Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keduanya menatapku dengan tatapan yang berbeda. Aku pun hanya bisa tertawa sumbang, “Bercanda, Ra.”
“Ekhem, nggak bercanda juga nggak papa.” kata kak Jonie malu.
Aira pun jadi tersipu.
Aish! Tadi matanya melotot ke arahku padahal.
Kak Jonie mengulurkan tangannya ke depan Aira, “Perkenalkan, namaku Raden Putra Adikara Pratama Althaf Widyatmaka Hadiningrat. Memiliki IQ 148. Aku dokter spesialis Obgyn.”
Untuk kedua kalinya Aku melongo dengan cara Kak Jonie memperkenalkan diri, persis seperti dia berkenalan denganku tempo hari.
Aira pun menyambut tangan Kak Jonie dan menyebutkan namanya juga profesinya. Memang cocok sekali mereka berdua. Andaikan Suga memang suami Aira, sudah Aku adukan kalau istrinya memiliki rencana selingkuh.
Aku mendengus.
“Eh—” Aku tersentak ketika tali tas ku ditarik seseorang dari belakang.
“Kerja!” katanya dan menyeretku sampai ke depan lift.
“Loh dok, kenapa Aku naik lift? Ruanganku di lantai satu.”
Dia semakin mengencangkan genggamannya di tali tasku, “Mulai hari ini kamu jadi asistenku.” ucapnya enteng.
Apa?
“Tapi—”
Pintu lift terbuka, dia kembali menarikku hingga masuk ke dalam lift. Dan Aku diletakkannya berdiri paling pojok.
“Pagi, dok.” sapa setiap orang yang masuk ke dalam lift.
Manusia kulkas di depanku ini hanya membalas dengan anggukan. Aku tidak bisa melihat siapa saja orang-orang yang menyapanya, sebab tubuh mungilku tenggelam tertutup tubuh tinggi manusia masker.
Semakin lama lift semakin penuh, Aku pun semakin terhimpit. Tiba-tiba mas dokter berbalik, Aku semakin merapatkan tubuhku di dinding lift yang berbahan kaca.
Aroma maskulin berasal dari tubuhnya menusuk hidungku, Aku mendongak untuk melihat wajahnya sekilas. Jantungku jadi berdebar kencang, Aku yakin dia bisa merasakan debaran jantungku karena tubuh kami yang hampir tak berjarak. Dalam hati Aku tidak berhenti mengingatkan diri sendiri; Aku wanita bersuami, Aku istri orang, tidak boleh naksir sama siapapun kecuali Kim Taehyung. Karena dia suami pertamaku.
Tapi lelaki itu bahkan terlihat acuh seolah tidak terjadi apapun.
Sedangkan Aku menahan napas selama dalam perjalanan. Karena lift yang terlalu penuh, membuat lift berjalan lebih lambat.
Ting! Akhirnya pintu lift terbuka. Mas dokter keluar lebih dulu.
Hah! Aku menghirup napas banyak-banyak.
“Loh ternyata ada Dinda.” ucap kepala administrasi saat Aku melangkah keluar dari pintu lift. Dia tidak menyadari bahwa Aku ada di dalam kotak berjalan itu. Tapi Aku tahu dia ada di dalam rombongan lift, karena Aku mendengar suara dia yang bercerita paling heboh.
Aku pun menyapanya.
“Kebetulan bertemu di sini. Din, mulai hari ini kamu jadi asistennya dokter Aydan ya.” ujar seniorku itu.
Aku tertegun, “Kenapa, mbak? Apa pekerjaan Dinda sebagai admin kurang memuaskan?”
Dia menggeleng dan tersenyum tipis, “Bukan, kinerja kamu sudah lumayan walaupun baru dua hari kerja. Tapi kebetulan asisten dokter Aydan resign, dan salah satu bagian administrasi dari cabang Sudirman dimutasi ke rumah sakit ini, jadi sesuai permintaan dokter Aydan, beliau ingin kamu yang jadi asistennya.”
Dia menepuk pelan pundakku, “Selamat bekerja ya. Hati-hati dokter Aydan orangnya galak, asistennya nggak ada yang kerja lebih dari dua bulan.” bisik kepala Administrasi.
Glek!
Kenapa junior sepertiku di masukan ke dalam kandang singa?
Aku seketika melemaskan bahu setelah seniorku itu masuk lagi ke dalam lift untuk turun. Aku berjalan gontai menuju tempat baruku.
Berkali-kali Aku menghela melihat calon meja kerjaku yang berada tepat di depan ruangan dokter itu.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka.
“Masuk!” titahnya. Aku pun menurut.
“Selamat datang,” katanya setelah menutup kembali pintu, mas dokter Kim Taehyung kw mengulurkan tangan kanannya di depanku, membuat Aku mengerjap.
Dia yakin?
Sedikit ragu Aku menyambut tangan itu, dan dia langsung menggenggam erat tanganku.
“Selamat bekerja, mari bekerja sama dengan baik.” katanya tegas.
Aku hanya mengangguk. Lalu melihat tangan kami yang tertaut.
Dia tidak salah?
Aku menarik kembali tanganku. “Terima kasih, dok.” ucapku. “Mohon bimbingannya.”
“Silahkan,” dia mempersilahkan Aku untuk duduk di sofa tempat biasa kami makan siang, “Saya akan menjelaskan apa saja yang akan kamu kerjakan sebagai asisten dokter.”
Aku mengangguk dan lagi-lagi menurut.
“Ini adalah tugas-tugasmu sebagai asistenku, silahkan dibaca!” dia duduk di hadapanku dan meletakkan sehelai kertas di atas meja.
“Berikut tugas asisten dokter, yaitu mengelola antrean dan memanggil pasien masuk, melakukan pendaftaran atau verifikasi berkas pasien atau rekam medis, pemeriksaan vital sign awal dalam kurung tensi, berat badan, suhu—”
“Untuk itu biar dokter yang melakukan, karena seratus persen pasienku laki-laki, lagipula kamu tidak mengerti ‘kan?” dia menyela, “Lanjut.”
Aku mengangguk dan melanjutkan, “Menjawab telpon dan menjadwalkan janji temu, menyiapkan peralatan medis yang dibutuhkan dokter.”
“Cukup, untuk sementara itu saja dulu, silahkan pelajari dan pahami.” ujarnya.
“Baik, dok.”
“Satu lagi.”
“Ya?”
“Setiap jam istirahat kamu juga harus ikut denganku kemana pun Aku pergi, dan kamu juga tidak boleh pulang sebelum Aku pulang kecuali atas izinku.”
Sontak mataku membola. Pantas saja tidak ada asistennya yang betah.
“Mana ada kayak gitu, dok. Aku lihat mbak-mbak asisten dokter yang lama nggak pernah tuh ikut kemana pun dokter pergi. Kok Aku dikasih tugas lebih banyak sih? Aku nggak mau, Aku mau balik ke admin aja.” protesku tidak terima, Aku hendak berdiri tapi ucapan mas dokter berikutnya membuatku urung.
“Aku akan tambah gajimu, berapa pun kamu mau.”
“Nah itu boleh tuh. Deal!” Aku mengajaknya berjabat tangan.
Dia menatap sesaat dan langsung menyambutnya.
“Sudah jangan lama-lama, dokter jangan lupa Aku ini wanita bersuami.” ucapku melepaskan tautan tangan kami.
Dia hanya menyunggingkan sebelah bibirnya.
Dih!
Sepertinya dia masih berpikir kalau Aku cuma bercanda. Dasar!
Tunggu aja nanti undangannya!
\*
Sudah kesekian kalinya Aku melihat jam, Aku merasa hari ini hari berjalan lebih lambat. Biasanya waktu dzuhur dan ashar itu tidak terasa, tau-tau adzan. Berbeda seperti hari ini, apa karena Aku hanya bekerja sendirian?Sebab jika di ruang admin, Aku banyak teman bicara. Mana perutku sudah mulai keroncongan, beruntung yang di dalam ruangan mas dokter pasien terakhir.
Brak!
Astaghfirullah!
Aku hampir saja terpelanting dari kursi.
Mamanya Bagas menggebrak meja kerjaku, jenis manusia apa orang ini? Kenapa suka sekali menggebrak meja, untung bukan meja kaca. Batinku.
“Ada yang bisa dibantu, Tante?” tanyaku ramah.
“Nggak usah basa-basi, semua gara-gara kamu, Dinda. Kamu harus bertanggung jawab. Gara-gara kamu anak saya jadi depresi dan tahanan!” teriaknya histeris dan berhasil memancing atensi orang-orang dilantai lima.
“Tapi Dinda nggak melakukan apapun, Tante.”
Dengan mata merah melotot, dia mendekatiku. Dia mencubit pipiku yang dibalut plester. Serangan sederhana, tapi berhasil membuat lukaku kembali mengeluarkan darah.
Awh! Aku memejamkan mata menahan sakit.
Melihatku berusaha melepaskan tangannya, dia menambah tekanan di pipiku. Semua orang pun membantu menjauhkan mamanya Bagas dariku. Entah setan jenis apa yang sudah menguasai wanita paruh baya itu, tenaganya begitu kuat. Bahkan kini tangannya berada di leherku, dia mencekikku.
“Katakan kalau kau akan bertanggung jawab!” bentaknya.
Air mataku langsung menetes. Ah, Aku benci dengan diriku sendiri. Aku pasti terlihat sangat lemah saat ini.
“Katakan, Dinda!”
Suaranya semakin meninggi, mas dokter pun keluar dari ruangannya, “Astaghfirullah! Ada apa ini?” dia pun membantuku menjauh dari mamanya Bagas.
“Lepaskan!” bentak mas dokter, wajah lelaki itu juga terlihat begitu mengerikan.
“Diam! Ini urusanku dengannya!” cekikannya di leherku semakin kuat, membuatku kesulitan bernapas.
Aku tahu mas dokter menahan diri agar tidak menyakiti wanita paruh baya ini, Aku melihat sekilas rahangnya yang mengeras.
“Kalau tidak mau bertanggung jawab, lebih baik kau mati saja Dinda!” mamanya Bagas pun semakin kesetanan.
“Bu sadar, Bu. Gadis ini benar-benar bisa mati.” kata salah satu orang yang melerai.
“Bu, kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik.”
“Tidak!” jawabnya.
“Lepaskan tangan anda, anda bisa membunuhnya!” ucap mas dokter. “Anda bisa di penjara bersama anak anda!” katanya lagi.
Ucapan mas dokter terakhir kali berhasil membuat mamanya Bagas merenggang cekikannya di leherku. Kini dia berlutut di hadapanku dan menangis, menangis pilu.
Sedangkan Aku terkulai dalam pelukan mas dokter, jika saja Aku memiliki fisik yang lemah, Aku pasti sudah pingsan saat ini.
Mamanya Bagas menangkupkan tangannya di depan dada, “Dinda, mama mohon. Bagas anak satu-satunya mama. Dia harapan mama, tolong—”
“Tolong menikahlah dengan Bagas.” dia memohon.
“Mana mungkin anda meminta orang lain untuk menikah dengan nara pidana?” kata mas dokter sarkas. “Dimana satpam? Amankan wanita ini!”
Mamanya Bagas tersentak seolah ada sesuatu yang merasukinya, dia menatap tajam mas dokter, “Asal kau tau, anakku jadi nara pidana juga karena perempuan murahan ini!” dia kembali ingin menyerangku, namun satpam lebih dulu menangkapnya.
“Lepas! Lepaskan Aku!” mamanya Bagas memberontak saat dibawa oleh satpam.
Tubuhku tiba-tiba terasa melayang, ternyata mas dokter menggendongku dan akan membawaku ke ruangannya.
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍