertutup dengan bunyi yang terdengar terlalu keras di telinga Alana.

Luciano mengunci pintu dari dalam.

Alana menoleh cepat, jantungnya berdegup tak karuan. “Luciano—?”

Ia berbalik sepenuhnya dan napasnya tercekat.

Luciano berdiri beberapa langkah darinya. Jasnya sudah dilepas, kancing kemeja bagian atas terbuka. Napasnya tidak setenang biasanya. Ada ketegangan di rahangnya, ada panas di kulitnya dan tatapan itu.

Tatapan yang membuat Alana spontan mundur selangkah.

“Kenapa di kunci?” suara Alana bergetar. “Ini cara kamu menyembunyikan aku?”

Luciano memejamkan mata sesaat, seolah menahan sesuatu yang ingin keluar dengan paksa. Ketika ia membukanya kembali, mata itu gelap dan erlalu intens.

“Karena aku tidak bisa membawamu keluar,” ucapnya rendah. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu malam ini.”

“Luciano…” Alana menelan ludah. “Kamu buat aku takut.”

Langkah Luciano terhenti. Kalimat itu seperti tamparan.

Ia mengangkat tangannya, menahan diri agar tidak mendekat. Jarinya gemetar, bukan karena ragu, tapi karena menahan.

“Aku minum sesuatu yang seharusnya tidak kuminum,” katanya jujur, suaranya serak. “Dan efeknya… tidak ramah.”

Alana memandangnya lebih saksama sekarang. Wajah Luciano memerah samar, napasnya berat, dan ada perjuangan nyata di setiap geraknya.

“Kau harus menjauh dariku,” lanjut Luciano, suaranya menegang. “Sekarang.”

“Kalau begitu kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Alana lirih, campuran takut dan marah. “Kenapa bukan ke Altair? Kenapa nggak minta bantuan?”

Luciano tertawa pendek dan terdengar pahit.

“Karena aku percaya padamu lebih dari siapa pun.”

Ia akhirnya melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu berhenti lagi, seolah ada garis tak kasat mata yang tidak ia izinkan dirinya lewati.

“Aku tidak akan menyentuhmu,” katanya tegas, seolah bersumpah pada dirinya sendiri. “Tidak tanpa kendaliku. Tidak pernah tanpa persetujuanmu.”

Namun tatapannya mengatakan hal lain.

Bukan keinginan untuk memiliki secara liar, melainkan hasrat yang dipenjara dengan kekerasan kehendak.

Alana memeluk dirinya sendiri. Dadanya naik turun cepat.

“Kamu berbeda,” bisiknya. “Matamu seolah aku satu-satunya hal yang ada di ruangan ini.”

“Karena memang begitu,” jawab Luciano tanpa ragu. “Selalu begitu.”

Ia memalingkan wajah, menekan telapak tangan ke dinding, napasnya memburu.

“Duduklah di sana,” katanya menunjuk sofa, nada suaranya kembali dingin memaksa jarak. “Jangan mendekat. Jangan sentuh aku.”

Alana menurut, meski lututnya gemetar.

Alana berdiri mematung.

Matanya tak lepas dari Luciano, dari cara dadanya naik turun tidak beraturan, dari urat di lehernya yang menegang, dari sorot mata gelap yang terlalu hidup namun juga terlalu tersiksa.

Ada dorongan di dalam dirinya untuk melangkah maju.

Menjadi jangkar bagi pria yang selama ini terlihat tak tergoyahkan.

Namun bersamaan dengan itu, ketakutan menjalar dingin di tulang punggungnya. Ia belum siap, bukan sekarang. Bukan dalam keadaan seperti ini.

Luciano menyadari kebisuannya. Ia mengangkat wajah, menatap Alana dengan mata yang berkilat hasrat yang tak disembunyikan, tapi juga dikunci rapat oleh kehendaknya sendiri.

“Jangan lihat aku seperti itu,” katanya serak. “Aku berjuang lebih keras dari yang kau bayangkan.”

Alana menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Aku… mau menolongmu,” ucapnya jujur, suaranya bergetar. “Tapi aku takut, Luciano. Aku belum siap jika—”

“Aku tahu.” Luciano memotong cepat, nadanya tegas. “Dan karena itulah kau harus tetap di sana.”

Ia mundur selangkah, seolah jarak itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Punggungnya menempel ke dinding, kepalanya tertunduk. Napasnya berat, terkontrol dengan susah payah.

“Aku tidak akan menyentuhmu,” ucapnya, kali ini lebih pelan, seperti janji yang diikat pada luka lama. “Bukan saat aku tidak sepenuhnya menguasai diriku. Aku tidak akan mengambil sesuatu darimu dalam keadaan seperti ini.”

Alana tertegun. Di hadapannya bukan monster, bukan pria yang kehilangan kendali.

Melainkan seseorang yang menahan dirinya sendiri dengan kekerasan demi satu hal, dirinya.

“Luciano…” Alana melangkah setengah langkah, lalu berhenti. “Kamu nggak sendirian.”

Luciano mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Hasrat itu masih ada, liar, jujur, tak terbantahkan. Tapi di baliknya, ada rasa takut yang sama besarnya.

“Aku takut jika kau mendekat,” katanya lirih. “Bukan karena aku ingin menyakitimu. Tapi karena aku terlalu menginginkanmu.”

Kalimat itu membuat dada Alana sesak.

Ia tidak mendekat. Tidak juga pergi.

Ia hanya duduk perlahan di tepi ranjang, menjaga jarak namun tetap tinggal.

“Aku di sini,” katanya. “Tapi dengan caraku.”

Luciano memejamkan mata. Rahangnya mengeras.

“Terima kasih,” bisiknya. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Karena efek obat perangsang tersebut semakin menguasai Luciano, dan panas terus menyerang. Akhirnya Luciano memutuskan untuk berjalan masuk ke kamar mandi, ia mengguyur kan tubuhnya dengan air dingin, agar efek obat itu segera berakhir.

Air dingin menghantam tubuh Luciano tanpa ampun.

Ia berdiri tepat di bawah shower, kedua telapak tangannya menahan dinding keramik, kepala tertunduk. Kemejanya sudah dilepas, jas tergeletak sembarangan di lantai kamar mandi. Air mengalir deras, menyusuri punggungnya, tapi panas itu belum juga sepenuhnya reda.

Luciano menggeram pelan, rahangnya mengeras.

Sialan…

Efek obat itu masih mencengkeram. Membuat napasnya berat, membuat pikirannya terus dipenuhi satu nama, Alana.

Ia memutar keran lebih dingin lagi.

Air sedingin es menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya bergetar. Ia menutup mata, memaksa dirinya fokus pada sensasi dingin itu. Menghitung napas. Satu… dua… tiga…

“Aku tidak boleh kehilangan kendali,” gumamnya pelan, seperti mantra. “Tidak padanya.”

Bayangan Alana dengan gaun biru mudanya kembali muncul. Wajah pucat itu. Mata yang ketakutan tapi tetap memilih tinggal. Itu justru membuat dadanya semakin sesak, bukan karena hasrat semata, tapi karena perasaan ingin melindungi.

Luciano menunduk lebih dalam, membiarkan air membasahi rambutnya. Tangannya mengepal, urat-urat di lengannya menegang.

Ia pernah diserang. Dikhianati. Dimanipulasi.

Tapi malam ini… Alana yang hampir menjadi korban.

Dan itu membuatnya marah pada Valeria, pada Jenny, pada siapa pun yang berani menyentuh hidupnya.

Beberapa menit berlalu. Perlahan, panas itu mulai surut. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup terkendali. Napas Luciano mulai lebih teratur. Detak jantungnya tidak lagi sekacau tadi.

Ia mematikan shower.

Luciano menyandarkan dahi ke dinding kamar mandi, menghela napas panjang.

“Aku masih di sini,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku masih memegang kendali.”

Di luar kamar mandi, Alana duduk diam di tepi ranjang. Setiap detik terasa panjang. Ia mendengar suara air tadi dan kini, sunyi.

Ia memeluk dirinya sendiri, cemas sekaligus berharap.

Pintu kamar mandi akhirnya terbuka.

Luciano keluar dengan handuk melingkari pinggangnya, rambutnya basah, wajahnya masih tegang namun tatapan matanya sudah berbeda. Masih dalam, masih posesif tapi kini lebih sadar.

Ia berhenti beberapa langkah dari Alana. Tidak mendekat.

“Aku minta maaf,” ucapnya rendah, tulus. “Karena membuatmu ketakutan.”

Alana mengangkat wajahnya perlahan.

“Apa kamu udah lebih baik?”

Luciano mengangguk kecil.

“Cukup untuk memastikan aku tidak akan menyentuhmu dengan cara yang salah.”

Kalimat itu membuat mata Alana menghangat.

Luciano menatapnya lama, lalu berkata dengan suara pelan tapi tegas—suara seorang pria yang memilih menahan badai demi satu orang.

“Kau aman denganku, Alana. Bahkan dari diriku sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu,

Alana percaya, bukan karena janji, melainkan karena pilihan yang Luciano ambil saat hasrat hampir menang. Alana tak lagi mampu menahan perasaannya.

Begitu mendengar kalimat Luciano bahkan dari diriku sendiri, dadanya terasa sesak, lalu runtuh. Matanya berkaca-kaca, napasnya tercekat, dan sebelum pikirannya sempat mengejar, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu.

Ia memeluk Luciano dengan erat. Seolah jika ia melepaskan, semua keberanian itu akan menguap.

Luciano terkejut. Tubuhnya menegang sepersekian detik bukan karena menolak, melainkan karena refleks menahan diri. Tangannya terangkat di udara, ragu lalu perlahan turun, berhenti di punggung Alana tanpa benar-benar memeluk balik. Ia membiarkan Alana yang memimpin jarak itu.

“Luciano…” suara Alana bergetar di dadanya. “Terima kasih.”

Tubuhnya bergetar kecil. Tangis itu bukan keras, lebih seperti luka lama yang akhirnya berani bernapas.

“Oliver selalu bilang aku berlebihan,” lanjut Alana lirih, masih memeluk. “Dia bilang… kalau aku mencintainya, aku harus menuruti semua yang dia mau. Katanya aku egois karena takut.”

Pelukan itu mengencang.

“Aku selalu merasa bersalah,” bisiknya. “Seolah tubuhku bukan milikku sendiri.”

Luciano menutup mata. Rahangnya mengeras. Amarah dingin menyusup, bukan pada Alana, melainkan pada pria yang berani membuatnya merasa sekecil itu.

“Kau tidak berlebihan,” ucap Luciano rendah dan mantap. “Dan tidak ada seorang pun yang berhak menuntut sesuatu darimu, apa pun tanpa kesiapanmu.”

Alana terisak kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjelaskan ketakutannya. Tidak perlu membela diri.

Luciano akhirnya membalas pelukan itu pelan, terukur. Satu tangan di punggung Alana, satu lagi menahan jarak yang aman. Sentuhannya hangat, protektif, dan penuh kendali.

“Aku tidak mencintaimu untuk memiliki tubuhmu,” lanjutnya pelan. “Aku mencintaimu karena kau memilih tinggal… bahkan saat kau takut.”

Alana mengangkat wajahnya. Air mata mengalir di pipinya, tapi matanya kini penuh keyakinan.

“Dan kamu…” katanya terbata, “kamu memilih menahan diri.”

Luciano menatapnya dalam.

“Karena kau layak merasa aman. Selalu.”

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!