Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Makan Siang Bersama Karina
Jam istirahat makan siang di kantin karyawan Gedung Lumina selalu menjadi momen paling riuh dalam satu hari kerja. Aroma berbagai masakan—mulai dari tumisan bawang putih yang gurih, kuah bakso yang mengepul panas, hingga sambal terasi—bercampur di udara bersamaan dengan suara obrolan ratusan karyawan yang sedang melepas penat.
Denting sendok beradu dengan piring melamin dan suara tawa yang bersahutan menciptakan simfoni khas kehidupan korporat di jam dua belas.
Nadinta memilih meja bundar kecil di sudut ruangan yang agak tenang, di balik pilar besar, menghindari keramaian antrean prasmanan yang mengular. Di hadapannya duduk Karina, anak magang yang belakangan ini sering membantunya membereskan arsip.
Nadinta membuka kotak bekalnya yang berisi salad sayur segar dan potongan dada ayam rebus. Dia makan dengan tenang, mengunyah perlahan, menikmati setiap suapan tanpa terburu-buru seperti dulu.
Di kehidupan sebelumnya, jam istirahat Nadinta sering kali habis untuk membelikan makan siang Arga, mengantarnya ke meja Arga, lalu makan sisa waktu yang ada sambil mengecek pekerjaan. Sekarang, dia menggunakan waktu ini sepenuhnya untuk dirinya sendiri.
Di seberangnya, Karina mengaduk-aduk es jeruknya dengan wajah ragu. Gadis muda itu menatap Nadinta lekat-lekat, seolah sedang mengamati sebuah objek penelitian yang menarik namun membingungkan.
"Kenapa, Rin? Ada nasi nempel di pipi saya?" tanya Nadinta santai sambil menusuk potongan tomat ceri, menyadari tatapan intens itu.
Karina tersentak, lalu menggeleng cepat sambil tersenyum malu. "Eh, enggak kok, Mbak. Bersih. Cantik malah."
Karina diam sebentar, lalu memajukan tubuhnya sedikit, mencondongkan wajahnya ke arah Nadinta. Suaranya merendah, seperti hendak membicarakan rahasia.
"Aku cuma lagi mikir aja... Mbak Nadin akhir-akhir ini beda banget deh."
Nadinta menaikkan alisnya, tersenyum tipis. "Beda gimana? Perasaan saya sama saja deh."
"Beda, Mbak. Serius," kata Karina antusias, matanya berbinar.
"Dulu... maaf ya Mbak kalau aku lancang, tapi dulu Mbak Nadin itu kayak sering kelihatan capek, sering ngalah kalau debat sama tim lain pas rapat, terus kalau jalan di lorong suka nunduk kayak takut nyenggol orang. Tapi belakangan ini, auranya lain."
Karina meletakkan sendoknya, tangannya bergerak ekspresif.
"Mbak sekarang kelihatan lebih... tegas? Lebih berani gitu, Mbak. Padahal kerjaan lagi banyak-banyaknya mau presentasi besok lusa, terus Pak Rudi lagi galak-galaknya, tapi Mbak Nadin kelihatan tenang banget. Nggak panikan kayak orang lain. Malah Mbak yang ngarahin kita semua."
Nadinta terkekeh pelan mendengar pengamatan polos namun akurat itu. Dia tidak sadar perubahannya begitu terlihat di mata orang lain, bahkan di mata anak magang. Kematian dan pengkhianatan memang guru yang paling efektif untuk mengubah mentalitas seseorang.
"Namanya juga belajar, Rin. Masa mau panik terus? Capek," jawab Nadinta santai, menyembunyikan alasan sebenarnya.
"Lagipula, saya cuma lagi berusaha lebih menghargai diri sendiri saja. Kalau kita nggak menghargai diri sendiri, siapa lagi?"
"Keren, Mbak. Asli. Aku jadi pengen punya mental kayak Mbak Nadin kalau udah jadi karyawan tetap nanti. Nggak gampang goyah," puji Karina tulus.
Nadinta tersenyum hangat. "Kamu bisa lebih keren dari saya kok, Rin. Kerjaan kamu rapi, mental kamu juga kuat."
Obrolan santai dan hangat mereka tiba-tiba terinterupsi secara kasar.
Sebuah bayangan jatuh menutupi meja mereka, menghalangi cahaya lampu. Diikuti oleh aroma parfum manis vanilla yang sangat menyengat, sangat kontras dengan bau makanan di kantin.
"Hai, Beb! Hai, Karina!"
Karina langsung kicep dan menunduk saat mendengar suara cempreng itu. Bahunya sedikit menegang.
Maya berdiri di samping meja mereka sambil memegang nampan berisi bakso yang kuahnya merah pekat. Tanpa menunggu dipersilakan, dia menarik kursi kosong di sebelah Nadinta dan langsung duduk dengan gerakan yang menguasai ruang.
"Duh, kantin penuh banget ya hari ini. Pusing aku lihat orang desak-desakan. Untung aku lihat kalian di sini. Gabung ya!" seru Maya riang, meletakkan nampannya dengan bunyi tak yang cukup keras.
Nadinta menggeser kotak bekalnya sedikit untuk memberi ruang, wajahnya tetap tenang meski hatinya berdesir tidak suka.
"Silakan, May." Dia tersenyum tipis.
"Yey!" Maya kemudian melirik Nadinta dengan tatapan yang menyelidik. "By the way, tadi aku liat Arga lagi makan roti sambil ngerjain laporan di kubikelnya."
"Kok kamu nggak nemenin dia, Nad? Kan kamu tunangannya," tanya Maya, mencoba memancing rasa bersalah atau setidaknya reaksi emosional dari Nadinta.
"Kasihan lho dia makan roti doang, mukanya juga kusut banget. Harusnya kamu suapin atau apa kek."
Nadinta menjawab dengan santai sambil menusuk potongan melon, sama sekali tidak terpancing.
"Justru karena aku tunangannya yang baik, aku biarin dia fokus kerja, May. Kalau aku ganggu atau nempel-nempel, nanti kerjaannya nggak kelar-kelar," jawab Nadinta logis.
"Kan kita lagi ngejar target presentasi besok lusa. Biarin aja dia usaha dulu. Laki-laki kan harus tanggung jawab sama kerjaannya."
Maya terdiam sejenak, tidak menemukan celah untuk menyudutkan Nadinta. Jawaban Nadinta terlalu masuk akal dan dewasa.
"Iya juga sih," gumam Maya, lalu menyuap baksonya.
Sambil makan, mata Maya yang tajam dan selalu menilai mulai berkeliaran. Pandangannya beralih pada Karina yang duduk diam di hadapannya. Dia memindai penampilan anak magang itu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
Karina mengenakan kemeja batik sederhana dan celana bahan hitam. Di kursi di sebelahnya, tergeletak tas kerja Karina—sebuah tas tote kanvas berwarna krem yang sudah agak kusam karena pemakaian sehari-hari.
"Rin," panggil Maya tiba-tiba, menunjuk tas itu dengan dagunya saat mulutnya masih mengunyah. "Itu tas kamu?"
Karina menoleh kaget, lalu mengangguk gugup, menarik tasnya sedikit agar lebih dekat seolah ingin melindunginya. "Iya, Mbak Maya."
"Beli di mana? Pasar Senen ya?" tanya Maya sambil tertawa kecil, seolah itu lelucon lucu. "Kok kayak kantong belanjaan gitu bahannya? Tipis banget."
Wajah Karina memerah padam seketika. Dia menunduk, menyembunyikan tangannya di bawah meja karena malu. "Itu... beli di toko biasa kok, Mbak. Hadiah dari Ibu saya pas saya diterima magang."
"Pantesan," cibir Maya tanpa perasaan. Dia meletakkan sendoknya, lalu dengan sengaja menepuk tas kulit barunya (hasil perasan kartu kredit Arga minggu lalu) yang dia letakkan di meja dengan bangga.
"Kelihatan banget tipisnya, Rin. Kamu kan kerja di Lumina, perusahaan elit. Mbok ya penampilan di-upgrade dikit. Malu dong sama klien kalau tasnya dekil gitu. Tas itu investasi lho."
Karina terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Tas itu sangat berharga baginya, pemberian ibunya yang bangga anaknya bekerja di gedung tinggi. Hinaan Maya terasa sangat menyakitkan.
Nadinta melihat tangan Karina yang gemetar di bawah meja. Darahnya mendidih melihat kekejaman Maya yang tidak perlu itu. Dia meletakkan garpunya dengan tenang, namun suaranya berubah menjadi lebih tegas.
"Maya," panggil Nadinta lembut namun mematikan.
"Ya, Beb?" Maya menoleh dengan wajah polos.
"Karina direkrut di sini karena otaknya, May. Bukan karena tasnya," ucap Nadinta santai, tapi matanya menatap Maya tajam, mengunci pandangan wanita itu.
"Laporan dia selalu rapi, tepat waktu, dan akurat. Itu jauh lebih penting buat perusahaan daripada merek tas yang dia tenteng."
Nadinta menatap mata Maya lurus-lurus, memberikan tekanan psikologis.
"Tas kanvas itu fungsional kok. Kuat, muat banyak dokumen. Menurutku, itu pilihan cerdas buat anak magang yang sering mondar-mandir dan kerjanya beneran."
"Lagian, banyak lho staff tetap yang pake tas mahal tapi kerjanya nggak becus."
Wajah Maya berubah merah padam. Dia merasa disindir, apalagi dia tahu kinerjanya sendiri di kantor sangat buruk—lambat dan sering salah input data.
"Y-ya... aku kan cuma kasih saran, Nad. Biar dia lebih oke aja penampilannya," bela Maya gagap, mencoba tertawa sumbang untuk menutupi rasa malunya. "Maksud aku baik kok, biar dia nggak diketawain orang."
"Iya, aku tahu maksud kamu baik kok," Nadinta mengangguk, memutus perdebatan itu, lalu beralih menatap Karina sambil tersenyum hangat.
"Udah, nggak usah dipikirin, Rin. Tas kamu bagus kok. Saya suka warnanya, netral dan klasik."
Karina mengangkat wajahnya, menatap Nadinta dengan rasa terima kasih yang mendalam. Air mata yang tadi menggenang perlahan surut. Dia merasa dibela oleh seniornya.
Nadinta kemudian melihat jam tangannya.
"Oke, waktu istirahat sudah hampir habis. Ayo, Rin. Kita harus kembali ke ruangan," kata Nadinta sambil berdiri dan membereskan kotak bekalnya dengan efisien.
"Lho? Kok buru-buru? Aku kan baru makan setengah!" protes Maya, mangkuk baksonya masih penuh. "Kalian tega ninggalin aku sendirian?"
"Silakan lanjutkan makannya, May. Santai saja," kata Nadinta ramah.
"Tapi ingat ya, jam satu teng saya butuh draft laporan yang kemarin kamu kerjakan sudah ada di meja saya. Masih ada beberapa poin yang harus diperbaiki sebelum meeting sore sama Pak Rudi. Jangan telat lagi ya."
Nadinta memberi isyarat pada Karina untuk ikut.
"Ayo, Rin. Kita lanjutin diskusi materi presentasi buat besok. Saya butuh bantuan kamu buat cek data terakhir."
Nadinta berjalan pergi meninggalkan meja itu dengan langkah ringan, diikuti Karina yang berjalan dengan punggung lebih tegak.
Maya ditinggalkan sendirian dengan bakso yang masih panas dan harga diri yang tergores parah. Dia membanting sendoknya ke mangkuk, menimbulkan cipratan kuah ke baju barunya.
"Sialan!" umpat Maya pelan, menatap punggung Nadinta dengan benci.
Dia mengeluarkan ponselnya dengan kasar, mengetik pesan marah-marah kepada Arga—satu-satunya orang yang bisa dia jadikan tempat sampah emosinya.
Maya: Sayang, aku mau dinner sama kamu malem ini. Nggak mau tau, aku stress!
Maya tidak tahu, pesan itu akan menjadi pemicu berikutnya bagi kehancuran finansial Arga yang sedang duduk kelaparan di atas, memakan roti sisa rapat sambil menatap tagihan kartu kredit yang menumpuk.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/