Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
'Sialan, tenanglah Casey, jangan sampai kau kalah dengan pria ini!' seru Casey, mencoba untuk tetap tenang.
Walau sebenarnya jantungnya berdegup amat kencang sekarang. Casey tiba-tiba merinding, sebab Jayden melirik ke arah dadanya dengan senyum yang tampak mencurigakan sekarang.
Secepat kilat Casey menutup aset berharganya dengan menyilangkan tangan di dada.
'Apa kau?!' Melalui gerakan mata, Casey menggertak Jayden.
Jayden malah memperlihatkan senyumannya yang penuh makna. Casey semakin menatap tajam suaminya itu.
"Jayden, bantu Tarno pindahkan pakaian Casey ke kamarmu sekarang!" perintah Mayang seketika. Diam-diam memperhatikan interaksi Jayden dan Casey dengan mata menyipit.
Jayden bergegas menoleh ke arah Mayang sambil beranjak dari tepi ranjang. "Apa harus aku, kan ada asisten yang lain Nek, aku capek, mau ke dapur dulu ambil air putih sekaligus berenang sebentar ke kolam berenang."
Tanpa mendengar balasan Mayang, Jayden melangkah cepat pergi keluar kamar, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
"Astaga anak itu ...." Mayang kehabisan kata-kata dan hanya mampu menatap kepergian Jayden dengan dengkusan kesal.
Selepas kepergian Jayden, Mayang segera menghampiri Casey kemudian duduk tepat di sampingnya. Casey langsung memasang wajah sedih, masih bersandiwara di hadapan Mayang.
"Casey, atas nama Jayden, Nenek minta maaf ya, Nenek nggak menyangka cucu Nenek yang satu itu, nekad banget buat kamar terhubung ini, padahal kalian sudah menikah eh tapi dia malah memperlakukanmu semena-mena," kata Mayang, dengan penuh kelembutan.
Hingga membuat Casey jadi ikutan sedih, padahal dia sedang berakting sejak tadi.
"Iya Nek, nggak apa-apa kok." Casey mangut-mangut sambil tersenyum hambar.
"Sebenarnya Nenek itu mau jodohin kau sama abangnya Jayden tapi dia itu jarang ada di Indonesia, suka berpetualang gitu, jiwanya bebas, maksud Nenek jodohin kau sama Jayden, biar kalian sama ngerti sama kerjaan, karena profesi kalian kan sama," celetuk Mayang seketika. "Kalau tahu gini Nenek jodohin kau sama–"
Mendengar penuturan Mayang, Casey mengerjap singkat dan langsung menyela. "Oh begitu, Nek maaf aku boleh tanya, apa Nenek yang membuat aku bisa kerja di rumah sakit yang sama dengan Jayden."
"Iya dong! Tentu saja," balas Mayang dengan penuh semangat.
'Ish, pantas saja!'
Casey hanya dapat membalas kekesalan itu di dalam hatinya sekarang dan melempar senyum hambar pada Mayang.
Satu jam kemudian, kamar di sebelah Jayden sudah berserakan dengan puing-puing semen. Tarno dan para asisten telah menyelesaikan perintah Mayang. Kini, Mayang pun hendak pulang ke rumahnya. Jayden telah dinasihati Mayang lagi tadi ketika Casey memakai pakaian tidurnya di kamar.
"Jayden, kau dengar kan kata Nenek tadi?" Berdiri di teras rumah, Mayang melototkan mata ke arah Jayden seketika.
Jayden terlihat bosan, sebelum menjawab, dia menghela napas sejenak. "Dengar."
"Apa?" Mayang terlihat masih kesal pada Jayden.
"Perlakuan istrimu dengan baik, mencoba untuk belajar mencintainya, dan jangan sakiti hatinya," kata Jayden dengan nada datar tapi matanya melirik ke arah Casey dengan sorot mata tajam sekilas.
"Hm, awas saja kau melanggar." Mayang mengalihkan pandangan ke arah Casey seketika, tatapannya jadi lebih hangat sekarang.
"Casey Nenek pulang dulu ya, kalau Jayden masih bersikap dingin atau pun galak denganmu katakan saja pada Nenek," sambungnya.
Casey mengangguk semangat. "Siap Nek."
Selesai pamit undur diri, Mayang pun bergegas melangkah menuju mobil. Di mana sang supir sudah siap sedia membuka pintu kendaraan.
Setelah mobil Mayang hilang dari pandangan. Jayden seketika menarik cepat tangan Casey menuju tangga.
Tentu saja Casey terlihat terkejut sekaligus panik. "Jayden, kau mau apa?! Lepaskan tanganku!"
Jayden enggan menanggapi, seolah-olah tuli dia menyeret paksa Casey sampai ke lantai dua, tepatnya di kamar Jayden yang menjadi milik mereka bersama sekarang.
Begitu pintu terbuka lebar. Kepanikan Casey bertambah dua kali lipat, karena Jayden menghimpitnya ke dinding sambil meraih pinggangnya.
"Kau mau apa?!" tanya Casey, setengah berteriak.
"Menurutmu sendiri? Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Jayden tersenyum penuh arti.