Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Titik Nadir
Musim hujan pertama di musim semi, hujan dengan rintik merdu membasahi setetes demi setetes jatuh tak beraturan ke bumi. Awan gelap menyelimuti desa. Beberapa cerobong asap penuh dengan asap menghangatkan beberapa rumah. Api dipenuhi dengan bara yang memerah menghanguskan batang demi batang yang kelak menjadi arang lalu memutih jadi debu.
Mata Rona menatap tumpuan kayu pada corong asap ruang tamu kediamannya, membaca surat kabar dan sesekali meminum coklat panas menikmati rintik sendu yang menghilir jatuh merembes kedalam tanah. Tetesan-demi tetesan membasahi bumi, tamanan pun tampak subur karenanya.
Rona yang kala itu duduk diantara kursi berselimutkan syal rajut buatan ibunya dulu. Matanya tak beralih membaca serta membuka lembar demi lembar surat kabar tersebut.
Adakalanya matanya terpejam dan diam sementara seperti berfikir untuk tidak memikirkan apapun. Hening dan tenggelam memejamkan mata mendalam.
Pernah tidak kalian termenung memikirkan sesuatu tapi tidak memikirkannya? Kukira aku saja. Rona menutup matanya dan terlelap dalam balutan baju tidur dan berselimutkan kain rajutan ibunya dan hanya kain itu yang tersisa dari bau tubuh seseorang yang tak dapat ia lupakan.
Flashback saat Rona berumur tujuh tahun. Kala itu rambut Rona sedang disisir lembut oleh ibunya, matanya sangat menenagkan jika dilihat ada teduh yang tidak bisa disampaikan lewat kata jika ingin diungkapkan.
“Ibu, mengapa aku tidak boleh mengatakan pada siapapun bahwa aku bisa mencium bau dari wangi seseorang?” Tanya gadis itu yang tak lain adalah Rona kecil dengan mata besar dan senyum yang berbinar.
“Ada kalanya kita harus menyembunyikan kemampuan kita sayang.” Wanita itu telah selesai mengikat rambut bagian atas rona di bagian kanan dan kiri membentuk kepangan kecil dan membiarkan sebagian rambutnya terurai.
Rona menatap dirinya di dalam kaca dan menoleh sedikit ke samping menatap karya ibunya dalam menghiasi rambutnya.
“Baiklah sudah selesai,” Ibunya yang terduduk lalu berdiri. Gadis kecil itu memeluk Ibunya.
“Aku tak mengerti maksud ibu, tapi untuk rambut ini terimakasih.” Peluk Rona menghangat dalam dekapan Ibunya.
“Nanti kau juga paham sayang.” Ibunya Rona mengelus kepala putri kesayangannya itu.
Kembali pada masa kini.
Langkah kaki datang menyusuri lorong gelap, cuaca saat itu amat dingin dengan gemuruh kilat yang beberapa kali menyambar. Malam itu begitu gelap, cerobong asap dari perapian sudah mulai menghilangkan hangatnya menjadi debu dan asap yang berterbangan.
Emily menarik selimut tersebut merapikannya ke tubuh Rona yang sedang terlelap menikati tidur yang ketidurannya di kursi soffa tempat ia dulunya sering dinyanyikan dan di tidurkan di pangkuan ibunya. Rindu memang membuat rindu, hanya kenangan yang melekat dan mendekap hingga ke seluruh tubuh.
Sofa itu sedikit miring ke arah perapian di bawahnya ada alas karpet bulat yang sedikit berbulu. Jika diinjak atau duduk di atasnya sangat hangat dengan motif bulat dan setengah lingkaran, motif biasa namun memiliki makna. Warnanya coklat dipadukan dengan warna coklat susu.
Emily hanya menatap Rona sekilas dan menambah beberapa batang kayu ke dalam cerobong asap perapian tersebut.
“Adikku ini sudah dewasa namun masih saja kekanak-kanakkan.” Emily berlalu dari ruangan tersebut dan menutup pintu perlahan.
Rona yang menyadari kedatangan Emily membuka matanya dan menghela nafas. Kembali menutup matanya dan mempererat selimutnya kedalam tubuhnya.
“Hangatnya.” Lalu tertidur begitu saja.
Esok paginya nya begitu cerah, cahaya matahari itu langsung menembus ke jendela ruang tamu kediaman White. Suara kicauan burung sudah terdengar. Air basah di taman maupun di dedaunan bunga sudah mulai mengering. Tercium aroma khas teh buatan Emily.
Sebuah roda troli memasuki Ruang tamu tersebut. Dengan bantuan Pelayan Emily yang membantu menyeduhkan segelas teh hangat di meja samping Rona tertidur.
“Pagi ini kau terlihat tidak bersemangat.” Emily membuka tirai dekat cerobong perapian tersebut.
“Ah sudah pagi ya.” Rona menguap lalu meregangkan tubuhnya lalu menyeduh teh yang ada di hadapannya.
“Setelah ini kau akan kemana?” Tanya Emily yang sudah duduk di depan kursi Rona.
“Aku akan ke desa sebelah kak, akan ada festival perayaan panen disana. Mungkin kita akan membuka stand untuk menjual beberapa angkur kita.” Rona menyeduh teh itu dengan perlahan lalu menghabiskannya dan meletakkan kembali ke tempatnya.
“Baiklah kalau begitu, apakah kau ingin ditemani?” Tanya Emily menetap Rona yang masih memegangi pipinya dengan tangan kanannya dengan mata sedikit dicipitkan tanda kalau gadis itu masih mengantuk.
“Nona air mandi anda sudah siap.” Ucap Rose dari balik pintu.
Rona langsung tersadar dan berdiri lalu mengikat rambutnya yang terurai.
“Kakak menyusul saja dengan kereta kuda, aku akan naik kudaku.” Rona membuka baju tidurnya dan menggantinya dengan baju mandi yang dibawakan Rose.
“Apakah kau terburu-buru?” Tanya Emily sambil mengangkat cangkirnya dan menyeduhnya perlahan.
“Ada seseorang yang ingin aku temui kak. Kau tidak perlu terburu-buru datang. Datanglah dengan beberapa kotak anggur. Aku akan segera menyiapkan tempat disana.” Rona berlalu dan berjalan melalui lorong mengikat pakaian mandinya memasuki Kamar mandi.
Lamunan Rona berlalu ketika Rose menuangkan sedikit air hangat ke bahu Rona.
“Apakah suhu airnya sudah cukup nona?” Tanya Rose sambil memasukan tangannya ke dalam bak mandi tersebut dan mengangguk.
“Sudah, tolong tambahkan parfum berry dan sekantong parfum bunga lily.” Pinta Rona.
“Baik nona.” Rose mengangguk dan berdiri mengambil sebuah kantong berisikan bunga Lily kering dan Buah Berry yang sudah diekstrak menjadi parfum dalam sebuah keranjang.
Setelah mengambilnya Rose mencelupkannya ke dalam bak mandi Rose dan tercium aroma yang diinginkan gadis itu. Wangi manis dan tidak terlalu menyengat. Aroma yang sedikit menenangkan. Rose berdiri dan menyiapkan pakaian untuk Nona mudanya tersebut.
Tibala saat Rose mengendarai kudanya menuju tempat festival yang akan diadakan selama seminggu penuh. Terlihat beberapa pedangan sudah mengambil tempat dan beberapa orang sudah menghiasi tempat itu dengan berbagai macam model dan juga lampu hias.
Tali dan juga bendera karnaval sudah terpasang menyilang di atas jalan sebagai penunjuk arah.
Tempat ini sangat begitu sibuk dengan banyaknya orang bergotong royong. Rona yang menarik kudanya berjalan memasuki tempat tersebut berjalan perlahan.
“Maaf permisi nona.” Ucap lelaki yang membawa keranjang besar melewati Rona.
Rona hanya tersenyum dan mengangguk dan berjalan kedepan. Terlihat sebuah tempat yang sudah disediakan penyelenggara.
Seorang lelaki bertubuh besar berdiri di hadapan Rona.
“Maaf nona permisi.” Seorang pria besar mengangkat beberapa batang kayu melewati Rona.
Rona menghampiri penyelenggara yang tak jauh darinya.
“Halo tuan saya Rona White.” Rona mengucapkan salam kepada lelaki yang bertubuh tinggi berkulit coklat dengan setelan jas berwarna hitam.
“Halo nona Rona. Maaf jika saya kurang melayani anda, seperti yang bisa kita lihat disini cukup banyak orang.” Tawa kecil lelaki itu.
“Tak apa tuan, bagaimana dengan tempat saya?” Tanya Rona sambil mengikuti langkah kaki lelaki itu yang sedang sibuk mengarahkan beberapa pemuda yang bekerja bersamanya.
“Mari ikuti saya nona, sambil saya bekerja mengarahkan beberapa orang sisini.” Lelaki itu sangat kompeten dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Langkah kaki lelaki itu cukup cepat karena ia harus mendata beberapa pedagang yang sudah datang dan menatap tempat agar terlihat bagus dan meriah. Sampailah pada tempat yang dituju.
“Ini tempat nona, di sebelahnya juga ada penjual makanan untuk cemilan. Cocok sekali jika dimakan bersama Anggur nona.” Lelaki itu menunjuk sebuah stan kosong dan stan makanan kecil di sebelahnya.
“Saya mengerti tuan, terima kasih sudah mengantar saya sampai disini.” Rona menarik kudanya dan menyangkutkan tali tersebut di tiang.
“Baiklah nona Rona, saya harus pergi melihat yang lainnya. Jika perlu sesuatu temui saja saya.” Lelaki itu tersenyum dan melambai ke arah Rona dan terus berjalan menyapa para pedagang dan bawahannya.
“Wah sungguh lelaki tua yang sangat rama. Ku harap segalanya berjalan lancar di musim semi pada festival kali ini.” Rona menatap sekeliling dan membereskan beberapa tempat yang sekiranya bagus untuk meletakan beberapa barang dagangannya.
Suasana begitu ramai namun tidak menyesakkan seperti biasa. Banyak tawa ceria dari banyak orang disana, seolah musim ini adalah sebuah keberuntungan yang menghampiri mereka.Sebuah selebaran jatuh tepat di kaki Rona. Seperti sebuah penawaran pembelian lahan yang cukup berguna.
“Cukup unik.” Gumam Rona dalam hati.
Kela jika ada sebuah pertemuan di suatu titik yang kacau akankah semuanya tidak berbelit kusut pada hadir yang tak tahu kapan akan bertemu.