Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketenangan ditengah badai
Disisi lain, Aruna mencari Faisal disekolah namun tak kunjung bertemu. Aruna tak tahu penyebab Faisal tak masuk sekolah, tapi ia mengerti. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Sepulang sekolah, Aruna mendatangi Markas biasa Faisal berkumpul di belakang sekolah, berharap ia menemukan nya disana.
Benar saja, dikejauhan Aruna melihat Faisal sekilas sedang duduk sendiri di bangku panjang. Aruna bergegas mendekati.
" Aku membelikan ini untukmu." Suara lembut yang tak asing bagi Faisal.
Aruna menyodorkan sebuah gelas kap berisi kopi panas dengan foam art berbentuk hati yang terlihat canggung.
Faisal mendongak, wajahnya sedikit terkejut.
" Aruna?... Ngapain kesini?"
" Tadi disekolah, aku ga liat kamu. Aku tau kamu pasti ada disini." Aruna tersenyum.
Mereka duduk berdampingan di kursi panjang. Faisal mencicipi kopi itu, matanya mulai menyipit, tanda ia benar benar menikmatinya. "
" Tuh,kan. Kamu keliatan lebih tenang sekarang. Eh, btw. Tumben kamu sendirian, yang lain kemana?" Tanya Aruna penasaran.
" Aku ... Baru aja bikin mereka marah. Mereka ga bisa Nerima perubahan yang terjadi belakangan ini. Mereka ngira aku lupain mereka."
Aruna menggeser posisi duduknya, menatap Faisal dengan serius. " Cuman karena itu alesannya? "
" Ya, mungkin. mereka ngira aku sekarang jadi lemah. "
Aruna menatap Faisal lekat lekat.
" kekuatan terbesar, bukan waktu kamu bisa berantem ngalahin orang lain. Tapi waktu kamu punya kekuatan buat menghancurkan, tapi kamu milih buat membangun. Kamu milih jadi lebih baik, dan itu butuh banyak keberanian. Kamu tenang aja, suatu saat nanti mereka bakal paham sama apa yang ada di pikiran kamu."
Perkataan Aruna selalu memiliki kekuatan aneh yang bisa melegakan beban di bahu Faisal.
" Kamu selalu punya kata kata yang tepat. " bisik Faisal.
" Aku bisa liat badai Dimata kamu, Sal. Tapi di baliknya, aku juga ngeliat kamu yang berusaha buat bersinar ngalahin badai itu." Aruna tersenyum kecil.
Saat itu Faisal tahu, ia benar benar jatuh cinta pada ketenangan Aruna, yang mampu meredam kekacauan dalam dirinya. Ia meraih tangan Aruna, lalu ia lepaskan kembali karena canggung.
" Aku bakalan terus berjuang buat lebih baik, Na. Aku janji."
Aruna mengangguk diiringi senyuman bangga.
Hubungan dekat mereka tak luput dari perhatian lingkungan sekolah, gosip tentang mereka beredar sangat cepat. Si berandalan Faisal kini berhasil dijinakkan oleh si kutu buku Aruna, kurang lebih seperti itu tanggapan orang orang yang tak suka dengan hubungan mereka. Bahkan, sebagian besar menganggap Aruna bodoh karena mau berpacaran dengan Faisal si trouble maker.
Suatu hari, saat jam istirahat. Faisal duduk dikantin, memandangi Aruna dari jauh. Tak berani mendekati Aruna yang sedang dikelilingi teman temannya yang gila belajar. Ia tahu ia tak akan diterima dilingkaran itu.
Tiba tiba Faisal mendengar tawa keras dari meja sebrang. Tiga gadis populer dari angkatan Faisal. Dipimpin oleh Riana si ratu gosip, mereka tertawa menyindir Aruna.
" Oh, jadi itu. Cewe yang berhasil bikin jinak si panglima perang! " Cibir Riana, agak berteriak agar terdengar. " Cewe aneh, sok baik. Kenapa mau mau nya pacaran sama Faisal, apa karena pengen dapet simpati publik?!"
" Mungkin dia pikir, dia bisa merubah Faisal jadi lebih baik. Tapi kasian deh, nanti malah dia yang babak belur karena maksa masuk ke dunianya Faisal." timpal salah satu teman Riana.
Aruna yang pendiam hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba mengabaikan sindiran Riana dan teman temannya. Tapi Faisal, dia tak bisa menahan diri lagi. Darahnya mendidih, ini adalah wilayah kekuasaannya. Melindungi orang yang ia sayangi. Faisal bangkit, melangkah cepat menuju meja Riana, matanya menyala dengan amarah yang familiar. Namun, sebelum Faisal sempat melancarkan kata kata ancaman atau bahkan membalikan meja, sebuah suara lembut menghentikannya.
" Cukup, Sal."
Itu Aruna, ia berdiri menghadap Riana. Kedua tangannya memegang buku tebal, wajahnya yang biasanya terlihat tenang kini menunjukan keberanian yang tak pernah Faisal lihat sebelumnya.
" Kalian boleh mengkritik ku. Tapi jangan pernah sebut orang yang aku pedulikan sama kata kata ga pantas. " kata Aruna, suaranya pelan tapi tegas. menarik seluruh perhatian penghuni sekolah yang ada dikantin.
Riana terkejut.
" Waw, si pendiam bisa marah juga akhirnya. Kenapa? Lu tersinggung? emang bener,kan?"
Aruna tak membantah. Ia hanya menatap Riana dengan tatapan matanya yang kembali teduh.
" Tersinggung adalah emosi, memilih diam adalah kekuatan." Jawab Aruna, " aku ga perlu membalas kata katamu dengan kata kata kasar. Aku akan membalasnya dengan kebahagiaan yang gabisa kalian miliki."
Kemudian, tanpa menunggu jawaban. Aruna berjalan ke arah Faisal, yang terpaku di tengah tengah kantin. Aruna meraih tangannya, menggenggam erat, didepan puluhan pasang mata yang terkejut.
" Ayo, Sal. " Ajak Aruna. Tatapannya seakan berbicara.
- Jangan gunakan kekerasan, aku disini, disampingmu.
Faisal merasakan kehangatan dan keberanian dari genggaman tangan Aruna. Amarahnya mereda, ia menyadari bahwa kekuatan Aruna terletak pada keheningannya, yang jauh lebih efektif daripada kekerasan fisik.
Faisal tak menghajar siapapun hari itu. Ia membiarkan orang lain melihat untuk pertama kalinya, bahwa hatinya telah memilih perdamaian. Ia mengangguk pada Aruna dan keluar dari kantin yang kini menjadi sunyi, meninggalkan Riana dan teman temannya yang tercengang karena keberanian gadis yang ia anggap pendiam.
Di koridor sepi, Faisal berhenti dan menatap Aruna.
" Kamu baru aja menyelamatkan nyawaku, dan mungkin nyawa orang lain. " gumamnya.
Aruna tersenyum tulus. " aku tau kamu mau lindungi aku, tapi aku pengen kamu tau, aku juga bisa lindungi kamu dari diri kamu sendiri. "
Dibawah cahaya terik matahari yang mulai merembes masuk dari celah ventilasi, dua jiwa yang berlawanan itu menemukan kesamaan tak terduga. Rumah, Faisal menemukan ketenangan dalam badai kehidupan yang biasa ia hadapi, Aruna menemukan suaranya ditengah kekacauan yang ia cintai.
Mereka berdua duduk di koridor sambil menunggu bel masuk berbunyi.
" Eh, Na. Sore jalan yuk?" ajak Faisal.
Aruna memandang wajah Faisal, sedikit cemberut.
" Kenapa, Na? Kamu gabisa? "
" Iya, aku gabisa. Aku mau ngerjain tugas kelompok di rumah temen aku, Maaf ya. " Jawab Aruna dengan nada lesu.
" Yaudah biar aku jemput kamu ya pulangnya. Kamu mau kan? "
Aruna menganggukan kepala.
" Kalo kamu ga sibuk, ya gapapa. Malah aku senang, jadi ga harus jalan kaki." Aruna tersenyum.
" Apa sih yang lebih penting di hidup aku selain kamu,Na. seneng karena ga harus jalan kaki, apa seneng karena bisa berduaan sama aku di motor? " Faisal tersenyum.
" Apaan sih, Sal." Aruna memalingkan wajahnya yang Kini memerah karena malu.
" Yaudah, kalo gitu. Sampai ketemu nanti ya, Na. Aku mau ke kelas dulu. Ada hal yang harus aku beresin. " Ucap Faisal.
" Iya. Thank ya, Sal."
Faisal mendekatkan wajahnya ke Aruna, lalu mengecup dahi Aruna dan pergi menuju kelasnya.
Aruna terkejut, melihat ke kiri dan kanan memastikan tak ada satu orang pun yang melihatnya. Lalu ia bergegas menuju kelas dengan langkah sedikit tergesa diiringi senyum kebahagiaan.