Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fabio
" kamu kenapa sih Rin, beberapa hari ini nggak kayak biasanya, habis nikah kok sepet gitu mukanya, jangan bilang karena tidak dapat ijin bulan madu kamu jadi males malesan kayak gini."
Seperti biasa, kalau lagi senggang banget, Salsabila akan menyambangi mejanya untuk mengajaknya gibah, tapi kali ini sepertinya wanita itu lebih ingin merecokinya.
Andai Salsabila tau betapa bersyukurnya ia karena tidak mendapatkan cuti bulan madu itu, kalau sampai itu terjadi, ia pasti akan menderita seharian penuh dalam tiga hari karena Alvian pasti memiliki seribu cara untuk mengerjainya.
" apaan sih bu."
" eh ngomong-ngomong kamu sombong amat Rin, mentang-mentang Devan sudah mau memberimu kepastian, main gas aja nikah nya, mana nggak ngundang-ngundang lagi."
Arina tertunduk lesu, tangan yang sedari tadi gesit menari di atas keyboard mengendur tiba-tiba, wajah serius nya berubah masam, ia bukan tipe gadis yang pandai menyembunyikan masalah nya, meski ia tidak bercerita tapi semua orang akan tau hanya dengan melihat raut nya saja.
Salsabila adalah saksi hidup perjalanan cinta nya dengan Devan, bagaimana sulitnya Devan dalam memberinya kepastian, selalu ada jawaban yang tidak bisa dibantah nya saat ia bertanya tentang kelanjutan hubungan mereka.
Apalagi belakangan pria itu seperti sengaja bersikap dingin pada nya, ia mengira mungkin ia sudah melakukan kesalahan sehingga pria itu mendiamkan nya, tapi siapa sangka ternyata bukan dirinya yang bersalah tapi Devan yang sudah memiliki kekasih baru.
" kenapa? ada masalah? Kamu bertengkar dengan Devan?" untuk yang satu ini, Salsabila memang belum tau, selain semua yang menimpa dirinya akhir-akhir ini begitu tiba-tiba, juga baru kali ini Salsabila menyambangi meja kerjanya lagi sejak ia mulai kembali aktif ngantor.
" aku nggak nikah sama Devan?" hari itu memang hari terakhirnya di luar kota, jadi kepulangan nya saat malam itu juga tidak meninggalkan clue apapun untuk Salsabila, kecuali dunia nya yang berubah sejak malam itu.
" hah, gimana?" salsabila menegakkan duduk nya, ia menatap Arina dengan sorot heran bercampur bingung, kedua alisnya nyaris bertemu.
" aku menikah sama orang lain. "
" Rin apaan sih, meskipun aku kesal kamu nggak ngundang aku, tapi kali ini candaan mu nggak bisa buat aku maafin kamu semudah itu."
Salsabila tampak tak percaya, mungkin memang sulit di percaya, Salsabila tau bagaimana bucin nya Arina pada Devan, meski tak di beri kepastian dalam waktu yang lama, gadis itu keukeh bertahan, semua orang yang mendekatinya berakhir patah hati.
Namun, melihat raut Arina yang masih menunjukkan muka lesu dan masam, membuat Salsabila tau kalau gadis yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu tidak sedang bercanda.
" Rin, itu beneran?" Salsabila menyentuh tangan Arina, kali ini mukanya sudah serius, melihat Arina mengangguk tanpa ragu, Salsabila nyaris menjatuhkan rahang bawahnya.
" siapa laki-laki sakti itu Rin? Gue masih belum lupa Lo nolak abang gue hanya demi Devan si cowok kere itu." mendapat tatapan sengit dari Arina, Salsabila lantas terkekeh, ia sampai lupa menggunakan bahasa baku saking shock nya.
" ada yang kurang, selain kere tuh cowok juga tukang selingkuh!"
Desis nya, selembar kertas di atas meja menjadi pelampiasan amarahnya, masih menari-nari dalam ingatanya, tangan yang biasa merengkuh nya, dengan gagah melingkar pada pinggang wanita lain. Senyum manis yang biasanya hanya untuk nya mulai detik itu ia tau bukan milik nya lagi, entah sejak kapan hal itu dimulai.
" Apa!" hampir semua orang dalam devisi nya menoleh ke arah mereka, beruntung Salsabila cepat menguasai keadaan. Hanya dengan satu tatapannya saja, mereka semua kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing.
" gila tuh laki! Masak cewek spek lo di selingkuhin. Aduh sayang ku, lo nggak apa-apa kan" Salsabila menyentuh lengan Arina, wajah nya tampak khawatir. Ada banyak spekulasi yang menari-nari tentang pernikahan Arina yang terkesan mendadak.
"terus kenapa tiba-tiba lo menikah secepat ini, Rin? Jangan bilang lo putus asa lalu menikah dengan pasangan ONS lo."
Kali ini suara Arina yang melengking." gila lo! Lo kira gue cewek apaan? Amit-amit jabang bayi jangan sampai deh gue nyobain yang namanya ONS!"
Arina mengusap perut nya beberapa kali . Salsabila meringis melihat nya.
" ke ruangan gue aja yuk, Rin. Bisa jatuh wibawa gue kalau ngegosip dengan lo di sini." memang beberapa kali mereka menjadi pusat perhatian karena keributan yang mereka buat.
Mau tidak mau Arina menyetujui usulan Salsabila, saat ini dia butuh di dengar, mulai dari Devan, Ayahnya hingga permasalahan rumah tangganya.
Semua beban yang ia simpan beberapa hari terakhir ia tumpahkan pada Salsabila, tak terhitung berapa kali wanita itu mengumpat begitu ia menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
" Rin, masalah sebesar ini kenapa lo nggak sekalipun beritahu gue? Lo nggak nganggep gue temen Lo Rin," Salsabila menyalurkan kekuatan pada nya melalui usapan di punggung nya.
" semuanya terlalu beruntun dan tiba-tiba Bil, bahkan gue nggak di berikan waktu sedetik pun untuk berpikir jernih." kali ini Salsabila setuju dengan ucapan Arina, Arina adalah tipe orang yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, jangankan keputusan besar yang menyangkut masa depannya, hal sepele saja bisa ia pertimbangkan berkali-kali.
" kalau lo mau gue bisa bantu lo, lo bisa melaporkan balik suami lo, soal keselamatan Ayah lo, lo nggak usah khawatir, gue bisa menjamin keselamatan nya."
Salsabila menyipitkan matanya saat Arina justru menggeleng dengan yakin. " itu nggak adil untuk adik ipar gue dan seluruh korban Bil, gimana dengan tania kalau Alvian di penjara."
" Rin! Lo nggak salah, itu adalah kecelakaan terlepas itu murni ataupun ada dalangnya, dan karena itu Ayah lo sudah di hukum, bahkan suami lo turut Andil menghukumnya, lalu untuk apa lagi lo merasa bersalah, setidaknya kalaupun lo nggak mau memenjarakan dia, bebaskan diri lo dari penjara yang di buat nya!"
Arina kembali menggeleng." pernikahan kami, meskipun atas paksaan dan tanpa cinta tapi janji yang di ucapkan saat akad itu nyata dan sakral, Bil. Gue sempat berpikir untuk mengakhiri ini semua, tapi setelah memikirkan nya matang-matang di setiap malam gue, gue memutuskan untuk mempertahankan nya semampu gue."
Salsabila memijat pelipisnya, Selama kenal dengan Arina ia cukup mengerti perangai karyawannya itu, saat sudah mengambil keputusan dalam hidup nya, tidak ada siapa pun yang bisa mengubahnya.
" termasuk jika lo di poligami?" Salsabila tau, Arina paling benci di duakan. " tidak menutup kemungkinan kalau Alvian tidak melakukan poligami, kan? Lo sendiri yang bilang kalau Alvian memiliki kekasih yang sangat di cintai nya." imbuh nya menggebu-gebu, ia ingin menggoyahkan prinsip Arina karena ia tau, pernikahan yang Arina jalani ini bukan pernikahan yang sehat.
" gue bilang semampu gue, kalau ternyata gue mampu, apa salah nya bertahan?"
" Rin! " Salsabila nyaris kehabisan akal mendengar ucapan Arina, betapa keras kepala nya wanita di depannya ini.
Di lain sisi Arina meremas ujung kemeja nya, bahkan untuk pertama kalinya ia tidak mempercayai keputusannya sendiri, sedang di selingkuhi Devan saja rasanya seperti sudah mau mati.
Semoga saja, di dalam hatinya tidak tumbuh perasaan yang akan membunuhnya pelan-pelan, mungkin dengan begitu ia bisa bertahan dalam pernikahan neraka ini, setidaknya sampai rasa bersalah nya mereda dan ia bisa berdamai dengan keadaan.
" kalau itu pilihan lo, gue bisa apa, pesan gue jangan terlalu keras dengan diri lo, kalau lo merasa udah nggak kuat lagi, lo harus berhenti. Ingat Rin, semuanya sudah takdir. Lo nggak usah merasa seperti pelaku di sini." suara Salsabila melirih, sama seperti Arina, Salsabila juga tau Arina tengah ragu dalam keputusan nya sendiri.
" kalau kamu mau aku bisa bantu untuk menyelidiki siapa yang sudah menyabotase mobil Ayah kamu, Rin." Arina terkejut mendengar suara lain di ruangan Salsabila, Fabio dengan gaya khas nya keluar dari kamar pribadi Salsabila yang ada di sudut ruangan ini.
" Fabio!"
Salsabila tertawa usil saat Arina menghujani nya dengan tatapan penuh tanda tanya. " sebenarnya rencana gue ngundang lo ke ruangan gue karena abang gue mau datang, Rin. Tapi gue lupa ngasih tau karena keburu shock dengan masalah lo. Tapi, gue beneran nggak tau kalau abang gue udah di sini , Rin. Sumpah!" Salsabila mengangkat jari telunjuk dan tengah nya ke udara.
Arina memijat pelipisnya, merasa canggung karena ternyata Fabio mendengar semua pembicaraan nya dengan Salsabila. Sedang ia beberapa kali menolak nya demi pria yang nggak worth it sama sekali untuk di pertahankan.