Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kenes
"Tunggu di sini." Kang Guru Harjo sudah melangkah cepat ke kuncung pendopo. "Kau belajar dulu sendiri. Jangan kelayapan selama aku tidak ada. Aku akan kembali setelah—"
"Saya ikut, Guru."
Kang Guru Harjo berhenti, menoleh.
"Saya yang melihat perempuan itu langsung, Guru." Arjo melangkah maju, suaranya tegas. "Saya yang tahu persis bentuk matanya, tinggi badannya—semua detail yang mungkin penting. Kalau Ki Among Telik butuh keterangan, lebih baik dari saksi langsung, bukan?"
Sang guru memandangnya dengan tatapan menyelidik. "Kau terdengar sangat bersemangat."
"Ini soal keamanan Ndoro Gusti Bupati, Guru." Arjo berusaha memasang wajah serius. "Kalau memang ada kelompok pemberontak yang mengincar beliau, saya harus membantu sebisa mungkin. Bagaimanapun juga, saya yang jadi bayangan. Saya juga yang akan terkena serangannya."
‘Dan saya juga penasaran setengah mati dengan perempuan bermata kucing itu,’ tambahnya dalam hati.
Kang Guru Harjo masih memandangnya curiga.
"Kau yakin ini hanya soal keamanan? Bukan soal ... lainnya?"
"Guru, perempuan itu hampir membunuh saya. Menusuk, menendang, memukul. Saya tidak sebodoh itu tertarik pada orang yang ingin menggorok leher saya."
‘Bohong,’ bisik suara kecil di kepalanya. ‘Kau jelas-jelas tertarik.’
‘Diam,’ balas Arjo pada suara itu.
Kang Guru Harjo menghela napas.
"Baiklah. Ikut. Tapi jaga sikapmu di depan Ki Among Telik. Kau tahu betul dia seperti apa. Jangan bicara sembarangan. Jawab hanya yang ditanya. Mengerti?"
"Mengerti, Guru."
Arjo mengikuti langkah gurunya keluar pendopo, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.
Mereka berjalan menyusuri lorong gelap di sisi barat padepokan.
Bagian ini berbeda dari area utama yang ramai dengan suara latihan dan langkah kaki murid-murid.
Di sini, keheningan terasa berat. Lampu minyak yang menggantung di tiang-tiang kayu memancarkan cahaya redup, nyaris tidak cukup untuk menerangi jalan.
Bau tanah basah tercium kuat seiring embun malam yang semakin membasahi.
Arjo berjalan di belakang Kang Guru Harjo, langkahnya tanpa sadar semakin pelan semakin mendekati gandok Ki Among Telik.
Ia pernah mendengar cerita tentang tempat ini dari saudara-saudara seperguruannya.
"Jangan pernah berbohong di hadapan Ki Among. Dia bisa membaca pikiranmu seperti membaca buku terbuka. Matanya... seperti bisa menembus tulang."
Arjo menelan ludah.
Lorong berbelok tajam, lalu terbuka ke sebuah halaman kecil yang dikelilingi pagar bambu tinggi. Di tengah halaman, sebuah gandok berdiri—pavilion kayu dengan atap sirap yang rendah. Tidak ada ukiran. Tidak ada ornamen. Hanya kayu polos yang menghitam karena usia.
Di depan gandok, sebuah kolam kecil berisi air jernih. Tidak ada ikan. Tidak ada teratai. Hanya air yang memantulkan cahaya bulan—diam, tak bergerak, seperti cermin.
Dan di teras gandok, duduk seorang pria. Ki Among Telik.
Arjo tidak tahu persis berapa usia pria ini. Wajahnya kisaran lima puluh, atau mungkin lebih tua, tidak ada yang tahu, dan tak satu pun punya nyali untuk bertanya.
Kulit keriput seperti kulit kayu tua, tapi tubuhnya tegap tanpa bungkuk. Wajahya sangat serius, tipikal orang yang tak butuh manusia lain untuk tetap bahagia.
Pakaiannya sederhana, kemeja hitam kerah pendek dan celana sebetis warna senada. Tidak ada senjata yang terlihat. Tapi yang paling mengganggu adalah matanya.
Hitam sepenuhnya. Pupil dan iris menyatu dalam kegelapan yang sama, seperti dua lubang yang menelan cahaya. Mata yang tidak berkedip, atau begitu jarang berkedip sampai terasa tidak wajar.
Mata itu kini tertuju pada mereka. Arjo merasakan tubuhnya membeku.
‘Seperti ditatap ular, pikirnya. Ular yang sedang menimbang apakah kau cukup enak untuk dimakan.’
Kang Guru Harjo berhenti di tepi kolam, membungkuk hormat.
"Ki Among. Mohon maaf mengganggu malam-malam."
Tidak ada jawaban.
Ki Among Telik hanya menegakkan punggung, mengisyaratkan mereka untuk mendekat.
Kang Guru Harjo melangkah maju, menyusuri batu-batu pipih yang tertata di atas kolam. Arjo mengikuti di belakang, berusaha tidak melihat ke bawah—ke air hitam yang memantulkan wajahnya sendiri dengan distorsi yang aneh.
Mereka berhenti di teras gandok, tetap berdiri. Tidak ada yang menawarkan mereka duduk, dan tampaknya tidak ada yang mengharapkan mereka duduk.
Hening.
Ki Among Telik memandang Kang Guru Harjo. Lalu memandang Arjo, dan kembali ke Kang Guru Harjo.
Kang Guru berbicara, "Mengenai kereta Gusti Bupati yang diserang siang tadi, Arjo punya informasi penting."
“Aku sudah mendapatkannya dari Tikno dan yang lainnya.” Ki Among Telik menjawab dengan nada datar, suara serak. “Termasuk tentang gadis itu dan bagaimana Arjo begitu yakin kalau dia perempuan. Aku baru saja melaporkannya pada Nyi Seger, untuk menambah pelajaran tentang sopan santun. Agar ilmu yang kita berikan, tidak dia gunakan untuk melecehkan lawan. Karena perempuan … meskipun dia lawan, tetap tidak pantas diperlakukan demikian. Pukulan tetap bisa dilancarkan pada bagian yang selayaknya dipukul, bukan di area yang tidak pantas.”
Arjo tertunduk dalam. ‘Pasti Dirno yang melapor, awas kau nanti,’ gerutunya dalam hati.
Ki Among Telik menghela napas panjang. “Bagaimana pemuda seperti ini nanti akan memimpin sebuah kadipaten. Aku khawatir yang dipikirkannya nanti hanya wanita dan wanita. Persis seperti para pendahulunya.”
Arjo mengerutkan kening, ‘Pendahulu? Siapa?’
Hening lagi.
Ki Among Telik masih menatapnya, wajah tanpa ekspresi. “Bagaimana perempuan itu? Informasi apa yang luput dariku?”
Arjo membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Tatapannya masih tertunduk.
Kang Guru Harjo mengambil alih dengan cepat. "Arjo mengenali ciri-ciri perempuan itu. Kami menduga …," Ia mengeluarkan foto Agnes dari saku beskap-nya. "Ini orangnya."
Ki Among Telik menerima foto itu, memandangnya hanya sekilas, tidak lebih dari dua detik.
"Kenes nama Jawanya." Nama itu keluar dari mulutnya seakan ia sudah mengenalnya sejak lama. "Anak Sariyem."
"Gadis ini …," Ia berhenti sejenak, mata hitamnya memandang kosong. "Sama sepertimu, Arjo. Sama-sama muda. Sama-sama senang seenaknya sendiri. Tidak bisa diatur. Kepala keras."
Arjo melirik sengit. ‘Aku tidak seenaknya sendiri. Aku hanya—’
Ki Among sontak menoleh padanya, dan Arjo buru-buru menunduk lagi, wajahnya berganti datar.
"Kenes ini ...." Ki Among melanjutkan, suaranya tetap seperti gesekan batu kering, "sebenarnya sudah pernah tertangkap polisi kolonial."
Mata Kang Guru Harjo melebar. "Tertangkap?"
"Beberapa kali. Terlibat perampokan, melukai seorang serdadu Belanda. Semua tuduhan serius. Cukup untuk membuatnya digantung atau dibuang ke Digoel."
"Tapi dia masih bebas." Arjo bergumam tanpa sadar.
"Dilindungi ayahnya." Ki Among menatap tajam "Van Linden punya pengaruh besar. Setiap kali Kenes tertangkap, ayahnya turun tangan. Tuduhan dihapus. Saksi dibungkam. Catatan dimusnahkan. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa."
‘Enak sekali jadi anak pejabat tinggi. Berbuat onar sesuka hati, ayah yang membereskan.’
"Tapi—" Ki Among mengangkat tangan, jari telunjuknya teracung, "tidak pernah ada laporan dia bergabung dengan kelompok begal tertentu. Tidak pernah ada catatan dia terlibat penyerangan terorganisir seperti yang terjadi pada kereta bupati hari ini."
Kang Guru Harjo mengerutkan dahi. "Jadi ini pertama kalinya?"
"Atau pertama kalinya ia ketahuan." Ki Among memandang foto Kenes lagi. "Ini menarik."
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo